Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
konsekuensi


__ADS_3

"Gue terima kasih karena gue bisa buat dia lebih baik lagi dan biar dia belajar buat membangun kembali karirnya" ujar Fero.


"Gue gak akan pernah maafin lo" ucap Jihan tegas.


"Ji, dewasalah" ujar Jovan.


"Kurang dewasa apa Bang, dia gak salah kenapa harus minta maaf harusnya bawa orang yang salah ke sini" ucap Jihan.


"Gue di sini" ucap Putri tiba tiba masuk ke ruangannya Jihan langsung menatapmya tidak suka di iringi buliran bening air matanya deras.


"Ji maafin gue gue gak tau lo lagi hamil" ujar Putri menangis tersedu sedu di depannya.


"Apa peduli lo dengan kehamilan gue, bahkan lo juga perlahan hancurin psikis gue" ujar Putri.


"Itu masa lalu Ji" ujar Putri.


"Karena masalalu lah gue belajar" ucap Jihan.


"Tapi Ji" ujar Dwi.


"Lo tau dia yang orang yang merundung gue, dia bahkan pernah mencoba hancurin moral gue dengan membawa gue ke preman preman gak waras dia, dia yang hancurin semua usaha gue bahkan dia yang buat gue di buang keluarga gue sendiri dengan mengorbankan nama besar ayahnya bukankah dia gila ha" ujar Jihan.


"Pelankan suaramu" ucap Dwi.


"Kenapa lo gak terima karena dia adek lo, itu juga yang Kak Dani lakuin pas gue di buang gitu aja tanpa alasan tapi itu gak bakal gue biarin gue bakal hidup lo lebih sengsara dari gue" ujar Jihan.


"Bukankah kamu juga jahat saat kamu melakukan hal yang sama dengannya" ucap Fero.


"Gue salut sama lo, lo bela dia karena dia istri lo dan lo juga harusnya gak lupa kalau gue bakal perlakukan mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan sama gue" ucap Jihan.


"Sudahlah Ji sayang air mata lo keluarin buat orang gila kayak dia" ucap Jovan.


"Bang gue bakal balas dia seribu kali lipat dari yang dia lakuin" ucap Jihan tegas.


"Gue bakal kasih apapun yang lo mau asal jangan hancurin karir gue" ucap Putri memohon berlutut di depan Jihan.


"Itu yang gue mau buat lo hancur sehancur hancurnya paham lo, sekarang pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapan gue" ucap Jihan menunjuk arah pintu.


"Maafin gue Ji" ujar Putri enggan pergi.


"Kalau boleh tau alasan sebenarnya lo tetep ingin di desa itu apa" tanya Dwi.


"Di sana gue belajar banyak hal, gue belajar bela diri dari taek wondo sampai karate biar gue bisa bela orang lemah, gue belajar cari uang bahkan sekolah pakai uang sendiri selain karena hukumaan dari orang tua yang seharusnya gak gue terima biar mereka gak pandang gue sebelah mata gak pandang gue cuma bisa habisin harta mereka" ucap Jihan dengan derai air mata.


"Gue menjadi orang paling gak punya karena gue mau tau mana yang tulus dan mana yang setia fulus, lo tau gue bahkan belajar sopan santun lebih dalam biar gue bisa menjadi seorang putri yang pantas dari keluarga Prasaja gue lakuin semua karena gue yakin gue bisa dan buat buktiiin kalau mata lo gila gak bisa liat baiknya gue" ucap Jihan mencengkram pipi Putri sampai membekas semua orang hanya melihat bahkan mertuanya melongo.


"Bukankah dendam lo udah selesai Ay" tanya Fero.


"Selesai gak pernah, sampai dia benar benar gak berdaya gue gak harapin dia berlutut di hadapan gue, gue cuma mau lihat hancurnya dia" ucap Jihan.


"Ji please" ucap Putri memohon dengan air mata yang mengalir deras.


"Kemana lo pas gue minta mohon bahkan sampai sujud di depan lo, gue bahkan rela jadi babu lo dengan suka rela asal lo gak buat gue di benci keluarga tapi ternyata yang lo lakuin apa bukan cuma mengada ada cerita gue biar mereka buang gue lo bahkan fitnah bapak lo sendiri gila lo" ujar Jihan.

__ADS_1


"Ji please" ucap Putri.


"Fero bawa istri lo pergi" ucap Dwi tidak tahan dengan perlakuan istrinya terhadap adiknya sakit tapi memang itu konsekuensi yang harus adiknya dapat setelah menghancurkan seseorang.


"Gue gak mau pergi sebelum Jihan maafin gue Kak" ucap Putri.


"Pergi sekarang lo pantas terima itu pulang dan bersiaplah pergi keluar negeri dan bangun semuanya dari awal lagi kakak akan siapkan berkasnya" ujar Dwi.


Fero membawa Putri pergi, sedangkan Jihan langsung membaringkan badannya di atas ranjang dengan tangan menutup matanya. Dengan nafas naik turun meredam emosi Dwi duduk di samping ranjang Jihan sedangkan Jovan hanya menatap Jihaan ternyata adiknya melewati msa sulit tanpa dia di sampingnya.


"Ji" ucap teman teman Jihan dari desa yang menarik tangan Jihan yang sudah basah dengn air mata.


Seketika tangisnya pecah membuat semua sahabatnya larut dalam kesedihan. Dwi mencoba berbicara demgan Jihan namun tak mendapat tanggapan baik.


"Biarin dia mengeluarkan emosinya lewat tangisan, biar dia merasa lebih baik karena dia harus berpura pura baik baik saja di depan kalian walaupun sebenarnya dia di tidak kuat dengan menangis dalam diam itu membuatnya sulit dalam berobat" ujar Ridwan yang mendekati Jihan saat sebelumnya melihat pertengkaran Jihan demgan semua orang


"Apa ini alasannya dia sering pingsan gitu aja dok" tanya Jovan.


"Iya psikisnya sempat terganggu, dia mengalami depresi berat karena seringnya perundungan yang dia alami dan di dukung dengn di asingkan ke temoat yang sama sekali tidak dia kenal membuatnya semakin memburuk untung saja di sana dia mendapat sahabat sahabat yang baik seperti mereka" ucap Ridwan seketika Jovan terduduk kakinya terasa sangat lemas denfan derai air mata.


"Maafin Abang Ji maaf" ucap Jovan.


"Ji" panggil Dani yang tiba tiba datang.


"Kakak" ucap Jihan langsung memeluk Dani yang mendekat.


"Kenapa sayang" tanya Dani penuh perhatian.


"Kakak kakak gagal jadi uncle" ucap Jihan.


"Dia menceritakn semua yang dia alami" ucap Ridwan.


"Oh gimana rasanya Ji, lega kan" ucap Dani menatap Jihan.


"Iya Kak, tapi Jihan buat banyak orang menangis" ucap Jihan.


"Udahlah sekarang fokuslah dengan kesembuhanmu" ucap Dani.


"Dok bisakah gue pulang cepat" tanya Jihan.


"Sebenarnya saya perlu memantau kamu dalam penyembuhan, tapi untuk alat bantu seperti infus ini tidak perlu lagi jadi sekarang saya akan mencabutnya dari tubuh kamu" ucap Ridwan.


"Iya dok, gimana kalau rawat Jihan di rumah aja" ucap Jihan.


"Bisa asal kamu berjanji untuk istirahat total" ujar Ridwan.


"Siap dokter" ucap Jihan.


"Mari salah satu antara kalian ikut saya untuk menebus obat" ucap Ridwan.


"Biar gue aja Kak, kakak sama Jihan aja" ucap Jovan mengikuti langkah Ridwan.


Setelah kepergian Jovan dan Dokter Jihan menceritakan semuanya kepada Dani, Dani hanya bisa menarik nafasnya panjang dengan menahan air matanya yang akan keluar.

__ADS_1


"Sekarang temui Dwi dan ceritakan semuanya, apapun tanggapan dia adalah konsekuensinya" ujar Dani.


"Jihan gak tau dia dimana Kak, lagian ponselnya juga di tinggal" ujar Jihan.


"Ya udah Kakak cari tau dulu, kamu ganti baju dan bersiaplah pulang" ucap Dani di angguki Jihan.


Dani pergi dari ruangan Jihan untuk mencari Dwi sedangkan Jihan bersiap mandi dan berganti pakaian dan memoles wajahnya.


"Ji ikut yuk" ucap Dani.


"Kemana kak" tanya Jihan


"ikut aja" ujar Dani menggandeng tangan Jihan membuat Jihan mengikuti dengan langkah panjang mengikuti irama langkah Dani.


"Kok ke taman si" tanya Jihan yang ternyata di bawa ke taman sebelah rumah sakit.


"Lihat lah" ujar Dani menuntuk seseorang di sebuah ayunan.


"Bicaralah" ucap Dani memaksa Jihan mendekat setelah menarik nafasnya panjang.


Perlahan Jihan mendekat dengan ragu dan sesekali menatap Dani yang sedang melihatnya dan sahabat sahabatnya yang sudah bergabung dengan Dani. Jihan duduk di ayunan samping Dwi namun Dwi tak bergeming.


Jihan menarik nafasnya panjang, dia menceritakan semua masalahnya dengan Putri bagaimana dia tidak bisa memberinya maaf sampai bagaimana dia akan menghancurkannya. Walaupun Dwi masih tidak bergeming tapi Jihan terus saja bercerita.


"Terim kasih sudah mendengarkan selanjutnya terserah kamu apapun akan terjadi dengan pilihan yang akan kita berdua pilih tapi jangan paksa gue buat maafin dia terlalu dalam luka yang sudah dia gores kalaupun lo ingat pas gue baik sama dia karena gue sedang mengujinya" ujar Jihan berdiri hendak pergi.


"Bagaimana dengan nasib pernikahan kita di sisi lain gue adalah seorang Abang yang harus menjaga adiknya dan di sisi lain juga gue suami yang harus menjaga hati istri" ucapan Dwi berhasil membuat Jihan berhenti dan tersenyum.


"Benarkah omonganmu itu, menjaga hati istri belajarlah untuk itu" ucap Jihan membuat Dwi bingung.


"Maksudmu apa" tanya Dwi mendekat.


"Tanya pada hatimu, jawabannya ada di sana gue terima semua keputusan lo apapun itu karena memang gue hanya formalitas" ucap Jihan.


"Gue makin gak tau maksud lo" ujar Dwi.


"Jika ada mawar di tangan mengapa ada melati dalam hatimu, pilih salah satu dan tentukan itu gue tunggu besok untuk sekarang jangan temui gue sebelum lo tentuin pilihan" ujar Jihan pergi.


Namun dengan cepat Dwi menariknya dengan keras membuat Jihan jatuh dalam pelukan Dwi. Dwi langsung memeluk erat tubuh Jihan sedangkan Jihan hanya diam.


"Maaf bukan itu kejadiannya, dia hanya pelarian sedangkan kamu adalah impian"Ucap Dwi.


"Gue bakal lepasin dia " ucap Dwi.


"Pikirkan hatinya, dia juga wanita pikirkan baik baik malam ini " ujar Jihan melepaskan pelukan Dwi lalu pergi dengan cepat melewati Dani Jovan dan sahabat sahabatnya dengan langkah panjang dengan pipi penuh air mata.


"Jangan ikutin gue, gue mau sendiri" ujar Jihan membuat sekua membatu.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys....


__ADS_2