Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Kerasnya Jalan


__ADS_3

"Huh, orang tua aneh" cibir Dani kembali melanjutkan makanannya.


"Makannya kalau ilmunya belum jadi jangan sok deh mau cobain aspal" ledek Mama Anggun.


"Iya Mih" ucap Dani.


"Mami lagi panggilnya" tanya Mama Jihan.


"Gak boleh ya udah" ucap Dani santai.


"Terserah deh" ujar Mama Jihan mendekati Dani.


"Kak, si Jihan kenapa tuh kok tatapannya kosong" ujar Mama lirih.


"Gak tau mah, tapi kayaknya banyak pikiran deh" ujar Dani.


"Emang dia udah tau kalau Fero bakal nikah minggu depan" tanya Mama lirih.


"Kayaknya si belum mih, soalnya dia gak ada bilang apa apa Fero juga pasti sembunyikan ini" ucap Dani.


"Baguslah kalau gitu biar dia serius sama ujiannya" ucap Mama lalu mendekati putrinya.


"Ji" tegur mamahnya.


"Eh mama kapan datang mah" tanya Jihan.


"Udah lama, lagian kamu kenapa ngalamun gitu" ujar Mama.


"Gak kok Mah" ucap Jihan.


"Terserah kamu deh, sekarang pulang gih biar mama sama papa yang jaga Dani " ucap Mama.


"Iya mah nanti aja" ucap Jihan.


"Oh ya mah pah, tadi di suruh dokter Ridwan ke ruangannya katanya ada hal penting" ucap Jihan.


"Oh oke" saut papa Jihan.


Mama dan Papa Jihan pergi meninggalkan ruang inap Dani, sedangkan Jihan malah asik bermain ponselnya membuat Dwi khawatir karena Jihan baru makan satu suap. Dengan cepat Dwi mengambil alih piring Jihan dan berusaha menyuapi Jihan.


"Ji makan dulu biar mas suapin ya" ujar Dwi.


Jihan mengalihkan pandangan dari ponselnya lalu melihat ke arah Dwi dengan piring di tangannya. Jihan tidak menjawab hanya mengambil piring tersebut lalu membawanya ke dekat jendela dan mulai memakannya.


"Ji kenapa lo, sini biar kakak yang suapin " ucap Dani.


"Gak usah kak, Jihan bisa sendiri" ujar Jihan masih fokus melihat ke luar ruangan.


"Iya tapi kakak pengin suapin kamu, udah lama kakak gak suapin kamu kan" ucap Dani.


"Hm, lagi gak mau jangan paksa" ucap Jihan.


"Kalau kamu kakak suapin kakak bakal pinjamin ponsel kakak sama kamu dan kamu tau ada orang yang sangat merindukan kamu" ucap Dani lembut.


Jihan tidak menjawab hanya berjalan ke arah Dani tak lupa dengan piring di tangannya. Jihan duduk tepat di depan Dani membuat Dani tersenyum begitupun Dwi yang lega saat Jihan mau makan namun penasaran siapa yang Dani maksud sampai Jihan mau makan.


"Bagus selesai" ucap Dani saat selesai menyuapi Jihan.


"Makasih kak" ucap Jihan.


"Iya sama sama, nih ponsel kakak jangan lupa hubungi dia" ucap Dani.


"Iya kak, Jihan juga udah kangen banget" ucap Jihan.


Jihan langsung mengambil ponsel Dani dan berlari duduk di samping Dwi untuk melakukan vidio call.


"Hai say" ucap Jihan saat panggilan tersambung.


"Hai Ji ah..." ucapnya di sebrang.


"Lo lagi ngapain, eh gila lo masih siang" ucap Jihan melihat temannya sedang main gila.


"Hehe sorry, Ji lagian kamu telfonnya nanggung banget si udah ya " ucapnya menutup telfon.


Jihan langsung membalikkan ponsel Dani di atas meja membuat Dani mengerutkan dahinya sedangkan Dwi tersenyum karena melihat raut wajah Jihan yang pucat setelah melihat adegan temannya.


"Kenapa Ji" tanya Dani.


"Eh gak Kak" ucap Jihan.


Jihan melakukan panggilan ke duanya, dan dengan sekejap panggilan di angkat oleh yang punya.


"Hai Beb, aduh kangen banget nih" ucapnya di sebrang.


"Iya Jen gue juga udah kangen sama kalian pengin kumpul" ucap Jihan.


"Kita sambungin ya sama Gaby sama Sonia" ucapnya.


"Sama Sonia aja gue udah hubungin Gaby tadi tapi dia lagi main gila bener bener gila" ucap Jihan.


"Serius lo" ucapnya.


"Serius lah, sambungin aja ke semua teman teman" ucap Jihan.


"Oke" ucapnya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama kemudian panggilan semua terhubung dan terlihat banyak orang. Mereka semua tertawa bahagia bercanda dan tak lupa saling ejek percakapan pun di mulai.


"Eoy kumpul yuk" ajak Sonia.


"Iya nih udah lama gak kumpul bareng" ucap Jihan.


"Ya mau gimana lagi, si Jihan yang gak pernah bisa di hubungin"


"Sorry guys, lo tau sendiri kan sejak gue pindah ke sini semua fasilitas di cabut sekolah juga harus cari uang sendiri" ujar Jihan.


"Iya iya bener, lo kan bisanya kalau kak Dani pulang ya gak si"


"Iya kayak sekarang" ucap Jihan.


"Terus dimana yang punya ponsel tumben jam segini kasih lo ponsel"


"Dia tuh, terkapar dia abis cobain kerasnya jalan" ucap Jihan mengarahkan kameranya kepada Dani.


"Hahahaha, kak Dani selamat ya atas kerja kerasnya"


"Kerja keras kepala lo peang, jenguk ngapa" ujar Dani ikut berbicara.


"Hahaha, hanya doa dan air mata yang mengiringi kepergianmu" ucap salah satu teman Jihan bernyanyi.


"Gila lo, emang gue mati" cibir Dani.


"Jangan marah marah Kak takut sembuh"


"Serah kalian, janga lupa kalian kalau kesini bawain hadiah oke" ucap Dani.


"Yayaya, siap tapi kalau kita ke situ hahahaha"


"Ji temen lo gila semua" ujar Dani.


"Fero Fero kemana lo" panggil salah seorang temannya.


"Kenapa" jawab Fero.


"Aduh kemana lo vidio call tapi cuma rambut doang yang nongol"


"Gue gak bisa menatap kamera takut kalian semua klepek klepek" ujar Fero.


"Bilang aja lo gak tahan lihat Jihan, takut nangis lo deket tapi terasa jauh" ledek temannya.


"Keadaan sekarang lebih menakutkan" ucap Fero.


"Maafin gue guys, gak maksud gitu" ucap Jihan.


"Kalian ngomongin apa si kalau masalah pribadi jangan di bawa bawa dong"


"Eh udah dulu ya guys, gue pergi Fero lo boleh angkat tuh kepala" ucap Jihan.


"Udah tenang aja, tapi gue mesti pulang" ucap Jihan.


"Emang lo di mana" tanya Fero.


"Di rumah sakit lah" ucap Jihan.


"Oh pantes aja tadi lagi adegan menegangkan lo pergi gitu aja" ucap Fero .


"Hehe iya sorry, eh lo bawain buku gue kan" tanya Jihan.


"Iya ada di rumah lo ambil aja" ucap Fero.


"Siap, eh gue pergi dulu ya bye" ucap Jihan mematikan ponselnya.


"Nih Kak, makasih" ucap Jihan.


"Udah, tumben cepet" ujar Dani.


"Hm gue mau pulang" ucap Jihan.


"Ya udah hati hati" ucap Dani.


Jihan dan Dwi pulang ke rumah saat Mama dan Papa sudah kembali ke ruang inap Dani. Perjalanan yang lumayan sepi dan jarak yang tidak terlalu jauh membuat Jihan dengan cepat sampai di rumah. Saat baru saja sampai Jihan berlari ke kamarnya membuat Dwi bingung.


"Kenapa" tanya Dwi saat Jihan keluar dari kamar mandi.


"Kebelet udah gak tahan" ucap Jihan santai.


"Oh, gak ganti baju dulu" tanya Dwi.


"Ini mau ambil, oh ya nanti Jihan meu ambil buku di tempat teman mau ikut gak" tanya Jihan.


"Kamu aja, lagian mas banyak kerjaan" ucap Dwi.


Jihan hanya mengangguk lalu berjalan untuk mengambil pakaian. Setelah selasai memakai pakaiannya Jihan langsung berpamitan dengan Dwi untuk pergi dengan cepat Jihan berjalan ke rumah Fero untuk mengambil bukunya.


"Fero" panggil Jihan.


"Iya bentar" ucapnya dari dalam.


"Lo sendirian di rumah" tanya Jihan.


"Gak mama lagi masak" ucap Fero.

__ADS_1


Jihan langsung masuk dan duduk di ruang tamu menunggu Fero, tak berselang lama Fero datang dengan buku dan ponsel yang menyala sedangkan Mama Fero membawa minuman segar untuk Fero dan dirinya.


"Makasih tante, jadi merepotkan" ucap Jihan.


"Gak, kalian mau belajar ya Fero main ponsel mulu dari tadi" ujar Mamanya.


"Iya tante" ucap Jihan.


"Suami kamu gak ikut" tanya mama Fero.


"Gak tante katanya banyak kerjaan" ucap Jihan.


"Oh gitu, minum dulu sambil nunggu Fero keluar" ucap Mama Fero.


"Iya tante" ucap Jihan.


"Ya udah ya tante ke dalam dulu" ucap Mama Fero.


"Iya tante" ucap Jihan.


"*Cie cie deketin mama mertua nih"


"Haha iya si Jihan, tadi aja bilang mau pulang ada urusan ternyata urusannya deketin calon mertua hahaha*"


"Siapa si, gila kalian masih telfonan aja" ucap Jihan saat melihat ke arah ponsel Fero.


"*Marah guys"


"Iya kita kerjain yuk*"


"Kalian kalau mau kerjain ngapa bilang sapi"


"*Kelepasan Ji"


"Biasaan itu"


"Ya kan biasanya kita bisik bisik, ini bisik bisik juga percuma kali nyet"


"Iya gue lupa kita kan lagi di dimensi berbeda*"


"Udah berantemnya ngapa, pusing gue liat kalian"


"Udahlah biarin aja mereka, nyimak aja lagian kita kan gak akan belajar kita udah di atas rata rata" ucap Fero.


"*PD amat lo mbing"


"Iya tapi bener juga kalau orang pinter ma bebas"


"Lo sebenarnya dukung siapa gue atau Fero"


"Sorry gue ada di teamnya Jihan hahaha*"


"Gak lucu, kalian berantem mulu gimana ujian pertama galau gak" tanya Fero.


"*Gak lah, kita kan bejalar belum bimble kita kan mahal sayang uang kalau gak bisa kerjain soal ujian"


"Tumben lo mikir duit"


"Iya lah, setelah gue kerja baru gue sadar duit tuh penting"


"Lo kerja, seorang Brama kerja hahaha yang bener aja"


"Mending kerja dari pada kedudukan CEO di kasih ke orang lain*"


"Kita mau jadi CEO semua nih ceritanya" ujar Angel


"*Kayaknya iya deh Ji, soalnya kuliah juga gue di suruh di bidang manageman bisnis"


"Gue juga"


"Gue juga"


"Gue juga*"


"Gue juga papah udah nyuruh belajar sama Abang, tapi gue paling benci dengan yang namanya jadi penguasa" ucap Angel


"Lo temen gue yang paling be*o"


"Haha bener tuh si Sonia, Jihan tempramen sama pengusaha guys"


"Diem lo gue masih unggul di banding lo di segala jenis sisi" ucap Jihan penuh percaya diri.


Perdebatan perdebatan terus berlangsung membuat Jihan jengah melihat semua sabahatnya dan lagi Jihan yang selalu menjadi bahan ejekan semua sahabatnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like vote dan komennya ya......


__ADS_2