Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Eh kita ke tempat acara duluan yuk, takut ada yang belum siap" ucap Jihan.


"Udah lo sini aja biar kita kita yang urus iya kan Cika" ucap Nisa.


"Ya bener banget tuh" ucap Cika.


"Oke thanks ya guys" ucap Jihan.


Semua sahabat sahabat Jihan pergi ke tempat acara sedangkan Jihan dan keluarganya masih sibuk berpose ria.


Waktu menunjukkan jam delapan pagi waktu mereka Putri dan Fero akan melangsungkan pernikahan. Jihan beserta keluarganya berjalan kaki ke tempat acara karena memang jarak yang cukup dekat.


Jihan berjalan paling belakang dengan Dwi di sisinya. Saat sampai di tempat acara Jihan melihat Fero sudah berada di altar pernikahan dengan beberapa rekan yang sedang mendpingi.


Jihan terdiam saat mata nya beradu pandang dengan Fero. Tanpa sadar Jihan menggenggam tangan Dwi kuat Dwi yang merasakan itu langsung membalas genggaman tangan Jihan.


"Are you oke Honey" ucap Dwi.


"Yes i'm oke" ucap Jihan tersenyum.


Jihan berjalan mendekat altar pelaminan dengan senyuman yang terus dia pancarkan.


"Baiklah saya di sini sebagai pembawa acara akan memulai acara" ucap Nisa.


Nisa membuka acara kemudian di susul dengan acara inti yaitu akad nikah.


Fero mengatakannya dengan lancar tak.lama terdengar suara orang mengatakan sah membuat Putri tersenyum bahagia.


"Oke dengan ini kalian semua tau kalau hubungan di antara Fero dan Jihan hanya sebuah persaudaraan jadi buat kalian siap siap patah hati ya" ucap Nisa sebagai pembawa acara.


"Kalau Jihan hanya sebatas temen kenapa deket banget ya, oh ya apa jangan jangan jodoh Jihan pak Dwi"


"Mungkin soalnya dari kabar dia satu rumah sama Jihan"


"Iya jangan jangan dia buat gak bener di kampung kita"


Bisik bisik tetangga membuat Jihan tersenyum sembari tangannya mengepal. sedangkan Dwi yang mendengar semua omongan tetangga merasa sangat bersalah kepada Jihan hingga dia menarik Jihan ke atas altar pelaminan yang masih ada seorang penghulu di sana.


"Maaf pak penghulu bisa bapak tunggu sebentar" ucap Dwi kepada penghulu.


"Mas mau apa" tanya Jihan kepada Dwi Dwi hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Maaf sebelumnya, saya dengar tadi ada yang mengatakan hal buruk dari tentang istri saya" ucap Dwi membuat bebrapa orang bingung.


"Saya dan Jihan sudah menikah jadi mohon untuk tidak mencelanya, jika kalian semua tidak percaya maka saya bersedia untuk mengulang akad yang pernah saya ucapkan dulu" ucap Dwi membuat Jihan tersenyum.


"Buktikan kalau memang kalian sudah menikah" ujar seseorang di antara para tamu undangan.


Dwi langsung duduk di depan penghulu yang menunggunya dan mengucapkan akad. Tak lama suara sah kembali menggema.


Tak lama Cik naik ke atas pelaminan dan merebut microfon yang sedang di pegang Nisa.


"Saya berdiri di sini saya ingin mengucapkan selamat untuk ke dua pasangan pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan, Buat Jihan terima kasih kehadirannya di desa ini karena Jihan kalian para ibu ibu maupun bapak bapak yang dahulu pengangguran menjadi punya pendapatan yang lumayan, bahkan karena Jihan desa ini mempunyai berbagai fasilitas pendukung yang mumpuni tapi kenapa kalian masih menghina mencela dan mencemooh Jihan, apa kalian tidak percaya dengan Jihan coba kalian pikir sekarang buat apa Jihan melakukan hal tidak terpuji Jika untuk uang Jihan punya segalanya dari uang rumah kebun buat apa coba silahkan kalian pikirkan kembali apa Jihan membuat kita susah tidak bukan dia membawa perubahan besar" ucap Cika.


"Benar dan jika kalian melihat Jihan sebagai bad girl sebenarnya tidak, kalian semua melarang anak anak kalian untuk berteman dengan Jihan karena dia sering berkelahi dengan anak dari desa lain apakah kalian tau selama ini kita selalu di hina oleh desa sebelah kita di anggap remeh bahkan mereka selalu merundung kita saat di sekolah tapi semenjak Jihan datang mereka tidak lagi merundung kita kalian tidak tau beratnya sekolah di sana kalian tidak akan tau nasib kalian setelah keprgian Jihan nanti" lanjut Hana.


"Terima kasih semuanya" ucap Jihan menghampiri ke dua sahabatnya lalu memeluknya dengan derai air mata.


Langit berwarna ungu


Di malam yang sepi dengan tiupan angin


Kenangan menyenangkan kembali terukir di hatiku


Di malam ini ku teringat dirimu lagi


Hanya kenangan indah yang tersisa


Saat kau dan aku berjuang dan tertawa bersama


meski kau jadi seperti bintang yang menghilang


Aku akan menyimpanmu di dalam hati.


Saat ku tutup mata ini, dirimu terlihat jelas


Karena aku sangat merindukan dirimu


Yang disana, kau telah melewati malam yang sulit


Ku kan beristirahat dan bertahan di sisihku


Meski air mata tumbuh di hatiku yang lelah


Saat laguku sampai di langit


Datanglah padaku secara perlahan, seperti mimpi yang tak berakhir


Jadilah bintang yang selalu di sisihku.


Seperti hatimu yang selalu menguatkanku


Kadang cahaya di langit itu menyinariku


Dengan hangat dan menenangkan hatiku


Terima kasih atas jawaban yang kau berikan


Saat ku tutup mata ini, dirimu terlihat jelas


Karena aku sangat merindukan dirimu


Yang disana, kau telah melewati malam yang sulit

__ADS_1


Ku kan beristirahat dan bertahan di sisihku


Meski air mata tumbuh di hatiku yang lelah


Saat laguku sampai di langit


Datanglah padaku secara perlahan, seperti mimpi yang tak berakhir


Jadilah bintang yang selalu di sisihku.


Hari yang tak bisa di lupakan itu


Bersinar dengan indah di langit


...(startlight : Chani)...


Kevin mempersembahkan lagu untuk Jihan membuat banyak orang menangis. Bahkan Jihan memeluk Kevin untuk pertama kalinya kemudian mengucapkan banyak terima kasih kepada Kevin.


Kevin tersenyum lalu pergi dengan tergesa gesa karena hatinya begitu sakit saat Jihan meneteskan air matanya di pelukannya tadi.


"Ternyata banyak yang menyayangi kamu di sini sayang" ucap Mama Anggun memeluk putrinya erat.


"Kamu yang terbaik Ji" ucap Jovan memeluk Jihan.


"Terima kasih Bang" ucap Jihan.


Setelah banyak pengakuan pengakuan dari semua sahabat sahabatnya Jihan di minta untuk menyumbangkan lagu yang mewakili teman temannya yang patah hati karena pernikahan Fero.


"Jihan bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu mewakili hati kita yang patah hati" ujar seorang teman.


Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya


Aku terluka, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya.


Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya.


Ku tak bahagia melihat kau bahagia.


Harusnya aku yang disana, dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta, dan bukan dia.


Harusnya kau tau bahwa, cinta ku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia.


Ku tak bahagia, melihat kau bahagia dengannya


Ku tak bahagia, melihat kau bahagia


Harusnya aku yang disana, dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta, dan bukan dia.


Harusnya kau tau bahwa, cinta ku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia.


"Tepuk tangan semunya" ucap Nisa.


"Duh bener bener ya lagunya bikin nyesek" ujar Beni membuat semua orang mengangguk.


Semua teman teman Jihan bersorak sampai beberapa mobil sport mewah berjalan di antara para tamu.


"Jihan" teriak dari salah satu orang yang keluar dari mobil sport.


Jihan menatapnya lalu tersenyum dan berjalan ke arah mereka semua.


"Guys" ujar Jihan.


"Hai Ji, selamat ya gak nyangka gue bisa lihat akad lo makasih kak Rey udah steaming" ucap Gabby.


"Iya" ucap Rey.


"Guys kalian kenapa telat si guys" ucap Jihan.


"Maklum Ji gak tau jalan nih si Jane" ucap Sonia.


"Woy gue juga gak pernah ke desa ini kali, lagian si kemarin suruh bareng sama Beni gak mau" bela Jane.


"Hahaha ya udah yuk gue kenalin sama suami gue" ucap Jihan.


"Wah suami say" ucap Sonia.


"Mas" panggil Jihan lembut.


"Hai kenapa" tanya Dwi.


"Ini temen temen gue mau ketemu" ucap Jihan.


"Bukan kita tapi Jihan yang mau kenalin" ucap Gabby.


"Brisik lo" ucap Jihan.


"Udah jangan kenalan sama mereka sayang tangannya" ucap Jihan menjulurkan lidah lalu membawa Dwi jauh dari sahabat sahabatnya.


"Kamu cemburu" ujar Dwi.


"Ih mana ada cemburu gak ada" ucap Jihan.


"Oke gak cemburu tapi gak suka mas deket cewek lain" ujar Dwi tersenyum


"Itu lebih tepat" ucap Jihan.

__ADS_1


"Bukannya artinya sama ya Ji" ucap Dwi.


"Emang iya, eh udahlah laper nih" ucap Jihan.


"Mau makan apa, gak sayang lipstiknya" ucap Dwi.


"Gak" ucap Jihan santai.


Dwi langsung memebawa Jihan ke tempat dimana semua keluarganya sedang berkumpul untuk beristirahat karena banyak masih banyak acara yang akan di laksanankan termaduk Fero dan Putri yang sedang beristirahat.


"Mas boleh gak si Jihan pakai sandal biasa" ucap Jihan mengeluh.


"Kenapa" tanya Dwi.


"Pegel, he" ujar Jihan membuat Dwi semakin gemas.


"Hai sayang, sini duduk.dan istirahatlah" ucap mama Anggun.


"Iya mah" ucap Jihan duduk di antara ke dua orang tuanya.


"Sayang sekarang kamu resmi menjadi seorang istri berbaktilah kepada suami kamu dan turuti semua keinginannya dan layani suami kamu sebaik mungkin" ucap Papa.


"Iya pah, Jihan akan belajar untuk menjalani ini semua" ucap Jihan tersenyum.


"Walau sulit jalan yang akan Jihan tempuh setelah ini pah" ujar Jihan dalam hati.


"Oh iya ini hadiah buat kalian" ucap Mama Anggun memberikan dua buah tiket liburan.


"Tapi Mah, Jihan gak bisa pergi" ucap Jihan.


"Kenapa Sayang" tanya Mama.


"Jihan ingin selesaikan kuliah dan Jihan mau mengembangkan sayap Jihan dan merajai dunia bisnis" ucap Jihan pasti.


"Iya tapi jangan terlalu memaksakan diri" ucap Mama Anggun.


"Tapi mah tetep aja Jihan gak bisa pergi" ujar Jihan.


"Iya mah lagian tiket yang dari kak Dani juga belum ke pakai mending kalian kasih aja ke Putri mungkin mereka lebih membutuhkannya" ucap Dwi.


"Mereka juga punya tiket nya" ucap Mama Sri.


"Kalian mau tau alasan kita memberikan tiket liburan" ujar Mama Sri.


"Kenapa mah" tanya Jihan dan Fero bersama.


"Kita semua gak sabar mau jadi oma iya gak jeng" ucap Mama Sri di angguki semua orang.


"Ha ha ha" hanya itu yang terucap di mulut Jihan.


Sedangkan Fero membulatkan matanya, bukan tidak ingin memberi mereka cucu tapi dia tidak ingin memberi harapan palsu kepada semua orang.


Dwi menggenggam erat tangan Jihan saat Jihan mulai mengganti raut wajahnya, mama JmAnggun yang duduk di sebelah Jihan bergeser membiarkan Jihan berdampingan dengan Dwi.


"Kita obatin tangan kamu ya" ucap Dwi.


"Gak perlu" ucap Jihan lesu.


"Udah jangan pikirkan omongan mereka biasa orang tua pasti itu yang di harapkan dari anaknya yang sudah menikah tapi tidak perlu terburu buru" ucap Dwi lembut.


Jihan langsung pergi meninggalkan semua orang termasuk Dwi yang sedang berusaha menghiburnya. Saat Jihan pergi ke luar ternyata semua tamu undangan sudah pergi membuat Jihan lebih leluasa dengan sahabat sahabatnya.


"Guys, sorry gue tinggal" ucap Jihan kepada sahabat sahabatnya dari kota.


"Santi aja kali Ji kita tau kok semuanya" ucap Sonia.


"Maksudnya" tanya Jihan.


"Mereka sudah cerita semuanya jadi jangan ada yang lo sembunyikan lagi dari kita kalau lo masih anggap kita sahabat" ucap Sonia memeluk Jihan.


"Thanks guys, kalian sudah mengerti keadaan gue" ucap Jihan.


"Eh ke rumah gue yuk deket kok mobilnya tinggalin aja di sini gak apa apa walaupun di tengah tempat acara" ucap Jihan.


"Sorry Ji, nih sebenernya yang warna ungu itu buat lo hadiah dari kita kalau yang merah buat Fero dari mereka" ucap Gabby.


"Jadi itu buat gue, dalan rangka apa" tanya Jihan santai.


"Ko di kasih mobil mewah biasa aja lo Ji, ya itu hadiah pernikahan lo lah" ucap Jane..


"Wah thanks ya" ucap Jihan.


"Eh Hana Mona Nisa kenalin mereka sahabat gue dari kota namanya Gabby Sonia dan Jane" ucap Jihan mengenalkan sahabat kepada sahabatnya.


"Hai salam kenal" ucap Hana.


"Salan kenal juga" ucap Jane dingin.


"Ji semua anak kota dingin dingin ya" ujar Nisa membuat semua sahabat Jihan yang dari kota menatapnya.


"Eh gak gak maaf kalian cantik cantik" ucap Nisa takut dengan tatapan sahabat Jihan yang mematikan.


Saat mereka sedang asik bercengrama ada suara merdu lainnya menggema dengan lagu yang membuat banyak orang terbawa suasana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komentarnya ya....


Kalau ada yang gak jelas silahkn komentar saja....


__ADS_2