Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Sombong


__ADS_3

Jihan keluar dan duduk di teras, Jihan melihat seorang kakek renta sedang menjajajankan jangung manis di depan rumah Ridwan membuat Jihan iba, Jihan lalu masuk ke rumah dan mendekati Dwi.


"Mas, bawa uang gak" tanya Jihan.


"Bawa, mau berapa" tanya Dwi.


"Sombong bener lo tanya mau berapa" ledek Ridwan.


"Terserah mas mau kasih berapa se ikhlasnya" ucap Jihan.


"Se ikhlasnya kayak lagi minta minta lo Ji" ledek Ridwan.


"Emang mau beli apa" tanya Dwi.


"Beli jagung manis" ucap Jihan.


"Jangung manis" tanya Dwi tak percaya.


"Iya, sebenernya si mau kasih aja tapi takut di anggap hina dia jadi mau beli jagungnya sekalian kasih gitu" ucap Jihan.


"Oh gitu, nih" ucap Dwi memberikan dompetnya.


"Lagi lagi di kasih dompet gak takut apa kalau gue bawa kabur" cibir Jihan sembari keluar dari rumah Ridwan dan mengejar penjual jagung.


"Pak pak" panggil Jihan.


"Ya neng" ucapnya.


"Ini berapa pak" tanya Jihan.


"Lima ribu neng" ucapnya.


"Satu ya pak" ucap Jihan.


Pedagang tersebut memberikan satu buah kantong jangung manis. Jihan memberikan uang seratus ribu rupiah membuat pedagang tersebut bingung dengan uang yang terlalu besar.


"Udah buat Bapak aja, itu rezeki buat bapak" ucap Jihan.


"Terima kasih ya neng, semoga rezekinya selalu berlimpah" ucapnya.


"Amin pak terima kasih doanya" ucap Jihan tersenyum.


Jihan berjalan ke arah rumah Ridwan kembali namun saat sedang berjalan Jihan di panggil beberapa orang yang sedang duduk di teras rumah sala seseorang.


"Kak Jihan" panggilnya.


"Ya" ucap Jihan.


"Kak sini gabung, gak sibuk kan" tanyanya.


"Gak, lagi ngapain kalian" tanya Jihan.


"Duduk duduk aja si kak, kakak ngapain ke di sini" tanya salh seorang.


"Kaka anter temen ke rumah dokter Ridwan, boleh gabung gak nih kaka bawa jagung manis nih kayak kaka manisnya" ujar Jihan.


Jihan terus saja bercengkrama dengan adik kelasnya. Dwi mencari Jihan dan melihat Jihan yang sedang tertawa bahagia membuat keinginan Dwi untuk pulang sirna pasalnya saat di rumah Jihan jarang tersenyum lepas seperti yang saat ini Jihan lakukan.


"Kenapa" tanya Ridwan.


"Gak, cuma kasian aja kalau harus ganggu mereka" ucap Dwi.


"Ya udah gabung aja yuk, mereka kan juga murid kamu kan" ucap Ridwan.


"Iya tapi, gue gak mau Jihan marah kalau di ganggu" ucap Dwi memperhatikan dari teras Ridwan.


Jihan melihat Dwi yang sedang menatapnya dari jauh membuatnya berpamitan dengan teman temannya untuk pulang.


"Kaka pulang dulu ya" ucapnya pergi.


"Udah mas" tanya Jihan.


"Udah, kamu udah" tanya Dwi.


"Udah, yuk pulang" ucap Jihan.


"Ayok, ya udah Bang Dwi pulang ya kapan kapan main lah ke rumah" ucap Dwi.


"Iya kalau lagi senggang ya" ucap Ridwan.


"Dok kita pulang dulu ya" ucap Jihan.


"Jangan panggil dok panggil Abang aja kayak Dwi" ucap Ridwan.


"Baik dok, eh Bang maaf" ucap Jihan.

__ADS_1


"Santai aja, hati hati di jalan dan cepet kasih kabar bahagia ya" ucap Ridwan.


"Siap Bang, tunggu aja" ucap Dwi.


Jihan dan Dwi pergi dari rumah Ridwan tidak lupa dengan tangan Dwi yang selalu menggenggam tangan Jihan. Jihan terdiam sepanjang jalan membuat Dwi penasaran apa yang sedang ada di pikiran Jihan.


"Yanx kamu gak apa apa" tanya Dwi.


"Eh gak kok, gak apa apa" ucap Jihan kaget.


"Kenapa dari tadi melamun aja" tanya Dwi.


"Em, gini sebenernya Jihan lagi bingung mas" ucap Jihan.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Gini Jihan belum siap jadi seorang ibu tapi Jihan juga tidak ingin mengecewakan mama papa dan semua orang termasuk kamu mas" ucap Jihan menunduk.


"Gini, kita jalani aja dulu baru juga beberapa hari menikah mas juga gak mau kamu hamil karena terpaksa mas mau saat kamu sudah siap dan sudah mau menerima mas dengan hti kamu" ucap Dwi.


"Maafin Jihan mas" ucapnya meneteskan air mata.


"Jangan nangis dong Yanx, jangan merasa bersalah mas juga belum siap untuk menjadi seorang ayah kamu masih muda mas juga masih muda kita nikmatin aja dulu perkenalan kita setelah itu baru penyatuan hati kita" ucap Dwi.


"Makasih mas udah ngertiin Jihan, Jihan janji Jihan akan berusaha menerima kamu maaf harus pelan karena Jihan ingin kamu adalah yang terakhir di hidupku mas" ucap Jihan.


"Iya kamu tenang aja, kalau mama atau siapapun tanya debay bilang aja minta doanya oke" ucap Dwi.


"Oke" ucap Jihan tersenyum walau masih ragu.


"Ji kamu tadi katanya mau beli jagung mana" tanya Dwi.


"Aduh, maaf mas lupa tadi Jihan kasih ke temen temen mas mau jagung kita beli lagi ya" ucap Jihan.


"Gak, cuma tanya aja mas males makan jagung" ucap Dwi.


"Maaf ya mas, oh ya nih dompet kamu maaf Jihan ambil satu tadi" ucap Jihan tersenyum.


"Ambillah sebanyak yang kamu mau, itu kan hak kamu juga" ucap Dwi.


"Mas Jihan boleh minta tolong gak" tanya Jihan.


"Apa" tanya Dwi.


"Mas bantu Jihan buat belajar nanti malem, Jihan mau kasih yang terbaik dan jadi yang terbaik" ucap Jihan.


"Oke, terima kasih" ucap Jihan.


Setelah lama berjalan akhirnya Jihan dan Dwi sampai di rumah pada sore hari. Jihan langsung ke kamar untuk mandi dan bersiap untuk membantu mamanya membuat makan malam. Sedangkan Dwi duduk di teras dengan Papa Jihan dan mereka asik ngobrol.


"Mah, masak apa" tanya Jihan yang baru saja ke dapur.


"Masak kesukaan Dwi, ayam kecap" ucap Mama.


"Oh, papa mana" tanya Jihan.


"Papa di depan sama Dwi bawain minum sana" ucap mamanya.


"Iya " ucap Jihan membawa kopi dan cemilan ke teras.


"Pah kopinya" ucap Jihan.


"Mas mu gak di bikinin" tanya Papa.


"Bikin lah dua" ucap Jihan.


"Wi saat dia salah jangan pernah bentak Jihan ajari dia dengan lembut karena saat dia di bentak dia akan lebih galak dari kamu tapi saat kamu lembut dia akan nurut sama kamu, dan lagi saat dia sakit dia akan manja kepada siapaoun yang ada di sampingnya jadi papa minta saat Jihan sakit kamulah yang selalu ada di sampingnya karena cinta tidak tau saat dia datang" ucap papa Jihan.


"Pah, udahlah gak perlu di jelasin semuanya juga" cibir Jihan.


"Kenapa, suka suka papa lah kamu anak papa dan dia suamimu" ucap Papa Jihan.


"Terserah" ucap Jihan pergi kembali ke dapur untuk membantu mamanya tapi dia kembali lagi.


"Kenapa lagi" tanya papa Jihan sinis.


"Papa gitu udah punya anak baru anak lama di campakkan, mas pah mau makan pakai apa mamah bingung mau masak katanya" ucap Jihan.


"Terserah kamu aja yang penting gak aneh aneh" ucap Dwi.


"Kapan masak aneh, kamu tuh yang aneh masa gak tau sayur" ucap Jihan.


"Udah papah makan apapun yang penting mama kamu yang masak pasti enak, kalau kamu di sini terus gak bakal kelar urusannya" ucap Papa Jihan.


"Oke pah" ucap Jihan

__ADS_1


"Mah kaka papa makan apa aja yang penting mama yang masak, kalau mas Dwi yang penting gak aneh" ucap Jihan saat sampai di dapur.


"Aneh" tanya mama Jihan bingung.


"Iya, mas Dwi itu gak pernah makan sayur selain selada jadi kalau di kasih sayur tuh suka lucu mukanya katanya kaya sapi makan rumput" ucap Jihan.


"Ya udah, kamu beli selada kan kemarin" tanya Mama.


"Gak mah, sengaja Jihan cuma beli sayur yang lain" ucap Jihan.


"Jahat kamu sama suami" ucap Mama sembari tersenyum.


"Gak jahat, baik malah kan biar sehat makan sayur" ucap Jihan.


"Terserah kamu deh, kamu yang masak sayurnya ya" ucap Mama.


"Oke mah" ucap Jihan.


Dengan cekatan Jihan memasak kolaborasi antara anak dan ibu ini sungguh sangat sempurna. Dengan cepat beberapa makanan tersaji di meja makan. Saat Dani pulng dari mainnya Dani langsung duduk di meja makan menunggu semuanya datang dan makan bersama.


"Semuanya makanan sudah siap" teriak Jihan.


"Tuh istri kamu udah kayak terompet yuk masuk" ucap papa.


"Iya pah, Dwi mau mandi dulu belum mandi" ucap Dwi.


"Oh ya sudah papa juga belum mandi" ucap papa sembri tertawa bersama dengan Dwi.


"Mah Jihan mandi dulu ya" ucap Jihan.


"Iya sana bau bawang" ucap Mama Jihan tertawa.


"Loh kalian mau kemana kok gak ke meja makan" tanya Jihan saat berpapasan dengan Dwi dan papanya.


"Kita mau mandi dulu, kamu" tanya Dwi.


"Mau mandi juga bau bawang" ucap Jihan.


Dwi dan papa manggut manggut membuat Jihan merasa lucu karena mereka sangat kompak. Dwi dan papa hanya melanjutkan perjalanannya namun tak lupa Dwi mengandeng Jihan.


"Pegangin terus Wi, kuat takut lari" ledek Papa.


"Iya pah" ucap Dwi.


"Siapa yang mau mandi dulu" tanya Jihan.


"Bareng aja yuk" pinta Dwi.


"Bareng gak, gak mau gue" ucap Jihan cepat.


"Kenapa malu malu aja kamu, kita udah sah lagi semua yang kita lakukan itu halal" ucap Dwi mendekat.


"Tau tapi" ucap Jihan terhenti sat telunjuk Dwi berada di bibirnya.


"Jangan cerewet ngapa Ji, kamu tau saat mas sama kamu mas rasanya gak mau lepasin kamu" ucap Dwi memeluk Jihan.


"Mulai, tapi Jihan bau bawang tau Jihan mau mandi dulu" ucap Jihan berlari ke kamar mandi namun Jihan lupa untuk menguncinya membuat Dwi mempunyai ide licik.


Dwi ikut Jihan ke kamar mandi kemudian ikut masuk ke bathtub untuk berendam membuat Jihan membuka matanya lebar lebar dengan tingkah Dwi.


"Kamu apa apaan si mas" ucap Jihan marah.


"Mandi lah, kenapa marah" tanya Dwi pura pura tidak tau.


"Ya marah lah kamu ikut mandi gak malu apa mandi sama gadis" ucap Jihan kesal.


"Iya iya, gadisku yang sangat cantik dan mempesona maafkan masmu ini yang kurang ajar tapi kamu tau kan kalau kita udah sah walau kamu masih gadis " ucap Dwi mencondongkan badannya ke arah Jihan.


"Terserah deh, Jihan mau mandi terserah kamu mau males" ucap Jihan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komennya ya...


__ADS_2