
"Gini Cika ada sesuatu yang pengin dia buat nah gue ada ide nanti kita bicarakan lagi ya tuh bocil udah pada dateng " ucap Jihan.
"Oke makasih ya Ji" ujar Joni di angguki Jihan dengan senyuman pergi mendekati anak anak yang melambai lambaikan tangannya penuh riang.
"Kakak manis gak ada kunci malah di kasih ini" ujar Vino.
Jihan hanya tersenyum mendengar anak anak ituyang menunjukkan remot control dengan bingung. Jihan berjalan ke arah anak anak itu dan pergi ke mobilnya yang terpaerkir di dekat sana. Jihan membuka pintu mobilnya dengan remot yang anak amak tadi bawa.
"Wah canggih" ujar semua anak anak itu terpesona.
Jihan juga membuka atap mobil itu dan menampilkan isi mobil mewah itu. Jihan membawa supercar yang baru saja Dwi berikan sebagai hadiah kelulusannya.
"Mau naik" tanya Jihan.
"Mau tapi kita kotor" ujar salah seorang anak.
"Gak papa kotor bisa di bersihin" ujar Jihan.
"Kita keliling kampung gimana" ujar Jihan di angguki dengan semangat.
Jihan tersenyum dan membawa anak anak itu pergi dengan mobilnya walaupun harus saling berdesakan namun mereka sangat senang. Jihan ikut tertawa melihat anak anak itu tertawa tanpa beban.
"Kalian kenapa main hp mulu, apa tadi juga yang kalian pelajari dari hp" tanya Jihan membuat semua anak anak saling pandang.
"Maaf kak" ucap semua anak.
"Kalian boleh main hp tapi ingat ada waktunya, kalian harus lebih bergaul dengan teman teman nyata bukan fiksi yang ada di hp" ucap Jihan lembut membuat anak anak mengerti.
"Kalian tau kakak juga nyesel tau dulu pas kecil mainan hp mulu jadi gak punya temen kalau hp mati udah sendirian soalnya gak tau dunia luar apa kalian mau kayak gitu bahkan orang tua berasa asing" ujar Jihan.
"Maaf kak" ucapnya kompak.
"Sekarang tugas kalian sekolah, setelah sekolah bermainlah seperti biasa tapi jangan lupa bantu orang tua dan orang di sekitar buat main hp cuma tiga puluh menit sehari" ujar Jihan.
"Siap Bos" ujarnya.
Jihan berhenti tepat di depan gedung sekolah yang sedang di renovasi, dan banyak jalan yang sudah di perbaiki Jihan senang melihat perubahan ini tapi dia hany membangun sewajarnya tidak seluruhnya karena dia tidak ingin kesan asri dan nyaman di desa itu hilang.
Jihan juga berbincang dengan warga sekitar saat melintas. Jihan meminta maaf karena tidak bisa membangun semua jalan hanya jalan utama di desa itu termasuk jalan utama untuk pergi ke kebun.
Ternyata warga desa justru menyetujui hal itu membuat Jihan lega. Saat kembali mengelilingi desa dia melihat wajahnya terpampang jelas di sepanjang jalan yang Jihan bangun tak hanya wajahnya ternyata wajah Jovan Dwi Dani dan Fero juga ada di sana membuat Jihan tertawa dan mengambil foto itu.
"Siapa yang merencanakan ini boy" ujar Jihan membuat status dengan lima sekawan itu.
Jihan tertawa karena dirinya di sandingkan dengan Fero dan Jovan sedangkan Dwi berada di pinggir dengan wajah dinginnya.
"Kayak pemotretan film flower garden ya tapi sayang gak ada yang punya expresi" ujar Jihan.
"Tapi semua terlihat tegas dan berwibawa" ucap seorang ibu ibu di sana.
"Eh ibu" ujar Jihan tersenyum senang ternyata orang itu adalah orang yang berjualan cilok kesukaannya di sekolah dulu.
"Hai neng, makasih ya udah mau membantu warga desa" ujarnya.
"Kalian semua pulang udah sore" perintah bu Darmi kepada semua anak anak itu.
Semua anak berhamburan pergi. sedangkan Jihan duduk bersama bu Darmi di depan rumah warga yang sedang berkumpul.
"Neng bawa anak saya buar bisa kayak neng" ujar salah seorang ibu.
"Maksud ibu" tanya Jihan bingung.
"Bawa anak saya kerja sama neng biar gak keluyuran gitu gak mau sekolah" ujarnya.
"Maaf bu saya gak bisa memperkerjakan anak di bawah umur saya bisa terkena pasal, tapi insyaallah saya akan menggali potensi mereka dan akan menunjukkan jalannya" ujar Jihan di angguki ibu itu lemas
"Neng mau cilok gak" tanya Bu Darmi.
__ADS_1
"Boleh bu tapi kalau gak repotin" ujar Jihan.
"Gak neng biasa aja" ucapnya pergi membuatkan Jihan cilok yang legendaris menurut Jihan itu.
Jihan menunggu sembari mendengarkan semua keluh kesah warga. Jihan hanya bisa bicara kalau dia akan memulainya besok sekarang dia hanya akan mendengarkan tanpa menjawab. Bukannya marah ibu ibu di sana justru senang karena Jihan tidak tergesa gesa.
"Ini neng" ujar Bu Darmi.
"Makasih bu" ucap Jihan sopan sembari makan cilok.yamg bu Darmi berikan.
waktu terua berjalan senja pun datang. Dengan suara suara burung yang terbang kembali ke sarang mereka masing masing Jihan merasa sangat nyaman di sana namun pikirannya tiba tiba tertuju pada seseorang.
"Kenapa gue mikirin dia" ujar Jihan menggelengkan kepalanya.
Jihan berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Dia membawa mobilnya sampai depan rumahnya karena pekarangan rumahnya dan rumah Fero di desa lumayan luas khas rumah pedesaan.
Malam datang Jihan hanya berada di kamarnya dia keluar hanya saat makan malam itupun hanya mengambilnya dan kembali makan di kamarnya sembri bekerja.
Ponsel Jihan berbunyi membuat Jihan memgalihkan pamdanganmya dari laptop yang sedang dia lihat.
"Hallo siapa" ujar Jihan tanpa melihat nama yang tertera.
"Wah wah, udah berapa banyak cowok yang deketin kamu sampai saya di lupain" suara khas Dwi membuat Jihan tersedak.
uhuk... uhuk....
"Kamu lagi apa" tanya Dwi.
"Lagi makan maaf gak liat nama yang ada di ponsel" ujar Jihan.
"Kamu gak tanya saya udah makan apa belum" ucap Dwi.
"Gak" ucap Jihan singkat sembari menghabiskan makanannya.
"Jahatnya, oh ya masalah apa di sana" tanya Dwi.
"Semua kebun warga di serang tikus dan gagal panen" ucap Jihan.
"Belum, lagian di lahan kan gak ada CCTV nya jadi susah beneran ulah tikus apa yang kayak tikus" ucap Jihan bercerita.
"Kamu melihat orang yang menatap kamu dengan benci" tanya Dwi khawatir.
"Gue harus bilang apa kalau gue bilang ada bisa bisa dia ke sini kalau bilang gak ada apa yang bakal jmgue ucapin" ujar Jihan dalam hati.
"Sayang" panggil Dwi.
"Eh iya" ucap Jihan gugup.
"Gimana" tanya Dwi
"Gimana apanya" ucap Jihan pura pura lupa.
"Saya yakin ingatan kamu gak seburuk itu" ucap Dwi tanpa sadar Jihan melebarkan senyumannya walau Dwi tidak akan melihatnya.
"Jihan cari tau besok" ujar Jihan.
"Kamu gak kangen mas apa" tanya Dwi.
"Gak" ucap Jihan enteng.
"Iz padahal mas di sini di landa kerinduan gak bisa tidur gak ada kamu" ujar Dwi suara yang sangat lembut.
"Iya tau gak bisa tidur tapi bukan karena Jihan kerkaan kan pasti" ujar Jihan menebak.
"Kalau suara hati istri gak bisa di bohongin ya" ucap Dwi.
"Jihan mau abisin makan dulu" ujar Jihan.
__ADS_1
"Ganti panggilan vidio dong" ucap Dwi mengganti panggilannya ke panggilan Vidio.
"Hai sayang" ujar Dwi semangat.
Jihan tidak menjawab hanya melambaikan tangan karena mulutnya penuh dengan makanan. Dwi menatapnya dengan sangat serius membuat Jihan salah tingkah dan melanjutkan makannya dengan hati tak karuan karena Dwi terus saja menatapnya sampai Jihan selesai makan.
"Gara gara kamu makan saya jadi gak enak" ucap Jihan.
"Iya lah karena semua rasa ada padaku" ledek Jihan.
"GR bener, kamu kenapa belum pulang kantor" tanya Jihan sembari membereskan piring yang dia gunakan dan menaruhnya di meja.
"Lagian ngapain pulang gak bakal ada yang menunggu" ucap Dwi.
"Ada" ujar Jihan.
"Siapa" tanya Dwi.
"Mama papa" ucap Jihan tertawa.
"Kamu tuh jahat" ucap Dwi memajukan bibirnya.
"Eh kamu lagi ngerjain apa si yang serius amat" ujar Dwi saat Jihan serius pada laptopnya bukan dirinya.
"Ngerjain masalah yang ada sama liatin laporan hari ini" ujar Jihan.
Dwi hanya manggut manggut mengiyakan walau sebenarnya dia sangat rindu dengan Jihan dan berharap Jihan juga merasakannya.
"Oh ya mas kayaknya Jihan belum bisa pulang besok baru mau urus masalahnya besok soalnya tadi cuma cari info aja" ujar Jihan menutup laptopnya.
"Terus kapan pulangnya" tanya Dwi.
"Kayaknya lusa itu juga kalau udah selesai kalau belum paling weekend kan ada janji sama mama" ucap Jihan.
"Kamu yakin gak kangen sama mas, atau mas susulin kamu ke situ" tanya Dwi.
"Maaf, gak perlu repotin lagi" ucap Jihan.
"Gak papa, boleh mas susulin kamu" tanya Dwi.
"Gak perlu biar Jihan urus semuanya sendiri dulu, kamu kenapa gak pulang gak capek " tanya Jihan.
"Capek tapi gak ada yang bisa jadi obat di rumah" ucap Dwi dengan wajah memelas membuat Jihan menggelengkan kepalanya.
"pulang lah, ke rumah mama aja biar ada yang urusin kalau ke apartemen gak ada yang urusin makan juga repot harus beli dulu" ujar Jihan.
"Cie perhatiannya takut suaminya kelaperan ya" ledek Dwi membuat Jihan salah tingkah.
"Iz... males ah, mending kerja lagi gak pulang ya udah" ucap Jihan ngambek dan kembali bekerja tapi tidak mematikan ponselnya.
Dwi tersenyum dengan tingkah istrinya itu yang terlalu menggemaskan menurutnya. Sedangkan Jihan serius menatap laptopnya sesekali menulis sesuatu di kertas yang sudah menumpuk di atas meja.
"Kamu kenapa liatin Jihan mulu kerja aja biar cepet kelar" ujar Jihan.
"Iya iya makasih udah mau temenin" ucap Dwi
"Hm" ujar Jihan tanpa menatap.
Jihan dan Dwi kembali ke kerjaan masing masing sampai larut malam. Mereka sama sama tidak berbicara satu sama lain hanya mencuri curi pandang.
Jihan merasa sangat lelah sampai tak sadar dia terlelap di atas tumpukan kertas. Dwi yang baru saja selesai dengan pekerjaannya menatap Jihan yang tertidur pulas tanpa mematikan ponselnya.
"Selamat malam adek manis" ujar Dwi tersenyum dan ikut Jihan ke alam mimpi dengan ponsel masih menyala.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya ya guys....