Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Jangan Bahas


__ADS_3

(Maaf nih yang tanya "apa bisa nikah tanpa pengantin perempuan" jawabannya bisa soalnya si penghulu nunggu pengantin perempuan datang untuk menandatangani berkas, lagian itu perjodohan mau gak mau kan biar mau lagian si Jihan juga nurut aja buat tanda tangan yang penting berkas pengurusan surat nikah komplit kan lagian apa si yang gak bisa buat para sultan". Maaf ya gk bisa jawab satu satu komentar kalian buat yang komennya kurang sopan maaf gak bisa saya balas.


Terima kasih yang udah mau dukung Author terus, lanjut ya Readers).


"Cari siapa" tanya Dwi.


"Maaf mau cari Jihan anter makanan" ucapnya sopan.


"Hai, masuk" ucap Jihan dari belakang Dwi.


"I ii iya" ucapnya gugup.


"Kenapa gugup si" ujar Jihan duduk.


Dwi yang melihat Jihan sangat akrab dan tertawa bahagia membuatnya ikut tersenyum dan melupakan kekesalannya. Jihan melihat Dwi mendekatinya lalu menariknya untuk duduk bersamanya membuat Dwi tersentak.


"Ji lo abis ngapain main ya" tanya teman Jihan.


"Maksud lo" tanya Jihan bingung.


"Sok polos lo, udah minta makan jam segini rambut basah baju seksi di apartemen berduaan lagi" ujarnya tersenyum.


"Pikiran lo gila, gue gak abis ngapa ngapain cuma belum mandi gue tidur dari siang" ucap Jihan.


"Alasan lo gak berbobot" ucapnya.


"Kalau gak percaya tanya aja sama dia" ucap Jihan.


"Kalau liat dia kayak gak meyakinkan" ucapnya.


"Karena memang gak terjadi di antara kita" ucap Dwi sinis.


"Gak yakin gue" ucapnya.


"Terserah mau percaya apa gak" ucap Jihan.


"Lagian gimana mau begituan nyentuh aja harus bener bener kepeped" ucap Dwi makin sinis.


"Iya sorry belum siap guenya, oh ya dari tadi pasti bingung dia siapa kan kenalin dia suami gue" ucap Jihan.


"Serius lo Ji" tanyanya kaget.


"Serius gue kalau gak percaya ya udah" ucap Jihan.


"Ya ya gue percaya deh, lo kan gak mungkin bawa orang sembarangan" ucapnya.


"Ya sebentar gue ambil piring kita makan bareng ya" ujar Jihan pergi ke dapur.


"Oke" ucapnya.


Jihan lalu pergi ke dapur untuk mengambil piring sedangkan Dwi duduk sembari bermain ponsel sedangkan temen Jihan terus menatap Dwi tanpa berkedip membuat Dwi risih.


"Jangan natap gitu gue suami orang" ucap Dwi dingin membuat teman Jihan gelagapan.


"Eh sorry sorry, oh ya lo jangan nyerah deketin Jihan ya dia tuh orang paling dingin dan paling susah di deketin dan jangan pernah tuduh dia yang gak gak soalnya dia gak pernah melakukan hal di luar jalur dan dia gak pernah bareng orang asing" ucapnya.


"Hm" ujar Dwi.


"Sorry lama maklum baru kesini jadi masih bingung, males ya duduk sama dia " ucap Jihan.


"Gak apa apa, oh ya gue langsung pulang aja ya" ucapnya.


"Kenapa, makan dulu lah" ucap Jihan.


"Gak tadi lagi banyak yang datang maklum makin malam nih," ucapnya.


"Ya udah, ini total berapa" tanya Jihan.


"Gak perlu bayar, anggap aja hadiah kecil pernikahan lo" ucapnya.


"Gak bisa lah, yang ini gue bayar tapi lain kali kalau gue ke tempat lo gratis ya" ujar Jihan.


"Oke lah, tapi kalau lo datang sama suami lo" ucapnya.


"Iya, sip lah mas duit mana" ujar Jihan menjulurkan tangannya.


"Nih" ucap Dwi memberikan dompetnya.


"Terima kasih, nih cukup gak" tanya Jihan.


"Lebih Ji, tapi gak bawa kembalian" ucapnya.

__ADS_1


"Udah anggap aja bonus hehe" ujar Jihan.


"Oke deh, lain kali datang langsung ya gue pulang dulu" ucapnya.


"Iya" ucap Jihan.


Teman Jihan berjalan ke pintu keluar di temani Jihan yang mengantarnya ke depan pintu. Sebelum pergi temen Jihan terus saja meledek Jihan tentang pernikahannya dengan Dwi, namun bukannya marah seperti biasa Jihan justru tersipu mungkin karen Jihan sudah terbiasa dengan kehadiran Dwi di sampingnya.


"Hehe, sorry kalau ganggu kalian" ucapnya tersenyum.


"Udah pergi lo" ucap Jihan dengan wajah merona karena terus di ledek.


"Iya iya ganggu pengantin baru haha bye" ucapnya lari.


setelah kepergian temannya Jihan lalu menutup pintu dan masuk untuk makan. saat Jihan sampai dan duduk di samping Dwi ternyata makanan sudah tertata rapi di atas piring.


"Ayam semua" tanya Dwi.


"Iya, tadi mau pesen di tempat lain tapi inget kamu kan gak bisa makan seafood jadi pilih di tempat dia aja yang gak pakai seafood di restaurannya" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Kenapa, senyum senyum" tanya Jihan.


"Terima kasih" ucap Dwi mengacak acak rambut Jihan.


"Iya sama sama, makan aja mana yang kamu suka" ucap Jihan.


"Iya Honey" ucap Dwi tanpa terasa sebuah lengkungan di bibir Jihan dan di ketahui Dwi.


"Ji mau" ucap Dwi memberikan sesuap ayam kecap kesukaannya.


"Boleh" ucap Jihan menerima suapan Dwi.


"Seneng ya gini harmonis" ucap Dwi membuat Jihan menghentikan makannya.


"Kenapa berhenti" tanya Dwi.


"Eh gak, maaf belum bisa jadi istri yang baik" ucap Jihan.


"Its, oke kita jalani aja dulu waktu yang bisa menjawab" ucap Dwi santai.


"Maaf juga, tentang omongan temen gue tadi dia emang asal ceplos" ucap Jihan menunduk.


"Ih dasar mesum" ucap Jihan.


"Gak apa apa sama istri sendiri juga, kalau sama istri orang baru salah" ucap Dwi.


"Coba aja kalau bisa" ucap Jihan penuh amarah di matanya.


"Wah ada yang marah nih, asik ada yang sayang" ucap Dwi.


"Udahlah jadi hilang nafsu makan gue nanti" ucap Jihan makan dengan cepat.


Dwi melihat Jihan ngambek lalu muncul ide gilanya untuk mengganggu Jihan karena Dwi tau kalau Jihan tidak mampu untuk marah dengannya lama lama.


"Kita coba ya abis makan" ucap Dwi berbisik di telinga Jihan membuat Jihan membatu.


"Gak, gak ada gituan" ucap Jihan.


"Gituan apa" tanya Dwi dengan nada usil.


"Gue belum siap punya anak, apalagi belum yakin sama hati" ucap Jihan.


"Kan asik kalau punya anak jadi rame apartemen" ucap Dwi.


"Iya tapi belum sekarang, please kasih aku waktu untuk meyakinkan hati dulu" ucap Jihan.


"Oke, gimana kalau setelah kamu selesai ujian kita coba" ucap Dwi semangat.


"Jangan bahas itu lagi" ucap Jihan.


"Hehe, cantik banget kalau lagi merah tuh muka" ledek Dwi namun tak di jawab Jihan.


" Ternyata ada kebaikan di hati lo Ji, dan gue yakin lo udah mulai membuka hati buat gue" ujar Dwi dalam hati.


Jihan tidak menghiraukan Dwi lalu menyelesaikan makannya dengan cepat kemudian membereskannya ke dapur. Saat di dapur sedang mencuci piring Dwi datang kemudian memeluknya dari belakang membuat Jihan tersentak namun tak menghentikan perlakuan Dwi sampai Jihan selesai mencuci piring.


"Jangan gini dong" ucap Jihan membalikkan badannya.


"Terus gimana" tanya Dwi dengan senyum dan menarik pinggang Jihan lebih dekat dengan dirinya.


"Ya jangan kayak gini pokok" ucap Jihan terhenti saat Dwi menempelkan bibirnya di bibir Jihan.

__ADS_1


Jihan membulatkan matanya sedangkan Dwi tersenyum dan menikmati bibir ranum Jihan walau tanpa balasan. Setelah lama Dwi menghentikan permainannya saat Jihan menepuk nepuk dadanya.


"Kenapa gak nafas" ledek Dwi.


"Gimana mau nafas badan aja beku" ucap Jihan polos.


"Ini pertama kamu" tanya Dwi serius.


"Bukan tapi yang pertama sudah kamu ambil saat kejadian di sekolah, kamu jahat tau" ucap Jihan mulai menangis.


"Kamu nangis maaf kalau ternyata kamu sudah menjaganya dengan sangat baik maaf dan mas udah merebutnya" ucap Dwi menunduk.


"Bukan kamu yang salah tapi gue yang salah, gue bukan nangis udah rebut ini gue nangis gue berhasil menjaganya sampai waktunya tiba" ucap Jihan.


"Terima kasih, kamu menjaganya untukku love you" ucap Dwi sembari memberikan kecupan singkat di bibir Jihan.


Dwi lalu memeluk Jihan erat dan entah apa yang merasuki Jihan sampai Jihan membalas pelukan Dwi tak kalah erat.


"Udah kenapa ikut nangis si, capek nih berdiri terus" ucap Jihan dalam pelukan Dwi membuat Dwi tersenyum.


"Hehe maaf" ucap Dwi lalu menggendong Jihan menuju kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan" tanya Jihan panik.


"Akan melakukan apa yang membuatmu memanggilku dengan kasih sayang" ucap Dwi tersenyum.


"Gak sekarang kali" ucap Jihan.


"Terus kapan dong, lagian baju kamu menggoda iman" ucap Dwi.


"Ya maaf, gak ada baju lain yang lebih pas" ucap Jihan.


"Ya udah kita main sebentar" ucap Dwi membaringkan Jihan.


"Gak gue harus ujian besok" ucap Jihan.


"Sebentar doang" ucap Dwi.


"Gak ya enggak, tunggu selesai ujian lagian gue takut" ucap Jihan menutup wajahnya.


"Takut kenapa mas gak nerkam, takut mas ambil mahkota kamu apa itu bukan hak mas" ucap Dwi.


"Bukan itu, apapun yang gue punya itu punya suami gue siapapun itu tapi gue takut besok gak bisa bangun karena katanya sakit kayak di tusuk pedang" ucap Jihan lirih.


"Hahahaaha, kamu polos banget si tenang aja Mas gak akan lakukan sekarang mas tunggu kamu sampai selesai ujian dan kamu menyerahkan diri" ucap Dwi.


"Kerjain gue ya, dasar dasar" ucap Jihan duduk dan memukuli Dwi dengan bantal.


"Kenapa mau coba sekarang" ledek dwi genit.


"Ih geli" ucap Jihan memukul mukul Dwi dengan bantal.


"Ampun Ji ampun" ucap Dwi berlari namun masih di kekar Jihan dengan bantal di tangannya.


"Sini lo" ucap Jihan.


Saat lelah menghampiri Dwi berhenti di ruang tamu sebelah sofa Jihan tersenyum dan menghampiri Dwi namun kakinya tersandung karpet membuatnya menabrak Dwi hingga terjatuh di sofa Jihan jatuh tepat di atas Dwi membuat Jihan membulatkan matanya dan mencoba bangun namun kalah cepat dengan Dwi yang sudah menarik pinggang Jihan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya Readers...


Like vote dan komennya...

__ADS_1


__ADS_2