Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 135


__ADS_3

"Udah udah sekarang makan kita lanjut obrolannya nanti" ujar papa Seno.


"Sayang" ujar Dwi menyodorkan makanan kepada Jihan dengan sedikit memaksa membuat Jihan membuka mulutnya.


Bergantian Jihan menyuapi Dwi sampai makanan mereka habis. Saat selesai Dwi mengajak Jihan pergi ke taman belakang di ayunan.


"Sayang jujurlah sekarang siapa yang kamu cintai" ujar Dwi membuat Jihan menatapnya namun dengan cepat mengalihkan pandangannya.


"Jihan gak bisa jawab sekarang terlalu banyak beban " ujar Jihan.


"Kamu bisa berbagi dengan mas" ujar Dwi.


"Please bantu Jihan, buat mama menyayangi Jihan walau sehari saja" ujar Jihan dengan nada sedih.


"Kamu tau sayang, andai kamu menjawab kamu mencintai orang lain mas bakal jadi orang paling jahat di dunia mas bakal singkirin orang yang kamu cintai tidak peduli jika kamu membenciku" ujar Dwi sembari menyandarkan kepalanya di pundak Jihan.


"Jadi kamu akan membunuhnya" tanya Jihan.


"Menyingkirkan bukan berarti membunuh" ucap Dwi.


"Kalau membunuhnya masalah gak akan terjadi lagi kan" ujar Jihan.


"Iya tapi mas masih memilih saat menghabisi orang" ujar Dwi.


"Lalu kalau Jihan berselingkuh dan menjadikanmu hanya mesin ATM apa yang akan kamu lakukan " tanyq Jihan.


"Mas gak suka di hianati, kalaupun mas bisa memaafkan kepercayaan yang mas kasih gak sebanyak dulu" ujar Dwi.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika tidak bisa memaafkan" tanya Jihan.


"Kalau kamu bisa buat saya sakit saat mencintaimu maka mas membuat kamu rindu tanpa bertemu" ujar Dwi.


"Lebih parah dong" ujar Jihan.


Dwi langsung berdiri tegak di depan Jihan membuat Jihan bingung. Namun tiba tiba Dwi berlutut tepat di depan Jihan.


"Ke kenapa" tanya Jihan gugup.


"Salah tingkah ya" ledek Dwi membuat Jihan manyun.


"Jihan Ayundia maukah kamu menjadi pacarku" ujar Dwi menggenggam tangan Jihan.


"Dwi Putra Suseno maaf saya gak bisa" ujar Jihan karena menganggap Dwi main main.


"Saya serius maukah mau menjadi pacarku sebelum ke hubungan lebih karena saya akan memberikan kamu waktu untuk menerima saya" ujar Dwi.


"Serius ternyata, tuan Dwi Putra maaf saya tidak bisa menerima kamu jadi pacar saya karena terlalu halal untuk itu" ujar Jihan tersenyum.


"Oke saya ulangi Nona Jihan Ayundia maukah kamu jadi tunangan saya" ujar Dwi


"Kok malah ngelunjak" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Gini ya rasanya di lamar seseorang yang kita suka berdetak penuh bahagia" ujar Jihan dalam hati.


"Ini udah boleh duduk belum sakit nih kaki" ujar Dwi.


"Hahaha gak boleh gitu aja terus" ujar Jihan


"Capek dong sayang" ujar Dwi.


"Gak peduli siapa suruh gitu" ujar Jihan membuat Dwi pasrah.


"Bentar deh mas, tunggu tadi gue liat make up dimana ya" ujar Jihan mencari cari sekeliling.


"Nah itu" ujar Jihan berjalan ke arah kotak make up yang ada di ruang tengah.


"Mau kamu apain itu make up Putri" tanya Dwi.


"Diem kamu, kali ini saya yang akan buat sesuka hati" ujar Jihan membuat Dwi pasrah


Jihan memoles make up yang ada dan mengaplikasikannya di wajah Dwi membuat Dwi pasrah saja.


"Mau kamu apain si" ujar Dwi mulai kesal


"Kesal lo gan" ledek Jihan dengan terus.


"Gan gan siapa di buat apa si" ucap Dwi mulai ketus.


"Bentar, udah perfec" ujar Jihan tertawa.


Jihan berlari ke ruang tengah dimana semua orang berkumpul, Dwi merasa ada yang tidak beres membuat Dwi mengejarnya.


"Wah siapa nih" ledek Mama Sri.


"Anak baru mamah tadi nemu di belakang" ujar Jihan tertawa.


"Eh Put cari make up di ayunan" ujar Jihan saat melihat Putri mencari cari sesuatu.


"Kenapa ada di sana" tanya Putri.


"Liat abang lo" ujar Jihan masih menghindari Dwi.


"eh stop stop ini beneran Abang gue ya Tuhan Abang" ujar Putri menahan tawa.


"Apa yang kamu lakukan" ujar Dwi.


"Gak lakuin apa apa kok" ujar Jihan.


"Ji mana Dwi" tanya Para papa yang baru bergabung.


"Tuh" ujar Jihan bersembunyi di balik Mama Anggun.


"Kena kamu" ujar Dwi langsung memeluk Jihan dari belakang.


"Mamah" ujar Jihan sembari tertawa tak tertahan karena Dwi menggelitikinya sembari membebaskan diri.


"Wi perfec" ujar Jovan.

__ADS_1


"Kenapa si" ujar Dwi sembari mengejar Jihan yang terbebas.


Karena terlalu ramai orang jadi Jihan memilih pergi ke ruang tamu dia berlari di antara sofa sampai Dwi berhasil menariknya dan membuat Jihan jatuh di atas sofa


"Cepet hapus gak" ujar Jihan menggelitiki Jihan sampai Jihan tiduran.


"Gak mau ganteng tau" ujar Jihan membuat Dwi semakin mengelitikinya.


"Gak percaya" ujar Dwi mendekatkan wajahnya dengan mengunci tangan dan kaki Jihan di sofa.


"Gak percaya ya udah, lepasin dong" ujar Jihan masih tertawa.


"Hapus dong" ujar Dwi.


"Gimana hapusnya tangannya di kunci" ujar Jihan.


"Kalau di lepasin bakal pergi" ujar Dwi semakin mendekatkan tubuhnya.


Deru nafas mereka bisa mereka rasakan satu sama lain. Sampai Jihan sadar dan gugup karena tubuh Dwi sudah sangat dekat dengan tubuhnya.


"Kalian ngapain, gak berniat main di sini kan" ujar Mama Anggun membuat Dwi melepaskan tangan Jihan dan berdiri tegak


"Gak kok mah itu" ujar Dwi gugup.


"Itu itu apa tau kalian halal tapi jangan di sini juga" ujar Mama Anggun.


"Nih Jihan coret coret wajah Dwi" ujar Dwi membuat Mama Anggun berfikir.


"Mana yang di coret " ujar Mama Anggun membuat Dwi menatap Jihan.


"Makanya di bilang perfec gak percaya " ujar Jihan.


"Bentar mama ambil kaca" ujar Mama Anggun.


"Gak perlu mah, kalau di sini juga ada cermin yang sangat indah" ujar Dwi.


"Mana" tanya Jihan


"Mata kamu" ucap Dwi.


"Ihh gombal" ujar Jihan memukul lengan Dwi dengan manja membuat Dwi gemas dan memeluknya.


"Hadeh kalau lagi bucin susah ya" ujar Mama Anggun pergi dengan senyuman di wajahnya.


"Bentar bentar" ujar Jihan mengambil ponselnya.


"Yang Chese" ujar Jihan saat membuka kameranya.


"Yang" ujar Dwi mengulang.


"Em, eh bukan maksudnya mas iya mas" ujar Jihan gugup.


"Serah deh" ujar Dwi namun senyumannya tak hilang.


"Tuh kan gak ada coretan" ujar Jihan memperlihatkan foto selfinya dengan Dwi.


"Iya, mas kira kamu coret coret wajah mas" ujar Dwi mencium pipi Jihan.


nan geudaeppunieyo


gudaedwie na isseulgeyo


hangeoruem Dwieseyo


Nunmuri geulsseongyeoyo


Gudaen naemaeum moreujyo


nunmuri geulsseongyeoyo


geudael bomyeon maeyumi apeuneyo


Homjahaneun sarangeun


Eonjenga dasi doragaya hal


Geugeseul hollo georeogagessjyo


Geurion naega seulpeayo


moreonchok haneun geongayo


geudae gyeote issneunnal


Himkkeot sorichyeo bulleobwado


maeumui sorinikka


Eonjenga dasi doragaya hal


Geugeseul hollo georeogagessjyo


Geurion naega seulpeayo


Eonjenga dasi doragaya hal


Geugeseul hollo georeogagessjyo


Ireon naega apayo


.


.


.


.

__ADS_1


seulpeun maeumi deureoyo


naneun wae andoeneunji


sarangiran gakkapgodo meoneyo


geudaeui maeumiran


"Kamu nyanyiin lagu cewek bagus banget" ujar Jihan saat Dwi selesai menyanyikan lagunya.


"Sayang ke sana yuk " ujar Dwi di angguki Jihan


"Udah selesai Wi" ledek Mama Anggun.


"Udah mah" ujar Dwi tersenyum.


"Ji diem aja" ujar tuan Bramasta.


"Iya om sakit gigi nyambung ke hati terus ke otak" ujar Jihan terhenti.


"Terus ke darah terus gak bisa keluar terus pingsan dan sadar". ujar tuan Bramasta yang hafal kebiasaan Jihan.


"Om masih inget aja" ujar Jihan.


"Ji katanya Fero buat masalah ya maafin dia ya, maafin dia ya Wi" ujar Tuan Bramasta


"Gak papa om, namanya juga pernikahan gak di harapkan jadi kita bakal mencari jalan biar bisa keluar dari perjodohan" ujar Dwi.


"Put minggir lo" ujar Dwi menyingkirkan Putri yang asik rebahan di sofa.


"Apaan si lo Kak" ujar Putri namun menurut pergi dari sofa.


"Sayang duduk gih" ujar Dwi menunjuk sofa yang kosong.


"Hm ternyata mau buat duduk kakak ipar, kalau cuma duduk kan bisa di sini kak" ujar Putri protes.


"Siapa bilang mau duduk" ujar Dwi merebahkan tubuhnya di pangkuan Jihan.


"Mah Jihan minta maaf tadi Jihan gak beneran gomong gitu Jihan cuma marah sama mama tapi gak tau harus gimana" ujar Jihan


"Iya gak papa sayang mama juga minta maaf mama sadar kok mama udah buat kamu menderita selama ini" ujar Mama Anggun.


"Sekarang kamu boleh minta apa aja sama mama dan permintaan mama hanya satu berbahagialah dimanapun kamu berada" ujar Mama.


"Makasih mah, permintaan Jihan kali ini cuma mama perhatiin Abang sama Kakak cuma itu" ujar Jihan.


"Lalu bagaimana. dengan kamu" tanya Mama.


"Jihan sudah ada yang merhatiin kok mah, Jihan juga udah ada yang menjaga dan menyayangi Jihan" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum karena Jihan juga mengelus elus rambut Dwi yang ada di pangkuannya.


"Baiklah mama akan mencobanya, kamu bahagialah dan jaga diri kalau ada sesuatu ceritalah dengan suami kamu berbagilah segala hal jangan ikuti jejak mama" ujar Mama.


"Ya mah" ujar Jihan.


Keadaan kembali ceria saat Fero tiba tiba datang dengan duduk di samping mamanya dan bergelanyut manja.


"Kamu gak malu" ujar Mama Fero.


"Malu kenapa, sudah lama Fero gak bisa gini sama mama di ambil Jihan" ujar Fero.


"Berasa berdosa gue" ujar Jihan.


"Kak sebenarnya lo sama Kakak ipar tuh hubungannya gimana si" ujar Putri.


"Hubungan kita baik baik aja" ujar Dwi.


"Kakak ipar yang jawab" ujar Putri.


"Hubungan kita gimana ya kadang gue benci hubungan ini kadang juga bisa nerima dia juga tadi lamar gue" ujar Jihan membuat Dwi mendapat sorakan dari semua orang.


"Yang iz kenapa bilang si" ujar Dwi membenamkan wajahnya di perut Jihan.


"Kenapa, kabar gembira kan" ujar Jihan jutek.


"Kakak ipar gak tau keadaan ya" ujar Putri


"Hehe gue kira tadi main main" ujar Jihan.


"Terus gimana sama jantung lo kak berdebar gak" ujqr Putri.


"Em kalau gak berdebar mati dong gue" ujar Jihan.


"Kenapa si lo gak pernah serius" ujar Putri.


"Ya gue serius gue tolak" ujar Jihan.


"Wah wah bener bener lo mau cari yang gimana lagi perfec tau Abang gue" ujar Putri.


"Ye kenapa maksa, dia aja gak maksa" ujar Jihan.


"Yaya serah lo" ujar Putri tiba tiba Fero berjalan ke arah Jihan dan berlutut di depan Jihan.


"Lo kenapa Ta" ujar Jihan gugup membuat Dwi menatap Jihan dan Jihan hanya mengangkat ke dua bahunya.


"Ay kalau lo gak bahagia lo bisa ke gue gue bakal terima lo apapun keadaan lo" ujar Fero membuat semua orang serius mendengar jawban Jihan.


"Maaf tuan Fero Bramasta makasih udah buat Jihan nyaman selama ini udah jagain Jihan selama ini tapi maaf karena takdir kamu hany menjga jodoh orang lain dan untuk bahagia atau gak nya gue tergantung pada kemauan gue giman cara menjalani hubungan baru gue, gue harap lo juga bisa terima Putri di hidup lo perlahan memang sulit menerima orang baru tapi mungkin tuhan lebih baik karena mereka hadir buat kita merasa kebahagiaan yang sebenarnya jadi maaf sekali lagi dan terima kasih" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


Bukannya pergi Fero justru jongkok sejajar dengan Jihan dan mencium kening Jihan membuat Jihan membulatkan matanya sedangkan Dwi langsung duduk menatap tak percaya.


"Fero" teriak Dwi namun Fero tidak mengindahkannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys...


__ADS_2