
"Halo" ujar Jihan menerima telefon.
"Oke, pas sama mod gue" ucap Jihan langsung semangat saat mendapat panggilan untuk balapan dengan taruhan barang incarannya.
Jihan berlari kembali ke rumah tuan Suseno lalu berlari ke kamar Dwi membuat Dwi menatapnya. Jihan tidak menyapa dia hanya mengambil helm dan kunci motor yang biasa dia bawa untuk balapan dan dinketahui mertuanya.
"Ji" ujar papa Seno.
"Sekali kali pah" ucap Jihan.
"Tapi tangan kamu sakit Ji" ujar Papa Seno.
"Gak peduli, barang incaran" ucap Jihan.
"Papa temenin ya" ujar Papa Seno.
"Papa yakin" tanya Jihan.
"Ya udah lama juga papa gak balapan sama sebagai tanggung jawab papa" ucap Papa Seno.
"Oke lets go" ujar Jihan.
"Kamu mau pakai baju gitu" tanya papa.
"Hehe, gak pah ganti dulu lah" ujar Jihan kembali ke akamar Dwi dan berganti pakaian. Jihan memakai jaket celana dan sepatu sehingga dia meniggalkan tas jinjingnya di meja rias. Dwi terus menatap gerak gerik Jihan walau Jihan tak peduli.
"Let's go pah" ujar Jihan pada papa Seno.
"Oke go" ujar papa Seno.
Dwi keluar dari kamar dan meihat Jihan berjalan dengan papanya tanpa canggung membuat Dwi tersenyum. Dalan senyumnya juga menetes air mata saat dia mengingat betapa kejamnya dia pada Jihan.
Jihan dan mertuanya itu pergi menaiki motoe dan beriap untuk balapan. Saat sampai di tempat balapan Papa Seno menutup helmnya agar tidak ada yang tau sedangkan Angel memastikan barang incarannya.
"Oke let's go" ujar Angel saat pertandingan di mulai.
Angel dan mertuanya itu bahkan tidak tau kalau Dwi dan anggota keluarganya yang lain juga berada di sana. Angel dan mertuanya memimpin pertandingan sampai ada yang mendahuluinya tapi tepat di depan mereka lawannya itu langsung terjatuh membuat Jihan tekut namun papa Seno sangat ahli sehingga membuat motor mereka tidak menabrak.
Sampai garis finis Jihan dan mertuanya menjadi nomor satu. Setelah itu Jihan turun daan melepaskan helmnya tepat saat Jihan membuka helm Dwi dan anggota keluarga yang lain berada di depannya.
"Kalian semua" ujar tuan Seno.
"Pah" ujar Jihan.
"Papa juga gak tau" ucap Papa Seno.
Jihan menatap Dwi yang menatapnya sedari tadi. Jihan menunduk karena memang yang dia lakukan sangat berbahaya namun siapa sangka Dwi justru memeluknya.
Jihan tidak membalas hanya diam membatu. Dwi mengeratkan pelukannya berharap Jihan membalas namun hanya air mata yang menetes.
"Ji selamat ya" ujar sahabat sahabatnya.
"Thanks" ujar Jihan dalam pelukan Dwi.
"Nih" ujar Sahabatnya memberikan sebuah kunci mobil mewah yang menjadi barang incarannya.
"Oke, thanks ya" ucap Jihan.
"Udah lepasin pengap, nih buat Putri ini barang yang pernah gue buat taruhan tapi gue kalah sekarang gue kembalikan" ujar Jihan memberikan kunci mobil pada Dwi.
Dwi mengangguk sedangkan Jihan langsung kembali menaiki motornya dan mengjilang dari sana. Karena tangannya sakit membuat Jihan berhenti di tepi jalan sembari menahan sakitnya.
"Gue harus pergi" ujar Jihan langsung menuju apartemennya.
Saat sampai di apartemennya tangan Jihan kembki berdarah membuat Jihan harus pergi untuk mengobati luka. Beruntung di dekat apartemennya ada sebuah klinik yang masih buka.
"Apa anda baru saja membawa motor" tanya Sang dokter.
"Iya dok" ujar Jihan.
"Lukanya robek tapi karena tekanan maka kembali keluar darah tapi tidak apa apa anda harus mengistirahatkan tangan anda agar cepat selesai" ucapnya.
__ADS_1
"Siap Dok" ujar Jihan langsung pulang ke apartemennya.
Dia langsung menghempaskan tubuh di atas kasur empukmya dan mulai terlelap Sedangkan di lain tempat Dwi merasa masih sangat bersalah kepada Jihan.
Jihan terbangun saat tengah malam membuatnya sulit untuk kembali tidur. Jihan bangun lalu mengambil laptopnya dan melihat perkembangan usahanya.
Dia melihat nilai saham perusahaannya yang sempat anjlok namun saat ini sudah mulai naik lagi membuatnya lega. Namun di sela sela kerjanya Jihan teringat akan Dwi yang sedang terluka.
"Vin besok pagi anter gue ke desa kita seleaaikan maslah di sana biarin kasalah di sini sama Fero" ujar Jihan mengirim pesan singkat pada Kevin sang asisten
"Siap bos" ujar Kevin menjawab.
"Lo belum tidur" tanya Jihan.
"Udah kebangun tadi" jawab Kevin
"Karena gue ya maaf ya" ucap Jihan dengan emotikon tersenyum.
"Gak biasa hal yang gak bisa di tahan saat tidur yang bangunin, lo belum tidur" tanya Kevin.
"Udah sama kebangun tapi beda jalan" ujar Jihan.
"Ya udah tidir lagi gih, gue jemout pagi bnget besok biar gak kena macet mau pengawal gak" tanya Kevin.
"Ya seketat mungkin dan jangan sampai keluarga Suseno tau kepergian gue" ucap Jihan.
"Masalah ya Ji" tanya Kevin
"Lebih dari itu, dan jangan bahas anggota keluarga Suseno di depan gue" ucap Jihan.
"Siap, oke gue lanjut tidur dulu ya" ucap Kevin.
Jihn tidak menjawab lagi karena takut Kevin tidak tertidur karenanya. Jihan hanya mengirim pesan kepada semua asisten di setiap usaha yang dia punya agar tidak memberitahu siapapun tentang keberadaanya sekarang.
Jihan kembali dengan laptopnya dan menyelesaikan pekerjaan untuk beberapa waktu ke depan. Jihan juga memberitahukan sekertarisnya agar mengosongkan jadwal untik satu minggu kedepan.
Waktu terus berputar pagi menjelang Jihan masih di depan komputernya sampai Kevin datang.
"Biar gak kena macet, lo gak tidur dari semalam" ujar Kevin
"Jelas banget ya" ujar Jihan.
"Ya, siap siap gih keburu siang" ucap Kevin.
Jihan mengangguk lalu mempersilahkn Kevin untuk duduk dan memberikan cemilan pada Kevin. Jihan bersiap dengan cepat dia hanya membawa tas berisi laptop dan ponselnya.
"Udah" tanya Kevin.
"Udah" ucap Jihan
Jihan dan Kevin langsung pergi ke desa. Selama perjalanan Jihan hanya diam beberapa waktu juga dia tertidur Kevin tidak membangunkannya walaupun sudah sampai di tujuan dengan pengawalan ketat membuat siapapun tidak bisa mendekat dan tidur Jihan berkualitas.
"Mau sampai kapan tidur woy" ujar Kevin saat Jihan mengeliat.
"Udah sampai" tanya Jihan.
"Udah satu jam yang lalu" ucap Kevin.
Dengan pakaian setelan kantor dan sikap yang tegas membuat semua orang menghormati Jihan dan mereka tau perbedaan derajat kali ini.
Jihan dan Kevin kembali ke kota pada malam hari dia meminta pengawal juga untuk membawa mobilmya yang dia tinggal di desa kemarin. Semua masalah di desa tuntas bahkan masalah pembangunan sekolah juga tuntas membuat semua orang bahagia.
"Mau gue anter kemana" tanya Kevin.
"Ke butik" ucap Jihan di angguki Kevin.
Jihan menginap di butiknya dia beristirahat di sana sembari membuat beberapa Design. sedangkan Kevin dan para ajudannya kembali ke tempatnya masing masing.
Jihan merasa sangat lelah sehingga dia tidur dengan mudah namun lagi lagi saat tengah malam dia terbangun dan tidak bisa tidur lagi sehingga dia langsung menyelesaikan designnya.
Pagi menjelang Jihan mulai merasakan kantuknya, dia tertidur saat siang hari Jihan bangun dan ada pesan singkat dari Kevin agar segera ke kantor.
__ADS_1
Jihan langsung bersiap untuk pergi dia memakai pakaian setelan kantor namun dandanannya kali ini membuatnya terlihat sangat tegas dia sengaja berdandan seperti itu untuk menutup perasaannya yang sedang kacau.
"Vin gue udah deket kantor" ujar Jihan memberikan oesan singkan pada Kevin membuat Kevin langsung membawa beberapa ajudannya ke depan
"Gila si Kevin gak perlu sebanyak itu juga kali" ujar Jihan melihat berapa banyak ajudan yabg bersiap di sana.
Melihat mobil Jihan datang Kevin langsung bersiap untuk menyambut Jihan. Saat Jihn turun dari mobil langsung para ajudan yang Kevin minta langsung dalam posisinya.
"Kenapa banyak banget si" ujar Jihan.
"Punya saya separuhnya yang separuh pengawalan khusus dari tuan Leon" ujar Kevin.
"Leon" tanya Jihan berhenti.
"Iya Bos, dia juga ada di sini" ujar Kevin.
"Buat apa" tanya Jihan.
"Katanya ada perlu sama bos" ucap Kevin.
Jihan jengah dia langsung berbalik arah membuat Levin bingung. Namun saat sampai di depan pintu Jihan kembali berbalik dan berhenti.
"Kenapa gue harus menghindar" ujar Jihan berhenti dan melamun.
"Bos" ujar Kevin.
"Bos" panggil Kevin lagi sampai Dwi berada di dekatnya.
Dwi tersenyum melihat istri cantiknya itu melamun dan dia tau kalau Jihan berusaha menghindar. Dwi langsung mencium pipi Jihan membuat Jihan terbangun dari lamunannya namun Dwi langsung berjalan menjauh membuat semua orang tersenyum.
"Bos, tuan Fero" ujar Sekertaris Jihan tergesa gesa membuat Jihan langsung berlari.
"Bentar tuan Fero kenapa dan dimana" tanya Jihan.
"Bertengkar dengan tuan Leon di ruangan bu Jihan" ujar sang sekertaris.
Jihn melepaskan sepatunya lalu berlari dengan sangat cepat dia bahkan melewati langkah kaki Dwi yang sudah berjalan jauh darinya tepat di depan lif.
"Kenapa" tanya Dwi santai masuk lif bersama.
"Ini beneran kalian semua mau ikut saya pake lif ini" ujar Jihan menunjuk semua ajudannya.
"Maaf nona tapi kami tidak bisa membiarkan anda tanpa pengawalan" ujar salah seorang ajudan.
"Kalian ajudan Leon ya, urusin tuh bos kalian jangan sampai sesuatu pecah gara gara kalian menghentikan saya paham" ujar Jihan marah membuat semua ajudan Leon mengangguk dan keluar dari lif.
Jihan menarik nafasnya panjang dan kembali memakai sepatunya. Dengan aura dingin yang masih menyelimuti membuat semua asisten maupun sekertarisnya diam tanpa kata.
"Kenapa Leon kasih kamu pengawalan" tanya Dwi
"Kenapa lagi biar gue aman" ujar Jihan ketus.
"Apa alasan di balik itu" tanya Dwi.
"Alasan terbesar ya karena dia suka sama gue, ya kali benvi gue kasih pengawalan" ujar Jihan langsung keluar saat pintu lif terbuka.
Jihan berjalan cepat sedangkan Dwi masih diam di dalam lif. Namun seketika Dwi mengikuti Jihan saat membuka pintu Jihan membulatkan matanya saat Leon menodongkan senjata kepada Fero.
"Leon" bentak Jihan membuat Leon melihat ke arah Jihan dan tersenyum.
.
.
.
.
Jangan lupa dulungannya ya guys....
.
__ADS_1