
"Apa iya itu Abangnya kok kayak beda apa gue terlalu lama pulangnya" ujar Anjani di dalam mobil saat melihat Dwi bersama Jihan.
"Bodo ah mending gue pulang, tapi ganteng juga ya" ujar Anjani senyum senyum dalam mobil.
Sedangkan Dwi sedang asik menggoda Jihan membuat Jihan merengut. Namun bukan Dwi jika tidak menggoda Jihan sampai pipi Jihan memerah bahkan Jihan berlari untuk menghindari Dwi.
Dwi dan Jihan terus bermain kejar kejaran sampai di sebuah taman kecil yang sengaja di bangun Dwi karena waktu kecil dulu Jihan meminta untuk di buatkan sebuah taman walaupun Jihan tidak mengingatnya.
"Stop capek gue" ujar Jihan kepada Dwi namun bukan berhanti Dwi justru semakin mengejarnya. Saat jarak mereka tidak terlalu jauh karena Jihan lelah Dwi menarik tangan Jihan keras sampai Jihan berbalik dan menabrak dada bidang Dwi.
"Huh kuat juga kamu larinya" ujar Dwi saat memeluk Jihan.
"Lagian kamu jail banget" ucap Jihan mengurai pelukan Dwi.
"Em sayang kamu tau kenapa ada taman di sini" ujar Dwi melepaskan pelukannya namun membawa Jihan duduk di bangku kecil di sana.
"Gak kenapa" tanya Jihan.
"Dulu seseorang bilang ingin membangun sebuah taman di sini untuk mengingat pertemuan kita dan disini juga kita berpisah" ujar Dwi membuat Jihan mengingat sesuatu.
"Di sini apakah tempat itu di sini" ujar Jihan.
"Kamu mengingatnya, ya di sini tempat dimana kamu meninggalkan ku untuk selamanya tanpa kabar apapun" ujar Dwi.
"Bukan tapi keadaan yang memaksaku untuk pergi" ujar Jihan.
"Boleh saya tau alasan kamu pergi" ucap Dwi.
"Hm gue lihat lo di marahin bokap lo dia hukum lo karena main sama anak gak jelas kayak gue, karena gue juga lo dalam bahaya gue tau semua itu" ujar Jihan.
"Lalu kenapa sekarang kamu datang" tanya Dwi.
"Sepertinya bukan gue yang datang, tapi takdir walau gue gak sepenuhnya ingat bokap lo tapi gue merasa ingin membuatnya bhagia dan gak lagi khawatir tentang sesuatu tapi saat gue tau apa yang dia lakukan sama gue itu tulus gue ingin membalas semua kebaikannya dan perlahan ingatan gue tentang bokap lo terlintas" ujar Jihan.
"Jadi kamu tau siapa saya" tanya Dwi.
"Gak, karena kamu berubah begitu berbeda saya tidak terlalu mengingatmu tapi bokap lo gue inget jelas karena dia juga yang pernah mendatangiku dengan memohon" ujar Jihan.
"Dia mengancammu" tanya Dwi.
"Gak kalau dia buat gue takut ngapain gue pengin buat dia bahagia" ujar Jihan.
"Terus" tanya Dwi lagi.
"Em waktu makan siang udah selesai gue harus segera ke Ayasta" ucap Jihan bangun menghindari pertanyaan lebih banyak dari Dwi.
Dwi hanya bisa pasrah dalam keadaan dan mengikuti Jihan berjalan ke arah mobilnya Dwi yang terparkir depan Kafe.
"Lama ya Rey" ujar Jihan.
"Gak papa Nona" ucap Rey.
"Kamu duduk di belakang sama saya" ujar Dwi dingin.
"Mulai, yaya" ucap Jihan berpindah posisi.
Rey melajukan mobilnya ke ke AYASTA grup dia mengantar ke dua bos mudanya dengan cepat. Saat sampai di Ayasta Dwi hendak menggandeng Jihan namun Jihan membulatkan matany membuat Dwi hanya tersenyum.
"Kita ada di jam kerja" ujar Jihan melepaskan tangan Dwi.
"Yaya" ucap Dwi.
Mereka keluar dari mobil bersama membuat pemandangan yang tidak bisa di abaikan semua kariawan Jihan. Tak berselang lama para pemilik saham Ayasta pun datang. Jihan pergi dengan lif khusus bersama Dwi tak ingin melewatkan kesempatan saat di dalam Lif Dwi mencium pipi Jihan tak memperdulikan Rey yang sedang menatapnya.
"Ih, udah di bilang jam kerja" ujar Jihan dengan pipi memerah karena ada Rey.
"Tidak apa nona, saya sudah terbiasa melihatnya" ujar Rey.
"Maksudnya dia biasa cium orang di lif gitu" ujar Jihan dengan tatapan membunuh.
"Bukan gitu tapi" ucap Rey gugup.
"Bukan gitu tapi sering gitu kan, saya tau dia sama Klara lebih dari deket" ucap Jihan langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu cemburu" ujar Dwi.
__ADS_1
"Gak itu masa lalu kamu terserah kamu" ujar Jihan dingin.
"Eh hati kenapa lo panas kenapa lo gak terima kalau dia pernah memperlakukan wanita lain seperti itu bukankah dia punya hak itu saat bersama kekasihnya hati jantung kalian harus menguatkan air mata yang ingin meloncat" ucap Jihan pada dirinya sendiri.
"Maaf Bos semua sudah menunggu" ujar Kevin yang menyambut kedatangan Jihan.
"Maaf ya Vin" ujar Jihan membuat Kevin bingung.
"Maaf buat apa" ujar Kevin dalam hati
"Ay bersiaplah biar saya yang menghendlenya lebih dulu" ujar Fero yang berpapasan saat Jihan akan masuk ke ruangannya.
"Thanks Ta" ucap Jihan.
"Tuan muda Putra silahkan" ujar Fero kepada Dwi karena Dwi akan mengikuti Jihan.
"Hm oke" ucap Dwi mengikuti Fero.
Fero memimpin meeting kali ini tak lama Jihan datang dengan beberapa berkas di tangannya. Dia mempresentasikan apa yang ingin di capai Ayasta ke depannya sampai pada penghujung meeting Fero menyerahlan semua tanggung jawab kepada Jihan.
Meskipun banyak hal yang membuat para pemegang saham di sana khawatir dengan uangnya namun dengan jawaban bijak baik Jihan maupun Fero membuat mereka memberi kesempatan kepada Jihan.
Lama pertemuan kali ini berlangsung pertemuan kali ini membahas kinerja Ayasta dan membuka saran maupun kritikan terhadap Ayasta. Jihan sangat tenang saat banyak kritikan terhadapnya bukan kritikan untuk Ayasta dan dia hanya menjawab dengan apa adanya dan sangat santai.
"Maaf Nona bukankah anda dulu pimpinan tinggi dari DJC" tanya seorang pimpinan dari kolega baru Ayasta.
"Iya dan seperti yang tuan muda Fero katakan memberikan seutuhnya kepada yang berhak itu juga yang saya lakukan" ujar Jihan
"Lalu apa hubungan ada dengan keuarga Suseno" tanyanya lagi.
"Maaf itu urusan pribadi saya dengan keluarga Suseno dan maaf saya tidak bisa menjawab karena ini bukan konferensi pers terima kasih" ujar Jihan membuat semua orang bungkam.
Karena keadaan menjadi canggung Fero mengakhiri pertemuan kali ini. Saat semua orang pergi meninggalkan ruangn satu persatu termasuk Jovan Randy maupun ayahnya. Jihan justru menadahkan kepalanya ke atas sembari memejamkan matanya.
"Berat" ledek Fero.
"Gak beratan cobaan idup gue" ujar Jihan
"Terus kenapa gak kuat" tanya Fero lagi sembari berkemas.
"Kamu aja bisa lewatin semuanya dulu sampai kamu tahan semua orang yang ngata ngatain kamu" ucap Papa.
"Iya pah" ujar Jihan menunduk.
"oke kita mulai" ujar Jihan kembali semangat membuat Dwi tersenyum.
Saat keluar dari ruang pertemuan Dwi menggandeng tangan Jihan tanpa penolakan dari Jihan. Sedangkan para asisten pergi lebih dulu dengan papa Seno.
Saat sampai di dalam ruangannya di sana sudah ada banyak orang ada Abang nya dan teman temannya yang semuanya adalah kolega Jihan. Karena Jihan tidak ingin di temui sebagai sahabat di ruangannya dia bersikap acuh.
"Maaf ini masih jam kerja saya mohon kerja samanya" ujar Jihan membungkuk sopan lalu duduk di kursi kebesarannya.
Sesaat Jovan merasa sangat kasihan melihat adiknya karena di saat dia bisa mencapai apa yang dia inginkan di sisi lain dunia sudah hancur karena perjodohan.
"Adik manis" ujar Jovan mendekati adiknya.
"Kenapa Abang" ujar Jihan lesu masih serius dengan komputernya.
"Kenapa bukannya itu pertanyaan yang harus Abang ucapin" ucap Jovan.
"Hm entahlah Bang, Abang tau semua keinginan Jihan Abang tau semuanya, keinginan terbesar Jihan bisa berdiri tanpa sandaran tapi Jihan rasa semua gak berarti Bang" ujar Jihan mulai meneteskan air matanya.
Jovan tau perasaan Jihan langsung memutar kursi Jihan membelakangi semua orang. Di sana Jihan menangis tersedu tanpa suara hanya air mata yang terus mengalir deras.
"Menangislah jika itu membuatmu lega" ujar Jovan duduk di depan Jihan sembari mengelus elus pipi Jihan.
"Bang apa Jihan bisa lewatin ini semua" ujar Jihan.
"Kamu pasti bisa maafin Abang ya Ji, Abang gak bisa cegah semua ini maafin Abang" ujar Jovan menunduk di pangkuan Jihan.
"Bang jangan nangis" ujar Jihan.
"Maafin Abang" ujar Jovan.
Jihan tidak menjawab dia hanya meminta Jovan untuk berdiri. Jihan mengusap air matanya yang terus mengalir. Di waktu yang bersamaan Dani datang dengan riang dan sebuah bucket bunga di tangannya.
__ADS_1
"Jihan" ujar Dani riang.
"Loh kok, kenapa" tanya Dani saat Jihan bangun menatapnya dengan mata merah.
"Gak papa Kak" ujar Jihan.
"Masa nangis bukannya bahagia akhirnya lo bisa berdiri tanpa sandaran" ujar Dani.
"Mending nangis dalam bahagia daripada tersenyum dalam penderitaan" ucap Jihan.
"Kenapa gitu" tanya Dani.
"Karena tersenyum dalam penderitaan tuh butuh tegana exra, eh Kak itu buat Jihan apa cuma buat pamer" ujar Jihan menunjuk bucket bunga.
"Yaya nih buat kamu, sekali lagi selamat ya gadis manis" ujar Dani.
"Thanks kak, tapi apa Jihan boleh tanya sesuatu" ujar Jihan.
"Ya boleh silahkan" ujar Dani.
"Pertama kenapa kakak datang gak ketok ointu ke dua kenapa kakak ganggu gue sama Abang ke tiga kenapa kakak gak datang ke pertemuan tadi keempat kenapa kakak cuma kirim asisten ke lima kenapa gak kasih kritik buat Ayasta ke enam kenapa" ujar Jihan terhenti saat Dani membungkam mulutnya.
"Lo tanya kayak kereta listrik panjang dan cepat" ujar Dani.
"Jangan buang waktu jawab" ujar Jihan.
"Ya dingin bener, mau jawab yang mana pertanyaan lo lempeng rel aja ada cabangnya" ujar Dani menggoda Jihan.
"Jawab atau Jihan marah" ujar Jihan tegas.
"Marah aja kalau bisa" ujar Dani.
"Oke silahkan pintu keluar ada di sebelah sana" ucap Jihan.
"Ji lo yakin" ujar Dani.
"Saya tidak peduli" ujar Jihan.
"Ji" panggil Dani.
"Saya tidak mendengarnya" ucap Jihan langsung membalikkan badan.
"Ji" ucap Dani lagi.
Jihan hanya diam sampai mendengar rengekan Dani lagi. Jihan kembali membalikkan badannya menatap Dani dengan tajam membuat Dani meringis tanpa dosa.
Sedangkan Dani berjalan ke arahnya dengan cengiran tak berdosa dan menggodanya membuat wajah Jihan menerah. Dani terus menggodanya sampai Jihan tertawa.
"Oke oke duduk deh kak" ujar Jihan.
"Yakin" tanya Dani.
"Sebelum gue berubah pikiran, oh ya mau di maafin cepet gak" tanya Jihan dengan seringai menakutkan.
"Apa" tanya Dani was was.
"Kak Dani tolong urusin Klara sampai Klara bener bener menyerah" ucap Jihan lirih.
"Lo serius" tanya Dani.
"Hm sudah terlalu jauh dia melangkah" ucap Jihan.
"Oke deal" ujar Dani mengulurkan tangannya di sambut dengan cepat oleh Jihan.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys...
__ADS_1
Tau makin ke sini makin banyak drama bahkan mqkin gak masuk akal tapi semoga kalian terhibur ya.....