Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Dia Orangnya


__ADS_3

Setelah kepergian Fero Zira kembali mendekati Jihan. Jihan masih dengan pandangan yang lurus menatap kepergian fero.


"Udah gak keliatan juga" ucap Zira membuat Jihan kembali ke dunia nyata bukan halu lagi hehe.


"Eh sini gue gue selesaiin make up lo" ucap Jihan.


"Oke" ucap Zira.


Jihan menyelesaikan make up Zira setelah beberapa jam dia gunakan karena terlalu banyak permintaan Zira. Saat selesai Zira sangat senang karena hasilnya seperti yang dia inginkan walaupun sangat tebal tapi terlihat seperti wajah aslinya.


"Udah" ucap Zira.


"Udah lah, perlu gue lukis" tanya Jihan.


"Gak gini aja perfec" ucap Zira.


"Hm" ujar Jihan.


"Ya udah gue pergi duluan ya kita ketemu di acara Fero sama nih bayaran lo" ucap Zira.


"Gue gak semiskin itu" ucap Jihan menatap Zira tajam .


"Bukan gitu, anggap aja ini sebagai ganti lo beli make up yang udah gue pake" ucap Zira.


"Oke gue terima masih banyak yang butuh duit lo di luar sana" ujar Jihan.


"Maksud lo" tanya zira.


"Maksud gue" ucap Jihan terpotong saat seseorang menciumnya.


"Cie cie, aduh panas gue Ji" ujar Zira.


"Apaan si lo main sosor aja" ujar Jihan menatap Dwi jengah lalu mulai membereskan make upnya dan pergi.


"Kenapa si Jihan Bang, bukannya seneng di manja gitu atau jangan jangan Abang sama Jihan" ucap Zira.


"Diem lo" ujar Dwi.


"Hahaha ternyata ada ya cewek yang gak kena karisma lo Bang" ledek Zira.


"Diem lo pergi sana" ucap Dwi.


"Galak bener, oke oke gue pergi Bang sama dia alusin aja pasti luluh tuh" ucap zira pergi.


"Udah gue baikin tetep aja gak mau luluh" gerutu Dwi.


Setelah kepergian Zira Dwi lalu pergi menuju kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor. Namun saat berada di kamar Dwi melihat Jihan yang sedang bersiap membuatnya penasaran.


"Kemana lo" tanya Dwi.


"Gue pergi lah" ucap Jihan.


"Iya kemana" tanya Dwi.


"Ke kampus kenapa mau ikut" ujar Jihan dingin.


"Gak, gue ada kerjaan kali ngapain ikutin lo" ucap Dwi tak kalah dingin.


"Baguslah kalau lo kerja saham gue aman" ucap Jihan.


"Tapi kenapa dandan tebel banget gitu" tanya Dwi.


"Tebel mananya si, nih hasilnya aja gak jauh beda sama aslinya cuma bagian mata doang gue buat tajam" ujar Jihan.


"Serah lo" ucap Dwi.


"Ya iyalah orang muka muka gue gue yang bawa lo yang repot" ucap Jihan sembari berlalu pergi.


"Tunggu" ucap Dwi.


"Apa" tanya Jihan


"Lo gak pamit sama gue" ujar Dwi.


"PD bener lo siapa lo" ucap Jihan.


"Dasar istri durhaka" ucap Dwi.


"Suami durjana" ujar Jihan berlari cepat.


Dwi membulatkan matanya mendengar ucapan Jihan saat hendak mengejar Jihan ponsel Dwi berdering membuat Dwi harus bersiap untuk kembali ke urusan awal yaitu perusahaannya.


Jihan pergi mengendarai mobil sport terbarunya yang dia beli dari hasil membangun sebuah perusahaan. Jihan sampai di kampus lalu pergi menuju tempat acara Wisuda Fero di lakukan. Jihan mencari Fero tak lupa dengan sebucket bunga yang dia beli di pinggir jalan.

__ADS_1


"Maaf mau tanya Fero dimana ya" tanya Jihan kepada seseorang yang juga mengikuti wisuda


"Oh tuh" ucapnya menunjuk seseorang yang sedang di kerumuni banyak junior cewek.


Jihan lalu berjalan cepat ke arah Fero di saat yang bersamaan Putri menghampiri Fero membuat Jihan menghentikan langkahnya sejenak lalu kembali menghampiri Fero. Saat Jihan tepat di depan Fero semua cewek yang sedang di dekat Fero pergi membuat kebingungan untuk Putri.


"Happy graduation" ucap Jihan memberikan se bucket bunga mawar orange.


"Thanks" ucap Fero tersenyum hangat.


"Hai Fero selamat ya" ujar Zira tiba tiba datang dan memeluk Fero membuat Jihan dan Putri mengerutkan dahinya.


"Eh iya thanks ya, bisa lepasin gue enek nih" ucap Fero melepaskan pelukan Zira.


"Yang enek itu kali" ujar Zira melirik Jihan.


"Eh lo katanya mau datang duluan ngapa lo jadi yang paling terahir" ujar Jihan.


"Gue ada urusan, benerin muka " ucap Zira.


"Udah gue benerin juga" ucap Jihan.


"Udah kalian kalau ketemu bisa gak si jangan berantem kalau ketemu gue tau gue ganteng jadi rebutan kalian tapi please ya gue terlalu baik buat jadi rebutan" ujar Fero.


"Ra dia gak kena tonjokan lo kan semalam" tanya Jihan.


"Gak Ji, kayaknya kita salah orang" ucap Zira tersenyum.


"Kalian semua saling kenal" ujar Putri yang sedari tadi diam.


"Gak, gue cuma kenal sama Fero dia siapa gak tau gue eh BTW lo ngapain di sini" tanya Zira.


"Mau kasih ini sama Fero" ucap Putri memberikan sebuah kado kepada Fero.


"Ji dia" ujar Zira.


"Gak perlu oon deh lo, Ra makan yuk gue belum sempet sarapan karena lo" ucap Jihan.


"Iya gue juga yuk, kita duluan ya " ucap Zira menggandeng Jihan membuat banyak mata menatapnya aneh pasalnya Jihan dan Zira tidak pernah akur.


"Kalian gak mau Foto dulu sama Fero" ujar Putri membuat Jihan dan Zira membalikkan badannya dan kembali ke hadapan Fero.


"Boleh fotoin" ujar Jihan kepada Putri.


"Iya tapi ati ati takut ponsel gue pecah buat foto sama Jihan" ucap Zira..


"Yang ada ponsel gue mati" ucap Jihan


"Bisa kita mulai" ujar Putri.


Jihan dan Zira langsung serius lalu berpose dengan Fero berbagai macam pose. Setelah itu Zira dan jihan kembali melanjutkan rencananya untuk pergi dari tempat itu.


"Ji serius si Putri calon istrinya Fero" tanya Zira berbisik.


"Ya, lo mau bersaing" ujar Jihan.


"Ogah bakal kalah telak gue" ucap Zira.


"Kenapa Fero kayaknya masih mikir mikir tau" ucap Jihan.


"Ya kalau Fero si kayaknya masih suka sama lo, gue males aja kalau bersaing sama Putri dia pasti menang dia kan bakal lakukan apapun demi apa yang dia inginkan dia juga gak senggan hilangin seribu nyawa buat satu nyawa" ujar Zira.


"Haha takut lo" ucap Jihan.


"Emang lo gak" tanya zira


"Gak, yang gue takutin kesedihan yang ada di wajah tante Tina( mama Fero)" ucap Jihan.


"Masih peduli lo" ucap Zira.


"Lo bisa lepasin gue sekarang" ujar Jihan.


"Ih, lo ngapain si deket deket gue" ujar Zira.


"Lo yang peluk gue" ucap Jihan.


"Hehe, tau si Putri calonnya Fero gak bakal gue bantu dia" ucap Zira.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Tadi mobil dia mogok tau dia orangnya gue tinggal tadi" ucap Zira.


"Sepupu jahanam" ucap Jihan.

__ADS_1


"Lo juga kakak lucnut" ucap Zira.


Walaupun mereka terus saja berdebat namun mereka makan bersama di kantin kampus. Walaupun pilihan mereka saat ini adalah tempat VIP yang tidak bisa sembarang orang masuk.


Setelah kepergian Jihan dan Zira Fero lalu bergabung dengan teman temannya sengaja menghindari Putri namun Putri terus mendekatinya membuat Fero pasrah.


"Fero gue ada urusan nih gue pergi duluan ya" ucap Putri sesaat setelah menerima panggilan telfon.


"Oh oke pergi aja lagi" ucap Fero


"Lo gak apa apa sendiri" ucap Putri


"Gak santai aja lagi" ucap Fero.


"Ya udah bye" ucap Putri pergi.


"Gue malah seneng lo pergi" ujar Fero dalam hati.


Setelah kepergian Putri Fero pergi untuk mencari Jihan dan Zira. Fero mencari di kantin namun tak kunjung menemukannya.


"Ta cari apa" ujar seseorang dari belakang Fero.


"Eh lo Ji, cari kalian mau makan" ucap Fero.


"Kemana cewek lo kenapa gak lo ajak makan" ujar Zira.


"Udah pulang dia" ucap Fero.


"Lo usir" ujar Zira.


"Bisa di bilang begitu" ucap Fero.


"Parah lo" ucap Jihan.


"Parah lagi lo, gak kasih gue hadiah" ucap Fero.


"Oke oke, lo mau apa khusus hari ini deh gue kasih yang lo mau" ucap Jihan.


"Kalau gue minta lo ikut gue ke KUA mau lo kita nikah" ucap Fero.


"Gila lo" ucap Jihan.


"Katanya apapun untuk hari ini" ucap Fero.


"Ya iya tapi gak nikah juga kali gue udah jadi bini orang kalau belum jalan dulu gue" ujar Jihan.


"Maksudnya lo mau hianatin Bang Dwi" ucap Zira


"Gue bilang kalau gue belum jadi bini orang" ucap Jihan.


"Jadi maksud lo, lo suka sama gue perasaan lo sama kayak perasaan gue sama lo" ujar Fero.


"Sorry, Ta bukan maksud gue buat lo bimbang gini seharusnya gue gak bilang sekarang" ucap Jihan.


"Bukannya lebih baik kalian saling ungkapin rasa sebelum kalian bener bener berpisah" ucap Zira.


"Lo salah Ra, ini gak semudah yang lo bayangin" ucap Fero.


"Udahlah mendingan kalian berdua jalan deh sana gue gak mau ganggu kalian lagi dan gue harap semuanya selesai hari ini juga" ucap Zira.


"Thanks ya" ucap Fero.


"Ji lo mau kan jalan berdua sama gue" ucap Fero.


"Boleh, tapi gak bisa sampai malam" ucap Jihan.


"Oke, ya udah ya Ra kita duluan" ujar Fero menggandeng tangan Jihan pergi.


"Semoga kalian bisa selesaikan masalah kalian sebelum keluarga Suseno tau" ujar Zira menatap kepergian Jihan dan Fero.


Walaupun hati ya terasa perih melihat kedekatan Jihan dan Fero namun dia tak ada pilihan lain selain membiarkan jihan dan Fero pergi karena dia juga tidak ingin membiarkan dua orang saling bermusuhan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya ya....


__ADS_2