
"Jangan GR dulu lo ya, sebenarnya gue udah mau lepasin dia dari dulu setelah dia selingkuh di belakang gue tapi saat dia menangis gue seolah terhipnotis untuk memaafkannya" ucap Dwi.
"Namanya juga selingkuh ya di belakang lah" gerutu Jihan.
Jihan melepaskan pelukannya namun Dwi malah mempererat pelukannya membuat Jihan menghela nafas panjang.
"Lepasin ngapa" ucap Jihan.
"Gak mau nanti kamu ngamuk lagi" ucap Dwi.
"Lo yang bikin gue gini" ucap Jihan membuat Dwi melepaskan pelukannya.
"Gini gue gak mau ikut campur masalah lo sama siapapun itu, dan gue juga gak mau menuntut lo buat lepasin di semua terserah sama lo karena lo udah lebih dewasa dari gue dan gue yakin semua pilihan yang lo pilih itu yang terbaik buat lo" ucap Jihan.
"Gue mau mandi dulu, oh ya makasih bajunya" ucap Jihan melenggang pergi ke kamar mandi.
"Kenapa gue merasa nyaman banget pas peluk dia, dan ternyata dia selama ini ngebantah gue karena dia gak mau di bentak lihat aja nanti bakal gue buat dia tunduk sama gue" ujar Dwi dalam hati.
Jihan selesai mandi tapi lupa untuk membawa baju ganti lalu dia mengambil kimono mandi kemudian keluar dengan lirih sembari melihat apakah Dwi masih di sana.
Saat melihat Dwi tidak ada di sana Jihan lalu berlari untuk mengambil pakaian namun baju baju yang tadi ada di atas kasur sudah menghilang. Di saat yang bersamaan Dwi datang dari arah belakang.
"Cari apa" tanya Dwi.
"Cari baju tadi di sini tapi dimana ya" ucap Jihan bingung.
"Gue bawa ke ruang ganti, cepet ganti sana sebelum iman gue goyah" ucap Dwi.
Jihan dengan cepat berlari ke ruang ganti sedangkan Dwi pergi ke kamar mandi.
Setelah berganti pakaian dan memoles tipis wajahnya Jihan turun ke lantai dasar untuk mengambil minum. Saat dia sampai di tangga Jihan berpapasan dengan mertuanya.
"Hai sayang sudah bangun, baru aja mau mama bangunin" ucap Mama Sri.
"Sudah mah, lagian tadi mas Dwi yang bangunin" ucap Jihan.
"Gitu pantesan" ucap mama tersenyum melihat leher menantunya.
"Kenapa mah" tanya Jihan bingung belum sadar kalau bekas di lehernya begitu jelas.
"Gak, oh ya mama denger kamu pinter masak ya kata Dwi si masakan kamu paling enak boleh gak ajarin mama masak" ucap mama.
"Mama bisa aja, emang mau masak apa mah soalnya Jihan cuma bisa masak masakan lokal gak bisa kalau yang western" ucap Jihan.
"Iya gak apa apa, kita masak ayam kecap aja kesukaan Dwi" ucap Mama.
"Oke" ucap Jihan.
Jihan dan mama Sri lalu pergi ke dapur untuk memasak, Jihan melarang semua maid yang ada di mansion tersebut untuk membantunya dengan alasan dia ingin memasak sendiri untuk semua orang yang ada di rumah itu termasuk maid.
"Non mari saya bantu" ucap Seorang kepala Maid.
"Nanti saja anda bantu saya oh ya siapa nama anda" tanya Jihan sopan.
"Saya marni non kepala pelayan" ucapnya.
"Oke bu marni karena anda ingin sekali membantu saya tolong coba ini" ucap Jihan memberikan makanan yang sudah siap untuk bu marni.
"Maksudnya apa non" tanya bu Marni.
"Bantu siapin ini buat semua asisten yang ada di sini, terus yang ini buat meja utama" ucap Jihan.
"Tapi Non gak sepantasnya kita makan seperti ini Non" ucapnya.
"Terus kalian mau makan apa selama gue di sini dan gue yang masak terserah gue mau buat siapa juga lagian bukan duit gue juga yang buat belanja hehe" ujar Jihan.
" Anda terlalu jujur" ucap Bi Marni.
"Hehe udah lah bi, lagian ini masakan pertama saya di sini jadi semua harus cobain dan semua wajib komentar dan lagi saya tidak pernah memandang seseorang dari derajatnya" ucap Jihan.
"Lagi masak apa nih kayaknya enak" ucap Dwi yang baru saja datang lalu bergabung.
Ini adalah kali pertama Dwi masuk ke dapur di mansion.
__ADS_1
"Lihat aja nanti, tunggu aja di sana" ucap Jihan santai.
"Oke, mas tunggu di sana ya sayang" ucap Dwi mencium pipi Jihan sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar cari kesempatan aja" ujar Jihan dalam hati sembari menatap Dwi tajam.
Setelah semua makanan siap Jihan memanggil semua orang untuk makan malam.
"Terima kasih sayang" ucap mama Sri.
"Buat" tanya Jihan.
"Masakan kamu enak iya gak pah put" ucap mama.
"Mantul" ucap Putri memberikan dua jempol.
"Syukurlah kalau kalian semua suka" ucap Jihan tersenyum.
"Ternyata manis juga kalau lagi senyum gini" ujar Dwi.
"Kamu kenapa Bang senyum senyum gitu" tanya Putri menggoda.
"Terserah Abang dong" ucap Dwi.
Di saat yang bersamaan juga, Clarissa datang lalu mencium Dwi dari belakang membuat semua orang menatapnya tajam. Sedangkan Dwi terlihat santai dan mempersilahkan Clarissa duduk dan makan bersama.
"Gila di depan keluarganya juga dia masih mesra di depan gue, gak lihat apa tatapan elang mereka dasar wanita gila" ujar Jihan dalam hati.
"Kakak nanti bantu Putri ngerjain tugas ya" ucap Putri.
"Oke" ucap Jihan singkat.
Semua kembali makan walaupun selera mereka sudah hilang. Namun di sisi lain Clarissa terlihat begitu puas karena bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan. Setelah semua makan Jihan membereskan meja makan di bantu beberapa maid.
"Biar saya aja Nona" ucap Bi Marni.
"Iya bentar Bi, oh ya saya minta komentar kalian bagaimana masakan saya" tanya Jihan dengan senyuman manis.
"Mantul Non, juara pokoknya mah" ucap Bi Marni.
"Gak Non, soalnya saya punya hati sendiri hehe" ucapnya.
"Kalau bibi ambil juga bakal saya rebut lagi soalnya saya cuma punya satu itupun udah luka beberapa kali takutnya malah di buang sama bibi hahaha" ujar Jihan.
Jihan dan beberapa maid bercanda terus membuat semua orang melihat ke arahnya karena Jihan dengan santainya bercanda dengan para asisten.
"Gini nih kalau lahir dari keluarga bawah mainnya juga sama orang bawah yang layaknya buat di injak bukan buat temen" ujar Clarissa keras.
"Gak ada yang tau kita dari keluarga kelas apa sebelum melihat kenyataan karena banyak orang menganggap dirinya kelas atas tapi kelakuannya rendahan iya gak si bi" ujar Jihan keras membuat Clarissa meradang.
"Dasar gembel" ucap Clarissa.
"Gue gembel, gak apa apa dong lagian walaupun gue gembel gue gak abisin uang Mas Dwi daripada lo kelas atas yang ada abisin uang Mas Dwi yang bukan siapa siapa lo" ucap Jihan santai.
"Siapa bilang dia bukan siapa siapa gue dia calon suami gue dan lo godain dia gila" ucap Clarissa.
"Lo calon istri dia, tapi sayangnya dia udah nikahin gue" ucap Jihan.
"Nggak percaya gue halu lo" ucap Clarissa.
"Gue halu lo kali yang halu" ucap Jihan.
"Dasar wanita penggoda" ucap Clarissa.
"Yakin gue wanita penggoda bukannya lo ya yang udah godain suami orang" ucap Jihan tegas.
"Dasar lo ya" ucap Clarissa menampar Jihan.
Semua orang membulatkan matanya termasuk para asistem yang memanggil semua orang untuk melerai perkelahian. Jihan tersenyum sinis, lalu memegang pipinya yang kena tamparan Clarissa.
"Sakit" ucap Clarissa sinis.
"Ini sakit gak tuh udah biasa gue, tapi lo inget ini kalau ada orang berani sakitin gue gue bakal balas setaus kali lipat" ucap Jihan lalu menampar Clarissa sampai tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Lagi" tanya Jihan sadis.
"Wanita gila" ucap Clarissa yang masih duduk di lantai.
"Kalau lo tau gue wanita gila kenapa lo cari masalah sama gue dan lagi gue bisa aja bunuh lo sekarang buat bayar semua perlakuan lo paham" ujar Jihan mencengkram wajah Clarissa erat.
Pada saat yang bersamaan juga Dwi datang kemudian menarik Jihan dengan keras lalu menampar Jihan kuat membuat Jihan mengeluarkan darah di bibirnya.
"Dwi" teriak mama Sri.
"Kena lo" ujar Clarissa licik.
"Lo berani tampar gue" ucap Jihan sembari mengusap darah yang keluar di tepi bibirnya dengan jempolnya lalu mengusapkannya di jidat Dwi kemudian memukul Dwi dengan keras dan membuat Dwi mengeluarkan darah membuat semua orang membulatkan matanya.
"Lo berani" ujar Dwi
"Kenapa mau marah" ujar Jihan.
Dwi kembali mengangkat tangannya namun dengan cepat Jihan menangkis dan memutar tangan Dwi sampai ke belakang badan Dwi membuat Dwi meringis kesakitan. Jihan lalu menundukkan Dwi sampai Dwi terduduk di lantai.
"Sekali lagi lo lakuin itu ke gue gue balas lo sampai lo bener bener gak bisa berdiri paham" ujar Jihan mendorong Dwi lalu pergi tanpa memperdulikan ke dua mertuanya.
"Wouow" ujar Mama Sri.
"Kakak keren" ucap Putri.
"Terima kasih" ucap Jihan lalu pergi ke dapur melewati Dwi yang sedang di obati Clarissa.
"Ada yang bisa saya bantu non" tanya Bi Marni.
"Gak Bi cuma mau ambil es batu doang" ucap Jihan lalu pergi lagi ke halaman luar.
"Hai anak Papa, masih sakit" tanya Papa yang baru datang dengan mama Sri.
"Gak kok pah, cuma sedikit juga" ucap Jihan sembari mengompres pipinya yang kena tamparan.
"Sini biar mama aja yang kompres kamu" ucap Mama.
"Gak usah mah, mama urus mas Dwi aja tadi lumayan keras tonjoknya" ucap Jihan tanpa merasa bersalah.
"Biarin biar dia tau rasa gimana galaknya wanita saat dia di sakiti" ucap Mama Sri.
"Kaka, sini biar Putri aja yang obati sekalian mau minta maaf atas perlakuan Putri yang dulu dulu" ucap Putri membawa kotak P3K.
"Hm silahkan" ucap Jihan.
Jihan menutup matanya dan bersandar di kursi taman tanpa memikirkan ke dua mertuanya yang ada di depannya. Saat Jihan menutup mata ada air mata yang keluar dari matanya membuat Putri yang sedang mengobatinya menatap ke dua orang tuanya.
"Put, pergi yuk" ucap Jihan masih menutup mata.
"Kemana kak" tanya Putri.
"Kita cari hiburan, ke tempat kita puas teriak" ucap Jihan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya....
Vote like dan komen kalian semua Author tunggu...