Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Sahabat


__ADS_3

"Kamu kasih beberapa saham untuk orang dan kalau kamu bisa melakukannya dengan baik saham kamu akan naik dengan cepat" ucap Jihan.


"Oke apa kamu mau melakukannya" tanya Dwi.


"Apa tidak ada orang lain yang lebih kamu percaya" ucap Jihan.


"Gak" ujar Dwi.


"Gak ah males, kalau terlibat sama begituan" ucap Jihan.


"Terus kenapa kasih saran" tanya Dwi melembut.


"Terus kenapa mesti Jihan" tanya Jihan.


"Karena kamulah orang yang sangat berarti" ucap Dwi.


"Tapi gue gak mau" ucap Jihan fokus dengan ponselnya.


"Ji" rengek Dwi.


"Gak" ucap Jihan kekeh.


"Jihan yang paling cantik manis baik hati kesayanganku please" ucap Dwi menggoda.


Jihan tidak menjawab karena Jihan malas meladeni ucapan Dwi, karena tanpa di minta pun Jihan akan membantu perusahaan Dwi walaupun harus secara diam diam. Jihan pergi ke kamarnya untuk mengambil laptop membuat Dwi bingung.


"Apa alamat situs web perusahaan kamu" ucap Jihan tiba tiba.


Dwi bingung dengan pertanyaan Jihan, Jihan yang melihat Dwi terdiam langsung menariknya ke ruang kerja nya yang di dominasi dengan banyak buku dan beberapa komputer paling canggih.


"Udah terpesonanya nanti aja bantu Jihan" ucap Jihan.


Jihan mulai menyalakan komputer komputernya, Dwi melihat Jihan bekerja sesuai dengan arahan Jihan Dwi melakukan yang Jihan katakan sampai Dwi bingung dengan apa yang sedang Jihan lakukan. Jihan menghububgi beberapa orang dan membuat paggilan vidio membuat Dwi tambah bingung beberapa menit kemudian banyak angka angka yang membuat Dwi bingung.


"Itu apa Ji" tanya Dwi.


"Ini virus yang Jihan buat untuk melindungi semua yang penting di perusahaan" ucap Jihan santai.


"Kamu meretas perusahaan ku" tanya Dwi.


"Seperti perintahmu" ucap Jihan.


"Tapi kamu tau kan Ji, kalau perusahaan ku lagi goyah" ucap Dwi.


"Karena itu Jihan bantu, karena dengan persetujuan dari lo gue gak bakal masuk penjara saat meretas semua CCTV dan komputer yang ada di perusahaan" ucap Jihan.


"Jadi lo seorang cyber" tanya Dwi.


"Katakanlah begitu" ucap Jihan tersenyum sadis.


"Bener bener kamu ya" ucap Dwi.


"Untuk beberapa jam ke depan semua akses di perusahaan akan ada gangguan jadi maaf kalau ada yang lebur" ucap Jihan.


"Hm, terserah kamu aja mas gak ngerti kayak gini" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan.


"Kamu bisa bantu, hubungi Papa Suseno dan minta orangnya ikut bekerja karena ternyata ada permainan di saham perusahaan yang gak kamu ketahui" ucap Jihan.


"Papa tau" tanya Dwi tambah bingung.


"Hubungi saja" ucap Jihan.


Dwi menghubungi Papanya kemudian mengatakan apa yang di katakan Jihan kepadanya. Papa hanya menuruti karena memang papa tau skill yang di miliki menantunya tersebut. Sampai papa Dwi meminta Dwi untuk memberikn ponselnya kepada Jihan.


"Hallo om" ucap Jihan.


"Lakukan apa harus kamu lakukan, Papa akan siap dalam lima menit dengan orang Papa" ucap papa Dwi.


"Lima menit lagi semua akan tersambung" ucap Jihan.


"Papa percaya dengan kamu" ucapnya menutup telfon.


"Udah nih, silahkan duduk manis kalau pusing liat angka angka ini" ucap Jihan.


Jihan bekerja sangat keras sampai Dwi tertidur karena begitu lama Jihan di depan komputernya. Setelah empat jam bekerja akhirnya Jihan selesai bukan Jihan tidak ingin menjadi pemilik saham atas perintah Dwi namun Jihan memiliki saham di perusahaan Dwi sebesar 30% tanpa sepengetahuan Dwi dan keluarganya hanya papa mertuanya yang tau jadi dia akan ikut bergerak saat perusahaan mengalami masalah.


"Bangun laper nih cari makan yuk" ucap Jihan membangunkan Dwi.


"Udah selesai" tanya Dwi saat melihat semua komputer padam.


"Udah" ucap Jihan.

__ADS_1


"Ya udah yuk, mau makan di mana" tanya Dwi.


"Jalan aja dulu, siapa tau ada makanan yang menggiurkan" ucap Jihan keluar dari ruang kerjanya di ikuti Dwi.


Jihan menarik stiker yang ada di depan pintu yang dia pasang saat dia sedang bekerja. Dwi bingung lalu merebut stiker tersebut yang ternyata gambar singa berkepala tiga sedang mengaum dengan tulisan DANGER membuat Dwi tersenyum.


"Udah senyumnya mau pergi gak" tanya Jihan.


"Ayok, kamu gak mau pakai jaket" tanya Dwi yang akan mengambil jaket di kamarnya.


"Gak lagian cuma sebentar kita bawa pulang aja makanannya" ucap Jihan.


"Oke kalau gitu, yuk berangkat" ucap Dwi menyambar jaketnya yang ada di kursi ruang tamu karena Jihan tidak sabar.


Jihan dan Dwi berjalan menyusuri tempat makanan walaupun sudah lapar namun Jihan masih belum menemukan yang dia inginkan saat melihat penjual sate Jihan langsung berbinar.


"Mau" tanya Dwi.


"Hm boleh" ucap Jihan.


"Ya udah yuk, mau di bungkus atau mau di makan di sini aja" tanya Dwi lembut.


"Makan sini aja, tapi itupun kalau kamu mau" ucap Jihan.


"Ya udah kita makan sini" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum.


"Ji" panggil Dwi.


"Ya" jawab Jihan.


Dwi tersenyum lalu melepaskan ikat rambut Jihan membuat Jihan bingung, namun bukannya merasa bersalah Dwi justru kembali menyematkan rambut Jihan di belakang telinga dan merapikan rambut Jihan dengan sangat lembut.


"Kamu lebih cantik gini, sama biar gak terlalu dingin" ucap Dwi tersenyum membuat Jihan terpaku dengan semua perlakuan Dwi.


"Udah ayok" ucap Dwi menarik tangan Jihan dan berjalan dengan terus mengenggam tangannya.


"Mang, dua ya" ucap Jihan.


"Pakai lontong gak" tanya Jihan.


"Gak, kalau kamu mau beli aja" ucap Dwi.


"Gue juga males, ya udah kita duduk dulu" ucap Angel


"Jihan" sapa orang tersebut.


"Ya, om kapan balik om" ucap Jihan mencium tangan orang paruh baya tersebut.


"Tadi sore, kamu sama siapa" tanya nya.


"Saya temannya" ucap Dwi membuat Jihan dan Fero yang di belakangnya tertegun.


"Oh saya ayahnya Fero, salam kenal Ji kamu punya temen baru" ucap ayah Fero.


"Saya temannya Jovan om" ucap Dwi lagi lagi memotong omongan Jihan.


"Jovan di rumah, kalau gitu nanti ke rumah ya kita makan bareng" ucap Ayah Fero.


"Gak om, dia baru aja berangkat kemarin" ucap Jihan.


"Loh, terus dia" ujar Ayah Fero penasaran.


"Dia suami Jihan om" ucap Jihan.


"Suami, wah selamat atas pernikahan kalian tapi ngomong ngomong saya seperti mengenali suami kamu" ucap Ayah Fero.


"Mungkin" ucap Jihan.


"Ya saya ingat, anda tuan muda Putra kan anak dari tuan Suseno maaf kalau saya telah tidak sopan" ucapnya.


"Iya Tuan Edwin" ucap Dwi tersenyum sinis.


"Beruntung banget kamu Ji dapet suami tajir" ucap pak Edwin.


"Biasa saja tuan" ucap Dwi.


Dwi dan ayah Fero terus saja berbincang membuat Jihan jengah karena mereka mulai membicarakan soal bisnis, Fero yang melihat itu hanya tersenyum lalu mengajak Jihan untuk makan terlebih dahulu dan di setujui Jihan.


"Baik lah tuan kalau begitu saya pergi dulu" ucap Ayah Fero.


"Silahkan" ucap Dwi yang memenag sedari tadi sudah sangat jengah dengan pembicaraannya dengan Ayah Fero.


"Fer pulang, Ji semua makanan kamu sudah om bayar ya" ucap Ayah Fero.

__ADS_1


"Tapi om kita bawa uang kok" ucap Jihan.


"Gak apa apa hitung hitung om traktir deh" ucapnya tersenyum.


"Terima kasih om" ucap Jihan tersenyum.


"Ya, kita duluan ya tuan Putra mampirlah kapan kapan" ucapnya.


"Baik tuan" ucap Dwi sopan.


Setelah kepergian Fero dan Ayahnya Dwi langsung duduk keras di samping Jihan dengan wajah di tekuk. Jihan yang melihat hanya menatapnya aneh lalu kembali makan.


"Kenapa" tanya Jihan yang sudah sangat ingin tau.


"Gak" ucap Dwi jutek.


"Idih, yang salah siapa yang di jutekin siapa" ucap Jihan.


Setelah kata kata pedas Jihan dan Jihan yang terus saja berbicara sembari makan membuat Dwi menarik nafas panjang lalu ikut makan.


"Tadi siapa" tanya Dwi.


"Bukannya kamu sendiri kenal" ucap Jihan santai.


"Jawab" ucap Dwi serius.


"Oke jangan gitu juga kali natapnya, yang ngobrol dia temen gue dan yang tadi ngobrol sama kamu ayahnya baru pulang dari kota" jelas Jihan.


"Kok akrab banget" ujar Dwi masih menatap Jihan.


"Iya lah, dia tuh temen dari gue kecil dari gue masih di kota sampai di pindah ke sini bisa di katakan sahabat gue" ucap Jihan.


"Gak lebih" tanya Dwi.


"Maksudnya" tanya Jihan bingung.


"Di saat dua orang perempuan dan laki laki berteman pasti salah satu di antaranya ada rasa" ucap Dwi.


"Harus gitu" ucap Jihan.


Dwi hanya mengangkat ke dua bahunya acuh membuat Jihan merasa bersalah, namun dalam hati Jihan juga ingin menjawab semua persoalan yang Dwi tanyakan namun Jihan juga tidak tau apa yang harus dia katakan.


"Gue juga bingung dengan rasa yang selama ini gue rasakan ke dia" ujar Jihan dalam hati.


" Kenapa melamun" tanya Dwi.


"Enggak siapa yang melamun" elak Jihan.


"Udah jelas jelas kelihatan banget bohongnya" ucap Dwi.


"Siapa yang bohong" ucap Jihan.


"Udahlah jujur aja, lagian tatapan lo ke dia tuh jelas banget" ucap Dwi.


"Hm, lo emang susah di bohongin" ucap Jihan.


"Maafin gue yang udah buat semua mimpi lo hilang" ucap Dwi.


"Entahlah, tapi gue juga bingung dengan rasa ini" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Dwi kepo.


"Saat dia bilang ingin nikah hati gue sakit tapi bahagia, saat dia sakit gue juga merasakan sakit itu tapi anehnya gue biasa aja saat dia bilang pertemuan terakhir kita aneh kan" ucap Jihan .


"Itu mungkin karena lo terlalu sering sama dia jadi baper, bukan rasa sayang yang sebenarnya" ucap Dwi tersenyum lega.


"Entahlah, eh kenapa gue jadi curhat si" ucap Jihan tersadar.


Dwi tersenyum lalu mengacak acak rambut Jihan gemas membuat Jihan memajukan bibirnya namun sangat terlihat ada sebuah kebahagiaan di antara keduanya.


"Gue bakal buat lo lupain dia dan buat sayang lo itu jatuh ke gue, gue bakal keluarin dia dalam pikiran lo untuk hati gue yakin hati lo masih kosong" tekad Dwi dalam hati.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya....


__ADS_2