
Semua kariawan takut dengan ucapan Jihan yang sangat serius apalagi dengan kariawan yang sudah berurusan dengannya tadi.
"Dan kamu ke ruangan saya sekarang temui asisten saya" ucap Jihan di angguki sang kariawan.
Jihan kembali berkeliling saat berjalan Jihan kembali memberikan ponselnya pada Kevin dan meminta Kevin untuk mengurus kariawan tadi.
Jihan terus berkeliling sembari melihat setiap kariawan di sana tanpa dampingan siapapun.
"Kak belum selesai" ujar Jihan saat kembali ke ruangannya dengan Kevin yang masih dengan kariawan tadi.
"Belum kenapa Ji" tanya Kevin.
"Gak papa lanjut aja" ucap Jihan langsung berjalan dan duduk di sofa samping Kevin.
"Kamu boleh pergi" ujar Kevin membuat sang kariawan pergi dengan cepat.
Jihan tersenyum melihat sang kariawan begitu pucat dan berjalan dengan sempoyongan karena takut. Kevin menatap Jihan membuat Jihan yang sedang tersenyum berhenti seketika.
"Kenapa" tanya Jihan
"Kamu lapar kan" tanya Kevin.
"Iya makanya cari kamu" ucap Jihan
"Ya udah ayok makan" ucap Kevin di angguki Jihan.
Jihan dan Kevin berjalan ke arah kantin bersama, saat berpapasan dengan beberapa kariawannya Jihan tersenyun dengan tulus membuat semua orang yang bertemu dengannya ikut tersenyum.
"Kak gimana sama dia" tanya Jihan.
"Gimana apanya" tanya Kevin.
"Kerjanya apa dia harus di uji dulu" tanya Jihan.
"Harusnya gitu, dia cekatan trampil kerja juga bagus tapi ya itu kalau capek langsung main game gak kenal waktu" ucap Kevin.
"Oke besok kasih dia waktu lima belas menit untuk buat laporan managemennya" ucap Jihan.
"Siap bos" ucap Kevin.
Jihan dan Kevin makan bersama layakmya kariawan biasa. Hanya saja di sela makan mereka ada bisnis yang di rancang.
"Ji Dwi telfon" ucap Kevin.
"Angkat aja tapi lo yang ngomong gue males" ucap Angel dingin
"Hai bos, nih nona muda gak mau ngomong males katanya" ucap Kevin.
"Jujur bener Vin" ujar Dwi.
"Kejujuran nomer satu bos" ucap Kevin membuat Jihan tersenyum.
"Dia lagi apa" tanya Dwi.
"Makan, sebaiknya jangan di ganggu atau dia berhenti makan" ucap Kevin membuat Dwi menatapnya tajam.
"Ya udah sampaikan permintaan maaf saya" ucap Dwi mematikan ponselnya.
"Ye dia marah" ujar Kevin menaruh ponsel Jihan kembali ke saku jasnya.
"Vin sepetinya kita akan lama di sini" ucap Jihan.
"Kenapa bos" tanya Kevin.
"Saya mau cek setiap pekerjaan mereka masing masing" ucap Jihan.
"Siap bos, oh ya bos tentang Julio dia mulai menunjukkan kemajuan walau belum bisa merespon" ucap Kevin.
"Syukurlah nanti pulang jenguk dia" ucap Jihan di angguki Kevin.
Setelah jam istirahat selesai Jihan kembali ke ruangannya dan melihat semua laporan dari setiap dapartemen. Jihan tersenyum melihat hasil kerja para kariawannya.
"Vin meeting mendadak" ujar Jihan sembari tertawa.
"Ada yang gak beres nih" ujar Kevin lalu menghubungi sekertaris di sana agar mengadakan meeting mendadak.
Selama menunggu persiapan Jihan kembali melihat berkas dan menandatangani beberapa di antaranya. Jihan pergi ke ruang meeting terlebih dahulu menunggu semua orang membuat Kevin bergidik. Dengan senyuman yang terus terpancar membuat Jihan tidak menakutkan bagi sebagian orang namun bagi Kevin itu sebuah petaka pasalnya saat Jihan melihat laporan dan dia tersenyum ada yang aneh di sana.
__ADS_1
"Berapa lama lagi saya harus menunggu kalian semua di sini" ujar Jihan menggunakan pemgeras suara membuat seisi kantor riuh dengan kesibukan masing masing.
Tak lama beberapa orang datang dengan senyuman terbaik mereka. Sedangkan Jihan tersenyum dengan bermain pulpen di tangannya.
Saat semua sudah berkumpul Jihan langsung saja pada intinya dia membagikan setiap dokumen yang di kirim oleh kariawan ayahnya.
"Sekarang lihatlah berkas yang sudah saya tanda tangani berarti say sudah setuju sedangkan yang masih kosong jelaskan apa yang membuat saya tidak setuju" ucap Jihan membuat semua kariawan melihat dokumen mereka ada yang bernafas lega ada pula yang pucat.
Jihan menyuruh satu persatu kariawan di sana untuk menjelaskan isi detile dokumen yang dia berikan pada Jihan.
Jihan hafal setiap isi dari masing masing dokumen sehingga membuat kariawan di sana semakin menciut.
Lama mereka ada di ruangan itu sampai jam pulang sore hari. Jihan meminta para kariawannya untuk membuat dokumen ulang dan menjelaskannya secara rinci.
"Pergilah" ucap Jihan saat meeting selesai namun tak ada yang berani keluar.
"Oke" ucap Jihan memberikan dokumen itu pada Kevin dan dia pergi dari ruangan itu membuat banyak orang menghela nafas panjang.
Jihan kembali ke ruangannya dan bersiap untuk pulang. Jihan membawa beberapa berkas kembali ke hotel untuk dia pelajari sebelum pertemuan besok.
"Terima kasih untuk hari ini kak" ucap Jihan sopan saat sampai di depan kamar hotelnya.
"Iya, Ji nih ponsel lo" ucap Kevin memberikan ponsel Jihan dan di terima dengan senyuman.
Jihan lamgsung masuk kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk bersama beberapa berkas yang ada di tangannya.
Tak lama Jihan langsung bangun dan membersihkan diri. Lama Jihan di kamar mandi merilexkan tubuhnya. Setelah selesai Jihan langsung mempelajari dokumen yang dia bawa untuk menarik satu investor lagi.
"Hallo Bang" ucap Jihan saat Jovan menelfon.
"Gimana di sana" tanya Jovan.
"Ya begini semua kariawannya tuh gak ada yang bener" ucap Jihan.
"Emang iya makanya Abang kirim kamu ke situ siapa tau mereka semua berubah" ucap Jovan
"Biasaan Abang" ujar Jihan.
"Kamu selalu bisa diandalkan" ucap Jovan.
"Dulu aja lo gak pernah percaya sama gue Bang" ucap Jihan.
Jihan dan Jovan berbicara cukup lama Jihan juga bertanya banyak hal pada Jovan tentang cliennya besok. Sesekali mereka bercanda tawa bersama seolah mereka tidak memiliki beban yang berat untuk mereka pikul.
"Ji" panggil Kevin dari luar.
"Kenapa kak" tanya Jihan membuka pintu.
"Kamu gak makan, makan yuk" ucap Kevin.
"Siapa itu" tanya Jovan.
"Siapa lagi orang yang paling perhatian" ucap Jihan sembari bersiap untuk makan.
"Tau Dwi terus buat kamu gak nyaman, dulu gue nikahin aja lo sama Kevin" ucap Jovan.
"Kenapa gak sekalian aja lo nikah samq gue Abang" ucap Jihan membuat Kevin tersenyum.
"Eh Ji kenapa lo gak selingkuh aja gitu sama Kevib cakep banyak uang pinter baik perhatian" ucap Jovan.
"Abang durjana gitu ya, puji aja terus Kevin Bang" ucap Jihan.
"Kenapa dari tadi gue di bawa bawa" ucap Kevin.
"Abang udah makan" tanya Jihan berganti memakai earphone.
"Nih baru selesai makan, lo tau Dwi uring uringan di sini" ucap Jovan.
"Gak peduli Bang, jangan buat mood makan Jihan hancur" ucap Jihan membuat Jovan tidak lagi menyebut nama Dwi
Jovan mematikan panggilan telfonnya karena Dwi datamg menghampiri. Jihan bingung tapi setelah Jivan mengirim pesan Jihan mengerti.
Jihan makan dengan lahap, dia juga memesan beberapa menu lainnya membuat Kevin tersenyum
"Kalau galau terus terusan bisa jadi sumo lo" ucap Kevin
"Makan banyak juga gak gendut" ucap Jihan.
__ADS_1
"Ya deh serah lo" ucap Kevin.
Kevin bermain ponselnya dan mengambil beberapa potret Jihan dan mengirimkan nya kepada Dwi dan Jovan.
"Lo ambil foto gue kak, kasih aja caption menuju sumo" ucap Jihan hanya di balas senyuman hangat Kevin.
Kevin terus bermain ponsel sembari menunggu Jihan selesai makan. Kevin cuek dengan tatapan orang di sekitarnya. Bahkan ada yang mengatakan kalau mereka pasangan yang tidak akan lama Kevin dan Jihan hanya menahan senyuman.
Kevin izin untuk pergi sebentar mengangkat telfon dari seseorang di iyakan Jihan. Saat Kevin pergi Jihan memesan sebotol minuman dan mulai menenggaknya.
"Woi" ujar Kevin saat kembali dan melihat Jihan mulai mabuk.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Mabuk lo" ucap Kevin.
"Gak sebotol juga belum abis" ucap Jihan mengangkat botol di tangannya.
"Yaya, udah kan balik kamar" ucap Kevin marah.
"Kak lo kalau marah ganteng juga" ucap Jihan sembari tersenyum membuat Kevin senyum malu malu karena ucapan orang mabuk adalah yang paling jujur.
"Iya emang dasar, ya udah abisin" ucap Kevin duduk di depan Jihan.
Jihan mabuk dan merancau membuat Kevin inisiatif merekam. Dia juga mengatakan banyak hal tentang pernikahannya dan tentang suaminya membuat Kevin merasa iba.
"Udah lega kan yuk tidur" ucap Kevin di angguki Jihan dengan senyumannya yang juga memabukkan.
Jihan terus merancau sepanjang jalan dan sesekali bernyanyi riang. Saat sudah sampai di kamarnya Kevin langsung menidurkan Jihan di tempat tidur dan melepaskan sandal Jihan lalu menunggu Jihan sampai dia terlelap.
"Ternyata hidup lo berat juga ya pantesan aja lo segitunya sama semua orang" ucap Kevin saat menunggu Jihan tidur.
"Tidur cepet juga" ucap Kevin langsung menyelimuti Jihan dan menaruh ponsel Jihan di nakas.
Kevin pergi ke kamarnya sendiri dan langsung tidur. Mereka berdua tidur dengan sangat nyenyak bahkan tidak peduli dengan ponsel yang terus berdering.
Pagi menjelang Kevin bangun lebih dulu dan melihat banyak panggilan masuk dan semua dari Dwi membuat Kevin menarik nafasnya panjang dan langsung pergi ke kamar mandi.
"Si Jihan bangun belum ya, ah bodo amat" ucap Kevin pada diri sendiri.
Setelah selesai bersiap Kevin memesan dua sarapan dan langsung pergi memanggil Jihan.
"Ji" ujar Kevin.
"Bentar" ucap Jihan sembari berjalan membuka pintu.
"Kirain belum bangun" ucap Kevin saat melihat Jihan ternyata sudah siap.
"Hm agak pusing" ucap Jihan.
"Iyalah minuman sebotol lo minum sendiri" ucap Kevin membuat Jihan tertawa.
Saat mereka masih ngobrol kariawan hotel datang dengan dua sarapan dan minuman penghilang pusing. Kevin menyuruh sang kariawan hotel untuk menaruhnya di kamar Jihan sebelum pergi Kevin memberikan beberapa lembar uang.
"Kenapa lo kasih uang kita di sini gratis" ucap Jihan.
"Ikutin cara lo" ucap Kevin langsung masuk.kamar Jihan dan makan sarapannya di ikuti Jihan.
"Ini buat gue" tanya Jihan melihat minuman yang biasa Kevin kasih saat Jihan mabuk.
"Ya lah masa buat gue gue waras" ucap Kevin
"Jadi menurut lo gue gila gitu" ucap Jihan.
"Ya gitu deh, lagi lagi lo kalau mabuk tuh jangan ada orang deh rahasia lo abis" ucap Kevin.
"Ya dan yang tau rahasia gue lo sama Julio" ucap Jihan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya guys...
Maaf ya guys kalau gak nyambung lagi di barengi sakit kepala tapi harus update