
"Kaka mah gitu bilang aja takut kak Dwi marah" ujar Putri.
"Gak takut cuma gue gak pernah tertarik sama mereka semua jadi menurut gue mereka biasa aja" ucap Jihan.
"Masa si kak, padahal mereka semua dalan katagori ganteng loh kak" ucap Putri.
Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya acuh. Jihan mengambil beberapa cemilan yang Putri makan.
"Atau jangan jangan kakak" ujar Putri.
"Apa punya pacar, tenang aja lo Abang lo gak bakal ada yang nyingkirin gue gak pernah punya pacar ya walaupun yang kejar kejar banyak" ucap Jihan percaya diri.
"Ih narsis amat lo kak, lagian mana mungkin cewek se cantik Kaka gak pernah punya pacar body aja kaya mode gitu perfec lah" puji Putri.
"Iya sampai lo kalah dari gue" ucap Jihan sinis.
"Nyesel gue puji lo kak" ucap Putri.
"Udah bisa diem gak si lo, gue mau makan nih" ucap Jihan.
"Ya udah makan aja" ucap Putri.
"Put udah dong, kasian kaka kamu capek dari tadi belum makaan juga" ucap Mama Sri.
"Iya dari kemarin makannya gak teratur" ucap papa Suseno.
"Dengerin tuh karena menjalani kenyataan butuh tenaga extra" ceplos Jihan.
"Jihan" bentak papa Jihan.
"Apa mau bilang jaga sikap oke" ucap Jihan kemudian meninggalkan semua orang yang ada di depan untuk makan.
Jihan pergi ke dapur lalu mengambil sebuah wadah besar dengan isian berbagai makanan dan membawanya ke depan Jovan dan Dani membuat semua orang menatapnya aneh.
"Makan yuk Bang" ucap Jihan.
"Lo mau makan segitu banyak Ji" cibir Randi.
"Mona Hana sini deh, kita makan" ucap Jihan.
Hana dan Mona langsung tersnyum dan mulai makan dengan Jihan dalam wadah yang sama di susul Jovan Raka dan juga Dani yang ikut makan bersama membuat semua teman Jovan bingung. Dwi yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sampai saat Jihan tertawa dan saling suap dengan Abang dan teman temannya.
"Ji" panggil Dwi.
"Kenapa" tanya Jihan berhenti makan.
"Kamu gak ajak aku makan" ucap Dwi lirih.
"Kalau mau ikut aja, kalau gak ya gak apa apa si " ucap Jihan kembali melanjutkan makannya.
"Enak Ji" tanya Dwi.
"Enak" ucap Jihan singkat.
"Tapi kenapa pakai tangan" tanya Dwi lagi.
"Cerewet banget sih lo" ucap Jihan kesal.
"Ya maaf abis kalian makannya gitu" ucap Dwi.
"Kalau penasaran rasa dan sensasi sini aja gabung" ucap Jihan.
"Suapin aja Ji, paksa aja mungkin dia baru pernah liat orang makan kaya kita" ucap Raka.
"Mau" tanya Jihan.
"Gak ah, gue pake piring aja" ucap Dwi hendak mengambil makanan dengan piring.
"Buka mulut lo" ucap Jihan hendak menyuapi Dwi.
"Gak usah" ucap Dwi hanya melihat.
"Makan atau puasa" ucap Jihan.
"Yaya" ucap Dwi membuka mulut sembari menatap Jihan lekat.
"Enak" tanya Jihan tersenyum.
"Enak" ucap Dwi sembari bergabung makan di wadah besar yang Jihan bawa membuat semua teman temannya mengikuti termasuk Randi.
"Inilah kebersamaan" ucap Raka.
"Iya terahir kali kita gini pas ultah Jihan kemarin ya karena kita bisa kumpul kalau Jihan ultah doang" ucap Mona.
"Bener banget lo, Jihan emang the best deh" ucap Hana.
"Ji" ucap Dwi sembari hendak menyuapi Jihan.
Jihan hanya bingung namun dengan cepat Jihan tau maksud Dwi. Jihan membuka mulutnya membuat Dwi tersenyum lalu menyuapi Jihan beberapa kali. Dwi merasa baru kali ini melihat senyum tulus Jihan.
"Duh pengantin baru dari tadi suap suapan mulu buat jiwa jomblo gue meronta ronta" ledek Hana.
__ADS_1
"Ya udah sini deh, gue suapin lo" ucap Dani membuat semua orang tertawa lain dengan Hana yang menunduk dengan wajah bersemu.
"Gila lo buat dia malu jangkrik" ucap Randi.
"Ye gue serius kali" bela Dani.
"Udah malah ribut, suapin aja" ucap Mona.
"Iya tuh" bela Randi.
"Kenapa lo jadi belain gue, tadi aja protes" cibir Dani.
"Kaka kaka semua hadap kamera" teriak Putri.
Semua orang menghadap kamera dengan berbagai pose namun Putri lebih tertarik untuk mengambil potret sang kaka dan sang ipar walaupun harus mengambil dengan cara mencuri curi.
"Ji udah" tanya Rama saat Jihan bangun lebih dulu.
"Udah, kalian lanjutin aja kalau kurang gue masakin" ucap Jihan sembari melenggang pergi.
"Ji tunggu" ucap Dwi mengikuti Jihan.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Wi orang yang barusan pergi tuh pacar kamu ya" tanya Dwi to the poin.
"Bukan" jawab Jihan santai.
"Oh" ucap Dwi ber oh ria.
"Kenapa cemburu ya" ledek Jihan.
"Gak siapa juga yang cemburu cuma gak suka aja kamu sedeket itu sama dia" ucap Dwi sembari mencuci tangan di samping Jihan.
"Sama aja" cibir Jihan.
"Ji" panggil Dwi.
"Ya" jawab Jihan sembari menghadap ke arah Dwi, namun saat Jihan hendak melihat ke arah Dwi, Dwi langsung memasang wajahnya di samping Jihan sehingga dengan tanp sengaja Jihan mencium Dwi. Jihan membulatkan matanya sedangkan Dwi tersenyum puas.
"Kamu sengaja" ucap Jihan marah.
"Iya, kalau gak gini gak bakal dapet ciuman kamu" ucap Dwi melenggang penuh kemenangan.
Jihan melihat kepergian Dwi dengan tatapan penuh amarah bercampur malu. Pasalnya ini adalah kali pertama Jihan mencium seseorang selain papa dan Abangnya. Jihan tersenyum samar kemudian keluar mengikuti Dwi dengan mode santainya.
"Wi wajah lo" ucap Randi.
"Wah bener bener lo Wi gak kasih kendor" ledek Randi.
"Kenapa si" tanya Dwi penasaran.
"Bentar, Ji lo punya tisu" tanya Randi.
"Ada, bentar" ucap Jihan.
"Na ambilin tisu tuh kasih sama kak Randi" ucap Jihan santai.
"Oke, nih kak" ucap Hana memberikan sebuah tisu.
Randi lalu tersenyum kemudian mengelap pipi Dwi keras membuat Dwi memanyunkan bibirnya. Randi hanya tersenyum puas.
"Bisa gak si pakai hati" ucap Dwi.
"Lo gak bakal marahi gue setelah lo liat ini" ucap Randi memberikan tisu.
"Apaan si" ucap Dwi mengambil tisu dari Randi.
"Apa tuh" ledek Randi.
"La emang kenapa, ini juga hak gue kali halal" ucap Dwi.
"Halal si halal tapi kalau jelas banget gitu Jihan juga yang malu" ucap Jovan.
"Kenapa bawa bawa Jihan" tanya Jihan.
"Nih pipi Dwi ada lipstik" ucap Jovan.
"Oh lipstik" ucap Jihan santai membuat semuanya penasaran.
"What lipstik, mana" tanya Jihan memeriksa ke dua pipi Dwi.
"Haha baru sadar dia" ledek Randi.
"Kak mana tisunya" tanya Jihan.
"Nih" ucap Randi memberikan sekotak tisu.
Jihan membersihkan pipi Dwi dengan santai membuat pemandangan yang sangat romantis bagi yang melihat, Dwi sangat menikmatinya lain dengan Jihan yang sangat kesal bagaimana tidak Dwi dengan santai dan tidak bersalah dengan lipstik yang menempel di pipinya membuat Jihan malu walaupun Jihan tidak sengaja melakukannya.
"Ji gue balik dulu ya, di cariin sama Nino" ucap Hana.
__ADS_1
"Emang lo gak pamit apa" tanya Jihan sembari membersihkan pipi Dwi.
"Gue pamit, tapi tadi kan dia sama mama , sekarang mama mau pergi katanya mau kondangan sama temen" ucap Hana.
"Oh ya udah, kalau kalian kesepian bawa Nino ke sini aja udah lama gak pernah liat dia makin ganteng pasti ya" ucap Jihan.
"Baru dua hari gak liat dia juga" ucap Hana.
"Iya makanya udah rindu" ucap Jihan.
"Ya besok deh gue bawa dia ke sini sekalian suruh bawa makajan kesukaan lo" ucap Hana.
"Terima kasih, ya udah mau di anter gak" tanya Jihsn.
"Gak perlu lagian rumah gue juga deket kali," ucap Hana.
"Ya gak apa apa, kaka Dani tolong anterin Hana ya jangan samapi lecet sedikit pun" ucap Jihan.
"Iya bawel, lagian kenapa lo gak sekalian bawa Nino ke sini tadi biar gak cepet pulang" cibir Dani.
"Bilang aja belum puas berduaan" ledek Jovan.
"Ikut ikutan kaya cewe lo Van" ucap Dani.
"Ya emang itu kenyataannya kan, lo belum bisa move on dari Hana kak" ledek Jovan.
"Serah kalian" ucap Dani melenggang.
Hana hanya mendengarkan perdebataan yang menurutnya sangat menyenangkan tersebut, karena dirinya juga merindukan sosok Dani sejak Dani memutuskan untuk ikut dengan orang tuanya.
"Mau pulang gak" tanya Dani.
"Eh iya iya" ucap Hana semangat.
"Om tante semuanya Hana pamit pulang dulu" ucap Hana membungkukkan badannya.
"Ya hati hati, Dani jagain Hana" ucap Mama Anggun.
"Pasti mah" ucap Dani.
Dani biasa memanggil mama Anggun dengan sebutan Mama karena sejak ke dua orang tuanya berpisah Dani hidup dengan keluarga Jihan. Dani pergi ikut dengan ibu dan Ayah tirinya di kota saat sudah mulai dewasa.
"Ji gue juga pulang ya udah malam, tugas gue msih banyak" ucap Mona.
"Iya pulang aja semuanya" ujar Jihan.
"Jangan gitu dong Ji, besok kan kita ketemu lagi" ucap Mona.
"Iya, gue juga mau buat tugas" ucap Jihan.
"Lo sadar Ji mau kerjain tugas" tanya Mona.
"Jangan buat gue malu lo, gue juga gak mau sia siain sekilah gue kali lagian lagi banyak orang genius di sini" ucap Jihan percaya diri.
"Lo manfaatin mereka Ji" tanya Mona menunjuk semua teman Abangnya.
"Iya pasti, ya udah lo pergi sana" ucao Jihan.
"Jahat lo" ucap Mona.
"Kenapa jadi jahat kan lo tadi yang mau pulang" ucap Jihan.
"Yaya, om tante semuanya saya pulang dulu" ucap Mona.
"Iya iya udah pulang sana" ujar Jihan.
"Iya" ucap Mona.
"Mon tunggu gue, gue juga mau pulang lagian kita searah" ucap Raka.
"Ya udah ayok, penakut" ucap Mona.
"Terus aja lo hina gue" ucap Raka.
Raka dan Mona pergi sedangkan Jihan pergi ke kamar kemudian membawa setumpuk buku dan meletakkannya di tengah tengah Jovan yang sedang mengobrol dengan teman temannya.
.
.
.
.
..
.
.
Jangan lupa vote dan komennya dan like juga ya...
__ADS_1