Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Dari Siapa


__ADS_3

Jihan dan fero pergi menuju tempat yang favorit mereka sewaktu dulu sebuah danau yang jauh dari keramaian. Mereka mengendarai mobil Fero sedangkan mobil Jihan di tinggal di parkiran kampus.


"Ay lo inget gak tempat ini" ujar Fero.


"Inget, tempat dimana banyak kenangan dan keluh kesah setelah gue masuk SMA" ucap Jihan.


"Iya tempat curhat paling nyaman karena gak pernah jawab apa yang kita keluhkan" ujar Fero.


"Apa maksud lo bawa gue kesini" ujar Jihan.


"Gue mau habisin sisa waktu lajang gue sama lo" ujar Fero.


"Hahaha selamat atas pernikahan lo" ucap Jihan tanpa menatap Fero.


"Hm gue boleh minta sesuatu biar gue bisa nikah sama orang lain" ujar Fero.


"Omongan lo bikin gue merinding" ucap Jihan.


"Gue serius Ay, lo harus janji sama gue setelah pernikahan gue lo gak boleh sedih lo harus selalu tersenyum kalau lo sampai menangis dan gak bahagia di pernikahan lo gue gak akan segan lagi buat bawa lo pergi jauh" ucap Fero.


"Apa hak lo minta sesuatu yang gak mungkin bisa gue tepatin" ujar Jihan.


"Ay permintaan gue gak rumit" ujar Fero.


"Hufh... oke gue bakal tepatin janji gue ke lo tapi lo juga harus berjanji jangan pernah melakukan hal gila lagi setelah pernikahan lo nanti" ucap Jihan.


flassback on..


"Lo gila Ta" teriak Jihan.


"Lo gak tau apa yang gue rasakan" ucap Fero.


Jihan terus berteriak menghentikan langkah Fero yang hendak melompat dari atas root proof SMA nya. Namun semua usaha yang telah dilakukan sia sia membuat Jihan berfikir keras.


"Kalau lo gak mau turun lompat aja lo cepet repotin orang tau" ucap Jihan membuat semua orang membulatkan matanya.


"Gila lo Ji" ujar Zira.


"Mau gimana lagi, males gue urusin dia urusan pribadi tapi di bawa sekolah" ujar Jihan.


"Iya tapi gak seharusnya lo suruh dia lompat kalo dia beneran mati gimana mau tanggung jawab lo" ujar Sonia.


"Terus kita mau gimana buat dia sadar kalau semua masalah yang ada harus kita hadapi kalaupun dia mati gak mungkin masalah selesai malah bakal menambah masalah" ujar Jihan.


"Jihan benar lagian kalau dia mati bukan masalah selesai tapi dia gak mikir apa kalau dia mati bakal banyak hati menangis" ujar Gabby.


Setelah mendengar percakapan Jihan dkk Fero akhirnya turun dan pergi memeluk Jihan membuat Jihan tersentak. Namun bukannya melepaskan pelukannya Fero justru mengeratkannya.


"Ngapain lo lepasin gue" ucap Jihan.


"Please sebentar aja" ucap Fero.


"Gak ada" ucap Jihan.


"Oke oke maafin gue buat keributan gue harap lo gak marah sama gue" ucap Fero melepaskan pelukannya lalu pergi.


Flassback off.


"Lo masih inget itu Ay, gue gak bakal lakukan itu lagi selama lo masih ada di hati gue" ujar Fero.


"Lo boleh lepasin gue perlahan karena gue gak bisa janji kalau hati gue bakal terus setia sama lo" ujar Jihan.


"Gue gak nuntut itu dari lo Ay, karena yang terpenting adalah kebahagiaan lo yang tulus bukan setingan" ujar Fero.


"Gue harap juga begitu" ujar Jihan.


Mereka berdua terus saja saling bertukar pendapat dan saling tukar cerita kehidupan mereka walaupun lebih banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Mereka bercerita tentang kejadian kejadian unik dan menyenangkan mereka sepakat untuk mengubur perasaan mereka masing masing dan menjalani hidup masing masing.


Walau berat untuk menyetujui kesepakatan tersebut namun demi kebaikan mereka berdua mereka sepakat walau hati teriris. Setelah lama berbincang dan senja mulai datang Jihan meminta untuk pulang.


"Kita pulang yuk udah sore, bukannya lo harus siapin pernikahan" ujar Jihan.


"Gue gak peduli sama pernikahan" ucap Fero.


"Jangan lo sia siain indahnya mempersiapkan sebuah pernikahan karena lo gak akan merasakan untuk ke dua kalinya" ucap Jihan.


"Tapi Ay, ini bukan permintaan dan keinginan gue" ucap Fero.

__ADS_1


"Kita di posisi yang sama. tapi lo lebih baik dari gue lo bisa persiapin pernikahan lo bisa rasain bagaimana rasanya akan menikah lah gue pulang udah jadi bini orang aja" ucap Jihan.


"Udahlah jangan ngalntur mulu, kita pulang" ucap Fero menggandeng tangan Jihan.


Jihan mereasa ada rasa aneh di dalam hatinya, namun dia tidak memikirkannya hanya mengikuti langkah Fero dengan tangan yang bergandengan dan terus tersenyum.


Sampai di depan mobil Fero Jihan melepaskan tangan Fero membuat Fero tersenyum dan membukakan pintu mobil nya untuk Jihan. Jihan dengan cepat masuk ke dalam mobil. Fero melajukan mobilnya menuju kembali ke kampus untuk mengambil mobil Jihan.


"Silahkan Ay" ujar Fero.


"Ay Ay" ucap Fero kembali dengan nada semakin tinggi.


"Eh iya kenapa udah sampai ya" ucap Jihan.


"Udah dari tadi, kenapa lo ngelamun" tanya Fero.


"Sorry Ta" ucap Jihan tersenyum lalu turun dari mobil.


Jihan berjalan ke arah mobilnya dengan cepat kemudian pergi melajukn mobilnya tanpa memikirkan Fero yang ada di sana sembari menatapmya aneh.


"Dia aneh banget dari tadi, kenapa apa mungkin perkataan dia tentang hatinya benar terucap dari dalam hati" ujar Fero sembari masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya mengejar Jihan.


"Kenapa sama gue tadi, kenapa gue merasa bersalah saat berduaan sama Ata tapi kenapa juga gue gak jauhin Ata tadi" gerutu Jihan selama perjalanan.


"Terus kenapa saat Fero menggenggam tangan gue rasanya lebih nyaman sama si Dwi si" ujar Jihan.


"Eh kenapa gue jadi mikirin dia si sadar Ji sadar" ucap Jihan.


Jihan mengendarai mobilnya dengan cepat, Jihan sampai di pekarangan rumahnya saat sore hari dia turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah namun saat berada di ambang pintu ada yang menegurnya.


"Baru pulang" ucapnya.


"Iya kenapa" ujar Jihan membalikkan badannya dan wajahnya tepat di depan wajah Dwi hanya berjarak satu centi meter.


"Habis kemana" tanya Dwi membuat Jihan memundurkan kepalanya kemudian mengulurkan tangan.


Dwi mengerutkan dahinya namun tetap mengulurkan tangannya dengan cepat Jihan mencium tangan Dwi membuat Dwi heran karena tanpa dia minta Jihan mencium tangannya.


"Jawab pertanyaan gue" ujar Dwi dingin.


Tak terasa ada sebuah garis melengkung di bibir Dwi membuat Jovan ikut tersenyum. Sedangkan Jihan duduk di samping Jovan namun tiba tiba ada seorang pelayan rumahnya memanggil Jihan.


"Neng ada kiriman bunga" ucapnya.


"Bunga dari siapa" tanya Jihan berdiri menerima bung tersebut.


"Gak tau neng" ucap nya.


"Oke, boleh pak tolong servise mobil saya yang sport ya mau saya bawa besok pakai ini" ujar Jihan memberikan sebuah kartu kredit warna gold.


"Siap neng" ujar Nya pergi.


"Dari siapa Ji" tanya Jovan.


"Gak tau Bang," ujar Jihan.


"Dari penggemar rahasia kali" ujar Jovan.


"Enggak tau gak peduli juga" ucap Jihan santai.


"Dari siapa" tanya Dwi sembari duduk di samping Jihan membuat Jihan menatapnya aneh.


"Gak tau" ucap Jihan santai.


"Tuh ada kartu nya" ucap Dwi menunjuk sebuah kartu ucapan yang ada di bunga tersebut.


"Kenapa lo kepo" ucap Jihan.


"Kenapa gak mau kasih tau" ucap Dwi.


"Gak, tapi takut lo jadi jiwa penasaran mending gue buka" ujar Jihan.


"Serah lo bilang aja lo juga penasaran siapa pengirimnya" ucap Dwi.


"Suka suka dong bunga bunga gue" ucap Jihan sembari membuka kartu ucapan yang ada di dalam bunga.


"Jangan berhenti melangkah,

__ADS_1


Walau cinta di hati orang


Bukan berarti kau akan tumbang


Jadikan pelajaran


Dan tetaplah jadi yang tersayang


Untuk yang tersayang dari yang kau sayang


Jangan menghilang"


Jihan membaca dengan keras membuat semua orang mendengarkannya. Setelah selesai membaca Jihan pun tidak tau apa arti yang ada di balik tulisan itu.


"Siapa" ujar Dwi serius.


"Nih baca sendiri ada namanya juga gak" ucap Jihan.


"Ogah" ujar Dwi berdiri hendak pergi.


"Dasar tukang kepo" ucap Jihan menghentikan langkah Dwi.


"Iya lah orang istri gue di kirim bunga kepo lah" ujar Dwi.


"Huuuu dasar tukang nguntit" gerutu Jihan.


"Apa lo bilang" ujar Dwi meradang.


"Tukang nguntit kenapa mau marah" ujar Jihan.


"Gak gue cuma mau ini" ujar Dwi menarik bunga yang ada di tangan Jihan lalu membantingnya keras sehingga semua berceceran.


Jihan membulatkan matanya kemudian berdiri di deoan Dwi tepatnya di atas bunga yang Dwi banting. Semua orang menatapnya serius ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Namun Jihan lalu menginjak injak bunga tersebut dengan sepatunya sampai hancur membuat semua orang melongo termasuk Dwi.


"Terima kasih udah bantu banting nih bunga sebenernya gue yang mau buang tapi udah keduluan" ucap Jihan tersenyum sembari memajukan wajahnya.


"Lo gak marah" ucap Dwi kaku.


"Gak, cuma gue minta sapu ya" ucap Jihan berlari.


"Lo, suruh gue nyapu sini lo" ujar Dwi menyusul Jihan.


"Kenapa uweee uweeee" ujar Jihan meledek Dwi.


"Mulai dah tuh dua bocah" ucap Jovan.


"Biasa gitu Van" ucap Raka.


"Ya udah biasa gue sama kehadiran mereka" ujar Jovan.


"Tapi lucu juga ya, kayak mereka tuh nikah bukan perjodohan" ujar Raka.


"Bener banget, gak yakin gue kalau Jihan gak suka sama Dwi" sambung Randy.


"Udahlah biarin aja mereka" ucap Jovan.


Semua teman Abangnya yang sedang ada di sana kembali ke aktivitasnya semula. Namun di lain ruang seorang pemuda sedang menatap keluar jendela kamarnya sembari bergumam.


"Semoga aja ini awal yang baik buat lo Ay, bahagia terus gue akan menganggap kebaikan lo sama gue selama ini cuma sebatas rasa kasihan lo ke gue" gumam Fero.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like vote dan komentarnya....


Jangan lupa jadikan Favorite... salam manis Author....

__ADS_1


__ADS_2