Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Satu Aja


__ADS_3

"Udah lepasin" ucap Jihan tersenyum tipis.


"Kenapa gak suka di peluk" tanya Dwi.


"Bukan gitu" ucap Jihan terhenti.


"Jadi suka dong" ucap Dwi meledek.


"Eh mas gimana luka kamu" tanya Jihan mengganti topik.


"Ganti topik, tapi gak apa lah Ji cium dong" ucap Dwi membuat Jihan membulatkan matanya.


"Ji" ujar Dwi menggoyang goyangkan tubuh Jihan.


"Gak pakai gini ngapa pusing nih" ucap Jihan.


"Satu aja Ji" ucap Dwi merengek.


"Gak mau" ucap Jihan pergi untuk mencari baju yang akan dia kenakan.


"Ji please satu aja" ucap Dwi.


"Gak mau, gak puas apa bikin tanda banyak" ucap Jihan.


"Itu kan mas yang kasih kamu kan belum" ucap Dwi terus mengikuti langkah Jihan.


"Ji satu aja" ucap Dwi.


Jihan berjalan ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya membuat Dwi membulatkan matanya karena Jihan berganti pakaian tepat di depannya.


"Ji kamu " ucap Dwi.


"Kenapa lagian ngapain ikutin sampai ke sini lagian ya gue pakai celana kali" ucap Jihan.


"Iya tapi punggung kamu" ucap Dwi.


"Apa lagi" ucap Jihan.


"Ji satu aja" ucap Dwi.


"Gak mau" ucap Jihan.


Jihan jengah lalu duduk dengan keras di atas kasur di ikuti Dwi yang juga ikut duduk. Jihan mengambil lotion dan mulai membalurkan ke tubuhnya Jihan tidak peduli pada Dwi yang terus merengek.


Karena Dwi terus merengek Jihan mempunyai ide gila. Jihan mengalungkan tangannya ke leher Dwi membuat Dwi tersenyum. Jihan bahkan membelai belai wajah Dwi membuat sesuatu bangun.


"Ji" ujar Dwi dengan tatapan mendamba.


Jihan tersenyum licik namun di mata Dwi Jihan begitu mempesona. Dwi mendekatkan wajahnya dengan tatapan hangat ke mata Jihan membuat Jihan yang ingin mengerjainya malah ikut larut.


"Ji ada yang bangun kamu harus tanggung jawab" ucap Dwi lirih membuat Jihan membulatkan matanya.


Dwi menarik tubuh Jihan lalu mendekapnya. Jihan menatap lekat manik yang teduh di mata Dwi dengan hangat mencari sebuah kebohongan namun dia tak menemukannya.


"Mas" ujar Jihan.


"Satu kali aja Ji gue bakal selesaikan ini dengan cepat" ucap Dwi.


Jihan diam sedangkan Dwi mulai membaringkan Jihan pelan. Dwi mengunci ke dua tangan dan kaki Jihan Dwi mulai menc**mi bibir Jihan dan berlanjut dengan luma**n luma**n kecil.


"Manis" ucap Dwi.


"Mas maaf" ucap Jihan menutup matanya.


"Tapi Ji" ujar Dwi frustasi lalu melepaskan kunciannya dengan wajah marah.


Jihan yang tidak ingin melihat kemarahan Dwi langsung mengalungkan tangannya kembali ke leher Dwi dan mulai mendekatkan wajahnya. Namun di saat yang bersamaan seseorang masuk membut Dwi dan Jihan menatap orang tersebut aneh.


"Maaf lagian kenapa gak di kunci si" ucap Zira menutup matanya.


"Kenapa gak ketuk pintu dulu" ucap Dwi masih dalam posisinya.


"Maaf ya udah lanjut gih" ucap Zira.


"Mau liat gak" ucap Dwi.


"Kamu gila ya malu lah" ucap Jihan lirih.


"Emang liat apa" ucap Dwi membuat Jihan merona.


"Gak Bang, udah dulu ya" ucap Zira menutup pintu.


"Apa yang kamu pikirkan sayang" ucap Dwi lembut membelai wajah Jihan.


"Gak ada" ucap Jihan memalingkan wajahnya.


Dwi tersenyum lalu mengecup leher Jihan tanpa meninggalkan sebuah tanda.


"Terima kasih untuk hari ini" ucap Dwi duduk lalu membantu Jihan duduk.


"Terima kasih" ucap Jihan.


"Ya, kamu mau hadiah wisuda apa" tanya Dwi.

__ADS_1


"Datanglah besok itu sudah lebih dari cukup" ucap Jihan.


"Yakin " ujar Dwi.


"Ya" ucap Jihan.


"Oke Mas usahain besok datang, ya udah dandan yang cantik mas juga mau bersiap" ucap Dwi langsung mencium kening Jihan sekilas.


"Oke" ucap Jihan dengan wajah merona.


Setelah selesai mereka berdua ke tempat semua anggota keluarga yang sudah bersiap untuk pesta. Setelah semua berkumpul semua berangkat ke tempat acara tapi saat sampai di depan rumah Jihan dan Dwi di hentikan keluarganya membuat mereka bingung.


"Kenapa ada yang salah sama kita" ucap Jihan.


"Berhenti dan diam" ucap Jovan membuat Jihan hanya mengikuti dan diam


"Udah" ucap Jovan.


"Udah maksudnya" tanya Jihan.


"Nih bagus kan" ucap Jovan menunjukkan hasil jepretannya.


"Bilang aja mau ambil foto, kenapa gak ngomong aja si kan bisa berpose" ucap Jihan.


"Gak natural" ucap Jovan.


"Yayaya" ucap Jihan berjalan lebih dulu.


Jihan di hadang teman temannya termasuk Fero yang berpapasan saat Jihan keluar dari pekarangan rumah. Teman teman Jihan yang melihat itu langsung membalikkan ke duanya dan berjalan lebih dulu.


"Eh kalian semua mau gak ke acara wisuda gue" ucap Jihan pada sahabat sahabatnya.


"Kita serius" ucap Hana menunjuk dirinya mona dan Nisa.


"Ya kalian semua, karena gue yakin gak ada yang datang ke acara gue besok" ucap Jihan.


"Jadi lo beneran seorang mahasiswi Ji" ucap Hana.


"Iya makanya kalau gak percaya datang besok, gue suruh Kevin buat jemput kalian" ucap Jihan.


"Bentar bentar, sebenernya lo siapa si Ji gue gak sanggup kalau nunggu hari kelulusan kita" ucap Nisa.


"Oke oke, tapi kalian gak boleh jauhin gue gak boleh minder dan satu lagi jangan marah" ucap Jihan.


"Oke oke" ucap Mona.


Jihan berhenti sejenak, lalu di susul teman temannya yang berhenti dan menarik nafasnya panjang.


"Sebenernya gue maksudnya kita tuh gak ada yang anak pejabat kayak lo pikir kita terutama gue adalah seorang pembisnis di kota gue Jihan Ayundia Prasaja adik dari seorang pengusaha muda Jovan Pramudika Prasaja anak dari pasangan pembisnis Anggun Prasaja dan Joko Prasaja" ucap Jihan.


"Lo tau keluarga Suseno" tanya Jihan.


"Beberapa kali gue pernah liat di TV, apalagi tuan mudanya ganteng banget" ucap Nisa.


"Suseno siapa si" ucap Mona.


"Lo gak tau siapa keluarga suseno" ujar Nisa.


"Gak makanya gue tanya" ucap Mona.


"Mereka adalah pengusaha paling kaya di negara ini, bahkan tuan mudanya bisa melebarkan sayapnya sampai asia dalam waktu dekat" ucap Nisa.


"Hahaha gak salah dia baru pulang dari luar negeri kali, gue yang kembangin dasar wartawan" ucap Jihan membut semua sahabatnya menatap aneh.


"Ngaco lo Ji, oh ya gue kayak pernah lihat tuan mudanya tapi di mana ya" ucap Nisa.


"Di sini" ucap Dwi tiba tiba di belakang mereka.


"Eh iya bener gini nih gantengnya" ucap Nisa saat membalikkan badannya.


"Pak Dwi" ucap Mona dan Hana membuat Nisa membulatkan matanya.


"Jangan jangan" ucap Nisa.


Jihan lalu mendekati Dwi dan mengatur rambut Dwi membuat Nisa tercengang.


"Gini Nis" ujar Jihan.


"Bener, jadi dia tuan muda Suseno" ucap Nisa.


"Seperti yang kamu lihat" ucap Jihan.


"Gak percaya gue bisa ketemu sam orang nomor satu di negara ini" ucap Nisa.


"Cuma gaya rambut aja gak ada yang kenal sama kamu Tuan" ledek Jihan.


"Biarin gak perlu pakai make up, jadi gak palsu" ucap Dwi.


"Jadi maksudnya gue palsu" ucap Jihan.


"Gini" ucap Dwi merapikan rambut Jihan.


"Kalian kenal dia siapa" ucap Dwi membuat sahabat sahabatnya berfikir.

__ADS_1


"Parah gak ada yang kenal sama kamu Nona Muda" ucap Dwi tersenyum licik.


"Biarin emang gue gak mau tunjukin diri ke publik gak kayak kamu cuma cari popularitas gue yang kembangin tuh perusahaan lo yang terkenal" ucap Jihan.


"Biarin dong lagian tuh perusahaan kan 50% sahamnya punya kamu" ucap Dwi.


"Ya iyalah kan gue yang kembangin tuh perusahaan panteslah gue dapat 50%" ucap Jihan.


"Woy kenapa malah bahas saham" ucap Sonia.


"Lagian dia duluan" ucap Jihan


"Jadi kalian berdua pasangan pembisnis" ucap Hana.


"Oke gue kenalin diri secara langsung ya kenalin dia Jihan Ayundia CEO AYASTA GROUP ya walaupun gue tau kebenarannya akhir akhir ini dan kenalin juga suami nya Tuan Dwi Putra Suseno CEO DJ Putra Company" ucap Zian yang tiba tiba muncul.


"Beneran kalian berdua ya bener bener" ucap Nisa.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Kalian berdua luar biasa apa lagi sama lo Ji gue gak nyangka seorang Ratu repa hidup jadi rakyat jelata" ucap Hana.


"Iya dan yang paling aneh dia sekarang bahkan gak pakai skincare tapi tetep aja menawan" ucap Gabby.


"Iya dan dia tetap menjadi primadona, bahkan pacar pacar kita aja liriknya dia iya gak si" ucap Sonia.


"Bener bener, Tuan jaga istri anda baik baik atau kita akan mengambilnya" ucap Dika yang tiba tiba ada di sebelah Jihan.


"Kalau bisa" ucap Dwi.


"uuuuuuh Tuan Muda marah guys" ucap Beni.


"Iya bener gak asik" ucap Viki.


Viki Dika dan Beni saling tersenyum lalu melepaskan tangan Dwi yang menggandeng tangan Jihan lalu membawa lari Jihan saat Dwi akan mengejarnya Sonia Gabby dan Jane menghalangi.


Marah kesal tapi tidak bisa berbuat apa apa itu yang di rasakan Dwi. Tau kan rasanya mau marah tapi gak bisa hehe.


"Kalin mau bawa gue kemana " tanya Jihan kepada ke tiga sahabatnya.


"Ke tempat seseorang sedang menunggu" ucap Dika.


"Jangan bilang Ata, gue gak mau rusak acara ini " ucap Jihan.


"Gak dia mau ucapin sesuatu sebentar aja" ucap Dika.


"Gak bisa gue gak mau buat banyak orang berfikir gila" ucap Jihan.


Saat Jihan bisa melepaskan diri dan akan pergi ke tempat Dwi lagi ada suara merdu seseorang yang membuatnya berhenti dan metapnya.


Rela aku terima keputusan darimu


Tuk memilih dirinya


Dan meninggalkan aku


Dalam semak berduri tergores dan tergores


Akhirku ku ucap lirih


Memang aku akui aku lah yang bersalah


Telah memberi hati walau sekerat rasa


Maaf kan aku atas khilafku


Permainkan hatimu


Mengapa kau dan aku berdua


Menyatu dalam alunan nada


Takdirmu dan takdirku akhirnya berpisah


Seiring kasih di pucuk pau


Untuk melatih sukar di ubah


Jika kita bercerai jauh


Di dalam hati jangan berubah


Hendak gugur gugurlah bunga


Jangan menimpa si ranting rapuh


Hendak tidur tidurlah mata


Jangan mengenang cinta yang jauh


Ya Fero yang menyanyikan lagu itu bersama dengan Jihan walaupun berlinang air mata di antara ke duanya tetap ada sebuah senyuman hangat dia antara mereka untuk semua orang yang telah hadir. Walauoun tidak ada yang tau isi hati nereka berdua.


"Terima kasih hari yang kamu berikan" ucap Fero.

__ADS_1


"Terima kasih untuk warna dalam hariku" ucap Jihan.


__ADS_2