Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 140


__ADS_3

Mentari mulai meninggi suara burung bernyanyi menyambut indahnya pagi membangunkan Jihan yang terlelap. Saat Jihan mengerjap erjapkan matanya ternyata Dwi juga melakukan hal yang sama.


"Semaleman ya" ujar Jihan mengumpulkan nyawanya.


"Sepertinya begitu" ucap Dwi memperbaiki duduknya.


"Kamu gak pulang" tanya Jihan.


"Gak, nanti ganti di sini aja biar Rey bawain ganti" ucap Dwi.


"Oh oke Jihan juga mau siap siap selesaikan masalah" ujar Jihan.


"Oke hati hati ya kalau ada apa apa telfon mas" ucap Dwi.


"Hm" ucap Jihan dengan menguncir rambutnya asal membuat leher jenjangnya terlihat lebih indah.


"Kamu yakin mau kuncir gitu" ucap Dwi.


"Ya iya kan di kamar, lagian nih kamu buat bekas aja masih merah banget ya kali keluar kayak gini udah tau jauh suami di kira main gila" ucap Jihan menunjuk bekas merah yang Dwi buat.


"Mau lagi" ucap Dwi merengek.


"Sini kalau bisa" ledek Jihan.


"Lagi jauh baru boleh, kalau lagi deket aja harus paksa" ucap Dwi manyun.


"Udah lah mau bersih bersih nih badan gue kayak remuk" ucap Jihan.


"Hm, hati hati terutama buat hati dan mata kamu" ucap Dwi hanya mendapat gelengan kepala dari Jihan.


Dwi menutup telfonnya, tapu sebelum itu dia mengucapkan banyak hal menunjukkan perhatiannya kepada Jihan yang hanya di balas senyuman tipis.


Jihan membersihkan diri lumayan lama agar badannya sedikit lebih baik. Setelah itu dia merapikan kamarnya dan berkas berkas yang berserakan. Jihan bersiap untuk pergi.


"Masih merah aja" ujar Jihan merutuki Dwi yang melakukan itu di lehernya namun senyuman mengembang saat Jihan mengingat bagaimana Dwi melakukannya.


"Iz bisa gila beneran gue" ucap Jihan menyadarkan dirinya namun lagi lagi dia tersenyum dan ingatan tentang Dwi terlintas begitu indah di pikirannya.


"Eh oke Jihan serius kerja, biar cepet pulang" ujar Jihan menyadarkan diri.


Setelah selesai dengan pekerjaannya Jihan pergi untuk sarapan saat sampai di meja makan sudah ada banyak menu makanan tapi tidak ada orang hanya secarik kertas di sana. Jihan tersenyum ternyata Cika dan ibunya yang membuat sarapan itu dan mereka sekarang sedang pergi ke pasar.


Jihan mengulum senyuman sembari menyantap makanan yang ada di meja makan itu dengan sangat lahap. Setelah itu dia membersihkan piring dan bersiap untuk pergi. Sebelum pergi dia menulis sebuah surat untuk Cika agar membersihkan mobilnya.


Tidak seperti biasanya kali ini Jihan pergi dengan tas punggung tentunya barang baranded walau di desa gak ada yang tau dan sepatu snacker yang bernilai jutaan itu. Dia sengaja memakai itu agar dia nyaman karena ada beberapa barang yang harus dia bawa.


Jihan pergi dengan semangat karena dia bekerja sendiri jadi dia langsung ke ousat permasalahan yaitu sawah dan ladang. Baru juga sampai Jihan di sambut dengan wajah cemberut para petani Jihan tau karena sawah dan ladang mereka sudah tidak berbentuk.


"Neng gimana ini" tanya Seorang petani yang sudah sangat renta.


"Maaf ya pak, karena ide saya malah kalian harus gagal panen tapi saya janji bakal kasih kalian modal untuk memulai semuanya lagi" ucap Jihan lembut.


"Tapi neng gimana kalau ini terus terusan terjadi bisa gak makan kita" ucap salah seorang petani muda.


"Pak bu selama kita masih di beri nyawa sama pencipta pasti ada rezekinya entah dari mana itu, kalau kalian selalu berjuang untuk sesuatu yang halal pasti kalian akan mendapatkannya" ucap Jihan.


"Terus sekarang gimana neng" tanyanya.


"Sementara kuta buat jebakan tikus dan hama dulu ya pak" ucap Jihan.


"Gimana" tanyanya.

__ADS_1


Jihan tersenyum dan membuka laptopnya. Jihan memutar Vidio cara membuat perangkap tikus. Sementara petani sedang serius menyaksikan Jihan menelfon Abangnya yang kebetulan sedang berkumpul di Ayasta Jihan meminta siapapun untuk membantunya agar meringankan beban para petani dan di setujui semuanya bahkan keluarga prasaja juga turut membantu.


"Bisa di coba neng" ucapnya.


"Oke pak" ucap Jihan mulai melepaskan sepatunya dan ikut membantu namun di tolak warga.


"Biar kita laki laki aja yang bantu" ujar segerombolan remaja lebih tepatnya teman sedesa Jihan waktu SMA dulu.


"Terima kasih guys" ucap Jihan.


Sementara banyak laki laki sedang membuat jebakan para ibu ibu memilih pulang dan masak untuk makan bersama nanti tentunya dengan uang yang Jihan berikan. Sedangkan Jihan memasang kamera tersembunyi gubuk dekat persawahan itu di segala sisi.


"Semoga aja semua ini bisa buat orang yang benci gue bener bener kapok " ucap Jihan dalam hati.


Jihan menyambungkan kamera itu ke ponselnya. Saat hari mulai panas ibu ibu datang dengan berbagai makanan dan juga cemilan pekerjaan juga sudah hampir selesai karena warga gotong royong.


Setelah makan makan Jihan memeberikan uang seratus ribu kepada setiap orang yang ada di sana.


"Kita juga Ji" tanya teman Jihan.


"Hm kalian juga kalian kan warga desa sini makasih juga udah bantu" ucap Jihan.


"Kita emang harus bantu mau gimanapun dari sawah kita bisa hidup sampai sekarang" ujarnya.


"Bagus kalau kalian sadar, sekarang jangan main hp mulu bantu orang tua sebisa kalian kalaupun harus main hp kalian harus bisa menghasilkan uang" ucap Jihan.


"Gimana caranya" tanyanya.


"Kalian jaman sekarang semua udah gampang sinyal juga udah gampang kalian bisa melakukan apapun" ucap Jihan.


"Bener juga, tuh jangan main game mulu" ucapnya menyenggol satu sama lain.


"Boleh main game asal sekali main kalian bisa beli beras" ucap Jihan.


"Jangan kasih lah bu, biar mereka usaha sendiri mereka lulusan SMA jadi bisa dengan mudah lamar kerja di PT atau restoran" ucap Jihan.


"Neng tau kan kalau di PT adanya di kota neng " ucap ibu ibu itu.


"Kenapa kalian kalian semua gak bikin usaha apa gitu yang menghasilkan, ya dengan gak langsung kalian biasa membantu sesama dengan memperkerjakan warga sekitar" ucap Jihan.


"Gak ada modal Ji, kalau ada modal pasti gampang" ucapnya.


"Gue modalin mau bikin usaha apa" tanya Jihan.


"Bingung ya, kalian pikirin dulu baik baik sekarang buat usaha yang mudah untuk di kemas dan di kirim kalian tau sekarang semua pakai internet" ucap Jihan.


"Oke" ujar semuanya kembali bekerja.


Jihan tersenyum lalu kembali fokus ke laptopnya. Tak lama Jihan ikut ke dalam ladang yang di tanami berbagai sayuran di sana ladang milik Jihan pribadi. Jihan memetik banyak sayuran yang siap panen di sana.


"Bu ibu banyak banget yang siap panen apa ini semua di jual di pasar atau konsumsi sehari hari" tanya Jihan kepada orang yang mengurus kebunnya.


"Di jual di desa aja neng gak sampai di bawa pasar tapi neng kan tau kalau sayur tuh cepet layu" ucapnya.


"Gini bu ini kan banyak banget biar saya yang bayar semuanya bu nanti saya bawa ke kota" ucap Jihan.


"Mau di bawa hari ini atau kapan neng" tanya Ibu itu.


"Kalau bisa panen sekarang bu, soalnya mau ke kota nanti sore" ujar Jiham.


"Neng udah gak betah di sini ya kangen suami" ucapnya.

__ADS_1


"Ibu bisa ajax" ujar Jihan dengan wajah memerah.


Jihan menjadi bahan candan para emak emak di sana yang sedang asik memanen semua sayuran siap panem dan memasukkannya ke peti sayur yang sudah Jihan siapkam namun tak pernah di pakai. Semua orang sibuk dengan kerjanya masing masing termasuk Jihan yang menaruh banyak kamera tersembunyi di ladangnya juga dengan berpura pura melihat hasil panen.


"Terima kasih semuanya hari udah semakin siang saya harus pergi ke kota untuk berunding dan mencari cara agar semua ini seleasai dan secepatnya saya kembali ke sini jadi terima kasih kerja keras kalian hari ini" ujar Jihan sembari bersiap pergi.


Semua orang senang dengan Jihan yang sangat sopan. Jihan pergi ke rumahnya dengan beberapa keranjang sayur dengan bantuan dari sahabat sahabatnya itu.


Jihan pergi membersihkan diri sedangkan sahabat sahabatnya itu sedang menaruh sayuran tadi di dalam supercar Jihan dengan tatapan takjub.


Jihan keluar dengan dandanan flawles seperti yang dia pakai sehari hari di kota dengan menarik koper tak lupa sepatu hight hell yang membuat kakinya terlihat semakin jenjang membuat semua sahabatnya itu terpesona.


"Kalian ada yang mau di sampaikan" tanya Jihan.


"Perfec"


"Beautyfull"


"Malaikat"


Jihan hanya menggeleng dan meletakkan kopernya di samping kemudi. Dan menyalakan mobilnya membuat semua sahabatnya itu kembali ke alam sadar.


"Dasar" ujar Jihan lirih.


"Ji salam buat Mona" ucap salah satunya.


"Oke" ucap Jihan.


"Kakak manis ini kasih ke Abang ya, jangan lupa titip salam cinta dari aku yang paling imut" ucapnya dengan di buat buat.


"Oke ganteng" ucap Jihan pergi.


Jihan melajukan mobilnya dengan kencang di atas rata rata apa lagi saat sudah memasuki area tol Jihan melintasi jarak antara kota dan desa hanya satu jam yang seharusnya di tempuh dengan waktu tiga jam dengan kecepatan normal.


"Masih sore, ke tempat Mas Dwi aja ah" ujar Jihan saat sudah sampai perkantoran


Jihan memalkirkan mobilnya di kantor Dwi. Saat Jihan turun banyak yang menatapnya kagum dan iri karena belum banyak yang tau rupa sang istri bos besarnya.


"Tuan Putra ada" tanya Jihan kepada resepsionis sengaja bertanya lebih dulu karena di sana adalah orang baru.


"Apa anda sudah buat janji" tanya nya.


"Kamu baru ya, kamu tolong hubungi sekertarisnya ya bilang Jihan datang" ucap Jihan karena tidak di perbolehkan masuk.


"Baik Nyonya silahkan tunggu sebentar" ucap Reseosionis itu.


Sementara resepsionis menghubungi asisten Dwi Jihan hanya melihat sekeliling dengan banyak orang berlalu lalang. Saat panggilan berakhir sang resepsionis terlihat sangat gugup.


"Maaf Nyonya saya tidak mengenali anda mari saya antar" ujarnya.


"Udah boleh masuk nih" ucap Jihan.


"Ya nyonya mari" ucapnya.


"Gak perlu saya pergi sendiri" ucap Jihan pergi ke lif khusus CEO membuat resepsionis itu terlihat matanya merah menahan tangis karena terlalu takut dengan sang bos besar.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys.....


__ADS_2