Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Janji


__ADS_3

"Kan belun banyak yang tau kalau mas Dwi suami Jihan jadi banyak yang minta di jodohin sama mas Dwi minta bantuan Jihan lagi" ucap Jihan


"Wah banyak saingan dong" ujar papa


"Ya lumayan lah pah, lagian siapa si yang gak klepek klepek sama mas Dwi udah ganteng bisnis man lagi banyak duit tuh" ujar Jihan.


"Hahaha, jadi kamu juga klepek klepek dong sama mas" ujar Dwi di belakang mereka.


"GR banget, kecuali Jihan yang gak tertarik sama kamu" ucap Jihan lebih sopan.


"Sepertinya ada kemajuaan ya" ujar papa.


" Ji papah pulang duluan ya kamu tau kan besok papa harus pergi ke luar negeri" ucap Papa.


"Iya pah, tapi papa harus janji kalau papa harus pulang satu hari sesudah pernikahan Fero" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Papa.


"Papa gak lupa kan kalau Abang wisuda, jangan buat Abang kecewa pah" ucap Jihan.


"Terutama Jihan, walaupun kalian gak datang buat Jihan setidaknya kalian datang buat Abang Jihan rela hanya melihat dari jauh" ujar Jihan dalam hati.


"Pasti sayang, papa pulang saat Abang kamu wisuda kamu beneran gak mau pulang ke mansion" tanya Papa.


"Gak pah, lagian Jihan besok ada meeting kalau di sini kan dekwt sama kantor lagian Jihan besok mau langsung ke kampung" ucap Jihan.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, Wi titip Jihan ya" ucap Papa.


"Siap pah" ujar Dwi.


"Eh bentar kayak ada yang lain sama kamu Ji tapi apa ya" ujar Papa memutar mutar badan Jihan.


"Rambut pah" ucap Dwi sukses mendapat tatapan tajam dari Jihan.


"Kamu warnain rambut Ji, pantes aja kelihatan beda" ucap Papa.


"Hehe maaf pah, buang gabut" ucap Jihan.


"Iya gak apa apa lagian kalau kamu warnain rambut itu juga gak permanen dua minggu lagi juga ilang iya kan" ucap Papa.


"Papa setuju Jihan cat rambut" ucap Dwi.


"Iya karena semua keputusan Jihan yang terbaik dan lagi kamu harus tau dia tidak akan melakukan sesuatu yang membahakan terutama buat keluarganya kalaupun ada masalah bakal dia selesaikan sebelum keluarganya tau" ucap Papa.


"Ya udahlah papa pupang ya" ucap Papa.


"Iya pah jangan lupa janji papa" ucap Jihan sembari menyalami tangan papanya.


"Iya sayang papa pasti ingat" ucap papa


"Papa akan selalu mengingatnya karena papa tidak ingin kamu kecewa lebih dalam" ucap papa Dalam hati sembari tersenyum.


Jihan dan Dwi lalu mengantarkan Papa sampai pintu depan apartemen Jihan namun tak di sangka ternyata semua anggota keluarga baik Suseno maupun Prasaja masih di sana membuat Jihan membulatkan matanya.


Dwi hanya tersenyum lalu menarik pinggang Jihan agar menempel padanya membuat semua orang tersenyum. Saat Jihan masih tak percaya ternyata semua keluarganya masih di sana semua orang berpamitan dengannya dan Dwi untuk segera pulang.


"Mas kamu gak pulang" tanya Jihan saat semua orang sudah pergi.


"Pulang kemana ini kn juga rumah mas" ucap Dwi.


"Lagian istri di sini mau pulang ke rumah siapa lagi" ujar Dwi mengedipkan sebelah matanya membuat Jihan bergidik lalu masuk ke apartemennya lebih dulu.


"Sayang kok mas di tinggal si" ujar Dwi dengan nada merayu.

__ADS_1


"Terserah" teriak Jihan.


Dwi hanya senyum senyum karena berhasil membuat Jihan malu. Sebenarnya Dwi memang tulus mencintai Jihan namun Dwi juga masih belum bisa mengontrol saat wanita mendekatinya.


Dwi langsung mengunci pintu apartemen dan beranjak untuk mengistirahatkan tubuhnya namun saat sampai di dalam kamar tak sengaja dia melihat Jihn memakai hot pant dan kaos tipis baju yang biasa iya kenakan saat akan tidur.


"Gk ada baju lain apa" ucap Dwi.


"Maksudnya" tanya Jihan membalikkan badannya yang sedang membersihkan wajh di meja rias.


"Tipis banget tuh baju, gue gak yakin bisa tahan dengan godaan yang nyata" ucap Dwi.


"Dasar mesum, kalau pakai yang tebel gerah tau" ucap Jihan.


"Ya udah deh terserah kamu, punya kaos yang besar gak pinjem dong" ucap Dwi.


"Ada cari aja di lemari" ucap Jihan melanjutkan membersihkan wajah.


Dwi langsung menuju ruang ganti dan mengacak acak isi lemari Jihan untuk mendapatkan kaos yang pas. Dwi keluar dengan sangat jengah dan melihat Jihan yang sudah berada di atas ranjang bersiap.untuk tidur namun seketika dia terduduk dan tertawa.


"Ketawin terus" ucap Dwi bete.


"Lagian pakai baju gue yang itu udah gambar Hello Kitty warna pink pula" ucap Jihan.


"Mau mana lagi cuma ini yang muat udah gua acak acaj semua" ucap Dwi


"Acak acak" ucap Jihan langsung berlari ke ruang ganti dan melihat keadaan masih rapi.


"Katanya di acak acak kok malah jadi rapi si" ujar Jihan.


Jihan langsung mengambil beberapa baju lain yang menurutnya sangat besar dan memberikannya kepada Dwi.


"Nih coba siapa tau muat lagian kalau yang ada di lemari sebelah tuh girl banget" ujar Jihan memberikan dua buah kaos dan sebuah celana kolor.


"Iy jangan pikir macam macam, gue seorang atlite jadi banyak celana kayak gitu pakai aja itupun kalau muat" ucap Jihan.


Dwi langsung menerimanya dengan senng hati langsung membuka bajunya saat hendak membuka celananya Jihan langsung menghentikannya.


"Stop, mau porno" ucap Jihan.


"Siapa yang mau porno" ucap Dwi.


"Tuh ganti di ruang ganti sana bikin jantung gue mau copot aja" ujar Jihan.


"Iya iya tuan putri, gue juga gak mau kamu khilaf lihat badan perfec kayak gini" ucap Dwi pergi ke ruang ganti.


Setelah melihat Dwi ke ruang ganti Jihan langsung pergi untuk membaringkan badannya yang terasa sangat lelah. Dwi keluar dengan bertelanjang dada membuat Jihan menatapnya lama.


"Kenapa mau pegang" tanya Dwi dengan nada meledek.


"PD bener kenapa gak pake baju si" ujar Jihan.


"Kenapa terpesona" ujar Dwi.


"Gak malu apa di liatin sama anak di bawah umur" ucap Jihan.


"Di bawah umur sok bocah lo udah sembilan belas juga" ucap Dwi.


"Serah gue dong lagian, muka gue kayak muka bicah aja gak kayak lo" ujar Dwi.


"Ji lama lama gue gak tahan dengerin lo ngomongnya panjang banget" ucap Dwi.


"Kalau gak suka ya udah, tutup aja tuh telinga" ujar Jihan.

__ADS_1


Dwi tak menjawab hanya mendekati Jihan, Jihan yang melihat itu langsung terduduk namun karena gerakannya kurang cepat dia kalah dengan Dwi yang sudah duduk tepat di depannya.


"Mau apa lo" ujar Jihan gugup.


"Mau buat lo diem" ucap Dwi lirih.


"Kenapa kalau gak suka tidur di luar aja sana gue bisa ti" ucap Jihan terhenti saat bibir Dwi menpel di bibirnya.


Jihan membulatkan matanya dan memundurkan kepalamya namun Dwi dengan cepat menahan tengkuk Jihan dan mulai bermain. Dengan permainan yang sangat pelan namun pasti Jihan mulai terbuai walaupun tidak membalas dia tidak juga memberontak membuat Dwi leluasa bermain lebih dalam.


Lama mereka saling bertautan sampai Jihan menepuk nepuk dada bidang Dwi karena kebahisan nafas. Dwi melepaskan tautannya dengan tatapan hangat membuat kenyamanan di hati Jihan.


"Maaf" ucap Jihan.


"Buat apa, seharusnya gue yang minta maaf ya udah tidur selamat malam" ucap Dwi mencium kening dan bibir Jihan singkat.


Dwi berjalan mengitari ranjang kemudian membaringkan badannya menghadap Jihan walaupun di batasi sebuah guling besar. Jihan yang masih tak percaya dengan yang Dwi lakukan karena biasanya Dwi bermain dengan tatapan dingin kali ini dia sangat hangat.


Jihan tersenyum sembari memegang bibirnya, kemudian dia turut membaringkan badannya menghadap Dwi dan menatap Dwi tajam.


"Kenapa gue jadi gini si sadar ji sadar" ujar Jihan dalam hati sembari menggelengkan kepalanya.


"Jangan keras keras gelengi kepalamya nanti copot mau pandang sesuka hati juga gak apa apa" ucap Dwi.


"Belum tidur" tanya Jihan tak percaya.


"Udah" ucap Dwi.


"Oh, eh udah kok jawab si" ucap Jihan bangun dan menggeser bantal yang ada di tengah dengan cepat Dwi menarik Jihan ke dalam pelukannya.


Karena Jihn tidak siap jadi dengan mudah Dwi menarik nya, Jihan terus memberontak namun tak lama Jihan terdiam dan nafasnya mulai beraturan tanda dia nyaman dan tidur.


"Katanya Insomnia di peluk aja tidur" ujar Dwi menggelengkan kepalanya dan ikut ke alam. mimpi.


Pagi menjelang Jihan berusaha membuka matanya namun saat dia akan bangun ada seseati yang sangat berat di atas perutnya.


"Apaan si" ujar Jihan.


Jihan langsung membuka matanya lebar lebar dan mendapati tangan Dwi yang melingkar di atas perutnya. Jihan menyingkirkannya dengan sangat pelan kemudian mamdi dan buat sarapan.


"Ji" panggil Dwi.


"Kenapa" teriak Jihan di depan meja riasnya.


"Kamu bangun jam berapa" tanya Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Gak ada kata lain Ji" ucap Dwi.


"Ada, bangun gih udah pagi" ucap Jihan


"Yaya" ucap Dwi berjalan ke arah kamar mandi.


"Mau sarapan apa" tanya Jihan sesaat sebelum Dwi menutup pintu kamar mandi.


"Nasi goreng dong Ji, boleh ya" ucap Dwi.


"Iya" ujar Jihan menyelesaikan menyisir rambutnya kemudin pergi membuat sarapan saat dia sedang asik memasak tiba tiba Dwi memeluknya dari belakang dan mencium pipinya membuat Jihan terperanjak.


Jangan lupa like vote dan komennya ya....


Salam manis Author...

__ADS_1


Maaf kalau ceritanya muter muter....


__ADS_2