
"Kenapa pulang" tanya Dwi saat sampai di depan gedung apartemennya.
"Bukankah tadi ada yang tidak suka saya memakai baju ini" ucap Jihan membuat Dwi menggaruk rambutnya.
"Mau nunggu, bukankah ada yang harus di tuntaskan" Ucap Jihan tersenyum membuat Dwi malu
"Semua ini karena kamu" ucap Dwi.
Jihan tidak mendengarkan ucapan Dwi dia hanya menyunggingkan senyuman sinis. Dia berjalan lebih dulu ke kamarnya meninggalkan Dwi yang sedang mengejarnya. Jihan langsung pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
"Yang kamu gak bisa bantu apa" ucap Dwi saat akan ke kamar mandi.
"Gak" ucap Jihan singkat.
"Jahat" ucap Dwi.
Jihan tidak menjawab membuat Dwi pasrah dan pergi ke kamar mandi. Saat Dwi selesai ternyata Jihan sudah duduk di depan komputer canggihnya membuat Dwi penasaran dan mendekat.
"Lagi apa" tanya Dwi.
"Eh udah selesai" ucap Jihan kaget.
"Udah, lagi ngapain serius banget sampai saya datang gak tau" ucap Dwi mengintip apa yang sedang Jihan lihat.
"Nih lagi cari tau siapa pemilik mobil ini" ucap Jihan sembari mengetikkan jari jemarinya di atas keypad dengan lincah.
"Emang kamu bisa cari tau" tanya Dwi.
"Harusnya si bisa liat aja nanti" ucap Jihan pasti membuat Dwi manggut manggut diam duduk di samping Jihan.
"Ketemu" ucap Jihan tak lama.
"Apa" tanya Dwi.
"Nih, kamu tau orang ini" tanya Jihan membuat Dwi berfikir.
"Itu, orang kepercayaan bokapnya Klara" ucap Dwi yakin.
"oh" ucap Jihan singkat.
"Hallo Vin, bantu gue gue kirim datanya sekarang kamu tau kan apa selanjutnya" ucap Jihan menghubungi asisten kepercayaannya Kevin.
"......"
"Oke" ujar Jihan mematikan telfon.
"Kamu mau kemana" tanya Dwi.
"Ke rumah mau ikut" tanya Jihan.
"Rumah mana" tanya Dwi.
"Yaya terlalu banyak rumah ya harus jelas tapi terserah saya dong mau ke rumah mana semua kan rumah saya" ucap Jihan membuat Dwi mengerucutkan bibirnya.
Jihan tertawa melihat Dwi seperti itu membuat Dwi semakin kesal terhadapnya namun tidak mampu untuk memarahinya. Biarlah itu terjadi agar Jihan bahagia dan melupakan semua masalah yang ada.
Jihan pergi ke parkiran untuk menaiki mobil sport keluaran terbaru yang dia dapatkan dari Jovan beberapa hari yang lalu.
"Yakin saya gak boleh ikut" tanya Dwi saat Jihan akan menutup pintu mobilnya
"Ya kamu harus kerja hasilkan uang yang banyak buat saya" ucap Jihan.
"Baiklah nyonya Putra" ucap Dwi.
"Oke saaya boleh pergi" tanya Jihaan karena Dwi masih menahan pintu mobilnya.
"Eh iya tapi sebentar" ucap Dwi.
"Ada apa" tanya Jihan.
Dwi melongokan kepalanya ke dalam mobil Jihan, wajahnya tepat di depan wajah Jihan membuat Jihan sulit bernafas. Dwi menarik sabuk pengaman dan memakaikannya pada Jihan membuat Jihan lega. Namun tidak hanya sampai di situ Dwi menarik tengkuk Jihan dan mengulum bibir Jihan beberapa saat hal yang sangat di hindari Jihan.
"Makasih" ucap Dwi menarik kepalanya menjauh dari Jihan dengan cepat Jihan menghentikan Dwi membuat Dwi bingung
"Mau lagi" tanya Dwi dengan PDnya mendekatkan wajahnya.
"Nih, Gar banget si jadi orang" ucap Jihan menyodorkan sebuah tisu kepada Dwi.
__ADS_1
"Buat" tanya Dwi.
"Liat deh" ucap Jihan memberikan cermin kepada Dwi membuat Dwi tersenyum.
"Senyum lagi, hapus tuh malu tau" cibir Jihan.
"Bukannya seneng" ucap Dwi.
"Yang ada malu, sini" ujar Jihan menarik tengkuk Dwi membuat Dwi susah untuk menelan ludahnya karena jarak yang begitu dekat walaupuj dia sangat bahagia.
Jihan membersihkan sisa lipstik yang berantakan di bibir Dwi. Dia tidak sadar kalau jarak mereka terlalu dekat bahkan mereka bisa saling mendengar nafas satu sama lain.
Setelah beberapa saat Jihan tersadar dan melemparkan tisu itu ke arah Dwi membuat Dwi tertawa karena Jihan langsung manyun.
"Bye sayang" ucap Dwi melambaikan tangannya.
Jihan hanya melihat di sepion dan menggelengkan kepalanya. Tujuannya adalah tempat dimana Klara berada dia hanya ingin memastikan keberadaan Klara karena dia tidak ingin ada korban lagi.
Saat sampai di sana ternyata mobil yang Jihan cari ada di sana dan benar orang yang menyerangnya ada di dalam dan sedang menemui Klara.
Jihan penasaran dengan apa yang sedang Klara rencanakan dengan keanggotaannya sebagai keluarga Suseno jadi dia dengan mudah masuk ruangan kendali dan mendengarkan apa yang Klara rencanakan. Tentunya dengan kemampuannya di bidang cyber jadi dengan mudah dia bisa mendengar apa yang Klara ucapkaj yang tidak bisa di dengar yang lain.
"Bos saya salah sasaran" ucap laki laki yang menyerangnya kepada Klara.
"Siapa yang kamu lukai" tanya Klara.
"Saya kurang tau bos, tapi sasaran menangis dengan keras" ucapnya.
"Kevin atau Putra" tanya Klara.
"Saya kurang tau namanya bos, tapi bukan tuan Putra" ucapnya.
"Syukurlah, biarkan dia menderita kita lukai dia pelan pelan" ucap Klara.
"Tapi bos oke di sini" tanyanya.
"Oke kenapa di sini juga lumayan tapi saya harus berpura pura gila" ucap Klara.
"Dia pura pura gila, bakal gue buat dia beneran gila" ujar Jihan dalam hati.
"Oke tapi lo bawa apa yang gue minta kan" tanya Klara.
"Nih bos" ucapnya memberikan sebuah tas.
"Oke kamu boleh pergi tapi berhati hatilah" ucap Klara.
"Siap bos" ucapnya.
Laki laki tersebut pergi dengan sebuah mobil berbeda dengan yang dia bawa saat melukai Julio. Namun Jihan berhasil menyadap mobil itu sesaat sebelum laki laki itu datang.
"Semoga gue berhasil, gue bakal lakuin apapun buat lo Jul" ujar Jihan lirih.
Jihan mengurungkan niatnya untuk menemui Klara dia lebih tertarik mengejar laki laki yang menemui Klara tadi. Namun karena jam pulang kerja membuat Jihan terjebak macet.
"Ah macet lagi hilangkan tuh orang" ujar Jihan saat kehilangan sasarannya.
"Hai Ay lo dimana" tanya Fero dalam sambungan telfon.
"Kenapa kejebak macet nih" ucap Jihan.
"Oh ya udah nikmatin aja kemacetannya" ucap Fero membuat Jihan jengah
"Bahagia lo, oh ya lo bisa gak gantiin gue pergi ke Bank ambil uang buat anak anak besok mereka harus udah terima gaji" ucap Jihan.
"Bisa kebetulan gue udah deket Bank tapi emang lo udah buat janji" tanya Fero.
"Udah tadi tapi kayaknya gue gak bisa datang cepet macetnya panjang banget" ucap Jihan.
"Oke nanti gue bawa ke rumah atau kemana nih" tanya Fero
"Terserah deh Ta, yang penting jangan ke apartemen gue lagi males cari masalah" ucap Jihan.
"Gimana kalau ke rumah mertua aja sekalian gue dapat undangan makan malam" ucap Fero.
"Undangan bilang aja emang lo mau makan malam di rumah" ucap Jihan.
"Hehe abis masakan mertua enak kayak masakan kamu" ujar Fero.
__ADS_1
"Haha yang bininya gak bisa masak" ledek Jihan membuat Fero hanya tersenyum.
"Ledekin aja terus apapun penghinaan lo gue jadiin dongeng yang indah" ucap Fero.
"Serah lo udah dulu ya see you" ucap Jihan.
"See you Ay, love you" ucap Fero membuat Jihn hanya diam sampai sambungan telefon putus.
"Maaf Ta, gue udah gak ada hak buat balas ucapan lo atau hanya menanggapi dengan senyuman gue udah jadi istri seseorang semoga lo bahagia dengan pernikahan lo" ucap Jihan menatap lurus ke depan.
Lama Jihan terjebak dalam kemacetan sampai dia berada di deoan sebuah minimarket yang lumayan besar dia menepi dan membeli beberapa amplop yang dia butuhkan.
Setelah kemacetan sudah terurai Jihan melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Saat sampai di sana Jihan tercengang karena mobil suaminya ada di sana.
"Kenapa mas Dwi ada di sini, tapi ini kan rumah orang tuanya kenapa gue tanya" ujar Jihan berbicara sendiri sembari turun dari mobil.
"Hai sayang" sambutan hangat dari mertuanya dengan pelukan erat.
"Hai mah" ucap Jihan membalas pelukan mertuanya itu.
"Malam Sayang" ucap Dwi di balik tubuh ibunya membuat mertuanya mengurai pelukannya dan pergi membiarkan anaknya mendekati Jihan.
"Malam, Mas kenapa di sini" tanya Jihan sembari mencium tangan suaminya.
"Kenapa ini kan rumah orang tua mas" ucap Dwi lalu mencium mesra kening Jihan.
"Iya juga ya, eh maksud Jihan kok ke sini gak bilang" tanya Jihan.
"Kenapa kalau bilang mau bareng" tanya Dwi.
"Gak juga si" ucap Jihan.
"Kamu kenapa ke sini" tanya Dwi.
"Kamu Wi istri kamu kan juga anak papa jadi dia berhak pulang ke sini" ujar papa Seno.
"Sayang duduk" ucap Dwi.
Jihan hanya mengangguk lalu melepaskan tas jinjingnya dan duduk dengan santai di depan televisi sembari menonton kartun kesukaannya.
"Mah" panggil seseorang membuat Jihan menatapnya tajam.
"Ji ji Jihan" ujarnya gugup.
Jihan hanya diam lalu kembali menonton acara kesukaannya Dwi dan Papa hanya bisa diam karena kebencian Jihan terhadap Putri tersirat jelas di matanya.
"Ji lo masih gak bisa maafin gue" ucap Putri mendekat.
"Asalamualaikum" ucap Fero.
"Waalaikum salam" ucap semua orang begitupun Putri yang berlari ke arah Fero dengan ceria dan memeluknya erat.
"Boleh saya ke kamar" tanya Fero saat Putri tak kunjung melepaskan pelukannya.
"Oh iya boleh, boleh Putri bawa ini" tanya Putri menunjuk tas yang ada di tangan Fero.
"Boleh tapi itu yang satu kasih Jihan kalau dia kesini ya" ucap Fero membuat senyuman Putri memudar.
"Gak perlu manyun itu uang buat gaji anak anak bukan jatah bulanan dia buat gue" ujar Jihan menyambar tas yang ada di tangan Putri membuat Putri sedikit lega.
"Loh katanya kejebak macet kok sampai duluan si" tanya Fero.
"Iya kena macet deket mini market karena ada kecelakaan " ucap Jihan kembali duduk ke tempatnya di dekat Dwi dan papa Seno.
"Oke, gue mandi dulu ya" ucap Fero
"Hem" ujar Jihan.
Fero terlihat cukup kecewa dengan jawaban Jihan. Jihan yang sadar dengan perbedaan wajah Fero dia langsung menyandarkan kepalanya ke pundak Dwi sembari menonton.
"Capek ya" tanya Dwi menggenggam tangan Jihan.
"Lumayan, kamu tau gak kalau Klara tuh pura pura gila" ucap Jihan
"Gak tau, kan gak ketemu" ucap Dwi santai.
"Boleh gak kalau Jihan buat dia gila" tanya Jihan penuh keingintahuan bagaimana reaksi Dwi.
__ADS_1