Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Alergi


__ADS_3

Dwi yang melihat Jihan marah lalu mengecup bibir Jihan sekilas dan langsung membersihkan diri. Jihan yang melihat itu merasa bersalah namun dia tersenyum saat mengingat Dwi yang tidak mau jauh jauh darinya.


"Udahlah nanti di marahin papa kalau ketauan bikin mas Dwi marah" ujar Jihan.


Jihan langsung membersihkan diri, namun saat hendak memakai pakaiannya Jihan lupa tadi untuk membawanya ke kamar mandi dengan terpaksa Jihan keluar hanya dengan sebuah lilitan handuk di tubuhnya. Jihan berjalan pelan berharap Dwi sudah pergi namun tanpa di duga Dwi berada tepat di depannya membawa setelan untuk Jihan membuat Jihan tersenyum kikuk.


"Mau goda iman mas" ucap Dwi.


"Gak gak, makasih ya" ucap Jihan mengambil baju yang Dwi bawa lalu berlari ke ruang ganti.


"Udah" tanya Dwi saat Jihan keluar dari kamar mandi.


"Udah, kamu belum turun mas" tanya Jihan.


"Nunggu kamu" ucap Dwi.


"Kenapa harus nunggu si, emang gak laper" tanya Jihan.


"Apa yang harus mas jawab kalau papa kamu tanya, kalau mas bilang kamu lagi mandi padahak udah lama bisa berfikir aneh mas gak mau kasih harapan palsu" ucap Dwi.


"Maaf mas Jihan minta maaf" ucap Jihan menunduk.


"Udahlah, sekarang yuk makan" ucap Dwi.


"Ayok" ucap Jihan berjalan beriringan dengan Dwi.


"Akhirnya turun juga" ucap Mama.


"Iy mah" ucap Jihan.


Dwi menarik kursi untuk Jihan, Jihan tersenyum lalu mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Dwi. Setelah itu baru Jihan mengambilnya untuk dia sendiri namun belum sampai Jihan mengambil lauknya Dwi mulai mengganggunya.


"Ji, ini apa" tanya Dwi.


"Itu sayur yang kita beli, sayur kangkung enak tau" ucap Jihan.


"Apa sayur kalkul" tanya Dwi.


"Kang kung lah bukan kalkul, cobain aja" ucap Jihan.


"Masa si" tanya Dwi.


"Iya gak percaya banget" ucap Jihan.


"Kayak sapi, kalau ini apa" tanya Dwi.


"Itu kacang panjang juga enak kok" ucap Jihan.


Dwi tak yakin dengan omongan Jihan, Dwi hanya menatap makanannya Jihan yang tidak sabar lalu memaksa Dwi untuk makan dengan suapan dari Jihan.


"Ji" rengek Dwi.


"Enak, ayok coba dulu baru komplain" ucap Jihan.


"Bisa ganti gak" tanya Dwi.


"Gak, udah di suapin juga nih jangan sia siain kebaikan gue" ucap Jihan.


"Hm, sedikit aja ya" ucap Dwi seperti anak kecil membuat semua orang tertawa.


"Enak Yang, kamu cobain deh" ucap Dwi mengambil alih sedok yang Jihan pegang dengan semangat.


"Buka mulut dong Yang, enak tau" ucap Dwi.


"Iya enak lah orang gue yang masak" ucap Jihan setelah menerima suapan dari Dwi.


"Serius kamu yang masak" tanya Dwi.


"Iya gak percaya ya udah, sekarang bandingin sama masakan ini enakan mana" ucap Jihan memberikan sayur kacang panjang.

__ADS_1


"Ini apa lagi Yang" ucap Dwi aneh.


"Sayur lah ya kali gue kasih rumput" ucap Jihan kesal.


"Suapin" rengek Dwi.


"Huh, kesabaran gue di uji lagi" ucap Jihan.


Walaupun menggerutu Jihan tetap menyuapi Dwi bagai anak kecil, Dwi terus tersenyum saat Jihan menurutinya namun setelah beberapa lama makan Dwi merasa ada yang aneh pada dirinya Dwi gatal gatal di sekujur tubuhnya.


"Kamu kenapa" tanya Jihan yang melihat Dwi mulai garuk garuk.


"Gak tau, tapi abis makan terus gatel gatel" ucap Dwi.


"Kamu ada alergi makanan" tanya Jihan.


"Hm,... semua makanan yang berbau seefood" ucap Dwi.


"Aduh, kenapa gak bilang si ini sayurnya kan ada ebinya iya gak si mah" tanya Jihan sembari menepuk dahinya.


"Maaf kirain udah tau" ucap Dwi.


"Gimana nih, kamu bawa obat alerginya gak" tanya Jihan.


"Ada, di tas kerja aku" ucap Dwi.


Dengan cepat Jihan berlari ke kamarnya untuk mengambil obat Dwi, walau sempat terjatuh saat berlari tapi Jihan melanjutkannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Dwi yang melihatnya merasa lucu dan kasian kepada Jihan.


"Nih bukan si" tanya Jihan membawa obat oles dan beberapa kapsul dengan tersengal sengal.


"Iya, kenapa harus lari si" tanya Dwi.


"Biar cepet aja" ucap Jihan memberikan air putih dan obat.


"Terima kasih" ucap Dwi masih dengan menggaruk garuk tubuhnya.


"Sini biar Jihan obatin kita pindah ke ruang tengah aja ya" ucap Jihan.


"Perhatian bener Yang" ucap Dwi.


"Kenapa gak mau di perhatiin, dan lagi jangan panggil Yang dong malu tau" cibir Jihan.


"Gak apa apa kali, atau mau aku panggil bebeb atau honey mungkin" ledek Dwi.


"Honey lebih baik, eh ini yang bintik bintik cuma wajah sama tangan doang kan" tanya Jihan.


"Enggak, punggung juga" ucap Dwi.


"Punggung serius, parah juga kamu kalau alergi maafin Jihan gak tau kamu gak makan seefood" protes Jihan.


"Gak apa apa, lagian mas seneng kok karena alergi bisa di belai belai di sentuh sama kamu" ucap Dwi asal.


"Cari kesempatan ternyata, udah nih yang di punggung pake sendiri" ucap Jihan.


"Gak bisa lah, kalau wajah sama tangan si bisa tapi kalau punggung gimana Honey" ujar Dwi.


"Terus gimana dong, Jihan panggilin kak Dani aja ya" ucap Jihan.


"Ya terserah kamu kalau kamu mau orang tua kamu tanya panjang kali lebar karena kamu gak mau obatin mas" ucap Dwi.


"Iya iya, ya udah ke kamar ayok masa iya di sini" ucap Jihan.


"Iya Honey" ucap Dwi menggendong Jihan.


"Turunin gue, berat kan" ucap Jihan.


"Badan kayak kapas gini bilang berat" ucap Dwi.


"Kayak kapas, oke gue biarin sampai mana kamu kuat" ucap Jihan tersenyum licik.

__ADS_1


"Udah sampai turunin, gue akui kamu hebat" ucap Jihan turun dari gendongan Dwi.


"Ji aku Dwi Putra Suseno jatuh hati kepadamu dan apapun yang terjadi nanti seberat apapun cobaan yang menghadang gue harap lo setia sama gue" ucap Dwi berbisik membuat Jihan membulatkan matanya.


Dwi menurunkan Jihan pelan kemudian membuka bajunya, Jihan sempat membulatkan matanya namun segera iya netralkan dan langsung mngobati punggung Dwi yang alergi. Dwi tertidur karena begitu nyaman saat Jihan mengoles oleskan salep di punggungnya.


"Tidur" ujar Jihan menggelngkan kepalanya lalu menyelimuti Dwi dan meninggalkan Dwi untuk mengambil makanan baru untuk dia makan.


"Loh, kok makan sendiri si Dwi mana" tanya Mama yang belum pergi dari meja makan.


"Tidur Mah, kayaknya cepean kan gak pernah jalan kaki tadi jalan kaki ke rumah Bang Ridwan" ucap Jihan.


"Ridwan, pak dokter itu kom kamu pannggilnya Abang si" tanya Mama penasaran.


"Iya dia kaka sepupu Dwi" ucap Jihan.


"Oh gitu, kamu makan ke kamar gih siapa tau Dwi udah bangun kasian dia gak jadi makan tadi" ucap Mama.


"Hm iya mah" ucap Jihan.


Jihan masuk ke dalam kamar dengan hati hati dan meihat sekeliling ternyata Dwi masih tidur membuat Jihan bernafas lega lalu berjalan ke balkon untuk makan namun tiba tiba ada seseorang yang menutup matanya.


"Mas" ucap Jihan terperanjak.


"Hm, udah hafal ya sama mas mu ini" ledek Dwi.


"Bukn gitu, cuma gak ada lagi yang bisa ke kmar ini selain kamu duduk gih kita makan lagi tenang aja gak ada udangnya kok" ucap Jihan menuntun Dwi untuk duduk dan makan bersama.


"Iya, ada udangnya jug gak apa apa biar di perhatiin sama kamu" ucap Dwi tersenyum.


"Selu aja gitu, cari kesempatan mau makan gak laper nih" ucap Jihan kesal.


"Iya Honey, sini biar mas suapin" ucap Dwi merebut makanan yang ada di tangan Jihan.


Jihan membuka mulutnya menerima suapan dari Dwi membuat Dwi tersenyum.


"*Kenapa sama perasaan gue, benarkah perasaan ini kenapa gue gak yakin ya sama perasaan gue sendiri" ujar Jihan dalam hati.


"Kenapa rasa yang gue kasih ke Jihan makin hari makin menggila aja, dan apa benar yang gue rasa kalau Jihan mulai menerima gue di dalam hidupnya benarkah ini" ujar Dwi dalam hati sembari tersenyum.


"Dih senyum lagi, kenapa gue jadi malu si gak kayak biasanya" ujar Jihan sembari mengekus dadanya.


"Ji apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan saat berdua denganmu" ujar Dwi*.


"Mas boleh gak ajarin Jihan bagaimana menangani perusahaan yang sedang bermasalah" tanya Jihan membuat Dwi menatapnya tajam.


"Gak, maksudnya gini sebodoh bodohnya Jihan, Jihan ingin bisa membantu kamu saat kamu harus bekerja ekstra seenggaknya Jihan ada gunanya jafi istri kamu tidak hanya membebanimu, Jihan memang gak tau soal menyelesaikan masalah kecuali dengan otot dan otak yang pas pasan" ucap Jihan lirih sembari tertunduk.


"Ji, gak masalah kalau mas harus kerja ekstra gak masalah kalau mas harus kerja sampai larut asal kamu selalu di samping mas, dan kalau kamu menganggap kamu gak berguna di samping mas buat apa mas manikahimu mas hanya ingin kamu selalu mendukung apa yang mas lakukan karena kamu adalah hidup mas jadi jangan berfikir tidak berguna lagi oke" ucap Dwi mengangkat wajah Jihan agar menatapnya.


"Hm, tapi jika benar kamu adalah CEO sebuah perusahaan besar di kota, Jihan ingin menjadi pantas untuk bersanding denganmu dan tidak memalukanmu saat teman temanmu bertanya" ucap Jihan dengan mata panas.


"Kamu yang terbaik Ji, kalau kamu mau belajar akan mas ajari tapi nanti saat kamu sudah selesai ujian mas gak mau nambahin beban kamu dengan pekerjaan, tapi ingat walaupun kamu bisa menangani masalah di perusahaan nanti bahkan walau kamu bisa lebih dari mas mas gak akan biarkan kamu untuk bekerja" ucap Dwi.


"Kenapa, bukannya bagus kalau Jihan kerja" ucap Jihan polos.


"Mas cuma mau kamu selalu menemani mas bukan membantu mas karena saat kamu ada di samping mas kamu akan membawa energi baik yang buat mas semangat" ucap Dwi memeluk Jihan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya ya....


__ADS_2