Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Malam Pertama


__ADS_3

"Lo udah malam pertama Ji" tanya Dani membuat Jihan tersentak.


"Pertanyaan gak berbobot" ucap Jihan.


"Hahaha, Kaka pertanyaan lo terlalu fulgar malu tuh bocah" ucap Jovan.


"Bang Kak, bisa diem gak si belum pernah gue lakuin itu lagian belum juga suka sama dia dia udah tunjukin siapa dia sebenarnya" ucap Jihan.


"Iya iya, maaf Abang gak tau ternyata dia segila itu" ucap Jovan.


"Iya Ji, lagian emang lo gak mau liat dia berubah apa" ucap Dani.


"Berubah jadi power rangers" ceplos Jihan.


"Bukan tapi gue bakal berubah jadi seperti yang kamu inginkan" ucap Dwi di belakang Jihan.


"Apa maksud lo, belum puas main di depan gue" ujar Jihan emosi.


"Gak Ji, gue mau berubah demi lo" ucap Dwi.


"Demi gue yakin lo, demi perusahaan lo kali yang lagi lagi goyah" ucap Jihan.


"Ji, kita perlu bicara" ucap Dwi menarik Jihan.


"Apa si gak perlu tarik tarik juga kali" ucap Jihan menghempaskan tangan Dwi kasar.


"Ji please gak mungkin kita ribut di sini" ucap Dwi.


"Bukannya lo suka bikin ribut" ucap Jihan melenggang pergi.


"Wi tuh ikut" ucap Jovan.


"Iya Van" ucap Dwi.


Dengan cepat Dwi mengikuti Jihan dari belakang, Jihan memasuki mansion utama menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Saat sampai di sebuah pintu besar Jihan berhenti sejenak lalu menarik nafasnya panjang Dwi yang melihat itu langsung membuka pintu itu.


"Silahkan" ucap Dwi.


"Kamar kamar gue lo yang girang" ujar Jihan menggeleng lalu masuk ke kamarnya di ikuti Dwi.


"Kenapa lo tutup pintunya" tanya Jihan duduk di singgle sofa kamarnya.


"Ada yang mu gue omongin dan gue gak mau ada yang tau kamar lo kedap suara kan" ucap Dwi.


"Gak" ucap Jihan namun dengan cepat Dwi mengambil sebuah remote kecil untuk mengaktifkan mode kedap suara di kamar Jihan.


"Susah ya boongin sultan" ucap Jihan.


"Bisa kita bicara sekarang" tanya Dwi.


"Ya, kenapa gak" ucap Jihan santai.


"Ji lo bisa santai gitu si" ucap Dwi.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Lo tau kan kalau perusahaan gue lagi goyah, kenapa lo putusin kontrak si" ucap Dwi.


"Oh itu, karena kesalahan lo sendiri siapa suruh lo batalin meeting sepihak lo pikir perusahaan gue gak ada kerja apa urusin orang kayak lo" ucap Jihan.


"Tapi Ji, ya gak harus putus kontrak kali" ucap Dwi.


"Karena sebelumnya sudah ada peringatan tapi lo gak peduli, buat apa gue peduli sama perusahaan lo sedangkan lo sendiri gak peduli sama perusahaan lo" ucap Jihan.


"K**alau gak butuh gue tonjok lo" gumam Dwi.


"Tonjok tonjok aja kali" ucap Jihan santai.


"Serius" ucap Dwi.


"Serius, itu pun kalau lo bisa sentuh gue" ucap Jihan tersengir kuda.


"Huh, Ji gue beneran gue butuh bantuan lo sekarang" ucap Dwi.


"Sayangnya gue gak mau bantu lo" ucap Jihan.


"Ji please, gue bakal lakukan apapun asal lo mau bantu gue" ucap Dwi memohon.


"Apapun" ucap Jihan tersenyum kuda.

__ADS_1


"Ya apapun" ucap Dwi.


"Oke gimana kalau gue suruh lo buat memohon di kaki gue" ujar Jihan berdiri dan mengitari Dwi.


"Akan gue lakukan" ucap Dwi memohon di bawah kaki Jihan.


"Apaan lo, gue masih mikir kali" ucap Jihan mudur beberapa langkah namun Dwi menarik kaki Jihan membuat Jihan hilang keseimbangan lalu jatuh.


"Au, lo mau patahin semua tulang gue" ujar Jihan marah.


"Maaf Ji gak sengaja" ucap Dwi sembari tersenyum.


"Gak sengaja tapi, senyum dasar gak punya hati" ucap Jihan.


"Yaya gue bantu" ucap Dwi berjongkok lalu menggendong Jihan dan membawanya ke atas ranjang.


Saat baru di tepi ranjang kemeja Jihan terbuka membuat Dwi menelan salivanya. Dwi lalu menjatuhkan Jihan tanpa sengaja membuat Jihan menarik jas Dwi karena tanpa persiapan Dwi ikut terjatuh tepat di atas tubuh Jihan.


Mereka saling pandang, namun tatapan mereka kali ini sangat berbeda Dwi menatap Jihan hangat sedangkan Jihan menatap Dwi dalam. Mereka terbuai tatapan masing masing sampai Dwi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan. Jihan terpaku dengan ketampanan Dwi karena Jihan melihatnya sangat dekat.


"Ganteng ya" ucap Dwi.


"Iya" jawab Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Eh maksud gue biasa aja, ganteng tapi suka mainin wanita" ujar Jihan saat sadar bahwa dia terbuai tatapan hangat Dwi.


"Lo wanita kan, gue boleh main sama lo" ucap Dwi tersenyum.


"Hahaha, awas lo berat tau" ujar Jihan mengalihkan pandangan.


"Gak mau, lo udah bangunin junior gue" bisik Dwi.


Jihan membulatkan matanya mendengar ucapan Dwi, dan merasa sesuatu keras di bawah sana.


"Ya udah pergi lo" ucap Jihan memberontak.


"Semakin lo gerak semakin gue gak bisa nahan" ucap Dwi.


Seketika Jihan berhenti bergerak membuat Dwi tersenyum puas. Dwi mengunci ke dua tangan Jihan kuat lalu mendekatkan wajahnya namun dengan cepat Jihan memalingkan wajahnya membuat Dwi kecewa.


"Kenapa Ji, sebesar itukah kebencian lo sam gue" ujar Dwi.


"Kalau iya kenapa" ucap Jihan masih memalingkan wajah.


" Gak mau lo pasti gila liat bibir gue" ceplos Jihan.


"Salah sendiri bibir lo bikin nagih" ucap Dwi.


"Lo aja yang gak bisa nahan" ucap Jihan manyun.


"Lo kalau manyun tambah cantik Ji" ucap Dwi.


"Ledek lo" ucap Jihan.


"Gak kenyataan" ujar Dwi.


"Gak percaya" ujar Jihan.


"Gak minta persetujuan" ucap Dwi.


"Udah lepasin gue berat lo minggir" ujar Jihan.


"Gak mau sebelum lo bilang mau bantu perusahaan gue" ucap Dwi.


"Gak ada" ucap Jihan.


"Oke kalau itu mau lo" ucap Dwi lalu membuat beberapa tanda kepemilikannya di leher Jihan membuat Jihan membatu.


"Bagaimana dengan sekarang" tanya Dwi tersenyum bangga.


"Gak mau, lepasin gue lo gak bisa paksa gue dengan cara kayak gini" ucap Jihan tegas.


"Oke kalau gak mau" ucap Dwi melepaskan satu kunciannya di tangan Jihan membuat Jihan lega namun beberapa saat kemudian Dwi menarik baju Jihan dengan keras membuat baju Jihan terkoyak dan menampilkan dua gunung kembar Jihan yang terbalut sebuah kain namun terlihat sangat berisi.


Dwi menelan salivanya sedangkan Jihan menutup matanya karena sangat malu.


"Haruskah seperti ini caranya, dan apa ini waktunya Tuhan tolong hamba mu ini Jihan belum sanggup melakukannya" ujar Jihan dalam hati.


"Apa mau lo se**n" ujar Jihan emosi.

__ADS_1


"Lo bilang gue apa, se**n gak salah lo yang udah goda iman gue kambing lo" ucap Dwi tak kalah emosi.


"Pergi lo" ucap Jihan.


"Gak, sebelum gue nikmatin ini sayang kalau di biarin lagian lo inget inget deh bukannya udah hak gue ya" ucap Dwi membuat Jihan yang hendak membalas ucapan Dwi tidak jadi justru menutup matanya.


Melihat reaksi itu, Dwi tersenyum lalu kembali mengunci tangan Jihan. Dwi mengendus wangi tubuh Jihan membuat seluruh tubuh Jihan membeku. Tak perlu waktu lama Dwi membuat beberapa tanda kepemilikannya di d**a Jihan membuat Jihan meneteskan air matanya melihat Jihan yang menangis Dwi menghentikan aktivitas menyenangkannya lalu bangun dan melepas jasnya untuk menutupi tubuh Jihan.


"Maafin gue Ji" ucap Dwi pergi ke kamar mandi.


Setelah kepergian Dwi Jihan duduk di pinggir ranjang dengan jas Dwi yang menutupi tubuhnya. Jihan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


Setelah itu Jihan turun untuk mengambil pakaian ganti untuknya, namun saat dia berjalan kakinya terkilir membuatnya terjatuh. Jihan tak mampu untuk berdiri karena dia terlalu syok dengan kejadian yang baru saja terjadi sampai Dwi keluar dari kamar mandi dan mendapati Jihan duduk di lantai.


"Ji are you oke" tanya Dwi yang hanya memakai handuk sepinggang.


"Gue gak baik baik aja" ucap Jihan berdiri namun kembali jatuh sembari meringis kesakitan.


"Kaki lo bengkak Ji" ucap Dwi memegang kaki Jihan.


"Gak apa apa, udah" ucap Jihan menepis tangan Dwi yang menempel di kakinya.


Namun Dwi tidak peduli, Dwi mengangkat Jihan ke atas ranjang. Tak ada protes dari Jihan dia hanya tertunduk.


"Maafin gue Ji" ucap Dwi yang melihat Jihan sangat Syok.


"Bisa tolong ambilkan baju di lemari" ucap Jihan.


"Bisa, kamu tunjuk aja" ucap Dwi.


Dwi berjalan ke depan lemari lalu mengambil baju seperti keinginan Jihan, di saat yang bersamaan juga Dwi mengambil kaos milik Jihan dan memakainya.


"Nih pakailah" ucap Dwi.


"Bisa kamu berbalik" ucap Jihan.


"Oke, kamu gak akan mandi dulu" tanya Dwi.


"Banyak tanya lo" ucap Jihan.


"Yaya gue balik nih" ucap Dwi membalikan badannya.


Jihan langsung mengganti pakaiannya tanpa sadar bahwa Dwi melihatnya dari cermin yang ada di depannya. Dwi lagi lagi di uji imannya oleh Jihan namun kali ini Dwi memilih untuk menahannya sekuat tenaga.


"Udah lo boleh balik, dan pakai celana lo" ucap Jihan.


"Di sini " ucap Dwi.


"Gila lo" ujar Jihan.


"Yaya bercanda" ucap Dwi lalu pergi ke ruang ganti.


"Ji gue ke bawah dulu ya, panggil Bang Ridwan buat obatin lo" ucap Dwi.


"Hm" ujar Jihan.


"Mau di bawakan sesuatu" tanya Dwi.


"Gak, eh tolong bawain tas gue di bawah" ucap Jihan.


"Siap" ucap Dwi pergi.


Jihan berjalan ke meja riasnya, Jihan membersihkan make up yang menempel di wajahnya membuat dia tanpa riasan sedikit pun dia juga menata ulang rambutnya membuat dia kembali ke usianya yang sebenarnya.


"Ji lo kenapa" tanya Jovan saat sampai di kamar Jihan dan melihat Jihan di depan meja rias.


.


.


..


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komennya ya...

__ADS_1


Dan maaf buat para reader kadang Author salah ketik nama ada di salah satu episode yang seharusnya Jihan malah Angel ada juga yang seharusnya Rey malah Andra maaf ya kadang namanya lupa sama yang baru Author baca... maaf sekali lagi.


..


__ADS_2