
"Ji" ucap Dwi membuat Jihan menyelesaikan telfonnya.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Kamu yakin dengan ucapanmu, bukannya kamu yang bilang jangan putuskan hubungan dengan Putri" ucap Dwi memberi perngertian.
"Iya gue emang bilang gitu, tapi bukan berarti gue diam aja gak kasih pelajaran gue bakal buat dia sedih kehilamgan karir yang dia bangun" ucap Jihan dengan seringai menyeramkan.
"Tidak bisakah kamu memberikan pelajaran lain" ucap Fero yang baru masuk ke dalam ruangan Jihan bersama Putri.
"Gak tenang aja gue gak bakal sentuh usaha lo" ucap Jihan menatap Putri tanpa berkedip.
"Oke oke gue tau keputusan lo gak bakal bisa di ubah dengan mudah, tapi lo gak berfikir kalau dia ipar lo" ucap Fero.
"Lo bela dia Ta, maaf gak ada pengaruhnya di gue" ucap Jihan.
"Put kamu denger omongan Kakak tadi kan kalau terjadi sesuatu dengan Jihan lo gak berhak hidup di negeri ini" ucap Dwi.
"Tapi dia kan gak papa Kak" ucap Putri.
"Gue gue emang gak papa, gak ada cidra serius tapi asal lo tau lo bunuh anak gue lo renggut kebahagiaan gue puas lo ha puas lo puas lo buat gue hampir gila ha puas lo lo bilang lo rela korbanin kebahagiaan kakak lo kan tapi dengan cara ini lo renggut kebahagiaan semua orang lo gila lo gila" ucap Jihan penuh emosi membuat Ridwan mendekat.
"Lo hamil" tanya Fero.
"Ji udah Ji udah" ucap Ridwan menenangkan.
"Suruh mereka semua pergi dok, gue gak mau lihat pembunuh itu" ucap Jihan mulai menangis.
"Bisa kalian pergi, termasuk lo Wi" ucap Ridwan.
"Tapi Bang" ujar Dwi berat hati.
"Percaya sama gue" ucap Ridwan di angguki Dwi kemudian menyeret Putri keluar di ikuti Fero.
"Tenangin diri lo Ji" ucap Ridwan.
"Dok apa salah gue dok, dia tega bunuh anak gue" ucap Jihan menangis keras.
Ridwan memeluk Jihan membuat Jihan semakin menangis.
"Hua gue harus gimana semua orang sedih gue juga sedih gue bisa gila dok tapi gue gak sanggup buat sedih di depan mereka" ucap Jihan membuat Ridwan menangis namun diam.
"Sakit dok sakit, di saat gue sulit walau hanya untuk diam tapi gue harus tersenyum buat mereka cape dok Jihan capek " ucap Jihan tersedu sedu
Jihan terus menerus meluapkan emosinya mengatakan semua yang sedari tadi dia tahan. Ridwan hanya menjadi pendengar sejati sembari memeluk Jihan memberikan ketenangan dengan rasa berkecambuk dalam hatinya.
Hatinya hancur mendengar Jihan mengucapkan semuanya, apalagi dia juga mempunyai perasaan spesial terhadap Jihan membuatnya berusaha menjadi kuat untuk Jihan walau dia sangat rapuh.
Lama Jihan menagis sampai dia lelah dan terlelap di pelukan Ridwan. Ridwan menghela nafas panjang lalu membaringkan Jihan dan menghapus air matanya Ridwan keluar tanpa berkata kata lalu pergi ke ruangannya menuntaskan rasa yang sulit di ucapkan dengan air mata.
"Boy" ujar Papa Seno.
"Ya pah, Dwi tau Dwi salah kalau cemburu sama Bang Ridwan tapi Dwi juga manusia pah Dwi gak rela Jihan di sentuh orang lain" ucap Dwi.
"Biarkan, sekarang temani dia papa sama mama pulang dulu urus Putri kamu jangan pernah tunjukkan kesedihan kamu di depannya" ucap papa Seno memeluk Dwi.
"Iya pah hati hati" ucap Dwi.
Setelah kepergian ke dua orang tuanya Putri dan Fero Dwi masuk kemudian duduk menatap wajah istrinya dengan cermat tanpa menghiraukan keluarga mertuanya masih ada di sana.
Pagi menjelang Dwi terbangun dan melihat Jihan sudah duduk bersandar dengan menatap luar jendela tak lupa dengan air mata yang mengalir walaupun tanpa suara.
"Selamat pagi manis" ucap Dwi mencium pipi Jihan membuatnya tersentak.
"Eh udah bangun" ucap Jihan tersenyum sembari menghapus air matanya.
"Iya kamu perlu sesuatu" tanya Dwi.
"Gak, kamu cuci muka dulu gih lusuh banget kayak baju gak di setrika" ucap Jihan tertawa.
"Yaya yang masih cantik aja walau gak cuci muka" ucap Dwi gemas menyentil hidung Jihan.
"Iya lah me the quen" ucap Jihan percaya diri.
Dwi tersenyum lalu pergi ke kamar mandi saat bersamaan semua orang terbangun satu persatu membuat Jihan mengembangkan senyumnya walaupun hatinya sedang meraung raung.
"Sayang giman udah oke " tanya Papa.
"Udah pah" ucap Jihan.
"Maaf ya sayang papa sama mama harus pergi ke luar kota gak bisa di tunda kamu gak papa di tinggalkan" tanya Mama di angguki papanya.
"Gak papa lah mah pah, kan ada mas Dwi bisa temenin Jihan lagian kalau kalian gak kerja kasian nanti cucunya gak jadi orang kaya" ucap Jihan menyindir.
__ADS_1
"Maaf ya sayang " ucap Mama memeluk dan mencium Jihan, Jihan hanya diam tak membalas.
"Iya" ucap Jihan.
"Ji Abang pulang dulu ya, Wi temenin dulu ya nanti gue ke sini lagi setelah kerja" ucap Jovan saat Dwi baru keluar dari kamar mandi.
"Iya Bang, tenang aja Dwi temenin" ucap Dwi
"Ji mau di bawain sesuatu gak" tanya Jovan.
"Bawain pakaian mas Dwi aja, kalau Jihan bawain cemilan" ucap Jihan.
"Mana ada orang sakit makan cemilan" ucap Jovan.
"Ada gue" ucap Jihan.
"Yaya, bye cepet sembuh ya yuk pah mah" ucap Jovan pergi dengan ke dua orang tuanya.
"Kenapa berdiri di situ mulu mau jadi penjaga kamar mandi lo" ucap Jihan masih memakai bahasa sesukanya.
"Eh gak, kamu mau sarapan mau makan apa biar gue beliin" ucap Dwi.
"Gak, gak laper" ucap Jihan.
"Tapi lo harus makan biar ada tenaga menghadapi kenyataan juga perlu tenaga" ucap Dwi.
"Yaya bubur" ucap Jihan.
"Oke gue beliin" ucap Dwi.
"Eh mau kemana, nih mamah udah masakin bubur semoga aja Jihan suka" ucap Mama Sri yang baru datang sengan membawa makanan.
"Kalau masakan mamah pasti juara" ucap Dwi.
"Masa" ledek Jihan.
"Gak percaya" ucap Dwi.
"Gak" ucap Jihan.
Melihat pertengkaran kecil itu membuat mama Sri tersenyum lalu menyodorkan bubur yang dia bawa tadi kepada Dwi untuk memberikannya kepada Jihan.
"Nih cobain" ucap Dwi menyodorkan bubur ke mulut Jihan.
"Enak" ucap Dwi
"Gimana sayang" tanya Mama.
"Enak mah" ucap Jihan.
"Maaf mah, sebenarnya Jihan bohong semua yang Jihan makan rasamya semua hambar gak ada rasa kayak hidup Jihan yang lagi kelabu" ucap Jihan dalam hati.
"Nih lagi" ucap Dwi.
"Kamu gak makan" tanya Jihan membuat Dwi tersneyum karena Jihan memanggilnya dengan sebutan kamu.
"Nanti setelah kamu selesai" ucap Dwi.
"Kenapa gak bareng aja" ucap Jihan
"Nanti aja belum terlalu lapar" ucap Dwi.
Mendengar jawaban Dwi Jihan langsung mengambil alih sendok yang Dwi gunakan untuk menyuapinya untuk menyuapi Dwi. Dengan senang hati Dwi menerima suapan Jihan.
"Udah" ucap Jihan.
"Baru dua suap Ji" usul Dwi.
"Tapi kenyang" ucap Jihan.
"Satu lagi" ucap Dwi.
"Iya sayang makan yang banyak biar cepet pulang kamu gak suka rumah sakit kan" tanya Mama.
"Suka kalau ledekin dokter dokter ganteng" ucap Jihan membuat Dwi merengut.
"Ketahuan juga ternyata menantu mamah centil juga hhaha" ujar mama.
"Permisi apa saya boleh periksa pasien" ujar Ridwan
"Boleh silahkan Bang" ucap Dwi.
"Gimana" tanya Ridwan pada Jihan saat mulai memeriksanya.
__ADS_1
"Belum lebih baik tapi bisa izinkan saya pulang dok" ucap Jihan.
"Apa alasan kamu pulang" tanya Ridwan.
"Gak tau males aja di sini" ucap Jihan.
"Mana ada yang suka di rumah sakit" ucap Ridwan.
"Ada la dokter" ucap Jihan tersenyum.
"Ya kalau bukan kewajiban seorang dokter itu di rumah sakit gak mau saya, oh ya perut kamu ada rasa mulas atau sakit nyeri atau gimana" tanya Ridwan lagi.
"Gak dok cuma jantung saya kayaknya gak normal" ucap Jihan.
"Masa tensi normal detak juga " ucap Ridwan.
"Jantung saya bekerja lebih keras saat dokter menyentuh saya hahaha" ucap Jihan membuat wajah Ridwan seketika memerah.
"Sepertimya kamu sudah sembuh, kamu boleh pulang" ucap Ridwan sembari menetralkan hatinya.
"Kapan dok" tanya Jihan dan Dwi.
"Saat saya memberika surat izin kamu keluar dari rumah sakit ini, sekarang makan minum obat dan istirahat maaf ya PHP hahaha" ujar Ridwan sembari keluar ruangan membuat Jihan manyun.
"Kenapa manyun" tanya Dwi.
"Dia jahat" ucap Jihan.
"Ya udah makan obatnya dan istirahatlah" ucap Dwi.
"Oke, bisa gak kasih obatnya yang manis aja" protes Jihan.
"Mana ada obat manis" ucap Dwi.
"Ada obat rindu" ujar Jihan membuat Dwi membulatkan matanya.
"Obat rindu" tanya Dwi.
"Kamu gak peka Wi, ya udah mama tinggal jangan sia siain waktu kalian" ucap mama membuat Dwi berfikir sedangkan mamanya pergi karena menantunya mulai bar bar.
"Kenapa mikir banget gitu" tanya Jihan.
"Maksudnya apa" tanya Dwi.
"Maksudnya apa ya, gak tau" ucap Jihan langsung bermain ponsel.
Dwi berfikir dan mulai menemukan titik terang. Dwi mendekati Jihan dan duduk menghadap Jihan Jihan yang cuek membuat Dwi gugup Dwi mengangkat dagu Jihan sampai mata mereka bertemu Dwi mendekat kan wajahnya dan lebih dekat lagi dan bibir mereka bersatu.
Dwi mulai bermain namun hanya sesaat karena tiba tiba teman teman Jihan datang tanpa permisi membuat Dwi segera melepaskan tautannya.
"Kalian maaf ya ganggu" ucap Sonia tersenyum kikuk.
"Gak kok" ucap Jihan sedangkan Dwi sudah lemas dan menjatuhkan wajahnya di pundak Jihan.
"Suami lo ngapa Ji" tanya Gabby yang baru masuk.
"Lemes gue" ucap Dwi masih jatuh di pundak Jihan.
"Oh, gimana lo bisa masuk rumah sakit" tanya Sonia.
"Ceritanya pendek, Jen kemana" tanya Jihan.
"Kirain panjang, gue di sini" ucap Jen.
"Eh maaf ya soal tadi" ucap Sonia tak enak hati.
"Gak gue maafin" ucap Dwi.
"Apaan si, gak papa lagi bangun deh" ujar Jihan.
"Gak mau" ucap Dwi.
"Udahlah biarin mungkin dia gak mau jauh jauh sama lo" ucap Gabby.
"Kalian kesini bawa apa" tanya Jihan.
"Hehe maaf buru buru" ucap Gabby nyengir di angguki teman temannya.
"Dasar jenguk orang gak bawa apa apa gak malu" ucap Dwi.
"Biarin" ucap Sonia.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya ya guys....