
"Gimana" tanya Dwi.
"Bagus" ucap Jihan memberikan jempol.
Tring...... Tring.....
"Angkat aja" ucap Jihan karena Dwi hanya menatapnya.
"hm" ujar Dwi.
"Mau makan apa biar Jihan masakin" tanya Jihan.
"Kamu masak udah wangi tau" ledek Dwi.
"Gak papa mau makan apa" tanya Jihan.
"Terserah kamu deh, sayur aja lama gak makan sayur" ujar Dwi.
"Pantesan tuh buncit" ledek Jihan.
"Iya gara gara kamu pergi" ujar Dwi hanya di balas senyuman manis Jihan yang berlalu pergi.
"Manisnya" ujar Dwi.
Jihan pergi ke dapur dan melihat mamanya ada di sana masih dengan baju formalnya.
"Mama" ujar Jihan mengagetkan.
"Hei sayang" ucap Mama
"Tumben mau masak masih pake baju itu lagi, bukannya itu baju mahal" ujar Jihan dingin masih belum bisa menerima mamanya sebaik dulu.
"Kok ngomongnya gitu si ini kan demi kamu" ujar Mama.
"Biar Jihan aja, mas Dwi maunya Jihan yang masak" ucap Jihan bersiap untuk masak.
Jihan mengambil bahan makanan dalam kulkas cukup banyak dia langsung memotong motong semua jenis sayuran dan bahan lauk dengan sangat cepat sehingga tak butuh waktu lama bahan bahan yang di butuhkan sudah siap.
"Cepet banget gak takut kuku kamu kepotong" tanya Mama yang melihat Jihan dengan membengong.
"Gak lah, mas Dwi mencintai diri Jihan bukan kuku Jihan" ujar Jihan.
Jihan lanjut memasak untuk makan malam. Dia memasak makanan kesukaan setiap orang mulai dari kesukaan Dani Jovan Dwi papa dan Mamanya.
Mama Jihan yang sedari tadi di cuekin hanya bisa menatap sang putri masak. Jihan yang tidak menganggap mamamhnya ada bahkan dia tidak di bantu seorang maid pun murni dia lakukan sendiri.
"Daripada duduk diem gitu mending tidur" ujar Jihan.
"Sebenci itu kamu sama mama" tanya Mama
"Sepertinya Jihan gak perlu lagi menjawabnya, bukannya tempo hari sudah jelas" ucap Jihan.
"Terserah kamu deh " ujar mamanya pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Jihan masih berjibaku dengan dapur sampai satu persatu anggota keluarganya datang. Jihan terkaget saat sang mertua juga datang tak lupa dengan Fero dan Putri di sana.
"Sibuk buk" ledek Fero.
"Ya namanya juga ibu ibu" jawab Jihan enteng.
"Put bantuin tuh" ujar Fero langsung duduk menyalakan tv.
"Gak perlu" ucap Jihan.
"Kenapa gue ikhlas" ucap Putri.
"Gue yang gak ikhlas masak di bantuin mak gue aja gue usir" ujar Jihan.
"Kejam" ucap Putri.
"Nih makanan kamu siapain put" ucap Mama Sri.
"Mamah repot repot seharusnya mamah bilang biar Jihan masak banyak" ucap Jihan.
"Gak papa, tadi udah masak mau makan malam tapi mama kamu undang kita ke sini ya udah bawa aja" ucap Mama.
__ADS_1
"Dwi mana sayang" tanya Mama Sri.
"Ada di kamar " ucap Jihan.
"Kak leher makan fampir tuh" tanya Outri membuat semua orang menatap Jihan.
"Ya tadi di kasih mantra fampirnya gak mau pergi" ucap Jihan.
"Selesai" ujar Jihan.
"Eh lo udah jadi tamu nerocos aja, nih bawain ke sana gue siapin tempat buat makanan yang lo bawa" ujar Jihan pada Putri.
"Siap" ucap Putri tersenyum.
Semua orang berkumpul di ruang keluarga khusus yang laki laki terkecuali Dwi. Sedangkaan yang perempuan sedang merapikan makanan untuk makan malam.
"Bang panggilin mas Dwi" ujar Jihan.
"Teriakan lo lebih kenceng dari gue kambing" ucap Jovan.
"Monyet lo kak" jawab Jihan membuat Jovan cemberut.
"Yaya ya" ujar Jovan berlari menaiki tangga menuju kamar Jihan dan tanpa permisi dia langsung menarik Dwi keluar.
"Van lo apaan si" ujar Dwi yang di tarik tarik Jovan.
Mereka terus saja bertengkar sampai di ujung tangga mereka masih saja bertengkar seperti anak kecil membuat Jihan tersenyum tulus.
"Adek lo senyum Van" ujar Dwi berhenti bertengkar.
"Sepertinya begitu" ujar Jovan.
"Nih permintaan lo" ujar Jovan mendorong Dwi ke depan Jihan.
"Gue mintanya panggil dia" ujar Jihan.
"Kenapa sama aja kamu minta saya datang" ucap Dwi tersenyum.
"Ya ya duduk makan" ucap Jihan tersenyum tipis sangat tipis.
"Makasih" ujar Dwi mencium pipi Jihan saat Jihan menyiapkan piring membuat Jihan tersipu malu.
"Cie" ledek Putri yang ada di depannya.
"Mau makan yang mana" tanya Jihan tak mengindahkan ledekan Putri.
"Tadi kamu masak apa" tanya Dwi.
"Yang kamu suruh kalau rasa gak tau gak di cicipin" ucap Jihan.
"Yang itu aja" ujar Dwi menunjuk supsayur dengan ayam di angguki Jihan.
"Bang makanan siap" ujar Jihan memanggil semua orang.
"Duduk" ujar Dwi saat Jihan akan menyipkan piring yang lainnya.
"Belum selesai" ujar Jihan.
"Biarin mereka punya pasangn masing masing" ucap Dwi.
"Nasib kita gimana" ujar Dani saling tatap dengan Jovan.
hahahaha
Tawa semua orang, Jihan langsung mengambilkan makanan untuk ke dua kakaknya itu. Dwi tersenyum dengan sifat Jihan saat Jihan akan mengambil makanannya sendiri dia menarik piring Jihan membuat Jihan menatapnya.
"Berdua" ujar Dwi.
"Harus" tanya Jihan.
"Iya dong" ucap Dwi langsung menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Jihan.
"Kalian tuh emang pantesnya hidup berdua aja, bikin jiwa jomblo gue meronta ronta tau gak" ujar Dani di angguki Jovan.
"Cepet nikah lo Bang" ledek Dwi.
__ADS_1
"Eh ngehina gue lo, kalau bukan karena gue lo belum bisa sentuh dia" ujar Jovan
"Iya iya kamu memang Abang terbaik" ucap Dwi.
"Kalian bisa gak makan berdua aja" ucap Dani.
"Kakak ini kan jarang jarang Jihan makan bareng kita jangan di ledekin aja dong" ucap Mama Anggun.
"Mama jarang Dani hampir setiap ada waktu" ujar Dani.
"Kalian bisa diam, makan dulu jangan banyak bicara di depan makanan" ucap papa Prasaja.
"Iya pah" ujar Dani Jovan dan mama lain dengan Jihan yang bersikap biasa saja.
Jihan acuh dengan semua ucapan keluarganya terutama ke dua orang tuanya membuat Dwi merasa aneh.
"Biasa aja, jangan hiraukan saya saya sudah terbiasa hidup sendiri makanya kamu masuk ke hidup saya saya tidak peduli" ujar Jihan di dengar semua orang bukan marah Dwi justru mengcak rambut Jihan gemas dengan senyuman.
Setelah ucapan Jihan semua orang diam hanya menikmati makanan masing masing, setelah itu semua pria pergi karena tugas para wanita selanjutnya untuk membersihkan meja makan.
"Ji" panggil Putri mendapat sorotan tajam dari Jihan.
"Kenapa" tanya Jihan dingin.
"Tentang ucapan kamu yang tadi, kalau kamu gak peduli kak Dwi masuk ke hidup lo apa itu berarti sampai sekarang kamu belum bisa menerimanya" tanya Putri.
"Mah kalau mau tanya, tanya langsung aja jamgan suruh Putri kasian tuh keringet dingin" ujar Jihan karena tau pertanyaan Putri adalah perintah mama Sri membuat semua tersenyum kaku.
"Saya tidak peduli dengan kehadirannya dalam hidup saya, tapi bukannya saya tidak bisa menolaknya pilihan saya hanya menerimanya jadi ikuti alur jujur mah maaf buat mama terbeban dengan jawaban Jihan tapi Jihan rasa mama harus tau yang sebenarnya" ujar Jihan menatap sang mertua.
"Sayang mama tau perasaan kamu, mama tau kamu tersenyum di balik luka mama gak marah cuma mama minta jaga Dwi jangan biarkan dia kecewa lagi selama kamu masih sanggup mama tidak akan menuntutmu" ucap mama Sri mengelus elus rambut Jihan.
Ada air mata yang sedari tadi tertahan, setelah itu mama Sri pergi mendekati Dwi Jihan tau apa yang mereka bicarakan. Jihan langsung terduduk di dekat pintu taman belakang dan mulai meneteskan air matanya.
Mama Sri melihat itu hanya bisa menarik nafas panjang dan menyuruh Dwi untuk menemaninya.
"Maaf kalau bebanmu bertambah karena mama" ucap Dwi duduk di samping Jihan.
Jihan hanya menunduk tanpa melihat dia tidak ingin Dwi melihat air mata yang terus mengalir disana. Tapi Dwi tau perasaan Jihan sekarang jadi dia tetap menemani Jihan walau Jihan tak kunjung bersuara.
"Ibu seorang yang tidak ingin ku kecewakan lagi, melihatnya tersenyum di dekat Putri membuatku bahagia Mama Sri orang ke dua yang ingin ku jaga senyumannya tapi ini lebih menyakitkan" ujar Jihan terbata karena menahan isak tangisnya.
"Manangislah jika itu membuatmu lega, jangan anggap aku ada" ucap Dwi menjauh
"Lalu bagaimana ku bisa berjalan saat menganggapmu tidak ada kamu adalah tantangan karena kamu aku harus kuat karena kamu sumber kebahagiaan mama" ujar Jihan menatap Dwi dan menahannya agar tetap di sisinya.
"Lalu saya harus bagaimana" ujar Dwi.
"Stay with me" ujar Jihan membuat Dwi menatapnya.
"Are you sure" tanya Dwi menggenggam tangan Jihan meminta jawaban.
"Hm, jangan buat ku semakin bersalah buat ku bisa mencintaimu sebelum perjanjian ini usai" ujar Jihan menatap Dwi sembari menghapus air matanya.
"Terima kasih aku akan membuatmu mencintaiku mulai saat ini dan memastikan kamu tidak akan pergi lagi" ucap Dwi.
"Memastikannya, benarkan caranya" ujar Jihan kembali semangat.
Dwi menatap Jihan dengan hangat membuat Jihan merasa nyaman. Dwi menggenggam tangan Jihan erat dan mendekatkan wajahnya. Jihan tau apa yang akan Dwi lakukan dia hanya diam dan benar Dwi langsung saja mengecup bi**r ranum Jihan dengan perlahan namun mampu membuat Jihan percaya semua ucapannya.
Jauh dari pandangan Fero melihat kejadian itu, tak terasa air matanya mengalir begitu saja namu. senyuman juga mengembang.
"Gue gak bisa gini" ujar Fero pergi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya guys....
__ADS_1