Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Coba


__ADS_3

"Gue bahagia punya sahabat sahabat kaya kalian yang baik banget sama gue jadi buat gue sulit untuk pergi dari sini tau" ucap Jihan.


"Kirain kenapa, mereka sahabat sahabat yang akan kita ingat saat kita susah" ujar Fero tersenyum.


"Iya untuk kita mintain pertolongan hahaha" ujar Jihan tertawa.


Semua tertawa riang bersama tanpa beban sedikitpun. Jihan menerima suapan dari semua temannya sembari bercanda ada rasa senang tapi juga sedih karena setelah ini mereka harus berpisah. Jihan harus kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaannya dan menyelesaikan kuliahnya


"Serah kalian, deh Ji lo belum terima suapan dari gue" ucap Joni sahabat Fero.


"Oke satu suap lagi deh gue kenyang" ucap Jihan.


"Oke, mau pakai apa nih" tanya Joni.


"Apa aja" ucap Jihan.


Joni menyuapi Jihan sembari terus tersenyum membuat Jihan mengerutkan dahinya.


"Ngapa lo senyum senyum gitu" tanya Jihan.


"Hehe gue seneng banget Ji bisa sedeket ini sama lo dan gue juga baru pernah suapin lo" ucap Joni.


"Lo bisa aja lagian siapa yang larang lo buat deket sama gue" ucap Jihan


"Gak ada cuma kita sadar kalau kalian tuh ada sesuatu" ucap Joni.


"Bisa aja lo" ucap Jihan.


"Eh btw gimana kelanjutan kisah kalian" tanya Hana.


"Maksud lo" tanya Jihan.


"Ya secara kan si doi udah terang terangan" ucap Hana.


"Kita ya jalani hidup masing masing, oh ya di pertemuan ini juga gue mau minta maaf sama kalian atas semua yang udah gue lakukan sana kalian" ucap Jihan.


"Maksud lo apa Ji" tanya Nisa.


"Sebenarnya setelah hari ini gue bakal pulang ke kota gue mau serius selesaikan sekolah, gue mau serius sama kerja" ucap Jihan


"Iya gue juga gitu mau lanjut kerja tapi mungkin satu minggu lagi gue pulang gue adain pesta besar" ucap Fero.


"Pesta mulu yang lo pikir, kerjaan tuh kemarin gue yang harus selesein gila lo lepas tanggung jawab" omel Jihan.


"Ya bu bos maaf" ucap Fero menyatukan tangannya memohon maaf.


"Udah kalian ngomongin apa kita pusing mending sekarang kita happy masih sore nih mau tidur juga belum ngantuk" ucap Mona.


"Ta gitar lo mana" tanya Jihan.


"Ada di kamar ambil aja" ucap Fero.


"Oke" ucap Jihan mengambil gitar di kamar Fero.


"Eh Fer kenapa si Jihan bisa panggil lo Ta dan lo panggil dia Ay bukannya kalau Ay sama Yang" tanya Nisa.


"Iya bener tuh" ucap beberapa teman membenarkan.


"Bukan Ayang tapi, Ay tuh panggilan buat Ayundia sedangkan Ta berarti Bramasta dulu dia panggil gue Mas Ta gue gak nyaman jadi gue suruh dia panggil Ata aja jangan pakai mas. Terus kalau gue panggil dia Ay itu dulu di kelas ada dua Ji satu Jihan satu Jina kalau panggil Ji semua nengok gue panggil Ay aja kebetulan dia nyaman sama panggilan itu" ucap Fero menjelaskan.


"Oh kirain Ayang kalian kekasih gitu" ucap Hana.


"Gak kita cuma sahabat kok gak pernah lebih dari itu" ucap Fero.


"Iya gue yang gak mau ada hal lebih sama dia takut kecewa hehe" ucap Jihan tiba tiba.


"Bilang ja lo takut sakit hati" ucap Fero.


"Tau itu, lagian gue juga gak boleh sama Abang Papa" ucap Jihan


"Udah jangan bahas itu main gitar aja lo" ucap Fero.


Jihan tersenyum lalu mulai memetik gitar yang dia pegang kemudian dia bersenandung dengan sangat dalam dari hati membuat semua temannya larut dalam lagu.


*Segalanya yang indah tentang


Dirimu


Seolah tiada yang sebanding


Denganmu


Ku percayakan hatiku kepadamu


Meski pernah lelah


Namun kali ini kau bintang di hatiku.


Meski mungkin


Ku tak tau adakah namamu dalam tulisan hidupku


Jika engkau bukanlah takdirku


Besar harapanku padamu


Tuhan tolonglah jadikanlah dia jodohku


Tuhan tolonglah jadikan dia....


Dia... dia... dia.... jodohku*...


Fero yang mendengar nyanyian Jihan berfikir dua kali karena lagu yang Jihan nyanyikan seperti mempunyai dua sisi namun Fero tetap tegar. Fero lalu mengambil gitar yang sedang di bawa Jihan.

__ADS_1


Ku mencintaimu tulus dari hati


Ku menyayangimu selalu


Jangan pernah pergi jauh dari hati


Sungguh hati ini tak mampu


*Melihat kau pergi jauh dari hati


Sungguh hati ini tak mampu


Mengapa kau pergi meninggalkan hati


Sungguh hati ini tak sanggup


Ku ingin kau mengerti


Apa yang ku rasakan saat ini


Kembalilah padaku saat ini


Sungguh ku tak mampu bila tiada kau di sini


Jangan ku pergi lagi dari hati


Sungguh ku tak sanggup tanpa kau di sisih*.


Lirik Fero membuat semua teman temannya menangis dan sadar di balik lirik yang mereka berdua nyanyikan ada sebuah cerita yang menyakitkan.


Namun tiba tiba ponsel Jihan berbunyi. Jihan lalu mendongakkan kepalanya saat Fero selesai menyanyikan lagu ada senyuman menyakitkan yang Jihan pancarkan.


"Hallo kenapa" ucap Jihan.


"Gini ada foto gila tuan Putra di amplop di dalam berkas, sama nilai saham kita turun bos butuh penanganan"


"Gue kesana besok, iya gak apa apa emang gue yang taruh" ucap Jihan.


"Dapat dari mana lo, terus lo lagi apa rame banget"


"Kepo amat lo yang penting kan gue udah selamat sampai tujuan besok ketemu kita bahas di sana aja" ucap Jihan.


"Yaya galak bener , oh ya kata anak buah gue tuan Putra pergi ke situ bos"


"Ya gue tau dia udah temuin gue"


"Gimana dia nyakitin lo lagi gak"


"Gak apa apa jangan pikirin itu bukan urusan lo juga"


"Ya udah Bye"


"Ya Bye" ucap Jihan menutup sambungan telfon.


Fero menatap Jihan serius membuat Jihan menghela nafas karena tau kalau Fero sedang bertanya siapa yang menelfonnya.


"Kenapa" tanya Fero penasaran.


"Dia tanya gue udah sampai apa belum terus bilang gue harus datang besok katanya nilai saham kita turun lo harus ikut gue besok gue gak mau pusing sendiri" ucap Jihan.


"Besok gak bisa lah males gue, gue mau santai di rumah" ucap Fero.


"Serah lo, nasib perusahaan ada di tangan kita Kevin gak mau urus kalau kita gak datang karena harus mematikan semua saluran dulu" ucap Jihan.


"Yang dia butuhin lo yang bisa lacak dan meretas semuanya bukan gue" ucap Fero.


"Ya gue tau Kevin butuh gue dan gue butuh lo " ucap Jihan.


"Ya deh kita berangkat besok pagi sehabis subuh" ucap Fero.


"Oke" ucap Jihan setuju.


"Kalian ngomongin apa si saham lah perusahaan lah lacak retas apaan si" tanya Hana miss kepo.


"Kepo" ucap Jihn dan Fero bersama.


"Jahat" ucap Hana.


Setelah itu semua terdiam tanpa sepatah katapun namun beberapa menit kemudian semua tertawa secara bersama. Jihn ingin menghabiskan malamnya dengn sahabat sahabatnya tanpa memikirkan tangannya yang sedari tadi berdarah.


"Liat tangan lo" ujar Dwi dari belakang.


"Nih tangan gue" ucap Jihan menunjukkan ke dua tangannya kepada Jihan tanpa sadar kalau dia terluka.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Gak kenapa kenapa" ucap Jihan cuek.


"Ji tangan lo berdarah" ucap Nisa.


"Oh ini darah tadi siang" ucap Jihan santai.


"Darah seger gini lo bilang tadi siang" ucap Mona.


"Udahlah gak sakit juga" ucap Jihan.


Fero yang melihat itu lalu mengambil p3k dan memberikannya kepada Dwi, ingin rasanya Fero mengobati luka Jihan namun Fero tau ada yang lebih berhak atas itu.


"Kenapa gak kamu rasakan" tanya Dwi.


"Gak sakit" ucap Jihan singkat.


"Gini gak sakit dalem tau" ucap Dwi.

__ADS_1


"Lebay lo cuma luka sedikit juga" ucap Jihan.


"Kenapa bisa luka" tanya Dwi.


"Ke gores" ucap Jihan singkat.


"Kenapa gak kamu obati" tanya Dwi.


"Karena gak sakit masih sakit hati gue" ucap Jihan.


"Masih mau bahas itu" ujar Dwi.


"Terserah" ucap Jihan mengangkat ke dua bahunya.


Dwi tidak menjawab kembali omongan Jihan walau dalam hati dia sudah sangat muak untuk menghadapi Jihan dan sudah ingin dia meremas tangan Jihan namun dia memikirkan harga dirinya untuk tidak memarahi Jihan di sana atau popularitas dia akan hancur.


"Sudah" ucap Dwi.


"Hm, terima kasih" ucap Jihan singkat.


"Eh kak Dani sorry motor Abang di apartemen Jihan" ucap Jihan kepada Dani.


"Hu dasar, ya udah nanti gue berangkat bareng lo boleh" tanya Dani.


"Ta lo ikut berangkat bareng gue gak" tanya Jihan.


"Iyalah gak ada motor" ucap Fero.


"Terus kita bertiga gitu" tanya Dani.


"Gak gue sama Abang aja" ucap Jihan.


"Oke bareng kita bertiga biar rame" ucap Jovan.


"Abang sama gue pakai mobil Jihan, terus kak Dani Ata pakai mobil Abang Abang bawa mobil yang muat empat orang kan" ucap Jihan.


"Iya, kenapa gak kita berempat si Fero bawa mobil lo sendiri" ujar Dwi.


"Kalau sendiri capek banget apalagi dia gak mau bawa mobil ngebut ngebut bisa empat jam full sampai sana" ujar Jihan.


"Emang kamu berapa jam kesana" tanya Dwi.


"Satu jam pakai motor, satu setengah pakai mobil tapi kalau gak kena macet" ucap Jihan membuat semua orang melongo.


"Kamu ya bawa mobil kayak gitu Abang cabut SIM kamu baru tau rasa lo" ujar Jovan.


"Hehe sorry Bang sorry mending Abang cabut mobil Jihan jangan SIM" ucap Jihan.


"Jangan mau Bang, kalau di cabut SIMnya kan gak bisa bawa mobil lagi tapi kalau Abang cabut mobil dia bisa pinjem sama temen temennya" ujar Fero.


"Lo Ta bukannya bela gue jatuhin gue lo" ujar Jihan menyenggol Fero.


"Ini semua demi keselamatan lo Ay" ucap Fero.


"Iya iya gak bakal ngebut ngebut lagi, tapi kalau di sirkuit boleh kan" ucap Jihan pasrah.


"Jangan" ucap Jovan Dani Dwi dan Fero bersama.


"Kenapa kalau gak boleh kapan menangnya" ucap Jihan menutup telinganya.


"Jangan balapan lagi" ucap Fero.


"Satu kali lagi hadiahnya mobil sport keluaran terbaru" ucap Jihan.


"Gak ada" ucap Fero.


"Ya lah" ucap Jihan.


"Kalian bisa bahas pekerjaan nanti gak kita happy happy dulu" ucap Hana.


"Bilang aja lo pusing" ucap Mona.


"Yaya kalian berdua ya" ujar Jihan memeluk ke dua sahabatnya.


"Ji jangan lupain kita ya" ujar Hana.


"Iya Ji walaupun kita nyebelin dan gak sepinter lo jangan lupain ya" sambung Mona.


"Iya kalian semua gak bakal gue lupain, oh ya rencana kalian selanjutnya apa" tanya Jihan.


"Kalau gue si kerja aja Ji bantu emak" ucap Hana.


"Kalau gue juga paling pergi ke kota buat kerja" sambung Mona.


"Kalian semua gak ada yang pengin lanjut sekolah" tanya Jihan mengerutkan dahinya.


"Mau kita sebenernya si mau lanjut kuliah Ji, tapi kita juga kasian sama orang tua Ji" ucap Hana.


"Kenapa kalian gak berusaha cari beasiswa" ujar Jihan.


"Mau si tapi semua yang terima beasiswa udah pada gak terima calon mahasiswa lagi" ucap Nisa.


"Kenapa gak coba di Universitas X di kota" ucap Fero.


"Gak mungkin itu sekolah elit" ucap Joni.


"Belum juga di coba udah nyerah, bukannya bagus sekolah elit pasti fasilitas juga oke" ucap Dani.


"Iya bener tuh kata Kak Dani coba aja dulu" ucap Jihan.


"Kita harus berfikir dua kali" ucap Mona.


"Nis gak komen" tanya Joni.

__ADS_1


"Nisa jangan di tanya kemanapun dia kuliah dia mampu orangtuanya juga mampu lain sama kita" ucap Hana.


Bersambung......


__ADS_2