Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 169


__ADS_3

"Ji satu lagi" ucap Dwi


"Nanti lah di kantor juga" ucap Jihan.


"Ya udah pulang ayok" ucap Dwi.


"Gak mau" ucap Jihan.


Dwi langsung kembali menciun bibir Jihan sekilas. Saat Dwi memundurkan wajahnya Jihan menahannya dan posisinya masih saling menempel tapi tidak lebih


"Udah" ucap Jihan.


"Tidur yuk" ucap Dw.


"Gak mau capek" ucap Jihan.


"Kamu tau aja" ucap Dwi tersenyum.


"Berjanjilah kalau kamu akan menghargai ku kalaupun bukan sebagai pemilik hati setidaknya sebagai istri sahmu" ucap Jihan.


"Iya saya Dwi Putra Suseno berjanji tidak akan melupakan kalau kamu istri sah dan kamu juga harus janji tidak cuek lagi kalau ada masalah ngomong" ucap Dwi di angguki Jihan.


Dwi langsung memeluk Jihan erat walau Jihan belum membalasnya. Tak lama Tuan Prasaja datang dengan Jovan dan Rey dan dengan banyak makanan di tangan mereka.


"Udah kengennya makan dulu" ujar tuan Prasaja


"Banyak banget pah, Abang juga katanya mau makan duluan" ucap Jihan melepaskan pelukan Dwi.


"Ya kita makan besar hari ini" ucap tuan Seno dengan di susul mama Anggun yang datang dengan Dani.


"Kita bawa minumnya" ucap Dani.


Jihan terlihat sangat berbinar dengan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Rey yang merasa tidak enak dia membawa makanannya ke meja Nayla membuat Nayla bengong.


"Makan makan aja" ucap Rey dingin.


"Baik tuan" ucap Nayla.


"Gimana kerjaan kamu Ji" tanya papa.


"Berjalan dengan baik, dan keluarga Aditya yang di tunggu ternyata datangnya ke sini katanya biar langsung ketemu sama akarnya" ucap Jihan.


"Kamu bertemu dengannya" tanya papa.


"Ya pah dan sedikit adu argumen tadi" ucap Jovan.


"Lalu bagaimana dengan kerja samanya" tanya Papa.


"Tetep terjalin kayaknya dia jatuh hati samaa Jihan lo kudu hati hati Wi" ucap Jovan.


"Wah saingan baru" ucap Dani.


"Iya tambah banyak saingannya" ucap Jovan.


"Orang Jihan mempesona siapapun yang melihatnya" ucap Jovan.


"Terima kasih pujiannya" ucap Jihan.


Jihan langsung makan dengan lahap dengan tawa yang terus menerus menghiasi wajah mereka semua.


"Kamu di sana gak cari gebetan kan" tanya Jovan.


"Gak, tapi yang ngajak jalan banyak" ucap Jihan.


"Em kamu hamil" tanya Jovan


"Gak tau Bang please jangan cuma kehamilan yang di tanya bisa gak tanya Kesehatan Jihan" ucap Jihan membuat Jovan diam.


"Maaf" ucap Jovan lesu.


Jihan langsung menyudahi makannya dan langsung duduk di meja kerja Jovan dan bermain ponsel di sana. Saat melihat pesan dari Kevin dia membulatkan matanya.


"Hallo Vin, apa saya gak ada jadwal malam ini" ucap Jihan.


"Gak Bos, kebetulan Bos kosong jadwal tapi apa bos datang" tanya Kevin.


"Hm, Kamu di Ayasta atau di Seno" tanya Jihan.


"Seno Bos kenapa" tanya Kevin.


"Kamu lagi sama Ani gak" tanya Jihan lagi.


"He iya bos" ucap Kevin.


"Suruh Ani menyiapkan keperluan saya untuk nanti malam sesuai dress code yang ada dan belikan hadiah jam tangan untuk saya bawa nanti malam" ucap Jihan.


"Siap Bos" ucap Kevin.


"Makasih Vin" ucap Jihan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


Jihan berjalan ke luar ruangan dia melihat Rey sedang makan dengan santai di meja Nayla mengalahkan Nayla yang duduk di kursi tunggu.


"Kak Nay kenapa gak makan bareng kak Rey" ujar Jihan.


"Tidak apa Nona" ucap Nayla tersenyum.


Jihan hanya tersenyum dia langsung kembali ke ruangan Jovan dan mengemas semua barangnya membuat semua yang ada di sana saling tatap.


Jihan langsung pergi begitu saja, dia terlihat sangat gugup saat pergi membuat semua orang makin bingung. Jihan langsung mengendarai mobilnya dan peegi ke tempat Ridwan untuk konsultasi


Saat sampai di tempat Ridwan Jihan bercerita semua yang ingin dia luapkan. Namun di sela ceritanya dia menunjukkan tanda tanda kehamilannya membuat Ridwan tersenyum dan memanggil temannya yang ada di bidang ahli kandungan.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Kita USG dulu nona karena anda sering mual takut ada sesuatu di perut" ucapnya sopan membuat Jihan dengan senang hati melakukannya.


"Nona anda bisa melihatnya sekarang, ada detak jantung lain di sana" ucapnya membuat Jihan kaget.


"Detak jantung lain, artinya saya hamil" ucap Jihan.


"Iya Nona dan perkiraan usianya sudah delapan minggu bisa anda menjaganya" ucapnya sopan.


"Pasti kan ku jaga sepenuh hati" ucap Jihan senang namun terlihat bimbang.


"Kamu tidak menyukainya" ucap Ridwan senang.


"Bukan begitu tapi, Abang jangan bilang bilang dulu ya biar Jihan sendiri yang bilang nanti" ucap Jihan


"Iya calon ibu jangan suka marah marah jangan stress dan makan yang sehat ya" ucap Ridwan.


"Oke Bang" ucap Jihan sudah kembali ceria.


"Sekarang ini obat yang harus anda tebus di depan nona" ucap sahabat Ridwan.


Jihan keluar dari ruangan Ridwan dengan pikiran yang bercampur aduk.


"Oke strong demi anak gue, dan gue juga harus bertahan agar kamu lahir ada ayah di sampingmu" ujar Jihan pada dirinya sendiri.


Jihan langsung menebus obat yang di berikan di resep sahabat Ridwan tadi. Setelah menebus obat tadi Jihan langsung pergi ke kantor pusat milik ayahnya lagi berharap Dwi masih ada di sana.


"Mas Dwi udah pergi Bang" tanya Jihan saat sampai di ruangan Jovan.


"Baru pergi kenapa" tanya Jovan.


"Gak papa, Jihan susulin aja" ucap Jihan.


"Kamu marah sama Abang" tanya Jovan.


Jihan dengan wajah ceria langsung pergi ke kantor Dwi. Namun di luar dugaan saat Jihan melewati sebuah cafe dia melihat Dwi ada di sana dengan seorang wanita cantik membuat Jihan merasa sakit hati.


Jihan langsung meminggirkan mobilnya ke cafe tersebut. Dia menunggu di mobilnya dengan terus menatap ke arah Dwi. Dari kejauhan ternyata Rey melihat kedatangan Jihan membuat Rey menghampirinya.


"Bos" ujar Rey.


"Kak Rey" ucap Jihan.


"Jangan salah paham nona tuan Muda hanya melakukan pekerjaannya dia harus menemui wanita itu dia perwakilan dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan tuan Muda" ucap Rey.


"Makasih penjelasannya kak Rey, tapi bilangin sama mas Dwinya jangan gitu di tempat umum" ucap Jihan menunjuk Dwi yang sedang di pegang wajahnya oleh sang Klien.


"Baik Nona" ucap Rey langsung menunduk.


"Cari mati tuh orang" ujar Kevin dalam hati.


"Ya sudah saya pergi ya" ucap Jihan membuat Rey menahannya.


"Saya tidak kuat kak Rey" ucap Jihan langsung menyalakan mesin mobilnya membuat Rey mengiyakan Jihan untuk pergi


"Bos Nona Jihan melihat adegan tidak baik tadi" ucap Rey menghubungi Dwi membuat Dwi mencari arah dimana Rey berada.


"Dimana dia sekarang" tanya Dwi membuat Rey bergeser dan menampakkan Jihan yang keluar dari parkiran cafe itu dengan menghapus air matanya.


"Kamu tidak menahannya setidaknya sampai saya selesai" ucap Dwi.


"Maaf Bos, nona Jihan bilang tidak sanggup untuk melihatnya saya tidak bisa menahan orang untuk sakit" ucap Rey membuat Dwi mematikan ponselnya.


Bukan untuk mengejar Jihan namun dia melanjutkan kerjanya dan menjalin kerja sama. Rey menatap Dwi aneh lalu dia pergi lebih dulu untuk mengejar Jihan.


Rey mengikuti Jihan menggunakan ojek sampai Jihan pergi ke Ayasta Grup dengan kaca mata hitamnya untuk menyamarkan matanya yang merah.


"Julio " panggil Jihan saat melihat Julio berjalan tak.jauh darinya.


"Bos gak bilang mau kesini kalau tau kan saya bisa menjemput anda bos" ucap Julio.


"Gak papa, saya mau langsung ke ruangan bawain laporan saham ya" ucap Jihan di angguki Julio.


Jihan naik ke ruangannya dan duduk di meja kerjanya.


"Sayang maaf ya sepertinya ayahmu belum bisa di kasih kabar kalau kamu sudah ada di sana" ucap Jihan mengusap perutnya.

__ADS_1


"Bos hamil" ujar Julio yang melihat tingkah Jihan.


"Jangan beritahu siapapun biar saya yang memberitahu mereka" ucap Jihan tersenyum di angguki Julio.


"Siap Bos, ini laporan yang anda minta" ucap Julio.


Jihan mempelajari semuanya sampai memastikan kalau tidak ada yang janggal di sana. Jihan bekerja untuk sedikit melupakan masalah yang ada.


"Hallo Mah" ucap Jihan saat mama Sri menelfon.


"Kamu datang ya nanti malam ke rumahnya" ucap mama Sri.


"Ya mah" ucap Jihan.


Tok.... Tok.... Tok....


"Masuk" ucap Jihan.


"Bos" ucap Ani.


"Oh hai An, udah dapat" ucap Jihan berjalan ke arah Ani.


"Ini Bos ada beberapa yang sesuai dress codenya, lalu sebuah jam tangan tuan Kevin yang memilihnya" ucap Ani.


"Makasih ya kamu boleh kembali kerja" ucap Jihan di angguki Ani.


Setelah kepergian Ani Jihan langsung melihat hasil kerja Ani dan tersenyum ternyata selera Ani cukup bagus. Jihan melihat jam ternyata sudah sore dia bersiap untuk pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri.


"Bos mau saya antar " tanya Julio.


"Gak" ucap Jihan langsung pergi dengan beberapa paper bag di tangan.


Jihan melajukan mobilnya ke kediaman Suseno untuk memenuhi janji mertuanya. Saat sampai di sana Jihan di sambut beberapa maid dengan sangat hangat saat melihat Putri Jihan langsung berjalan cepat dan memeluk Putri erat.


"Kakak ipar lo kenapa" tanya Putri membalas pelukan erat Jihan.


"Pengin peluk lo" ucap Jihan.


"Gue masih normal tau" ucap Putri tertawa.


"Gue juga normal, gue lagi seneng aja" ucap Jihan.


"Wah kenapa nih" ujar Putri.


"Nanti juga tau" ucap Jihan.


Tak lama mama Sri datang membuat Jihan berganti memeluk mertuanya erat. Setelah memeluk semua orang Jihan lagsung ke kamar mandi dan berganti pakaian untuk acaranya malam ini.


"Mama Suruh Jihan ke sini kenapa" tanya Jihan saat sudah siap dan kembali ke lantai bawah.


"Cantiknya" puji mama Sri.


"Iya lah kan cewek kalau cowok ganteng" ucap Jihan.


"Iya ganteng kayak papa ya" ujar mertuanya genit.


"Udah tua pah udah mau punya cucu juga genit banget" ucap mama Sri.


"Andai kalian tau ada cucu kalian di sini" ujar Jihan tersenyum dalam lamunan.


"Kamu mau kemana kakak ipar" tanya Putri.


"Pesta" ucap Jihan.


"Ke tempat Riki Wibowo" ujar Dwi.


"Ya" ucap Jihan bahkan tidak menyalami Dwi membuat semua orang menatap Dwi.


"Bareng aja" ucap Dwi.


"Gak mau, mau bareng Putri aja biar jadi nyamuk" ucap Jihan.


"Ji maaf" ucap Dwi.


"Apa kamu bersalah" ucap Jihan membuat Dwi bingung menjawab.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys....


__ADS_2