
"Ji boleh cium" ucap Dwi membuat Jihan menghentikan aktivitasnya.
"Gak" ujar Jihan jelas.
Dwi hanya pasrah, setelah selesai Jihan langsung bangkit.
"Cepet banget" ujar Dwi.
"Biasanya laki laki tuh bilangnya gini kok lama banget si make up aja" ucap Jihan.
"Hehe ya ya" ujar Dwi mengikuti langkah Jihan.
"Bentar deh liat kaki kamu tuh bengkak" ucap Dwi.
"Gak papa nanti juga sembuh" ucap Jihan.
"Kalau di biarin gitu kapan sembuhnya" ujar Dwi sembari sibuk mencari cari sesuatu.
"Cari apa si" tanya Jihan.
"Nih " ujar Dwi mengangkat sebuah perban dan obat.
"Duduk gih" ujar Dwi menyuruh Jihan dengan tatapan mematikan membuat Jihan menurut saja.
Dwi mulai mengoleskan obat di kaki Jihan dan membalutnya dengan perban. Dwi melakukannya dengan sangat hati hati dan penuh kelembutan. Jihan menatap apa yang sedang Dwi lakukan.
"Tuhan makhluk ciptaanmu sungguh sempura" ujar Jihan dalam hati
"Sudah" ujar Dwi menatap Jihan yang kebetulan Jihan masih menatapnya membuat pandangan mereka bertemu.
"Ji" Panggil Dwi membuat Jihan tersentak.
"Eh iya" ujar Jihan gugup.
"Biasa aja kali Ji, kamu mikirin apa sampai saya oanggil kaget gitu" ujar Dwi duduk di samoing Jihan.
"Mikirin kamu" ucap Jihan serius namun Dwi hanya tersenyum simpul.
"Kenapa mikirin saya" tanya Dwi.
"Kenapa kamu itu nyebelin banget" ujar Jihan.
"Yakin nyebelin, nyebelin sama sayang beda tipis loh" ucap Dwi.
"Masa" ujar Jihan pergi dengan pipi merona di ikuti Dwi dengan senyum senyum.
"Sayang cepetan dong udah laper nih" ujar mama saat Jihan dan Dwi menuju arahnya
"Iya mah" ujar Jihan tersenyum.
Jihan berjalan dengan tegap seperti tidak terjadi sesuatu pada kakinya. Namun dia sering berhenti setelah beberapa langkah dan saat melangkah dia mengepalkan tangannya menahan sakit.
"Ada kalanya kamu jujur dengan pura pura kuat tidak akan mengobati luka" ujar Dwi menggenggam tangab Jihan.
Jihan hanya menatap dan mendengarkan Dwi. Saat akan menarik kembali tangannya Dwi justru menariknya agar dia menggandengnya.
"Berpura pura baik baiklah dengan hubungan kita walau hanya berlaku di depan mama" ujar Dwi membuat Jihan pasrah.
"Loh kok pake baju si" ujar Putri yang sudah ada di meja makan.
"Ya pake lah, kenapa" tanya Dwi.
"Ya kan baju dia udah gue kasih kasih pelayan" ujar Putri lirih.
"Oh gitu, kenapa lo kasih pelayan baju gue si kenapa gak yang baru kalau mau kasih tub yang baru" ucap Jihan.
"Hehe" ujar Putri.
"Udah baikan" tanya Fero.
"Kita baikan gak mungkin" ujar Jihan.
"Emang gue mau baikan sama lo" ujar Putri.
"Yaya dari dulu kalian bilang musuh tapi gak pernah saling benci katanya gak peduli tapi saling melindungi gimana si" ujar Fero.
Jihan dan Putri hanya mengangkat ke dua bahunya acuh.
"Udah udah makan" ujar Mama sedangkan papa seperti biasa menikmati setiap pertengkaran anak anaknya.
"Tadi kamu masak apa" tanya Dwi.
"Masak banyak macam, coba tebak" ucap Jihan.
"Hm, yang lain gak pasti tapi kalau ini pasti kamu" ucap Dwi menunjuk ayam kecap manis.
"Yakin" tanya Jihan.
"Iya tapi biar saya coba dulu" ujar Dwi mengambil sepotong ayam dan mencicipinya.
"Tuh kan ini kamu yang masak" ucap Dwi sangat menikmati makanannya.
"Ji makan bareng ya" ujar Dwi membuat Jihan menatapnya.
__ADS_1
"Maksudnya" tanya Jihan.
"Makan sepiring berdua dan cuma berdua gak bareng di sini" ucap Dwi.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Ada yang ingin saya bicarakan tapi tidak di sini kamu mau" ucap Dwi.
Jihan mengangguk dia langsung mengambil piring besar dengan berbagai jenis lauk dan tak lupa membawa dua gelas minuman. Dwi membawa Jihan ke ayunan yang ada di dekat kolam renang belakang rumah Jihan hanya mengikuti dari belakang.
"Di sini aja" ucap Dwi.
"Oke " ujar Jihan menaruh minuman yang ada di dekat ayunan.
"Sayang duduk" ujar Dwi dengan piring ada di tangannya.
"Oke sekarang mau bicara apa" tanya Jihan.
"Nih makan dulu" ucap Dwi menyuapkan makanannya membuat Jihan membuka mulutnya dengan penasaran.
"Ji boleh gak kalau saya meminta sesuatu yang mungkin kamu gak inginkan" tanya Dwi.
"Jangan jawab dulu makan aja, boleh gak kalau selama kita di depan orang tua masing masing kita menjadi pasangan harmonis yang bisa menerima satu sama lain saya tau kamu tidak bisa menerimanya tapi saya tidak ingin melihat air mata jatuh lagi" ujar Dwi dengan terus menyuapi Jihan tujuannya agar Jihan tidak menjawab.
"Kamu tau Ji selama saya mengembara mencari kamu dari dulu padahal kamu ada terlalu dekat dengan saya tapi saya tidak mengenalimu kamu pantas membenci saya karena dulu saya sering membuli kamu sering marah marah bahkan saya sering dengan sengaja membuat kamu menangis" ujar Dwi mulai sendu.
"Kamu pantas membalas perbuatan saya tapi saya harap kamu tidak membalasnya di depan orang tua saya lebih tepatnya di depan mama" ucapnya membuat Jihan menolak suapan Dwi.
Dwi menatap sayu mata Jihan, begitupun Jihan yang membalas tatapan Dwi. Jihan mencari kebohongan di mata Dwi namun nihil yang Dwi bicarakan adalah kejujuran.
"Apa saya boleh menjawabnya" tanya Jihan.
"Boleh, bahkan kamu boleh menyakiti saya" ujar Dwi.
"Kamu tau kamu adalah orang ke tiga yang meminta itu dari saya sebelumnya Putri datang memohon ke dua mama yang datang agar saya bisa menerima kamu dan sekarang kamu" ujar Jihan.
"Apa yang mama katakan" tanya Dwi.
"Jihan tolong terima Dwi jadi suami kamu mama tau kamu sangat membencinya tapi mama yakin kamu yang terbaik untuknya mama mohon" ujar Mama sembari menangis dengan menggenggam erat tangan Jihan.
"Apa gue harus mengatakan apa yang mama katakan" ujar Jihan dalam hati.
"Ji" panggil Dwi sembari memegang tangan Jihan.
"Eh iya" ucap Jihan.
"Apa yang mama katakan" tanya Dwi.
"Oke tapi selama satu bulan itu kamu harus menjadi istri sesungguhnya tidak ada kontak fisik dengan laki laki manapun dan kamu harus menerima semua perlakuan saya" ucap Dwi
"Oke tapi itu juga berlaku untuk kamu" ucap Jihan.
"Oke kita deal" ujar Dwi.
"Oke" ucap Jihan bersalaman dengan Dwi dan tatapan tajam.
"Gue tau lo bakal menggindar dari gue tapi gue akan terus berjuang, bukan cuma maaf yang akan gue dapat tapi juga cinta dan kepercayaan kamu lagi" ujar Dwi dalam hati.
"Apapun yang lo lakuin nanti gue bakal mempertahankan pendirian gue" ujar Jihan dalam hati.
Jihan dan Dwi saling tatap dengan dalam satu sana lain. membuat Jihan langsung menyambar air minum yang ada di dekatnya karena merasa salah tingkah sedangkan Dwi tersenyum.
"Haus banget ya" ledek Dwi.
"Cepet makan saya ada kerja" ujar Jihan.
"Apa terlalu sulit untuk kembali memanggil saya dengan sebutan mas" ucap Dwi.
"Sikap kamu kemarin membuat saya enggan untuk memanggilmu itu lagi" ucap Jihan.
"Maaf Ji" ucap Dwi sungguh sungguh.
"Kalian belum selesai" tanya mama menghampiri dengan beberapa cemilan di tangannya.
"Eh mama sejak kapan mama di sana" tanya Dwi.
"Baru aja" ucap Mama.
"Oh, makasih cemilannya mah" ucap Dwi mengambil cemilan yang ada di tangan mamanya.
"Iya ya udah mama ke dalam dulu ya tapi kalian jangan lama lama di sini dingin banget" ucap Mama.
"Oke mah" ucap Dwi sedangkan Jihan sedari tadi hanya diam.
Melihat Jihan hanya diam tanpa sepatah kataoun Dwi mengambil gitarnya dan memainkannya.
Kerinduan yang kini ku rasakan
Terjawab sudah dengan hadirmu membawa kehangatan
Sekian lama kau doa yang ku pintakan
Tuhan kirimkan
__ADS_1
Engkau padaku
Mengisi kisah hidupku
Dalam sepiku kau lah candaku
Dalam gelapku kau lah pijarku
Dalam hatiku engkau lah cintaku
Kau lah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga penuhkan cinta
Semoga abadi cintaku selamanya
Sekian lama kau doa yang ku pintakan
Tuhan kirimkan
Engkau padaku
Mengisi kisah hidupku
Dalam sepiku kau lah candaku
Dalam gelapku kau lah pijarku
Dalam hatiku engkau lah cintaku
Kau lah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga penuhkan cinta
Semoga abadi cintaku selamanya
Dalam sepiku kau lah candaku
Dalam gelapku kau lah pijarku
Dalam hatiku engkau lah cintaku
Kau lah lentera di dalam jiwa
Kuatkan raga penuhkan cinta
Semoga abadi cintaku selamanya
Jihan hanya menatap Dwi tanpa mengatakan sepatah katapun. Sampai tak lama Putri datang dan mengagetkannya.
"Ji gue mau minta maaf sama lo" ujar Putri.
"Gue gak mau maafin lo" ujar Jihan tegas membuat Putri menatap Dwi membuat Dwi menarik nafasnya panjang dan meletakkan gitarnya dan menggenggam tangan Jihan.
"Jangan mencoba untuk membujuk saya" kata kata Jihan sukses membuat Dwi terdiam.
"Apa gak ada cara laian yang bisa gue lakuin hiar lo maafin gue Ji" ujar Putri berlutut di depan Jihan.
"Gak ada" ujar Jihan membuat Fero datang melihat istrinya itu berlutut.
"Ay" ujar Fero.
"Jangan mencoba untuk membujuk saya, karena keyakinan saya tidak akan luntur walaupun kamu yang memohon" ucap Jihan membuat Fero menarik nafas panjang.
"Percumah Put, gak mempan kalau dia bilang gak ya gak bangun " ujar Fero membuat Putri bangkit.
Fero membawa Putri menjauh dari Jihan bukan karena kasihan kepada Putri tapi karena dia tidak rela karena melihat tangan Jihan terus di genggam Dwi tanpa menolak.
"Sayang apa kamu gak bisa maafin dia" tanya Dwi.
"Daya tidak pernah benar benar membencinya" uhar Jihan.
"Jadi maksud kamu, kamu tidak menganggapnya musuh" tanya Dwi.
"Tidak sama sekali, tapi saya juga tidak bisa menganggapnya sebagai teman, apa itu jawaban yang ingin kamu denger" ujar Jihang langsung bangkit berjalan menjauh untuk pergi
Dwi hanya tersenyum namun tak lama dia memeluk Jihan dari belakang tepatnya di tengah pintu ke dalam membuat semua orang bisa melihatnya.
"Apa kamu tidak malu lihat tuh" ujar Jihan membuat Dwi menatap ke depan namun bukannya melepaskan tapi dia justru mengeratknnya.
"Lebih malu saat kamu menolak saat saya peluk, lagian kamu kan harus baik baik sama saya" ujar Dwi membuat Jihan pasrah.
"Woi udah kali" uhar Kevin.
"Kevin ganggu aja lo" ucap Dwi.
"Katanya mau kerja mana nih kerjaannya" ucap Kevin.
"Bentar bentar" ucap Jihan melepaskan pelukan Dwi dengan cepat kemudian mengambil paperbag yang dia bawa tadi.
****Jangn lupa dukungannya ya guys****...
****Salam manis Author****
__ADS_1