
"Dia senyum" ujar Fero.
"Siapa" ujar Justine dingin.
"Udahlah kalau senyum senyum aja apa jangan jangan kalau senyum langsung gantengnya langsung luntur hayo" ujar Fero meledek.
"Apaan si gantengan gue" ujar Justine.
"Gue gue gue gue" ledek Fero.
"Bolehkah ku bunuh ayahmu itu Fer" ujar Justine.
"Bunuhlah dia dan ganti ayahku dengan yang lebih ganteng" ujar Feri membuat tos dengan Justine.
"Parah" ujar Dwi memeluk Jihan dari samping sembari menghujani Jihan dengan ciuman.
"Malu lah" ucap Jihan.
"Biarin" ujar Dwi.
"Bang udah siang mau bantu Mom" ujar Jihan.
"Ya tapi Mommy harus makan dulu" ucap Justine.
"Ya nanti" ujar Jihan.
"Mau ngedate bareng Abang" ujar Justine membuat Jihan tersenyum.
"Inilah dulu kamu menggemaskan kenapa sekarang menyebalkan" ujar Jihan menarik Justine dan duduk di sampingnya.
"Mommy tujuan kita sepertinya bukan di sini" ujar Justine.
"Ya nih Uncle baru sampai dan ini milik kalian " ujar Jihan memperlihatkan ponsel Justine dan Jenifer.
"Oh oke, Uncle berangkat duluan aja yuk" ujar Justine.
"Abang, Jeje mana" tanya Jihan.
"Lagi sama Nyonya besar" ujar Justine.
"Oke kita berangkat sekarang" ucap Jihan membereskan ponsel ke dua anaknya dan menuntun Justine.
"Kunci mobil" ujar Jihan.
"Ambil aja" ucap Dwi.
"Apa boleh, bukannya itu kamarmu" ujar Jihan berhati hati.
"Apa maksudmu ya kamarku dan kamarmu tidak ada wanita lain yang masuk ke sana setelahmu kecuali Mama lagian semuanya masih sama kamu tidak akan kesulitan mencari sesuatu" ujar Dwi santai.
"Tapi kenapa gue jadi deg degan, Ta pinkem punya lo aja ya" ujar Jihan menatap Fero.
"Gak ada gue cuma bawa satu mobil itupun mau gue pake" ujar Fero.
"Put" ucap Jihan berganti.
"Gak ada gue juga mau pergi, lagian gue nebeng suami gue" ujar Putri.
"Mobil lo kan banyak put" ucap Jihan.
"Semua udah pindah ke keluarga Bramasta" ujar Putri.
"Gak adakah kunci mobil yang gak di kamar" tanya Jihan.
"Gak" ucap Dwi tersenyum.
"Ya udah boy mau mengambilnya" ujar Jihan.
"Mommy aja gak berani masuk kenapa Justine" ujar Justine.
"Kenapa si tingkat menyebalkan kamu naik level setiap harinya" ujar Jihan menaruh tasnya di atas meja.
"Karena tingkat gilanya mommy bertambah" ucap Justine tanpa beban.
"Gini kalau anaknya orang gesrek" ujar Putri tertawa.
"Oke gak mau temenin Bang" ujar Jihan pada anaknya.
"Gak" ujar Justine dingin membuat Jihan kesal dia langsung berjalan pergi dengan sesekali berhenti untuk menarik nafasnya.
"Emang bener gak ada mobil selain yang kuncinya di kamar" tanya Justine.
"Ada punya papa" ucap papa Seno
"Kenapa gak bilang sama mommy" ujar Justine
"Dia gak tanya sama Papa" ujar tuan Seno.
"Hei anda bantulah mommy mencarinya dia pasti kesulitan terutama mengatur hatinya" ujar Justine pada Dwi.
Dwi tersenyum lalu mengacak rambut Justine dan berjalan pergi.
"Dasar laki laki gak peka, saya pergi duluan jaga Mommy" ucap Justine kesal.
Dwi hanya tersenyum dengan cibiran cibiran anaknya itu. Dia berlari kecil ke arah kamarnya dan benar saat sampai di kamar dia melihat Jihan terlihat kebingungan.
"Belum ketemu" tanya Dwi.
__ADS_1
"Belum lagian nih kamar pengap banget, gak pernah ada cahaya masuk ya" ujar Jihan lalu membuka gorden kamar membuat kamarnya sangat terang.
"Ji" ujar Dwi mendekati Jihan dan memeluknya dari belakang.
"Apaan si" ujar Jihan melepaskan pelukan Dwi.
"Kamu mau tau alasan kamar ini tidak di pakai" ujar Dwi menatap Jihan.
"Karena terlalu banyak kenangan" ujar Jihan.
"Kenangan saat bersamamu tergambar jelas di sini di setiap sudut, tapi di kamar ini juga saya bisa tidur dengan bayanganmu di sini" ujar Dwi menarik pinggang Jihan.
"Maaf pergi gitu aja begitupun kedatanganku" ujar Jihan.
"Kata maaf itu harusnya saya yang mengucapkan, apa tadi benar hanya sebuah misi" tanya Dwi membuat Jihan tersenyum malu.
"He anak kamu yang minta" ucap Jihan.
"Justine atau Jenifer" tanya Dwi.
"Justine, sedangkan Jenifer dia tidak terima dengan Klara yang menjelek jelekkanku dia bisa melakukan hal gila saat orang yang dia sayang tersakiti dia bisa lebih kejam dari Justine dia tidak peduli akibat" ucap Jihan.
"Apa permainan tadi juga tidak bisa membuatmu menerimaku seutuhnya lagi" ujar Dwi.
"Sejak kapan ku bilang tidak menerimamu lagi itu ku lakukan demi Je Ju mereka terbiasa hidup tanpa sosok ayah jadi mereka butuh waktu untuk itu" ujar Jihan.
"Jadi kamu menerimaku kembali" ujar Dwi di jawab anggukan Jihan.
"makasih Ji" ujar Dwi memeluk erat Jihan di balas pelukan erat Jihan.
"Bolehkah" ujar Dwi menunjuk bibir Jihan saat melepaskan pelukannya.
"Hanya sebentar" ucap Jihan.
Mendapat izin dari istrinya itu Dwi langsung tidak menyia nyiakan kesempatan doa bermain dengan lembut namun ke dua insan itu saling manginginkan.
Mereka berdua terbuai dengan permainan mereka sendiri sehingga mereka melakukan apa yang sangat mereka rindukan.
"Uncle berangkat aja yuk" ujar Justine.
"Tunggu mommy" ujar Jovan.
"Lama Mommy pasti Daddy buat drama, yuk ah" ujar Justine.
"Oke" ucap Jovan.
"Kakek juga mau ke Ayasta mau bersama" ujar tuan Seno.
"oke" ucap Justine.
"Mas udah siang nih nanti Justine marah marah" ucap Jihan mendorong tubuh Dwi yang terus memeluknya.
"Justine pasti udah di urus papa, lagian kamu gak mandi dulu" ujar Dwi.
"Nanti lama" ujar Jihan yang tau maksud Dwi.
"Gak akan" ujar Dwi langsung menggendong Jihan ke kamar mandi.
"Mau ngapain si" ujar Jihan.
"Mandi lah" ucap Dwi.
"Tapi baju ganti ada di koper di bawah" ujar Jihan.
"Baju kamu masih ada di lemari gak ada yang nyentuh semoga aja masih muat" ujar Dwi menyalakan sower yang langsung mengguyur ke duanya
"Jadi maksud kamu aku gendut gitu" ujar Jihan merengut.
"Gak kamu justru kurusan" ucap Dwi.
"Kurang vitamin" ucap Jihan asal
"Bolehkah" ujar Dwi.
"Gak, masih belum bisa" ujar Jihan yang tau maksud Dwi.
Dwi tersenyum laku mencium bi**r Jihan dengan lembut lalu berpindah ke leher jenjang Jihan dan menyesapnya kuat.
"Mas, ahhh" ujar Jihan menahan tubuh Dwi yang nendorongnya ke dinding.
Karena Dwi terus bermain membuat suara suara gila Jihan mulai terdengar yang membuat Dwi semakin semangat Jihan langsung menyesap leher Dwi untuk mengurangi suara suara gilanya.
Saat Dwi menyudahi Jihan juga menyudahinya dengan nafas yang tidak beraturan lalu keduanya sling tatap dan saling memberikan senyuman hangat.
"Love you Ji" ujar Dwi mencium sekilas bibir Jihan.
"Love you too, udah ya dingin banget" ucap Jihan.
"Ya udah selesaikan cepat" ucap Dwi mereka langsung menyelesaikan mandinya laku berganti pakaian dan bersiap.
"Kamu yakin mau iket rambut tinggi gitu" ujar Dwi.
"Ya kenapa" ujar Jihan sembari menata rambutnya.
"Leher" ujar Dwi tersenyum melihat hasil karyanya.
"Ini pekat banget mana bisa di tutupin tapi kalau rambut di gerai bakal ribed Justine juga bakal ambil sumpit terus gulung rambutku" ucap Jihan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa" ujar Dwi.
"Dia paling gak suka kalau kerja tapi rambut berantakan katanya buat gak konsentrasi" ujar Jihan.
"Oh terus itu gimana" tanyanya.
"Gimana lagi di tutup sebisa mungkin terus kamu gimana tuh" tanya Jihan.
"Biarin gak papa" ucap Dwi mengusapnya dan tersenyum.
"Gak malu" ujar Jihan.
"Gak" ucap Dwi bangga langsung merapikan rambutnya.
Jihan hanya tersenyum lalu menyelesaikan riasannya.
"Sepatu dimana, kamu si main gendong aja jadi basah semua" ujar Jihan.
"Masih di tempat yang sama" ujar Dwi tersenyum.
Jihan langsung berjalan mencari sepatu penampilannya kali ini menjadi Jihan yang dulu dengan baju formal dan dandanan elegan.
"Mau bawa mobil itu" tanya Dwi.
"Ya ini yang paling cepet" ucap Jihan.
"Aku yang bawa" ucap Dwi.
"Oke" ujar Jihan.
Saat keluar kamar bersama dengan candaan tiba tiba ada sosok Klara yang berdiri tepat di ujung tangga membuat Jihan menatap Dwi dan pergi lebih dulu.
"Apa" tanya Dwi dingin pada Klara.
"Jemputlah Falen" ujar Klara.
"Kamu dapat iventaris mobil sendiri ada supir juga saya sibuk" ucap Dwi.
"Tapi dia juga anakmu" ucap Klara.
"Gak peduli saat lo masih baik baik saja maka dia adalah tanggung jawabmu" ucap Dwi menyusul Jihan di garasi.
"Sudah" tanya Jihan.
"Udah masuklah" ucap Dwi lalu duduk di belakang kemudi dan meninggalkan rumah.
"Bagaimanapun dia istrimu kenapa seperti itu, tidak peduli dia ada di jajaran ke berapa sebagai istrimu tapi kamu juga harus bertanggung jawab saat kamu mengucap ijab maka dia tanggung jawabmu" ujar Jihan.
"Pernikahanku dengannya hanya sebtas kertas hanya nama kamu yang pernah ku ucap saat ijab" ujar Dwi dingin.
"Gak percaya gue, lagian gimanapun kamu pernah memyentuhnya setidaknya pasti ada draahmu" ujar Jihan santai membuat Dwi diam sampai mereka tiba di tujuan.
Saat turun di depan gedung banyak yang menatap Jihan karena banyak kariawan baru di sana. Saat mulai masuk baru banyk kariawan membungkukkan badannya di depan Jihan.
Jihan berjalan pelan namun penuh wibawa sedangkan Dwi dia berjalan dengan sangat cepat dan wajah dingin yang mendominasi.
"Bad mood" ujar Jihan yang bisa mengimbangi langkah Dwi karena kaki jenjangnya.
"Wanita itu siapa" seorang kariawan dengan pakaian magangnya bertanya pada yang lain.
"Kalian pasti tau dengan cepat siapa dia" ujar salah satunya sembari berlalu.
Saat Dwi memakai lif khusus Jihan justru memakai lif biasa walaupun harus berganti lif nanti, Dia ingin mencari informasi apapun tentang perusahaan dengan gosip gosip yang ada.
Dan benar di sana dia mendapatkan berbagai informasi tentang perusahaan dari kariawan yang suka bergosip.
"Maaf nona anda siapa ya" tanya salah seorang kariawan.
"Kariawan baru ya" ujar Jihan.
"Sudah tiga tahun terakhir saya di sini nona, saya tidak pernah melihat anda" ujarnya sopan.
"Saya gak pernah ke sini sejak hampir tujuh tahun lalu makanya kamu tidak mengenalku" ucap Jihan ramah.
"Nona anda akan kemana" tanyanya.
"Saya mau ke ruangan CEO" ucap Jihan.
"Oh, saya mentari dari devisi pemasaran nona ruangan saya tepat di lantai sebelum ruangn CEO" ujarnya.
"Oh saya Jihan salam kenal" ucap Jihan.
"Sudah sampai ya, nona anda harus berganti lif dari sini" ujarnya.
"Oh benarkah terima kasih" ucap Jihan.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya......
__ADS_1