
"Udah jangan bahas itu gue takut Dwi denger" ucap Ridwan.
"Kenapa kalau denger" tanya Fero.
"Takut dia sakit hati" ucap Ridwan.
"Bukan pak dokter yang sakit hati pak dokter kan juga suka sama Jihan" ujar Fero.
Ucapan Fero membuat semua orang menatap Ridwan. Ridwan yang di tatap hanya tersenyum manis lalu pergi menjauh.
"Ternyata adek gue primadona" ucap Jovan.
"Lo baru tau, masih banyak lagi temen kita yang udah ungkapin rasa sama Jihan tapi mereka semua di tolak sama Jihan" ucap Dani.
"Lo tau semua ini Kak" tanya Jovan.
"Tau lah" ujar Dani bangga.
"Kenapa gak ngomong si" ujar Jovan.
"Mau ngomong gimana orang gue pulang katanya udah di nikahin aja" ucap Dani.
"Huh, gue rasa bersalah banget sama Jihan, banyak penyesalan yang ada di hati gue" ujar Jovan.
"Ya dan lagi lo gak tau kan alasan dia jadi bad girl dan alasan dia gak pernah dapat nilai di sekolah" ucap Dani.
"Apa ada alasan yang tepat" ujar Jovan.
"Ya dia jadi bad girl.di sekolah tuh biar dia bebas buat keluar masuk sekolah kalau gak pernah dapat nilai dia gak butuh nilai nilai itu dan di sekolah lama dia jadi bad girl tuh gara gara dia sering ngajak berantem" ujar Dani.
"Tapi gue gak pernah liat dia lebam" ucap Jovan.
"Iya lah dia mati matian belajar make up buat nutupi semuanya termasuk biar dia bisa kerja di tempat om Seno dengan nyaman tanpa seorang pun tau siapa dia" ujar Dani.
"Ya gue juga pernah di hajar sebelumnya" ujar Dwi yang baru saja datang membuat semua orang terdiam.
"Kenapa diam pas gue datang" tanya Dwi ikut duduk.
"Gak, sejak kapan lo di sana" tanya Jovan.
"Baru aja, oh ya Van gue mau izin tidur sini ya" ucap Dwi.
"Lo tidur sini" ucap Jovan.
"Iya gak boleh ya" ucap Dwi.
"Boleh lah ngapain juga lo minta izin dulu sama gue lo kan suami Jihan jadi lo udah jadi keluarga gue dan adek gue hhaha" ujar Jovan.
"Ya udah deh gue ke atas dulu ya" ucap Dwi.
"Iya iya, puas puasin Jihan lagi tidur kalau bangun berantem mulu" ucap Dani.
"Ya kak, oh ya Rey sama Kevin mana" tanya Dwi.
"Pergi ke ruang kerja lagi balikin nama lo" ucap Jovan.
"Boleh gue ke sana" tanya Dwi.
"Katanya mau ke kamar lagi" ucap Dani.
"Tadinya iya tapi gue penasaran sama kerja mereka" ucap Dwi.
"Gak usah penasaran percaya saja sama mereka" ucap Papa yang baru datang dari ruang kerja Rey dan Kevin.
"Papa belum pulang" tanya dwi.
"Bum lah, oh ya wi jagain Jihan buat papa ya papa gak mau kalau Jihan lecet oke" ucap Papa.
"Em iya pah" ucap Dwi menundukkan kepalanya.
"Iya apa lagi lo lukai hatinya bakal berhadapan sama gue lo" ucap Dwi.
"Iya kak" ucap Dwi makin lesu.
"Ya udah kalau gitu gue mau tunjukin kamar Fero kalian lanjutkan oh ya jangan ada yang berani masuk ke ruang kerja Jihan kecuali ada surat izin dari Jihan" ucap Dani melenggang pergi.
"Kayak mau kemana aja pakai surat izin" cibir Zira.
"Iya soalnya Jihan gak pernah nanggung saat bekerja atau mengerjakan sesuatu semua harus beres dan dia tidak suka saat seseorang mengganggunya bekerja" ucap Jovan
"Tapi kan Jihan lagi tidur" ujar Zian.
"Mata dia banyak" ucap Jovan.
"Oh gitu ya udah kita pulang duluan ya Bang Zian antar Zira pulang ya" ucap Zira memohon.
"Kenapa Abang rumah lo kan lebih deket sama Bang Ridwan sama Abang aja sana" ujar Zian.
"Gak mau Bang Ridwan orangnya dingin banget" ucap Zira.
"Iya iya deh, Van gue pulang dulu ya" ucap Zian.
"Iya maaf ya acara kita berantakan" ucap Jovan.
"Gak apa apa, ini semua di luar kendali" ucap zian pergi.
__ADS_1
"Van gue juga pulang dulu ya" ucap Ridwan.
"Iya, Dok selamat malam" ucap Jovan.
"Ya selamat malam" ucap Ridwan pergi.
Setelah semua orang pergi Jovan membereskan sisa pesta dengan beberapa pelayan yang ada. setelah menyelesaikannya Jovan lalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di kamar lain terlihat Dwi sedang menatap Jihn yang sudah tertidur pulas, Dwi menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Jihan.
"Cantik, pantas aja lo banyak yang suka" ujar Dwi.
"Maafin gue dengan perjodohan ini lo bahkan kehilangan orang yang lo cintai dan lo perjuangkan selama gue pantas aja kalau lo marah sama gue tapi gue gak peduli lo harus jadi milik gue sepenuhnya karena gue gak mau lo balik sama dia dan hancurin Putri" ujar Dwi.
Dwi terus saja bergumam membuat Jihan jengah karena sedari tadi Jihan sudah terbangun dari tidurnya namun dia membiarkan Dwi yang terus saja mengoceh sampai Jihan tau tujuan utama Dwi menikahinya.
"Oh jadi lo nikahin gue cuma biar gak di coret dari kartu keluarga, dan lo juga manfaatin gue buat kembangin usaha lo mimpi aja yang tinggi" ujar Jihan dalam hati.
Karena malas mendengar Dwi Jihan memutuskan untuk masuk ke dalam selimut dan mulai kembali ke alam mimpi begitupun Dwi yang ikut merebahkan diri di samping Jihan.
.
.
.
.
.
Surya mulai meninggi semua orang mulai kembali ke aktivitasnya. Terlihat seorang remaja ada di halaman sebuah mansion mewah menunggu seseorang datang.
"Neng ada temen neng di taman depan mau ketemu" ucap seorang maid kepada Jihan saat Jihan baru saja menuruni tangga.
"Siapa bi" tanya Jihan.
"Kayaknya si yang tadi malam berantem sama neng" ucapnya.
"Oh ya udah saya ke sana, oh ya bi buatin minuman hangat buat dia ya" ucap Jihan.
"Siap neng" ujarnya
Jihan berjalan ke taman depan menghampiri seseorang yang sedang menunggunya sedari pagi.
"Ngapain lo kesini" tanya Jihan.
"Galak amat, ini lo Ji" tanya Zira.
"Iya lah ya kali Abang" ucap Jihan.
"Lo di rumah pakai kayak gini, padahal lagi banyak orang" ucap Zira saat melihat Jihan hanya memakai hot pant dan kaos.
"Ya" ucap Zira mengikuti Jihan dari belakang.
"Ngapain lo kesini pagi pagi gini" tanya Jihan.
"biarin gue duduk dulu ngapa Ji" ujar Zira.
"Yaya duduk tapi di lantai" ujar Jihan serius.
"Kejam lo Ji, gue ke sini mau minta lo tutupin semua luka di wajah gue" ucap Zira sembari mendudukkan diri.
"Pakai topeng aja selesai" ujar Jihan.
"Jahat emang lo gak mau apa hadiri wisuda Fero" ucap Zira.
"Oh ya hari ini ya, mau lah nanti siang kan" ucap Jihan.
"Iya makanya gue minta lo make up gue gue akui deh cara make up lo paling best" ucap Zira.
"Ada maunya baru sadar lo" ucap Jihan.
"Hehe, bisa kan Ji" ucap Zira.
"Tapi kan nanti siang wisudanya kenapa lo datang pagi gini" ucap Jihan.
"Biar perfec aja lo make up gue kan waktunya lama" ucap Zira.
"Oh oke oke gue ambil alatnya dulu ya" ucap Jihan.
"Sip" ujar Zira mengacungkan jempolnya.
Jihan pergi ke kamarnya untuk mengambil alat make up yang dia butuhkan namun saat dia akan keluar dari kamarnya ada seseorang yang memeluknya dari belakang membuat Jihan berhenti sejenak.
"Lepas" ucap Jihan.
"Kenapa, nyaman tau" ucap Dwi.
"Iya tau tapi gue ada urusan" ujar Jihan.
"Urusan apa pagi pagi gini" tanya Dwi.
"Urusan sama adek lo" ucap Jihan.
"Putri" tanya Dwi.
__ADS_1
"Zira" ucap Jihan.
"Dia ngapain pagi pagi ke sini" tanya Dwi.
"Ada lah, ya udah gue turun dulu lepasin" ucap Jihan.
"morning kiss" ucap Dwi.
"Gak mau ah, lepasin" ucap Jihan.
Dwi lalu melepaskan pelukannya cepat kemudian membalik tubuh Jihan dan memojokkan Jihan ke dinding membuat Jihan tak bisa berkutik karena ke dua tangannya memegang alat make up. Dwi lalu menarik tengkuk Jihan dan ******* lembut bibir Jihan sampai dia merasa puas.
"Terima kasih" ucap Dwi setelah melepaskan tautannya.
"Hm, gue boleh pergi" tanya Jihan.
"Lo gak marah" tanya Dwi.
"mau marah juga percumah udah lo ambil" ucap Jihan.
"Kalau gue minta satu lagi masih gak marah" tanya Dwi.
"Udah gak ada lagi, awas minggir lo" ucap Jihan pergi.
Jihan berjalan cepat sembari menahan senyumnya. Entah apa yang ada di hatinya setiap kali Dwi memperlakukannya lembut dia merona tapi dia tidak mampu menunjukkan kalau dia nyaman dengan perlakuan itu.
the
"Lama banget" ujar Zira.
"Cerewed lo" ucap Jihan.
"Yaya, gimana kita mulai" tanya Zira.
"Ya lah mau besok aja juga gak apa apa" ucap Jihan.
"Gila" ucap Zira.
Jihan tidak mengindahkan omongan Zira Jihan hanya serius untuk menutup semua memar yang ada di wajah Zira dengan make up. Jihan sesekali menghela nafasnya karena Zira terus saja berceloteh.
"Lagi ngapain Ay" tanya Fero.
"Liatnya lagi apa" tanya Jihan.
"Lagi make up" ucap Fero
"Tu tau" ucap jihan.
"Gue dulu dong Ji, udah mau berangkat nih" ucap Fero.
"Lo yakin" tanya Zira.
"Sini deh, Ra Ata dulu ya" ucap Jihan.
"Ya deh gue bisa nunggu" ucap Zira bergeser.
"Bentar lo berantem Ta" ucap Jihan.
"Sedikit doang" ucap Fero.
"Sama siapa" tanya Jihan.
"Suami lo" ucap Fero menekan kalimatnya.
"Siapa duluan" tanya Jihan.
"Sama sama" ucap Fero.
"Ya udah sini masa wisuda wajahnya bonyok gini" ucap Jihan.
"Ji jadiin pangeran gue yang paling best" ucap Zira.
"Iya" ucap Jihan.
Jihan mulai mengaplikasikan make up ke wajah Fero karena wajah fero sudah terlalu sempurna menurut Jihan Jihan hanya mengaplikasikan sangt tipis.
"Thanks Ay" ucap Fero saat Jihan selesai.
"Happy graduation" ucap Jihan.
"Thanks Ay" ucap Fero.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like vote dan komennya ya....