Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 186 Alasan


__ADS_3

"Maksudmu" tanya Dwi.


"Kamu bahkan tidak bertanya alasan pada ku dan Jeje kenapa dewasa sebelum waktunya" ujar Justine dingin.


"Dasar lelaki gak tanggung jawab" ucap Justine membuat Dwi terbengong.


"Haha berantem berantem lo Wi" ucap Jovan.


"Kalau anda berani membuat penyakitnya kembali di derita maka dengan senang hati saya akan memutuskan hubungan denganmu bahkan saya tidak ppeduli dengan berapa banyak uang anda" ucap Justine langsung pergi ke kamarnya.


"Itu anak gue beeran anak gue" ujar Dwi menggelengkan kepalanya.


"Awas awas lo Wi" ujar Jovan tertawa membuat Dwi berdiri.


"Kemana lo" tanya Jovan .


"Mau temui mak anak itu" ujar Dwi langsung pergi ke kamar dan mengunci pintu sedangkan Jovan masih tertawa.


Saat Dwi masuk ternyata Jihan baru selesai mandi dia masih memakai tangtop dengn celana pendeknya membuat Dwi terbengong namun Jihan tidak menyadarinya karena dia membelakangi Dwi.


"Ji" panggil Dwi membuat Jihan terperanjak.


"Ih bisa gak si jangan ngagetin gitu" ucap Jihan hanya fi balas senyuman Dwi.


Dwi duduk di tepi ranjang sedangkan Jihan hanya menatap. Dwi meminta Jihan agar duduk di sampingnya namun Jihan malah berfikir.


"Aku tidak akan macam macam, lagian kalau nyentuh kamu juga masih sah duduklah" ucap Dwi membuat Jihan berjalan mendekat.


"Kenapa si" tanya Jihan yang melihat wajah Dwi lesu.


"Kamu tau alasan anak anakmu dewasa sebelum waktunya" tanya Dwi membuat Jihan mengerutkan keningnya.


"Apa ada yang anak anak katakan dan menyinggung hatimu" tanya Jihan duduk dengan menarik kursi riasnya.


"Tidak hanya ada sesuatu yang ingin ku tau" ucap Dwi.


"Kamu mau mencari taunya dengan bertanya padaku" ucap Jihan di angguki Dwi.


"Gue gak tau pasti alasan mereka namun yang jelas mereka ingin melindungiku Justine dia ingin menjadi lelaki cerdas agar dapat menghasilkan uang yang banyak sedangkan Jenifer dia ingin menjadi dokter agar mommynya bisa dia obati dan tidak merasakan sakit lagi" ujar Jihan membuat Dwi manggut manggut dan menangis.


"Jadi benar aku lelaki tidak bertanggung jawab" ucap Dwi.


"Justine" ujar Jihan membuat Dwi menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu karena hanya Justine yang berbicara tanpa memikirkan hati orang yang dia ajak bicara" ucap Jihan..


"Apa kamu akan memarahinya" tanya Dwi.


"Tidak biarkan dia meluapkan semua emosinya, dia bukan anak sembarangan dia seperti itu pada orang yang dia sayang dengan begitu dia bisa melindungi mereka sedangkan dengan orang asing dia tidak peduli" ucap Jihan membuat Dwi semakin menangis.


"Nangis seorang Dwi Putra nangis hanya karena anak kecil" ucap Jihan tertawa dia langsung merapikan rambutnya.


"Hanya kamu yang berani menertawakanku dan hanya di depanmu aku menangis tanpa beban" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya.


"Sudahlah, pasti ada sesuatu yang ingin dia ucapkan namun sulit" ucap Jihan.


"Kamu tidak ingin memelukku Ji" tanya Dwi.


"Gak" ujar Jihan membuat Dwi manyun.


Melihat Dwi manyun dengan tangisan yang makin keras dan air mata yang mengalir dengan deras Jihan langsung menarik Dwi ke dalam pelukannya sembari berdiri. Dwi menangis sejadi jadinya saat itu membuat Jihan merasakan hatinya ikut sakit.


"Berapa lama lagi mau nangis" ujar Jihan.


"Kamu gak iklas peluk saya" ujar Dwi melepaskan pelukannya dan menatap Jihan. Jihan tersenyum melihat wajah Dwi yang terlihat seperti anak kecil.


"Sudahlah otak gue gak singkron sekarang" ucap Jihan langsung menghapus air mata Dwi dan pergi ke luar kamar.


Jihan langsung ke dapur untuk mengambil air minum saat itu juga air matanya menetes walaupun dia bisa tertawa dan tersenyum namun saat sendiri dia masih sering menangis.


"Mom" ujar Justine membuat Jihan langsung menghapus air matanya cepat.

__ADS_1


"Ya sayang, kenapa kok belum tidur" tanya Jihan.


"Gak papa haus" ujar Justine.


"Oh oke nih langsung tidur ya" ucap Jihan.


"Oke mom, jam berapa kita pergi besok" tanya Justine.


"Sepagi mungkin biar sampe sana juga pagi" ujar Jihan.


"Oke Mom" ujar Justine mencium pipi Jihan dan langsung pergi ke kamarnya


"Ji" ujar Jovan.


"Bang, bolehkan Jihan merokok" tanya Jihan.


"Apa sepenuh itu otak lo" tanya Jovan.


"Entahlah Bang, Jihan hanya merasa ada sesuatu yang mengganggu di pikiran Jihan juga merasa pusing Jihan harus tertawa harus tersenyum tapi" ujar Jihan berjaln ke balkon dan menyalakan rokoknya.


"Kamu tau Dwi di sini sekarang kamu tidak takut dia marah" tanya Jovan menutup pintu balkon agar bau rokok tidak masuk ke dalam rumah.


"Jihan berusaha untuk tidak peduli apapun terutama semua yang berkaitan dengan masa lalu tapi Jihan gak bisa Jihan harus gimana Bang satu satunya perusahaan yang Jihan bangun dengan semua tetesan air mata yang di sembunyikan dengan senyuman sekarang di ujung tanduk" ujar Jihan sembari menatap lurus ke depan.


"Apa kamu sudah menyelidikinya selama ini kamu memantaunya dari jauh kan" ucap Jovan.


"Hm, bahkan Justine ikut membantu tapi tidak bisa di tolong dari jauh Bang Jihan harus langsung turun tangan menghadapinya dan memperbaiki semoga aja masih bisa" ucap Jihan dengan terus menyesap rokok di tangannya


"Maaf Abang gak bisa melakukannya dengan baik" ucap Jovan.


"Bukan salah Abang tapi mungkin ini memang sudah jalan Jihan sudah waktunya Jihan kembali ke negara itu dengan anak anak" ujar Jihan.


"Kamu yakin dengan keputusanmu" tanya Jovan.


"Harus yakin Bang, Jihan akn berusaha mengembalikan semua ini walau langkah Jihan sebenarnya berat untuk kembali ke sana" ujar Jihan.


"Lalu bagaimana saat Dwi datang di hidupmu lagi" tanya Jovan.


"Perasaanku campur aduk Bang, di saat gue belajar mencintai orang lain dia datang saat ingin mengusirnya ada hati yang ingin gue jaga Bang tapi jika kembali dengannya maka gue harus mengorbankan seseorang juga tapi pergi darinya itu sulit walau bertahun tahun menjauh" ucap Jihan ternyata semua di dengar Dwi yang sudah berada di belakang Jovan.


"Dia baik saat di dekatnya nyaman rasa aman juga tapi gak pernah terfikir lebih jauh" ujar Jihan berbalik dan seketika matanya membulat karena melihat mata Dwi yang melihatnya tajam.


"Sejak kapan kamu di sana" tanya Jihan gagap.


"Kenapa" ujar Dwi.


"Tidak, tidurlah bersama anak anak besok akan menjadi hari tak terlupakan" ujar Jihan kembali menyesap rokoknya .


"Kamu sudah gila" ujar Dwi.


"Seperti yang kamu lihat, kalau gak di barengi kegilaan ini nyawa gue udah pergi dari dulu" ucap Jihan membuat Dwi makin murka apalagi rokok yang ada di tangannya terus di sesapnya sampai tinggal sedikit.


"Jovan apa yang kamu lakukan membiarkan dia merokok seperti ini kamu tau akibatnya" ujar Dwi dengan nada tegas dengan menarik baju Jovan.


"Lalu apa yang bisa gue lakukan saat adek gue bener bener butuh hiburan dan gue hanya bisa melihatnya" ujar Jovan membuat Dwi melepaskannya.


"Pergi gue mau bicara sama dia" ujar Dwi


"Ji" ujar Jovan berat meninggalkan adiknya itu.


"Pergilah" ujar Jihan menuntun Jovan meninggalkan balkon lalu menutup pintunya.


"Apa yang ingin kamu katakan" ujar Jihan menatap Dwi.


Dwi langsung merebut dan membuang rokok yang berada di tangan Jihan lalu menarik Jihan keras.


"Kenapa tidak melawan" ujar Dwi.


"Kenapa harus melawan, gue gak punyaa cukup tenaga untuk itu gue lemah sekarang jadi lo bisa lakukan apapun padaku sekarang" ujar Jihan lemas.


"Sejak kapan kamu merokok" tanya Dwi melingkarkan tangan di pinggang Jihan.

__ADS_1


"Entahlah" ujar Jihan menjawab pasrah.


"Apa alasan mu merokok" tanya Dwi lagi.


"Banyak alasan, tapi alasan terbesarku adalah anak anak jika gue milih minum mabuk seperti dulu maka anak anak akan terlantar jadi gue milih rokok sebagai pelipur otak" ucap Jihan.


"Kamu tau bahayanya itu" ujar Dwi.


"Tau, dan asal lo tau sebenarnya gue gila gue gak peduli orang lain gue gila uang apapun gue lakukan untuk uang gue stress pengin pergi dari dunia ini pengin balik ke masa lalu semuanya hancur" ujar Jihan tersenyum tapi air matanya mengalir.


"Maaf kamu harus menjalani ini semua sendiri maaf gue gak ada saat lo butuh maaf baru datang sekarang" ujar Dwi memeluk Jihan.


"Kenapa kamu baru datang sekarang" ujar Jihan menangis senbari memeluk Dwi.


"Maaf gue bener bener minta maaf" ucap Dwi.


Jihan menangis dia menangis dalam diam namun tak lama suara tangisannya semakin menghilang dan tubuhnya jatuh di pelukan Dwi membuat Dwi khawatir dengan cepat dia membawa Jihan ke dalam kamar.


"Kenapa Wi" tanya Jovan khawatir.


"Dia menangis senyum lalu pingsan" ujar Dwi.


"Cepat bawa ke kamar jangan sampai Justine tau" ujar Jovan membuat Dwi dengan cepat menggendong Jihan ke kamarnya.


Dwi dan Jovan terlihat sangat cemas namun saat pintu di ketuk ke duanya lebih cemas.


"Hai sayang kenapa" tanya Jovan tersenyum.


"Mana Mommy Justine ingin menemuinya sebentar" ujar Justine.


"Boy sini deh mommy lagi ngomong sana Daddy siapa tau setelah ini mereka bisa baikan kamu tau maksud Uncle" ujar Jovan.


"Oke orang tua sedang berbicara kita tidak boleh mengganggu" ucap Justine langsung masuk kamarnya.


"Sepertinya dia tau sesuatu" ujar Jovan yang mengikuti Justine ke kamarnya dan dia tidur bersama justine.


Sedangkan di kamar Jihan Dwi terus berusaha membangunkan Jihan dengan menggosok tangan Jihan. Perlahan Jihan mulai menggerakkan tangannya.


"Ji " panggil Dwi lembut.


"Kepala gue sakit" ucapJihan berusah duduk dengan cepat Dwi membantunya.


"Apa kamu masih sering seperti ini" tanya Dwi.


"Gak udah lama gak " ujar Jihan.


"Bolehkah aku menciummu Ji" tanya Dwi.


"Dasar mesum" ujar Jihan


"Siapa tau langsung sembuh" ucap Dwi tersenyum.


Jihan tidak menjawab dia langsung kembali merebahkan badannya membuat Dwi langsung menyelimutinya.


"Tidurlah di sini" ujar Jihan saat Dwi melangkahkan kakinya.


"Kamu apa yang" ujar Dwi.


"Ya tidurlah di sini" ucap Jihan langsung menutup matanya.


Dengan hati yang sangat bahagia Dwi langsung tidur di samping Jihan namun Jihan langsung membalikkan badannya membuat Dwi bingung tapi tetap bahagia.


Dwi langsung memeluk Jihan dari belakang tidak ada perlawanan atau lainnya. Jihan diam dan melanjutkan tidurnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukunganny guys....


__ADS_2