Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 195


__ADS_3

Jihan tersenyum sedangkan Dwi langsung mencium pipi Jihan. Jihan hanya diam membuat Dwi langsung memeluknya dari samping dan mengendus leher Jihan.


"Lepasin" ujar Jihan tegas.


"Gak mau liat sini dulu" ujar Dwi.


Jihan menarik nafasnya lalu menatap Dwi bukan senyuman hangat yang dia justru mendapatkan kecupan dan permainanndi bibirnya walu tak membalas setidakny Jihan tidak menolak.


"Masih manis" ujar Dwi tersenyum di depan Jihan hanya mendapatkan senyuman Jihan.


"Put ikut kamar mandi ya" ujar Jihan.


"Ya tuh kamar deket ada kamar mandinya" ujar Putri.


"Oke" ujar Jihan.


Jihan langsung mengambil paperbag dan membawanya ke kamar tamu rumah Putri dan Fero. Jihan mandi dan bersiap untuk pergi makan malam bersama para kariawannya.


Jihan mandi cukup lam untuk merilexkan badannya bahkan dia meninggalkan ponselnya yang di meja banyak panggilan masuk ke ponselnya namun tidak ada yang menjawab.


Lama Jihan akhirnya selesai dia keluar dengan lebih fres apalagi stylenya kali ini lebih santai namun tak mengurangi kecantikan Jihan sedikitpun apalagi dengan rambut yang dia ikat setengah membuatnya semakin mempesona.


"Ada yang telfon" ujar Fero.


"Siapa" tanya Jihan.


"Gak tau tapi fotonya laki laki" ujar Dwi.


"Oh" ujar Jihan berjalan mengambil ponselnya namun Dwi langsung merebut ponselnya.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Siapa yang telfon" tanya Dwi menahan ponsel Jihan.


"Mana tau " ujar Jihan.


"Boy" ujar Dwi.


"Anak lo" ujar Jihan.


"Beneran" tanya Dwi.


"Ya beneran" ucap Jihan


"Bagaimana membuktikannya" ujar Dwi menarik Jihan membuat Jihan jatuh di atas tubuh Dwi yang sengaja jatuh.


"Kiss me" ucap Dwi.


"Gak mau" ujar Jihan bangun namun pinggangnya di tahan Dwi membuat Jihan tidak bisa bergerak.


"Waduh" ujar Fero.


"Gak tau malu" ujar Putri membuat Dwi menjatuhkan ponsel Jihan dan langsung menarik tengkuk Jihan dan menciumnya.


Jihan meronta mendorong Dwi namun dia kalah kuat dari Dwi. Dwi bermain sangat lembut dan singkat lalu melepaskan Jihan dan dengan cepat Jihan bangun dan merapikan bajunya.


"Dasar mesum" ujar Jihan.


"Hehe" ujar Dwi malah tertawa.


Jihan langsung mengambil ponselnya cepat dia langsung melihat siapa yang menghubunginya dia membulatkan matanya sembari melihat ponselnya.


"Hallo Baby sorry" ujar Jihan sangat lembut membuat Dwi dan yang lainnya saling tatap.


"....."


"Gak dong beneran, ini mau makan malam sama temen kerja temen doang gak ada yang lain gak ada yang spesial" ujar Jihan menggigit bibir bawahnya.


"......."


"Gak ada minuman beralkohol janji" ujar Jihan.


"....."


"Siap oke oke gak bakal ingkar janji beneran oke see you" ujar Jihan mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Eh di restiran X gak ada bir atau alkohol kan" ujar Jihan panik.


"Di sana gudangnya bir" ujar Fero.


"Mati gue" ucap Jihan.


"Tapi kalau lo minta gak ada bir dan jajarannya juga boleh tapi gak menjamin si" ujar Putri.


"Pantesan dia pasti cari tau tentang restauran itu" ujar Jihan mengirimkan sebuah pesan singkat.


"Ya sudah gue mau mandi dulu ya mas duluan" ujar Putri.


"Oke" ujar Fero langsung mencium kening Putri.


Jihan tersenyum melihat ke dua sejoli di depannya itu.


"Di usia sekarang apa yang ingin kamu capai" tanya Dwi lirih.


"Banyak hal" ujar Jihan.


"Yang paling ingin kamu capai pencapaian terbesar" ujar Dwi.


"Membahagiakan anak anak" ujar Jihan.


"Mau menambah anak" tanya Dwi mencium pipi Jihan membuat Jihan menatapnya.


"Dua anak aja karena kembar, tapi tidak ku izinkan kamu memambah anak lagi" ujar Jihan mwmbuat Dwi tersenyum.


"Kenapa banyak yang antri yang siap menampung benihku" ujar Dwi tersenyum.


"Jangan harap atau akan ku penggal juniormu itu" ucap Jihan tegas sembari menarik baju Dwi dengan lembut dan menariknya perlahan mendekat.


Jihan mencium bibir Dwi membuat Dwi tidak menyianyiakan kesempatan dia membalas dan perlahan menarik tengkuk Jihan. Mereka saling menikmati membuat Fero menarik nafasnya panjang dan pergi.


Setelah kepergian Fero ke duanya langsung melepaskan tautannya satu sama lain dan saling tatap. Mereka kembali melakukannya lagi kali ini lebih lama dan lembut.


"Masih semanis dulu" ucap Dwi mengusap bibir Jihan dengan ibu jarinya.


"Hari ini kamu mematahkan sebuah hati yang rapuh, pergilah bujuk dia bagaimanapun caranya kamu harus berhasil mendapatkan hatinya lagi karena jika salah satu dari mereka sakit maka yang lainnya juga ikut sakit" ujar Jihan.


"Jadi kamu mengizinkanku mengunjungi anak anak" ujar Dwi.


"Aku akan berusaha" ujar Dwi.


"Oke sekarang pergilah, saya juga akan segera pergi" ujar Jihan.


"Oke" ucap Dwi.


"Jagalah mereka sampai saya pulang" ujar Jihan membereskan berkas dan buku rekening yang Fero berikan.


"Ta gue pergi dulu makasih ya" ujar Jihan.


"Oh oke, tapi gak tunggu Putri" tanya Fero


"Gak salam aja buat dia maaf udah repotin" ujar Jihan.


"Kak Dwi mau kemana" tanya Fero.


"Berjuang" ucap Dwi.


"Oh oke" ujar Fero.


Jihan dan Dwi pergi dari rumah Fero dengan bergandeng tangan. Jihan bahkan sesekali bergelanyut di lengan Dwi membuat Fero ikut bahagia melihatnya.


"Gak mau liat rumah dulu" tanya Dwi.


"Kapan kapan aja, ini bakal macet banget kalau gak berangkat sekarang" ucap Jihan.


"Oh oke hati hati di jalan" ujar Dwi mencium kening Jihan membuat Jihan sangat bahagia.


"Oke, apa Jihan jadi orang paling jahat ya udah berduaan dengan suami orang" ujar Jihan menunduk membuat Dwi tertegun dengan kata kata Jihan.


"Kamu adalah satu satunya istriku, istri yang ku inginkan istri yang ku cintai kenapa kamu khawatir saya bahkan tidak pernah mencintainya walau sudah di ikatan pernikahan" ujar Dwi merangkup wajah Jihan.


"Kamu bukanlah orang yang ingin ku nikahi sebelumnya gue sangat benci lo namun akhirnya gue sadar ternyata cinta itu sudah tumbuh dan dengan begitu besarnya" ujar Jihan.

__ADS_1


"Kamu tidak mempercayaiku lagi" ujar Dwi namun Jihan hanya diam.


"Ya sudah pergilah sebelum terkena macet, sampai ketemu nanti malam akan ku jelaskan semua berhati hatilah" ujar Dwi mencium kening dan pipi Jihan lalu menjauh.


"Mas Dwi" ujar Jihan memeluknya dari belakang.


"Kamu itu kejam, bahkan setelah sekian lama aku pergi dan menjauh kamu tidak tergantikan walau mencoba menggantikanmu namun kamu datang lagi dan membuat pengganti itu hilang seketika" ujar Jihan.


"Bahkan saat ku coba untuk mrngingat semua kesalahan dan keburukanmu agar aku menbencimu itu justru membuatku rindu padamu, saat seorang anak memanggilmu Daddy dan dia bukan anakku hatiku hancur berkeping keping namun saat itu tidak ada seorangpun yang menyadarinya" ujar Jihan mulai meneteskan air matanya.


"Aku sadar aku egois aku jahat, tapi hatiku memang tidak terima dengan semua kenyataan ini namun ku harus tersenyum demi kelangsungan kebahagiaan anak anak dan sekali lagi aku ingin menjadi wanita egois yang akan merebutmu dari keuarga barumu ini tidak kan peduli dengan hati mereka lagi" ucap Jihan menghapus air matanya.


"Jadilah egois dan posesif kepadaku karena aku jodohmu kamu tidak bersalah disini tapi aku aku yang bersalah" ujar Dwi membalikkan badannya.


Jihan menatap Dwi dengan lekat dia melihat kebohongan di mata Dwi namun dia hanya melihat kehangatan. Dia langsung berjinjit dan mencium bibir Dwi.


"Mulai nakal" ujar Dwi saat Jihan menyudahinya.


Jihan diam tidak menjawab apapun selain menatapnya. Dwi menarik Jihan ke dalam pelukannya membuat Jihan membalas pelukannya erat Dwi bahkan kembali mencium bibir Jihan dengan sangat lama membuat Jihan meneteskan banyak air matanya.


"Sudah lebih baik" ujar Dwi.


"Ya" ucap Jihan.


"Oke mau ku antar ke tempat tujuan" tanya Dwi.


"Gak perlu berangkat sendiri aja, see you" ujar Jihan mencium bibur Dwi


"Oke hati hati" ucap Dwi mencium keningnya.


Sebenarnya Dwi ingin bertanya banyak hal kepada Jihan namun karena Mood Jihan yang sedang tidak baik dia tidak ingin membuat Jihan kembali marah padanya. Karena baru saja hubungannya kembali.


Jihan pergi meninggalkan rumah Fero dengan cepat sedangkan Dwi melihat kepergian Jihan dengan hati tersyat dia menyadari bahwa Jihan melewati banyak hal sulit selama ini jadi dia mudah emosi bahkan dia juga bisa berubah dari satu orang yang sangat Dwi kenal dan menjadi orang yang sangat asing.


Setelah sekian lama termenung Dwi pergi ke kediaman Prasaja di sana dia di halangi Jovan untuk masuk karena tidak ingin keponakannya marah marah dan mengganggu mentalnya.


"Uncle" ujar Justine.


"Ya Boy kenapa" tanya Jovan.


"Makan malam sudah siap" ujar Justine mendekat


"Daddy ngapain anda kesini mau buat Jenifer nangis lagi gak akan saya biarkan itu semua terjadi" ujar Justine tegas.


"Saya hanya ingin menjelaskan semuanya" ujar Dwi memohon.


"Bang biarin dia masuk dan menjelaskan semuanya" ujar Jenifer yang berada di belakang Justine.


Dwi langsung berlari ke arah Jenifer dan memeluknya. Jenifer menolak dia langsung menghempaskan tangan Dwi dia langsung duduk di ruang tamu tanpa bicara.


Dwi mendekat dan duduk di hadapan putrinya itu dan menjelaskan semuanya. Tidak ada tanggapan dari Jenifer melainkan dia diam dan menatap lurus ke depan begitupun Justine.


"Ada kamu Wi yuk makan bareng" ujar Tuan Prasaja.


"Iya pah" ujar Dwi menyalami tuan Prasaja.


"Sendiri kemana Jihan" tanya tuan Prasaja.


"Dia ada makan malam sama kariawannya pah" ujar Dwi.


"Oh oke yuk makan semuanya" ujar tuan Prasaja.


"Gak mau kalau dia ikut makan Jeje gak mau makan" ujar Jenifer membuat Dwi menarik nafasnya panjang.


"Je" ujar Jovan.


"Jangan coba membujukku" ujar Jenifer tegas.


"Tidak masalah kalian makanlah Daddy tunggu sini kita bicara setelah kalian makan" ujar Dwi.


"Masih pantaskah kau ku panggil Daddy" ujar Jenifer membuat hati Dwi bagai tersambar petir.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukung Author terus biar semangat upnya ya....


__ADS_2