Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 172


__ADS_3

"Apa kamu tidak mempercayaiku" ujar Dwi.


"Jawabanmu hanya iya atau tidak" ucap Jihan.


"Saya tidak ingat apapun Ji" ucap Dwi.


"Benarkah, sekarang pergilah" ucap Jihan.


"Tapi Ji" ucap Dwi.


"Saya tidak akan membahas masalah pribadi di sini" ucap Jihan membuat Dwi pergi dengan jalan lunglai


Saat kepergian Dwi Jihan langsung duduk di lantai menangis tanpa suara. Hatinya sangat sakit karena jawaban Dwi tidak sesuai harapannya.


"Haruskah gue menunggu sampai anak itu lahir" ucap Jihan.


Tak lama Jovan datang dan melihat adiknya duduk di lantai membuat Jovan panik. Saat Jovan mendekat Jovan melihat air mata yang mengalir deras Jovan tau apa yang terjadi karena di pagi ini juga berita tentang Dwi dan Jihan keluar.


"Kuatlah Ji" ucap Jovan.


"Bang apa ini karma Jihan yang selalu jahat sama mas Dwi" ujar Jihan.


"Bukan salahmu Ji" ucap Jovan memeluk adiknya.


"Bang, apa Abang tau perjanjian pernikahan Jihan hanya tinggal beberapa hari lagi" ujar Jihan.


"Apa perjanjian itu masih berjalan" ucap Jovan.


"Hm, dan Abang tau Jihan ingin menerimanya tapi ternyata jalannya lebih sulit apa Jihan bisa merawatnya tanpa seorang ayah" ucap Jihan membuat Jovan berfikir.


"Ji katakan apa yang kamu maksud, apa kamu" ujar Jovan merenggangkan pelukanmya dan menatap wajah Jihan.


"Iya Bang, Jihan hamil' ucap Jihan kembali menangis.


"Hamil" ucap Jovan terkejut.


"Oke sekarang jangan sedih jangan nangis, kamu mau dia bertahan kan" ucap Jovan di angguki Jihan.


"Sekarang jangan stress berbahagialah" ucap Jovan memeluk Jihan.


Jovan membawa Jihan ke sofa yang ada di ruangan Jihan. Tak lama Dani datang membawa sarapan untuk Jihan sebenarnya dia juga khawatir dengan Jihan karena berita itu.


"Ji" ucap Dani.


"Kak" ucap Jihan.


"Sekarang gimana kalau kita rencanakan liburan bertiga" ucap Jovan.


"Liburan" ucap Dani.


"Hm liburan dan tempat yang di tuju hanya kita bertiga yang tau" ucap Jovan.


"Maksud lo apa si Van" tanya Dani.


Jovan menceritakan semuanya, Jovan mengulang cerita Jihan pad Dani membuat Dani kasihan kepada Jihan dan mengiyakan liburan bersama berharap Jihan bisa melupakan masalah yang ada sebelum Jovan dan Dani berhasil memecahkan masalahnya.


"Gue gak mau buat dia peegi lagi kayak dulu Kak, cukup sekali gue buat kesalahan besar sama dia dengan tidak mempercayainya" ucap Jovan.


"Itu si salah lo" ucap Dani.


"Kak yang bener dong, gue jug gak mau saat pernikahannya hancur dia juga kehilangan anaknya lagi" ucap Jovan


"Ya udha kita jaga bareng bareng aja" ucap Dani di angguki Jovan.


Jovan dan Dani memutuskan untuk tidak bekerja hari ini hanya memanjakan Jihan dengan membawa Jihan kemanapun ke tempat yang Jihan mau dan memberikan apapun yang Jihan minta.


"Hai Ji" ujar Gabby yang bertemu Jihan di sebuah pusat perbelanjaan.


"Hai sama siapa lo" tanya Jihan.


"Sama Beni, lo sama siapa" tanya Gabby saat tidak melihat siapapun di dekat Jihan.


"Sama pangeran pangeran tampan" ucap Jihan.


Tak lama Jovan dan Dani datang dengan es cream di tangan mereka.


"Mau yang mana" tanya Jovan.


"Semuanya" ucap Jihan berbinar.


Jovan menyuapi Jihan bergantian dengan Dani. Jihan merasa sangat bahagia pasalnya ke dua orang yang sangat dia percaya memberikan perhatiannya.


"Lo gak sama suami lo" tanya Gabby


"Gak, dia sibuk" ucap Jihan.


"Ya masa sibuk buat istri si" ucap Gabby


"Gue yang minta biar dia dapat uang yang banyak" ucap Jihan dengan nada dinginnya.


"Hai Ji" ucap Beni yang baru datang.


"Hai Ben, gimana sama pernikahan kalian" ucap Jihan.


"Hm, kita lagi cari cincin tunangan nih dan minggu depan kita nikah lo jangan lupa datang" ucap Beni.


"Oke" ucap Jihan.


Jihan kembali menikmati escreamnya, sedangkan Beni dan Sonia bingung menatap Jihan pasalnya selama jalan di luar bersama mereka Jihan tidak pernah mau memakan es cream.


"Aneh ya" ujar Dani dengan senyuman di angguki Gabby dan Beni.

__ADS_1


"Karena hidup perlu yang manis " ucap Dani tertawa.


Beda dengan Jovan yang terlihat sangat dingin dan tatapannya yang tidak lepas dari wajah Jihan. Kadang Jovan senyum sendiri melihat tingkah Jihan.


"Abang jangan gitu liatnya" ucap Jihan manyun.


"Kamu lucu, Abang sampai lupa kapan jalan bareng kamu kayak gini" ucap Jovan.


"Sebelum kejadian dulu" ucap Jihan.


"Maafin Abang ya" ucap Jovan.


"Udah jangan bahas, Abang mau" ucap Jihan menyodorkan es creamnya.


Jovan menerima suapan Jihan sembari terus bercanda seperti sepasang kekasih yang sedang di landa asmara karena sesekali mereka berpelukan.


"Kalian lebih romantis dari kita tau gak" ucap Beni.


"Ya, kita pergi aja yuk panas liat mereka" ucap Gabby


Setelah kepergian Gabby dan Beni dan Jihan menghabiskan ea creamnya. Jihan langsung pergi ke cafe miliknya meminta Dani daan Jovan hanya mengantar.


"Kamu yakin gak mau jalan jalan lagi atau makan apa gitu" tanya Jovan.


"Gan Bang, mau lihat cafe sekalin istirahat kalian langsung kerja aja" ucap Jihan di angguki Dani dan Jovan.


Jovan dan Dani mengantar Jihan sampai ke Cafe. Sesampainya di Cafe Jihan langsung pergi ke ruangannya melewati semua kariawan dan para pelanggan yang sedang sibuk karena sekarang jam istirahat banyak yang datang.


"Hai guys" ujar Jihan menyapa para kariawan yang berlalu lalang dengan kesibukan masing masing.


"Kenapa Riko" tanya Jihan saat Riko turun tangan langsung menghadapi prelanggan.


"Kamu bosnya" ujar nyonya Aditya.


"Ya Nyonya, kita bertemu lagi" ucap Jihan dengan senyuam sinis.


"Pantas saja pelayanan di sini tidak baik" ucapnya.


"Pelayanan yang bagaiman nyonya, kalau anda meminta nomor ponsel itu kan hak privasi mau di kasih apa gak" ucap Jihan.


"Lalu bagaimana dengan pelayanan tidak menyenangkan ini" ujarnya memperlihatkan bajunya yang basah.


"Nyonya itu tidak kesengajaan lagian kariawan saya sudah meminta maaf anda bahkan memanggil menegernya dan dia melayani anda dengan baik anda yang membuat masalah seharusnya anda yang meminta maaf kita bisa buktikan melalui CCTV" Ucap Jihan.


Nyonya Aditya langsung diam dan pergi tanpa membayar. Sedangkan Jihan sedari tadi dari ruangannya melihat tingkah Nyonya Aditya yang mencari masalah.


"Dia gak bayar bos" ujar Mona.


"Gak" ucap Jihan


"Terus makanan tadi" ucap Mona.


"Kamu yang tanggung jawab " ujar Riko.


"Tenang aja, dia emang lagi cari maslah sama saya" ucap Jihan.


"Beneran bos" ucap Mona memeluk Jihan.


"Iya" ucap Jihan membalas pelukan Mona.


"Bos nyanyi dong" ujar Riko.


"Kalau gue nyanyi nyawer lo" ucap Jihan.


"Iya asal yang nangis denger lagu lo lebih dari lima orang" ucap Riko.


"Nyawer berapa lo" tanya Jihan.


"Seratus ribu" ucap Riko.


"Seratus ribu per orang yang nangis deal" ujar Jihan.


"la kalau di semua nangis abis gaji gue" ucap Riko.


Beberapa kariawan tersenyum dengan bercandanya sang bos. Mereka suka walau Jihan profeaional tapi dia tidak menolak saat di ajak bercanda.


"Seratus kalau ada yang nangis kalau gak ada gak jadi" ucap Riko.


"Setuju" ucap Jihan langsung jalan ke panggung yang tersedia.


"Maaf semua saya akan menyanyikan lagu dan khusus untuk manager cafe ini katanya mau nyawer pada nangis ya" ucap Jihan di sambut gelak tawa para pelanggan.


Bila cinta di dusta, hati mulai gelisah


Hilang kekasih hati, hidup jadi merana


Insan jadi idaman, kini di milik orang


Cinta yang di impikan, putus di tengah jalan


Terpaksa mengalah


"*Bos gak adil pake lagu itu" teriak Riko.


"Yang penting pada nangis" jawab Jihan*.


Mengapa menyinta, andainya tak setia


Usahlah mencinta, Jika hanya berpura


Bila hati dah jemu, mula berpaling tadah

__ADS_1


Tak pernah dipikirkan, orang yang di tinggalkan


Tersiksa sayu pilu


O uo uo merayu rayu


O uo uo ingin kembali


O uo uo meratap sayu


Tidak mungkin orang simpati


Menoleh pun tak sudi


Andainya di takdirkan, cintamu di dustai


Pastinya kau mengerti, siksanya perpisahan


Hanyalah di temani sesalan


Bila cinta di dusta, hati mulai gelisah


Hilang kekasih hati, hidup jadi merana


Insan jadi idaman, kini di milik orang


Cinta yang di impikan, putus di tengah jalan


Terpaksa mengalah


Mengapa menyinta, andainya tak setia


Usahlah mencinta, Jika hanya berpura


Bila hati dah jemu, mula berpaling tadah


Tak pernah dipikirkan, orang yang di tinggalkan


Tersiksa sayu pilu


O uo uo merayu rayu


O uo uo ingin kembali


O uo uo meratap sayu


Tidak mungkin orang simpati


Menoleh pun tak sudi


Andainya di takdirkan, cintamu di dustai


Pastinya kau mengerti, siksanya perpisahan


Hanyalah di temani sesalan.


"Terima kasih" ucap Jihan.


"Riko mana uang lo" ucap Jihan turun panggung.


"Mana ada orang lagunya itu" ucap Riko.


"Dasar lo ya, lagian gue juga keluarin air mata sini lo" ucap Jihan berjalan cepat ke arah Riko.


"Lagian lo uang seratus ribu buat apa Ji" ucap Riko.


"Buat beli lo" ucap Jihan.


"Harga gue lebih tinggi dari pada saham lo" ucap Riko.


"Emang lo punya saham gue" ucap Jihan.


"Punya dong" ucap Riko.


Jihan dan Riko terus saling kejar tidak berlari melainkan berjalan cepat di saksikan semua pengunjung dan menjadi hiburan tersendiri.


Jihan bahkan tidak sadar kalau Dwi berada di sana dengan beberapa tuan muda terpandang.


"Gue capek" ucap Jihan duduk.


"Dah tua lo" ucap Riko sembari menghampiri Jihan.


"Lo yang udah om om" ucap Jihan.


"Jangan buka kartu dong Ji" ujar Riko memberikan uang seratus ribu pada Jihan.


"Buat apa si segitu" ujar Riko.


"Ini tuh berharga, gue pernah buat dapetin segini tuh satu minggu tau" ucap Jihan.


"Pantes kekeh" ucap Riko.


"Ya orang tinggal minta" ucap Jihan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys....


__ADS_2