Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Awas Jatuh Cinta


__ADS_3

"Ini udah malam loh" ucap Jihan.


"Tau makanya kita pulang takut ganggu pengantin baru" ucap


"Gak takut" ucap Jihan.


"Gak, kita pulang bareng sama Viki cs kali" ucap Jane.


"Ya tapi kan mobil sendiri sendiri" ucap Jihan.


"Gak lah, nanti kita acak biar Gabby sama gue, Sonia sama Dika terus Jane sama Viki" ucap Beni.


"Gue sama Dika, bisa tuker gak si" ucap Sonia.


"Emang gue mau sama Lo" ucap Dika.


"Gue bawa mobil sendiri" ucap Sonia.


"Gue juga" ucap Dika.


"Terserah kalian" ucap Beni.


"Bertengkar mulu awas nanti jatuh cinta" ucap Jihan cekikikan sembari mendekati sahabat sahabatnya.


"Gue jatuh cinta sama dia mimpi" ucap Dika.


"Emang gue mau jatuh cinta sama lo" ucap Sonia.


Jihan langsung memeluk Sonia dengan keras. Lalu membisikkan sesuatu.


"Jangan terlalu membencinya kalau kamu gak mau jatuh cinta karena cinta dan benci hanya berbeda sedikit" ucap Jihan lalu tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Lo serius Ji" ucap Sonia dengan wajah lucu.


"Hm, gue udah rasain sekarang" ucap Jihan.


"Kok gue jadi takut ya" ucap Sonia.


"Hahaha wajah lo lucu banget udah pulang gih sekalian bareng kariawan kariawan gue biar rame" ucap Jihan.


"Ya " ujar Sonia pergi dengan tatapan aneh mendekati sahabat sahabatnya sedangkan Jihan kembali duduk di samping Dwi.


"Apa yang lo bisikin" ucap Dwi.


"Gak ada" ucap Jihan


"Terus kenapa dia jalan kayak zombi" ucap Dwi.


"Biarin nanti juga sembuh" ucap Jihan tersenyum.


"Kamu ya, mau pulang sekarang tamu udah pada pulang tuh" ucap Dwi.


"Bentar lagi kariawan gue belum pada pulang" ucap Jihan.


"Oke" ucap Dwi tersenyum lalu menggenggam tangan Jihan membuat Jihan menatapnya.


Saat Jihan akan melepaskan tangannya Fero dan Putri datang membuat Jihan malah bergelanyut manja di lengan Dwi.


"*Maafin gue Ta, gue tau lo sakit tapi gue gak mau lo berharap lebih dari gue" ujar Jihan dalam hati.


"Gue tau itu Ay, gue tau lo pura pura tapi gue akuin lo berhasil buat hati gue hancur dan gak mau lagi deketin lo" ujar Fero dalam hati*.


"Bos kita pamit pulang" ucap Ani.


"Oke hati hati di jalan" ucap Jihan berdiri dengan terus menggandeng Dwi agar Dwi ikut menerima ucapan bahagia dari kariawan Jihan.


"Ji kita juga pulang ya" ucap Sonia.


"Udah baikan lo" ucap Jihan.


"Udah, see you again" ucap Sonia bercipika cipiki di ikuti Jane dan Gabby.


"Bye Ji, selamat atas pernikahan lo" ucap Dika.


"Bye, thanks ya" ucap Jihan.

__ADS_1


"Mau apa lo" ucap Dwi.


"Eh gak ya kali Jihan juga mau cium gue kayak sama mereka" ujar Dika.


"GR banget lo" ucap Jihan.


"Hehe ya udah bye" ucap Dika pergi dengan sahabat sahabatnya.


"Ji sahabat sahabat lo keren" ujar Mona.


"Biasa aja" ucap Jihan berjalan mengantar sahabat dan para kariawannya sampai di depan mobil dengan tangan terus berada di lengan Dwi.


Setelah kepergian semua orang Jihan melepaskan tangannya dengan cepat tapi saat Fero dan Putri melewati mereka Jihan kembali manja pada Dwi.


"Susah ya" ucap Dwi.


"Maksudnya" tanya Jihan.


"Maksudnya harus pura pura menerima dan paling bahagia tapi hati lo ancur" ucapan Dwi sukses membuat Jihan terdiam membatu.


"Kenapa sakit" ucap Jihan menepuk nepuk dadanya saat Dwi mulai berjalan menjauh.


"Ji kenapa" tanya Mama Sri yang berjalan dengan beberapa anggota keluarga.


"Sakit mah" ucap Jihan mulai berlinang air mata.


"Mama panggilin Bang Ridwan ya" ucap mama Sri.


Jihan tidak menjawab omongan mama Sri tapi dia berjalan dengan berlinang air mata untuk mengambil ponsel dan tas yang dia bawa. Banyak yang menatapnya aneh namun Jihan tak menghiraukan dia berjalan pergi dengan melepaskan sepatunya satu persatu.


"Wi kenapa istri lo" tanya Jovan.


"Sakit hati" ucap Dwi santai.


"Lo gila kalau dia sakit hati harusnya lo hibur dia kecuali lo yang buat dia menangis" ucap Jovan.


Dwi hanya menarik nafas panjang membuat semua terlihat jelas. Dani lalu menyusul Jihan yang berjalan lunglai namun saat bertemu orang dia bisa tersenyum begitu hangat.


Jihan pergi ke rumahnya lalu pergi ke tempat favoritnya yaitu sebuah balkon kecil di dekat kamarnya lalu menangis dengan keras.


"Di kamar" ucap Dani yang sedang menunggu Jihan di luar kamar Jihan.


"Dengarkan apa yang dia ucapkan karena mungkin itu adalah sebuah kejujuran yang tidak sengaja terucap" ucap Dani saat Dwi akan masuk ke dalam kamar lalu pergi.


Saat Dwi masuk ke dalam kamar pemandangan pertama yang dia temui adalah seorang gadis menangis sesegukan di dalam kegelapan.


"Ji" panggil Dwi membuat Jihan mendongak.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Kenapa kamu bilang, mas mau kamu maafin mas" ucap Dwi.


"Apa kamu bersalah" ucap Jihan sayu membuat Dwi makin mendekati Jihan.


"Lalu apa yang membuatmu menangis" ucap Dwi duduk di samping Jihan.


"Entah apa yang gue rasakan tadi, gue sakit karena kamu tau gue pura pura bahagia kamu tau hal yang paling gue tutupin itu selalu tersenyum walau hati tersayat gue biasa saat banyak orang tau gue pura pura tapi saat kamu yang mengatakan itu hati gue tersayat dalam" ucap Jihan membuat Dwi menatapnya.


"Gue merasa paling bersalah gue merasa wanita paling gila di saat di samping gue ada orang yang tulus sayang sama gue tapi gue sakitin hatinya hati gue sakit berkali kali lipat" ucap Jihan


Dwi meneteskan air matanya namun Jihan tidak bisa melihatnya karena dalam kegelapan. Dwi lalu pendekap tubuh Jihan hangat namun tiba tiba Jihan pingsan membuat Dwi mengusap air matanya kasar.


Dwi membawa Jihan ke atas kasur dan menyalakan lampu. Dwi mengompres Jihan dengan air hangat yang dia ambil lalu mencuci kaki Jihan yang kotor karena melepaskan sepatunya saat pulang.


Tok... tok.... tok...


"Sebentar" ucap Dwi.


"Eh kak Dani kenapa kak" tanya Dwi.


"Dimana Jihan" tanya Dani.


"Pingsan kak tuh" ucap Dwi.


"Oh ya udah nanti juga baikan jaga dia" ucap Dani.

__ADS_1


"Kakak gak marah karena Dwi buat Jihan pingsan" ucap Dwi.


"Gak karena sebelum dia pingsan pasti ada kejujuran yang buat lo bisa lebih bertahan" ucap Dani.


"Iya kakak bener, ternyata piiran jelek gue sia sia" ucao Dwi.


"Maafin dia lembutin dia jaga dia dan sabarlah menghadapinya" ucap Dani.


"Iya Kak, mau masuk" tanya Dwi.


"Gak ya udah istirahatlah, oh ya jangan lupa datang di acara dia besok ini permintaan seorang Abang" ucap Danim


"Akan Dwi usahakan Kak" ucap Dwi


"Harus lo tepatin, ya udah istirahatlah" ucap Dani pergi.


"Oke Kak, thanks udah ngertiin dia udah jaga dia " ucap Dwi.


"Iya sekarang giliran kamu yang harus menjaganya untuk tetap tersenyum" ucap Dani pergi.


"Iya Kak" ucap Dwi kembali menutup pintu dan menguncinya.


"Ji please terima gue di sisih lo terima gue buat terusin perjuangan lo gue janji gue bakal buat lo selalu tersenyum maafin semua kesalahan gue, maafin gue yang paksa lo lepasin semua masa muda lo gue tau gue salah tapi gue lakuin itu semua biar lo gak sia siain apa yang udah lo perjuangin " ujr Dwi mengusap usap kepala Jihan lalu mencium keningnya lama.


Saat Dwi akan pergi Jihan menggenggam erat tangan Dwi.


"Jangan berbalik" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Tetap seperti ini untuk sebentar dan berjanjilah kalau kamu tidak akan pernah terluka" ucap Jihan.


"Mas janji, dan berjanjilah kamu harus berbagi semuanya sama mas" ucap Dwi duduk di samping ranjang Jihan


Jihan hanya tersenyum walau samar Dwi lalu berpamitan untuk membersihkan diri namun sebelum pergi dia mencium kening Jihan membuat Jihan menutup matanya.


"Bisakah gue bertahan" ujar Jihan saat melihat Dwi sudah masuk ke dalam kamar mandi lalu duduk.


"Apa maksudnya dengan sia sia ini apa yang udah gue perjuangin" ujar Jihan dalam hati.


Tak lama Dwi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit pinggang menampilkan perut sispacknya membuat Jihan menelan ludahnya susah.


"Kamu gih bersihin diri" ucap Dwi membuat Jihan gelagapan.


"Eh iya" ucap Jihan lalu berjalan dengan cepat tanpa menyadari kalau gaunnya sedikit terbuka.


Lama Jihan berada di kamar mandi karena sedang merenungi diri di depan kaca besar kamar mandinya. Jihan merasa ada hal aneh di hatinya namun dia belum menyadari apa yang dia rasakan.


"Ji are you oke" ujar Dwi di luar pintu kamaar mandi.


"Yes" ucap Jihan lalu merapikan dandanannya dan keluar dari kamar mandi hanya memakai kimono.


"Maaf" ucap Jihan menunduk lalu berjalan ke ruang ganti.


"Kenapa minta maaf" ujar Dwi bingung lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.


Jihan datang dengan baju tidurnya namun kali ini Jihan langsung naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Dwi dengan menuput seluruh tubuhnya kecuali wajahnya membuat Dwi bertambah bingung.


Dwi menarik Jihan ke dalam pelukannya membuat Jihan meronta namun dengan cepat Dwi mengganti posisi Jihan menjadi menghadap dia.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Kamu yang kenapa" ucap Jihan.


"Kamu aneh" ucap Dwi


Jihan tak menjawab hanya menatap Dwi aneh. Dwi yang menyadari pertanyaan bodohnya lalu mendekap Jihan membuat Jihan membenamkan wajahnya di dada bidangnya dan mulai terlelap.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komentarnya y....


__ADS_2