
"Begini gue sebenarnya tau kalau kamu belum benar benar menikah sama gue, gue tau itu alasan kalian semua biar gue bisa terima kamu biar bisa dekat sama kamu kan" ucap Jihan.
"Jangan jawab dulu" ucap Jihan menempelkan telunjuknya di bibir Dwi sembari menggeleng.
"Jihan mau berdamai dengan Putri Jihan mau mematahkan pendapat Putri kalau gue bakal rebut Fero darinya" ucap Jihan.
"Apa kamu yakin" ucap Dwi.
"Ya belum pernah seyakin ini" ucap Jihan.
"Kamu merelakan masa depan kamu demi sebuah perdamaian" ucap Dwi
"Iya apa jawabanmu" ucap Jihan.
"Dengan senang hati mas mau menikah ulang sama kamu" ucap Dwi.
"Makasih" ucap Jihan mengeratkan genggaman tangannya sembari tersenyum.
Dwi melepaskan tangannya dari genggaman Jihan kemudian memeluk Jihan dengan erat. Jihan membalas pelukan Dwi dengan derai air mata yang menetes.
"Gak pernah gue se lega ini, walaupun sangat sakit" ujar Jihan dalam hati.
"Gue bakal buat lo bener bener lupa sama Fero Ji" Tekad Dwi dalam hati.
"Ya udah sekarang tidur, dan jadilah Ratu paling cantik besok" ucap Dwi.
"Ya, sebenarnya gak perlu mewah mewah cukup ijab yang terucap" ucap Jihan.
"Iya sekarang tidurlah dengan nyenyak" ucap Dwi.
Jihan langsung membaringkan badannya menghadap Dwi, di susul Dwi yang ikut merebahkan badannya menghadap Jihan.
"Jangan macem macem walaupun gue minta lo buat nikahin gue " ucap Jihan menatap Dwi tajam.
"Iya iya" ucap Dwi mencium kening Jihan.
Jihan langsung tidur karena lelah yang sangat dia rasakan lain dengan Dwi yang menghubungi Kevin dan Rey untuk menanyakan persiapan esok hari. Setelah yakin dengan laporan dari Kevin dan Rey Dwi menyusul Jihan ke alam mimpi.
.
.
.
Jihan terbangun saat jam mununjukkan pukul lima pagi Jihan mengerjap erjapkan matanya karena suara bising yang ada di rumahnya.
"Suara apa si" ujar Jihan lalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Jihan menggulung rambutnya asal membuat leher jenjangnya terlihat, apalagi dia yang hanya memakai kaos dan celana pendek membuatnya semakin betah di pandang walaupun baru bangun tidur.
"Ada apa si brisik banget, bukannya masih terlalu pagi ya buat siap siap" ucap Jihan membuat semua orang menatapnya.
"Eh udah bangun sini sayang" ucap mama Sri.
Jihan mendekat lalu menatap barang barang yang ada di atas meja.
"Kenapa mah, loh kak Kevin kak Rey udah datang" ujar Jihan.
"Belum datangnya nanti siang ini cuma hologram" ucap Kevin.
"Gak lucu, oh ya Kak bawa apa yang Jihan minta" tanya Jihan kepada Kevin.
"Bawa semua, termasuk mobil beberapa pasang sepatu beberapa gaun yang baru selesai di buat dan satu kotak kosmetik" ucap Kevin.
"Good job, bonus untukmu" ucap Jihan tersenyum puas.
"Makasih bos" ucap Kevin semangat.
"Ji lo gak tanya ini semua buat apa" ujar Dani menunjuk barang barang yang ada di atas meja.
"Gak, paling juga punya Putri kan" ucap Jihan.
"Bukan sayang ini semua buat kamu" ucap mama Sri.
"Buat Jihan" ucap Jihan tak percaya.
__ADS_1
"Maaf ya kayaknya kurang komplit soalnya yang pilih sama siapin Dwi" ucap mama Sri.
"Dalam rangka apa, kok mas Dwi" ucap Jihan bingung.
"Ini seserahan buat kamu dari Dwi mohon di terima ya" ucap Mama Sri.
"Se se seserahan ha ha ha " ujar Jihan kaku.
"Gak percaya kamu Ji, beneran ini semua buat kamu dari Dwi dia yang pilihin ini semua dia juga mau nikah dengan adat " ucap mama Anggun.
"Kamu mau menerimanya" ujar Mama Sri.
"Kenapa gak di kota aja si mas, di bawa ke apartemen gitu di bawa kesini kan harus bawa ke sana lagi lagian Jihan gak minta kenapa harus repot" ucap Jihan duduk di antara hantaran hantaran tersebut.
"Kan kamunya di sini kalau di bawa ke apartemen siapa yang mau nerima" ucap Dwi ikut duduk di samping Jihan.
"Oh ya ada satu lagi buat kamu nih" ucap Dwi memberikan sebuah kalung berlian kepada Jihan.
"Buat Jihan" tanya Jihan.
"Iya lah, mau pakai" tanya Dwi.
"Boleh" ucap Jihan.
"Boleh mas bantuin" ucap Dwi memasangkan kalung di leher Jihan.
Setelah memasangkan kalung di leher Jihan Dwi menggenggam tangan Jihan membuat Jihan merasa aneh. Ingin dia lepaskan tapi kelurganya menatapnya seperti singa lapar membuatnya pasrah.
"Mas boleh bicara berdua" ucap Jihan menarik Dwi menjauh walau masih di lihat keluarganya.
"Kenapa gak suka sama kalungnya" ujar Dwi
"Gak gitu, kalungnya cantik kok" ucap Jihan.
"Seperti kamu cantik" ucap Dwi.
"Gak perlu pakai ginian kali mas, lagian kita hanya mengulang pernikahan gue gak mau Putri makin marah sama gue saat dia tau pernikahannya akan rusak karena gue" ucap Jihan.
"Kamu percaya sama mas kan" ucap Dwi memegang bahu Jihan.
"Tatap mata mas" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya.
"Mas lakuin ini semua buat kamu, mas mau kamu merasakan indahnya akan menjadi seorang pengantin mulai dari menerima seserahan bahkan mendesin altar pernikahan sesuai impian kamu" ucap Dwi.
"Tapi gak perlu se mewah ini mas" ucap Jihan.
"Percaya sama mas kan" ucap Dwi mengelus pipi Jihan membuat Jihan menggut manggut namun dengan cepat Jihan menarik tangan Dwi yang ada di pipinya dan menurunkannya.
"Bisa kita bergabung dengan mereka" ucap Dwi.
"Ya" ujar Jihan.
"Sudah selesaikah masalah kalian" tanya Jovan.
"Udah" ucap Jihan.
"Ponsel Jihan mana" tanya Jihan.
"Siapa yang isi daya di situ" ucap Jovan menunjuk ponsel Jihan.
"Lupa Bang" ucap Jihan tersenyum tanpa dosa.
Jihan langsung menghubungi ke tiga sahabatnya untuk datang ke rumahnya. Sembari menunggu sahabat sahabatnya datang Jihan membahas soal pekerjaan Kevin.
"Vin apa ada sesuatu keliatannya ada masalah" ucap Jihan.
"Ya ada seauatu bos pilih yang baik apa buruk dulu" ucap Kevin.
"Baik dulu deh biar tersenyum dulu walau akhirnya menangis" ucap Jihan membuat Dwi merasa ada sesuatu.
"Nih ke dua beritanya, ini yang baik.ini yang buruk" ucap Kevin memberikan dua amplop.
Jihan membaca satu amplop yang berisi berita tentang Clarissa yang ternyata tidak hamil walaupun dia sudah tau kebenarannya dari vidio yang Zira berikan tapi dia tetap merasa senang.
Jihan mengambil minum karena merasa sangat was was terhadap berita buruknya Jihan memegang kertas di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang sebuah gelas.
__ADS_1
"Apa apaan nih" ujar Jihan.
Jihan langsung membaca dengan teliti, surat bahwa dia tidak bisa ikut wisuda karena sebuah perintah dari Putri. Jihan sangt marah hanya karena masalah cowok Putri bahkan mengatur Wisudanya dia juga menghina dirinya. Karena marah Jihan memegang erat gelasnya sampai pecah membuat semua orang tercengang termasuk para sahabatnya yang baru sampai.
"Bos bos" ujar Kevin mendekat.
"Vin kenapa dia kejam si gue udah ngalah dia masih aja hancurin semuanya" ucap Jihan.
"Ji tangan lo Ji darah" ucap Kevin panik Kevin mulai memegang tangan Jihan namun dengan cepat Dwi menyambar membuat Kevin menarik nafas panjang.
"Ji kita obatin" ucap Dwi penuh perhatian.
Jihan mengikuti Dwi berpindah posisi, Dwi mengobati luka Jihan bahkan Jihan tidak merasakan sakit karena sakit yang teramat ada di hatinya.
"Jangan lukai lagi dirimu Ji" ucap Dwi.
"Mas siapa pemilik dari universitas S" tanya Jihan.
"Papa kenapa" ucap Dwi.
"Oh, pantesan dia kuasa banget gue bales lo" ujar Jihan tersenyum sadis.
"Pah, papa Seno boleh gak tarik perintah ini" ucap Jihan memberikan surat yang tadi dia pegang kepada Papa Suseno.
"Kenapa kamu batal wisuda" tanya papa.
"Lihat di bawah pah" ucap Jihan.
"Dengan sangat berat hati Nona Jihan Ayundia Prasaja tidak bisa mengikuti wisuda di karenakan telah melanggar salah satu peraturan universitas yaitu hamil di luar nikah" ujar papa Suseno keras.
"Ji lo hamidun" ucap Dani.
"Wi apa yang lo lakuin" tanya Jovan.
"Gak Van, sentuh aja gak Ji" ujar Dwi menatap Jihan lekat.
"Hahaha lo percaya sama omongan adek lo itu ha, lagi pula kalau gue hamidun gue gak bakal minta lo nikahin gue gue bakal kejar ayah anak gue ngapain deketin lo" ucap Jihan mematahkan pendapat semua orang.
"Jadi ini ulah Putri bener bener ya adek ipar lo gak ada kapoknya" ucap Hana.
"Ya, eh Ra lo dandanin mereka ya semua baju make up sama sandal ada di mobil gue lo dandanin mereka di mobil gue aja" ucap Jihan.
"Oke klian bertiga ikut gue" ucap Zira di ikuti Nisa Hana dan Mona.
"Eh ra bentar" ujar Jihan.
"Apa lagi" ucap Zira malas.
"Sarapan dulu gih, kalau makannya nanti sayang make up nya" ucap Jihan.
"Bener juga gue gak mau make up kalian dua kali" ucap Zira.
"Ya sudah kita makan sama sama aja Cika sama mmahnya udah masak" ucap Mama Anggun di angguki semua orang
Saat semua orang menyantap makanannya Putri datang membuat papa mama dan Abangnya menatapnya tajam. Namun Putri tak menghiraukan dia langsung ikut makan. Jihan mencolek Dwi agar tidak mengganggunya.
"Ji makan bareng yuk cuma kita berdua di halaman belakang" ucap Dwi di angguki Jihan.
Jihan menarik nafasnya panjang beberapa kali saat sampai di halaman belakang. Dwi memutar mengitari Jihan yang duduk di kursi taman Dwi berlutut di depan Jihan sembari menggenggam tangan Jihan membuat Jihan menatapnya.
"Kenapa gitu liatnya" ucap Dwi.
"Gak, emang kenapa" ujar Jihan mengelak.
"Apa tangan kamu sakit" tanya Dwi.
"Lebih sakit hati gue yang terus dia tuduh sama adek lo" ucap Jihan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya readers.....