
Di lain tempat Jihan sedang di depan komputernya dia berusaha menyembunyikan identitasnya semakin dalam karena dia tau ada seseorang yang mencoba mencari identitasnya. Apalagi saat ke dua anaknya lahir dia berusaha keras menyembunyikan ke dua anaknya terutama dari Klara bahkan Jihan tifak tau keadaan keluarganya saat ini dia hanya
"Gue tau pasti lo Vin Julio hanya kalian yang mampu" ucap Jihan tersenyum dengan kesedihan.
Hari terus berlalu dan Jihan mengurus anak anaknya sendiri dengan penuh kasih sayang. Walau dia merasa sangat kerepotan apalagi anak anaknya yang semakin menggemaskan dan semakin pintar.
"Ji apa sampai saat ini kamu masih belum bisa menerimaku" tanya Reymond
"Maaf Rey saya belum bisa" ujar Jihan sang sedang mengurus anak anaknya.
"Tak apa saya tau kamu pasti sulit melupakan masa lalumu" ucap Reymond.
"Sorry and thanks you" ujar Jihan
"Jenifer sudah tidur" ucap Jihan yang melihat anak perrmpuannya tertidur di gendongan Reymond.
"Ya dan sangat pulas" ucap Reymond.
Remond langsung menidurkan Jenifer di kasurnya di susul Justine yang juga tertidur pulas. Jihan tersenyum melihat ke dua anaknya yang sangat terlelap.
"Kamu tau saat melihat mereka seketika hatiku damai" ujar Reymond.
"Mereka sangat menenangkan dan juga merepotkanmu, tapi apa tidak masalah kamu terus kesini sepulang kerja" tanya Jihan.
"Apa kamu merasa terganggu" tanya Reymond.
"Bukan terganggu tapi terbantu" ucap Jihan.
Reymond tersenyum lalu mengacak rambut Jihan membuat Jihan tersenyum dan terlintas wajah Dwi dalam pikirannya membuatnya menghentikan tangan Reymond.
Hari terus berganti bulan terus berlalu tak terasa anak anak Jihan mulai belajar berucap membuat Jihan sangat senang.
"Mom" ujar Justine untuk pertama kalinya.
"Mom " lanjut jenifer.
Jihan tersenyum dengan air mata menetes. Panggilan pertama dari ke dua anaknya membuat Jihan bahagia. Di lain tempat Dwi berada di sebuah rumah sakit menunggu istri barunya melahirkan.
"Lo kenapa" tanya Jovan.
"Kenapa gak lahir lahir" tanya Dwi.
"Sabar dong kak kan prosesnya lama" ucap Putri.
"Gak sabar mau DNA tuh" ucap Fero.
"Tepat " ucap Dwi.
"Lagian ngapa kekeh banget mau DNA si kak, lo aja mengakuinya kalau lo udah menyentuhnya" ucap Putri.
"Karena dia melahirkan hanya berjarak beberapa bulan dari gue menyentuhnya" ucap Dwi membuay semua orang diam.
Tak lama suara seorang bayi baru lahir terdengar membuat semua bahagia kecuali Dwi. Walaupun dia menuruti semua kemauan istri barunya dan juga kebutuhannya namun dia tidak pernah menyentuhnya.
"Selamat tuan anak anda perempuan" ucap sang dokter membuat Dwi mengangguk namun tidak bergerak.
"Ada cewek ada cowok" ucap Putri bahagia.
"Kak lo gak mau ikut ke dalam" tanya Putri saat Dwi masih diam.
"Kenapa kenapa harus dia yang melahirkan anak gue" ujar Dwi.
"Dari awal aja lo pacaran sama dia kak" ucap Putri.
"Tapi gue gak berharap dia" ujar Dwi.
"Sekaramg jalani aja dulu, lagian lo mau maunya jalan sama dia udah jelas dia pasti ada rencana jahat" ujar Putri.
"Yang penting dia kasih tau dimana Jihan berada tapi gue bener bener salah jalan" ujar Dwi.
"Klara lo percaya sekarang masuklah ke dalam bagaimanapun dia istri lo" ujar Putri tegas lalu meninggalkan Dwi.
Dwi berfikir lalu mulai berjalan masuk ke dalam ruang rawat Klara. Dia melihat seorang gadis kecil membuatnya merasa sangat senang dan lupa kalau itu adalah anak klara.
Waktu terus berjalan dengan cepat Dwi mengasuk anak klara dengan sangat baik. Dia bahkan tidak peduli dengan hasil DNA anak Klara yang bukan anaknya.
Di lain tempat Jihan sudah mulai bisa beraktifitas dengan leluasa. Dia bahkan sudah mengembangkan toko yang dia bangun karena anaknya yang sangat pintar dan mengerti keadaan.
__ADS_1
"Mommy" panggil Justine saat dia baru pulang dari play group bersama Jenifer.
"Hai sayang, apa yang kalian belajari di sana" tanya Jihan.
"Membosankan Mom kita hanya menyanyi dan belajar itu itu saja" ucap jenifer yang memang sangat senang bercerita.
"Begitukah Bang" tanya Jihan.
"Yes Mom, besok bawalah kita ke sekolah dasar" ujar Justine membuat Jihan membulatkan matanya.
Anak pinta baiklah besok bakal mommy bawa kalian ke sekolah dasar jadi bermainlah mommy kerja dulu" ucap Jihan.
"Berhentilah menyuruh kita main Mom, kalau kita berhasil masuk ke sekolah dasar besok mommy harus membawa kita jalan jalan" ujar Justine dengan seringai menakutkan.
"Waduh Mommy merasa baru melahirkan kalian kenapa kalian udah dewasa seperti ini" ujar Jihan.
Justine dan Jenifer tersenyum lalu pergi ke lantai atas tempat mereka tinggal. Jihan sudah bisa membeli sebuah rumah di kawasan ramai berlantai dua dengan lantai pertama yang dia sulap menjadi toko kueh.
"Anak anak gue baru juga empat tahun udah gak mau main, gue gak bisa bisarin mereka dewasa sebelum waktunya" ujar Jihan menatap ke dua anaknya.
Tak terasa hampir lima tahun Jihan pergi dari rumah, Jihan sudah terbiasa dengan hidup sendiri. Empat tahun sudah anaknya tumbuh namun otak anak anak Jihan di atas rata rata membuatnya pusing.
Waktu berlalu Jihan sudah menutup tokonya dan pergi ke lantai atas. Dia bahkan tidak perlu menyiapkan makanan untuk anak anaknya. Karena anak anak Jihan sangat mandiri sehingga Jihan hanya perlu memasak dan menatanya di meja dengan begitu anaknya akan mengambil makanan sendiri.
"Guys, udah makan" tanya Jihan saat melihat anak anaknya di depan komputer.
"Udah Mom, mommy makanlah" ucap Justine.
"Abang berapa lama kalian di depan monitor" tanya Jihan.
"Satu jam, kalau Jenifer baru dia abis bikin uang" ucap Justine.
"Girl jangan gitu dong, jangan terus mainin make up hanya buat uang kamu belum waktunya memikirkan uang biar Mommy saja" ujar Jihan.
"Mom Jenifer minta maaf" ucap Jenifer mendekati Jihan.
"Tugas kalian hanya belajar dan bermain" ucap Jihan.
"Mom" ucap Justine.
"Mom kita udah daftar di sekolah dasar dan kita di terima" ujar Justine
"Kapan kalian melakukannya" tanya Jihan.
"Tadi kita daftar online" ucap Justine.
"Oke besok mommy antar" ucap Jihan.
"Hm, tapi tepati janji Mommy untuk membawa kita jalan jalan" ucap Justine..
"Hm pilihlah tujuan kalian" ucap Jihan.
"Indonesia" ucap Justine dan Jenifer bersama.
"Haruskah kesana" tanya Jihan.
"Kenapa tidak, kata mom kita tidak boleh berlari dari kenyataan yang menyakitkan apalagi dari musuh kita kalau kita siap kenapa gak" ujar Justine.
"Ya baiklah lakukan yang kalian mau" ujar Jihan.
"Sekarang tidurlah guys" ucap Jihan.
"Ya Mom" ujar Jenifer langsung pergi ke atas kasur dan langsung terlelap.
"Bang" ujar Jihan yang melihaat anak laki lakinya msih menatapnya.
"Mommy tau kan tujuan Abang minta ke negara itu" ujar Justine penuh telisik.
"Mom tau tapi Mommy rasa belum saatnya kamu kesana belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah" ujar Jihan.
"Abang hanya ingin bertemu Jovan" ucap Justine.
"Bang Jovan, kenapa" tanya Jihan.
"Hanya ingin bertemu" ucap Justine.
"Oke hanya Jovan kan" ucap Jihan.
__ADS_1
"Hm" ucap Justine.
"Bukan Daddy" ucap Jihan.
"No sebelum Abang siap Abang gak mau ketemu Daddy sebelum bisa menguasai emosi" ucap Justine.
"Boy, mommy hanya memintamu untuk tidak dewasa sebelum.waktunya nikmati masa kecil dan bermainlah itu keinginan Mommy bisakah kamu melakukannya" ucap Jihan.
"Gak" ucap Justine cepat.
"Aduh, tidurlah" ucap Jihan.
"Tidak sebelum melihat mom beli tiket pesawat" ucap Justine.
"Kita kan pergi setelah sekolah" ucap Jihan.
"Tidak besok kita berangkat, pakailah uang Abang kalau perlu" ucap Justine.
"Otakmu seperti bapakmu" ucap Jihan langsung mengambil ponsel dan membeli tiket online.
"Tapi kitaa mau ke kota apa" tanya Jihan.
"Jangqn pura pura tidak tau Mom, mommy juga tau apa tujuan dan siapa yang Justine dan Jenifer inginkan" ucap Justine serius.
Jihan hanya menghela nafasnya dia tidak marah dengan anaknya yang banyak mau tapi marah kepada keadaan kenapa anaknya sangat dewasa sebelum waktunya.
Justine tersenyum lalu dia pergi tidur. Jihan langsung mencium ke dua anaknya dan pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar Jihan menangis mengingat semua kenangan bersama dengan Jovan apalagi anaknya yang sangat ingin bertemu dengan Jovan.
"Abang Jihan rindu mampukah Jihan menemuimu besok" ujar Jihan dalam tangisnya.
Di lain tempat Dwi sedang mengasuh anaknya setelah pulang kerja. Dia kesal di perusahaan ada masalah namun saat sampai di rumah Klara justru membuat keributan.
"Dad" ujar anaknya.
"Ya Girl" ucap Dwi.
"Daddy mainlah bersamaku" ucapnya.
"Maaf ya sayang Daddy pusing banget" ucap Dwi.
"Wi besok lo harus selesaikan masalah yang ada papa gak peduli" ucap Papa Seno yang baru pulang.
"Papa pulang pulang kok marah marah" ujar Mama Sri.
"Mah Dwi sahamnya turun gimana itu buat orang gak jadi berinfestasi" ucap Papa Seno.
Setelah kepergian Jihan Dwi hidup dengan orang tuanya bahkan walau dia sudah menikah dengan Klara dia masih dengan orang tuanya dan tidak menempati kamarnya melainkan kamar tamu.
"Pah bantu Dwi kali ini aja" ujar Dwi.
"Gak berapa kali papa bantu kamu tapi gak ada hasilnya kamu selalu mengulangi kesalaham uanh sama " ucap Papa Seno.
Dwi makin pusing dan kesal di tambah lagi Klara yang todak tau tempat yang selalu mengganggu kedamaiannya.
"Sayang" ujar Klara manja.
"Diam kamu apa kamu tidak lihat saya sedang pontang panting seperti ini" ujar Dwi keras.
"Daddy daddy jangan marahi Mommy" ucap Anaknya menangis.
"Mommymu gak tau diri, jangan jadi anak cengeng" ucap Dwi pergi begitu saja ke kamar aslinya dan mengunci pintu bahkan selama Klara tinggal di sana dia tidak pernah masuk ke kamar Dwi karena selalu terkunci kecuali Dwi yang membuka.
"Dwi" ucap Mama Sri.
Dwi tidak menjawab lalu menutup pintu dengan sangat keras membuat anaknya semakin menangis keras. Mama Sri menggendong sang anak sedangkan Klara tetap menangis.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ....
Kenapa harus Klara yang .enjadi istri Dwi ikuti terus kelanjutannya ya.....
__ADS_1