
"Hati hatilah" ujar Diw saat sampai di depan mobil Jihan.
"Oke, jangan lupa tidur" ucap Jihan di balas senyuman Dwi.
Dwi menaruh barang bawaan Jihan di mobil itu namun saat Jihan akan masuk mobil Dwi menahannya dan menariknya.
Dwi menarik tengkuk Jihan dan mencium bibir Jihan dengan lembut. Jihan membalas perlakuan Dwi tanpa memikirkan keluarga yang lain yang sedang menontonnya.
"Woi" ujar Dani.
Dwi dan Jihan sadar dengan perlakuannya lalu menyudahinya. Jihan langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Dwi sedangkan Dwi tertawa tanpa dosa.
"Sorry Bang" ujar Dwi.
"Dasar, inget kita nih gak ada lawan" ucap Jovan.
"Yaya" ujar Dwi.
"Bentar, nih mas cuma bawa uang cas segini" ucap Dwi mengambil sejumlah uang di dompetnya.
"Buat apa" tanya Jihan.
"Kamu adalah kewajiban terimalah tapi cuma segini" ujar Dwi.
"Kan udah di kasih kartu" ucap Jihan.
"Iya tapi gak pernah di pakai, lagian mas tau di sana gak ada mesin ATM" ucap Dwi.
"Hehe , ya Jihan terima ya" ujar Jihan mengambil uang di tangan Dwi.
"Hati hati oke" ucap Dwi mencium kening Jihan hanya di sambut senyuman manis Jihan.
Jihan menunduk dengan wajah bersemu merah. Jihan langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya pelan. Saat sudah jauh dari rumah Jihan langsung tancap gas.
Sedangkan di rumah Jihan semua orang masih menatap Dwi membuat Dwi salah tingkah.
"Hehe" ujar Dwi kikuk.
"Gimana" tanya Papa Prasaja.
"Seperti yang papa lihat, semua itu bukan setingan" ucap Dwi.
"Syukurlah, jadi lebih semangat keinginan punya cucu" ucap mama Sri.
"Bener jeng, tapi liat tempat dong" ledek mama Anggun.
"Maklum lagi bucin tante" ucap Putri.
"Eh Jihan pergi terus gimana sama pemotretannya" ucap Mama Anggun.
"Emang hari ini mah" tanya Dwi.
"Iya, temennya minta hari ini" ucap Mama Anggun.
"Coba aja telfon pasti belum jauh" ucap Dwi.
"Oke " ucap mama Anggun menghubungi Jihan dan mengeraskan suaranya.
"Hallo mah" ucap Jihan lembut.
"Kamu lupa hari ini pemotretan" tanya Mama.
"He, lupa mah sorry, tapi Jihan gak bisa balik udah jauh soalnya" ucap Jihan.
"Udah keluar kota" tanya Mama.
"Hampir mah paling lima menit lagi" ucap Jihan.
"Kamu berkendara ngebut ya" ujar Dwi.
"Mamah" ucap Jihan.
"Sorry" ucap mama Jihan yang tau maksud anaknya itu.
"Gak kena macet" ucap Jihan.
"Ya tapi kamu keluar belum sampai tiga puluh menit loh" ucap Dwi.
"Yaya" ujar Jihan.
"Kalau kamu pulang semua mobil gak ada yang boleh kamu bawa" ucap Dwi.
"Kok gitu" ucap jihan.
"Kamu pergi harus pake supir" ucap Dwi.
"Oke gak boleh bawa mobil kan" ucap Jihan.
"Hm, hati hati mas mau berangkat" ucap Dwi.
"Ya, kamu berangkat bawa mobil sendiri apa sama kak Rey" tanya Jihan.
"Kenapa tanya Rey" ucap Dwi kurang suka.
"Kalau sama Rey kamu kan bisa tidur di jalan" ucap Jihan.
"Ya nih Rey baru sampai" ucap Dwi.
"Kalian gak kenal tempat dan waktu" ujar mama Anggun.
"Sorry maamah, udah ya mah love you " ucap Jihan.
__ADS_1
"Love you sayang" ucap Dwi.
"Hm" ujar Jihan mematikan ponselnya.
"Wi lo sadar gak kenapa Jihan mau aja gak pake mobil" ujar Dani.
"Kenapa kak" tanya Dwi.
"Karena dia gak di larang pake motor" ujar Jovan tertawa.
Dwi hanya bengong mendengar ucapan Dani dan Jovan ternyta berbicara dengan Jihan butuh pemikiran extra.
Di mobil Jihan senyum senyum setelah melajukan mobilnya. Hanya perlu waktu satu jam Jihan sampai di tujuan kedatangannya kali ini dia cukup serius.
"Bagaimana perkembangannya" tanya Jihan to the poin saat bertemu Cika.
"Lo gak mau istirahat dulu Ji" tanya Cika.
"Kedatangan saya kali ini gak bisaa lama jadi seriuslah" ucap Jihan kepada Cika hanya di angguki Cika.
"Sementara saya ke atas panggil semua yang akan bekerja saya tunggu" ujar Jihan serius.
Cika langsung menghubungi teman temannya yang berencana membuat produc makanan yang telah di janjikannya. Sedangkan Jihan pergi ke kamar tanpa beristirahat dia langsung kembali ke ruang tamu dan semua orang sudah menunggu.
"Sudah semua Cik" tanya Jihan tegas penuh wibawa.
"Sudah Ji" ujar Cika.
Jihan langsung duduk dan bertanya berbagai macam hal. Jihan sangat serius membuat semua teman temannya tegang.
"Jangan tegang, kalau ada ide lebih baik katakan" ujar Jihan.
"Oh ya buatlah proposal untuk membuat label produc makanan nanti, sepertinya perusahaan Putra bisa membantunya" ujar Jihan.
"Perusahaan Putra" tanya Joni.
"Iya di naungannya ada beberapa pemasaran produc jajan jadi kita coba ajukan dan jangan saya yang mengajukan berusahaalah sendiri saya hanya bisa membantu dari belakang" ucap Jihan.
"Kenapa gak kamu saja" tanya Cika.
"Kalau saya yang datang sudah di pastikan akan di terima kontraknya tapi saya tidak bisa pastikan kontrak itu bertahan lama" ucap Jihan.
"Lalu bagaimana" tanya Joni.
"Setelah saya pergi dari sini tuan muda Putra akan datang menggantikan saya ajukan saja saat dia datang" ujar Jihan.
"Bukannya tuan Putra suami kamu" tanya Niko.
"Karena itulah Jihan gak bisa bantu, bisnis bisnis keluarga keluarga uang uang dan dia juga sangat profesional tidak akan memandang kalau saya istrinya hanya akan melihat saya sebagaai partner bisnis" ucap Jihan.
"Jadi gak segampang itu jadi ahli bisnis ya" ucap Cika.
"Belajarlah, oh ya kedatangan saya kali ini akan membedakan pekerjaan dan bermain jadi berfikirlah" ucap Jihan.
"Buat Joni kamu bisa bawa mobil kan bisa pergi dengan saya" tanya Jihan.
"Boleh bos" ucap Joni.
"Come on" ujar Jihan langsung memakai sepatu dan mengambil tasnya pergi.
"Kalian buat proposal nanti saya lihat" ucap Jihan.
"Siap" ucap Semua orang.
Jihan membawa Joni pergi ke sebuah tempat yang sudah ada mobil pick up dan beberapa oramg berpakaian serba hitam.
Saat Jihan sampai mereka semua langsung menundukkan kepalanya tanda hormat membuat Joni menatapmya kagum.
"Kiriman tuan Kevin" tanya Jihan.
"Ya bos" ujar salah satunya
"Oke, Jon kamu bawa ini ke sana ya buat antar barang ke kota" ujar Jihan.
"Jadi beneran nih bos" tanya Joni.
"Iya, iventaris buat kamu kamu boleh memakainya untuk apapun asal kiriman berjalan" ujar Jihan tersenyum.
"Makasih bos" ujar Joni.
Jihan langsung menyuruh semua orang yang Kevin kirim untuk mengikutinya. Saat Jihan kembali dengan beberapa pemgawal membuat semua temannya diam tak bersuara.
"Kalian di kirim Kevin Fero atau mas Dwi" tanya Jihan.
"Saya tuan Fero kalau dia tuan Kevin" ujar nya.
"Oke apa yang Kevin inginkan", apa pesan Kevin" tanya Jihan.
"Tuan Kevin meminta anda agar cepat menyelesaikan pekerjannya di sini karena dia bilang kesulitan karena tidak ada Julio" ujarnya.
"Bagaiman kabar Julio" tanya Jihan sembari membaca beberapa berkas yang anak buah Kevin bawa.
"Oke, ini semua bisa kasih ke Kevin lagi tapi kalau yang dua itu biar saya saja yang melakukannya" ucap Jihan.
"Siap bos" ujarnya.
"Oh ya bilangin sama Kevin buat minta bantuan tuan muda Putra" ujar Jihan.
"Siap bos" ucapnya.
"akamu boleh pergi" ujar Jihan.
__ADS_1
"Pulang pake apa bos" tanyanya.
"Kalian cuma bawa mobil satu" tanya Jihan di angguki ke dua pengawalnya.
"Apa pesan Fero" tanya Jihan.
"Gak ada bos, cuma suruh jaga bos " ucap salah satunya.
"Oke" ujar Jihan tegas.
"Kalian mau pulang atau cuma satu" tanya Jihan.
"Saya harus menjga anda nona" ujar salah satunya.
"Oh oke, kamu boleh pulang bawa motor saya" ujar Jihan berjalan pergi.
"Ikut saya" ujar Jihan berbalik
"He maaf nona" ujarnya.
"Pilihlah" ujar Jihan membuka sebuah ruangan dengan beberapa motor.
"Bolehkah saya membawa motor sport itu" tanyanya.
"Boleh sekalian anterin ke tuan Putra itu motornya" ujar Jihan
"Maka saya tidak akan menyentuhnya" ujar nya.
"Bentar" ujar Jihan berjalan kembali ke tempat semua orang berkumpul di ikuti sang pengawal.
"Dengerin ya, saya hubungi tuan Putra dulu" ujar Jihan m
"Hallo, mas" ujar Jihan.
"Hallo sayang kenapa, kangen ya" ujar Dwi.
"Gak PD bener, nih orang yang Kevin kirim ke sini tp gak ada kendaraan boleh pake motor kamu" tanya Jihan.
"Yang mana" tanya Dwi.
"Sok banyak motor, kamu di sini kan motornya cuma satu yang sport hitam itu" ujar Jihan.
"Oh itu, ya bawa aja besok balapan" ujar Dwi.
"Taruhannya apa" tanya Jihan.
"Kenapa tertarik" tanya Dwi.
"Kalau taruhannya bagus Jihan ikut" ujar Jihan.
"Gak ada" ujar Dwi.
"Iz ,ya udah cuma tanya itu doang" ucap Jihan.
"Gak mau lama lama nih" tanya Dwi.
"Gak sibuk" ucap Jihan.
"Ya deh, selesaikan dengan cepat" ucap Dwi.
"Oke" ujar Jihan.
"Love you" ujar Dwi.
"Hm" ucap Jihan mengakhiri panggilannya.
"Sudah jelas" tanya Jihan.
"Sudah Nona, Nona muda boleh saya minta makan" tanyanya.
"Bilang domg dari tadi, Cika ibu kamu udah masak" ujar Jihan.
"Udah kok masak banyak" ujar Cika.
"Langsung makan aja kesana," ucap Jihan.
"Bukankah tidak sopan kalau saya yang duluan makan, anda utama Nona" ujarnya.
"Gini ya kamu bekerja untuk Kevin hormat dan patuhlah pada Kevin, ya walaupun Kevin bawahan saya tapi kamu tidak wajib menghormati saya kecuali bersama Kevin dan dalam jam kerja saya bilang kepada semua saya akan menjadi Nona Muda saat di rumah menjadi bos saat di kamtor dan saat perjalanan bisnis selain itu saya hanya seorang remaja yang menikah dini tidak ada yang spesial dan tugas kamu sudah selesai dengan saya sekarang" ucap Jihan.
"Maafkan saya Nona" ujarnya.
"Oke, sekarang saya bukan nonamu" ucap Jihan.
"Tapi ini di rumah Nona" ujar nya.
"Apa perlu kita ke halaman buat duel" ujar Jihan.
"Hehe maaf Ji" ucapnya.
"Good" ucap Jihan.
"Bye bro tugas gue selesai" ujarnya meladek pengawal kiriman Fero membuat Jihan tersenyum.
Semua kariawan Jihan tau posisi, ya walaupun Jihan menentang saat dia di perlakukan istimewa bahkan dia menyuruh semua kariawannya untuk memanggil nama saat sedang tidak bertugas.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya.....