Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 183 Masih suami


__ADS_3

"Saya merindukanmu" ucap Dwi berbisik di telinga Jihan membuat Jihan membatu.


"Itu yang ingin gue dengar" ujar Jihan dalam hati.


"Saya sangat merindukanmu" ujar Dwi mengulangi ucapannya.


Dwi langsung membalikkan badan Jihan dan menarik pinggang Jihan sampai tidak ada celah antara mereka berdua bahkan deru nafas mereka terdengar jelas.


"Apa kamu tidak merindukanku" tanya Dwi.


"Apa gue harus menjawab apa itu sebuah pertanyaan, sepertinya gue gak perlu menjawabnya" ujar Jihan mengalihkan pandangannya.


"Tatap gue" ujar Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dan **********.


Dwi bermain dengan rakus sedangkan Jihan dia tidak membalas bahkan dia terdiam.


"Masih sama" ucap Dwi tersenyum dan mengusap bibir Jihan dengan ibu jarinya.


"Dasar gak sopan" ujar Jihan langsung membalikkan badannya dengan wajah memerah.


"Kenapa tidak membalasnya" tanya Dwi memeluk Jihan lagi dari belakang.


"Bisa diem gak gue mau masak nih" ujar Jihan sembari memilah sayuran.


Dwi terus menggoda Jihan dia juga beberapa kali mengendus dan menyesap leher Jihan. Namun Jihan hanya diam dia hanya konsentrasi pada masakannya.


"Udah dong engap nih" ujar Jihan melepaskan tangan Dwi namun Dwi justru memgeratkannya.


"Lepasin" ujar Jihan.


"Gak mau" ucap Dwi.


"Kapan kelarnya dong" ujar Jihan.


"Kiss dulu" ujar Dwi.


"Ogah siapa lo" ujar Jihan.


"Eh dalam setatus kita masih sah suami istri ya inget itu" ucap Dwi.


"Ya yaya" ujar Jihan melanjutkan masaknya.


Jihan masak beberapa menu dengan bahan yang tersisa. Dia langsung menyiapkan bekal makan siang untuk ke dua anaknya dan juga bekalnya untuk dia bawa ke tokonya dengan Dwi yang terus menempel.


"Oke selesai, udah gue mau mandi" ucap Jihan.


"Ikut" ujar Dwi menggoda.


"Mandi mandi lo di watafel" ucap Jihan langsung menghempaskan tangan Dwi cepat lalu berlari.


"Ya elah Abang pake di kunci" ucap Jihan saat membuka pintu kamarnya.


"Stop jangan ribut ini beluum waktunya anak anak bangun" ucap Jihan pada Dwi.


Jihan duduk di atas sofa lalu membuka laptopnya dan mulai merampungkan designnya.


Jihan juga mengecek beberapa saham yang dia tanam di sebuah perusahaan termasuk perusahaan DJ COMPANY milik Dwi degan nama Jenifer dan Justine.


"Mom" ujar Justine.


"Hai boy, udah bangun ya" ucap Jihan.


"Ya mom udah mandi juga, Mommy belum mandi" tanya Justine.


"Belum sayang pintu kamar di kunci uncle" ujar Jihan.


"Mamdilah di kamar mandi Abang sebelum Jeje bangun" ucap Justine.


"Lalu Mommy harus berganti baju dengan baju milik Jeje" tanya Jihan.


"Ya sepertinya muat" ucap Justine.


"Muat tangannya doang, nanti aja kalau Abang udah bangun" ucap Jihan tersenyum


"Di ruang laundry gak ada Mom" tanya Justine.


"Iya kenapa gak kepikiran " ujar Jihan langsung pergi mencari baju dan ternyata ada.


Jihan langsung pergi ke kamar mandi anak anaknya dan bersiap. Saat keluar dari kamar Dwi menatapnya tanpa hemti pasalnya baju yang Jihan kenakan adalah hotpants dengan kaos overzise.


"Bang nanti kalau berangkat ini bekal buat Abang sama Jeje, Mommy gak bisa nganter mau belanja soalnya nanti siang di suruh tante Sandra buat iklanin baju barunya gak papa kan Bang" tanya Jihan.


"Gak papa Mom, lagian ada bis sekolah Mommy enjoy aja sama kerjanya" ujar Justine.


"Thanks boy" ucap Jihan.


"Abang masih punya uang" tanya Jihan.


"Ada yang Mommy kasih masih utuh" ujar Justine.


"Gak di pakai" tanya Jihan.


"Kalau pergi ke kantin banyak yang ngasih mom" ujar Justine.


"Karena apa, karena kasian sama kamu" tanya Jihan.


"Gak kebanyakan cewek yang ngasih buat Abang sama Jeje" ujar Justine.


"Hm, kamu tau maksud mereka boy" tanya Dwi.

__ADS_1


"Tau mereka menyukaiku karen handsome" ujar Justine percaya diri membuat Dwi tersenyum.


"Mom boleh gak si kalau Jenifer panggil Abang Justine" ujar Jenifer yang baru keluar dari kamarnya.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Banyak yang nyari Jenifer cuma mau deketin Abang" ucap Jenifer.


"Boleh tapi jangan sekarang mereka sudah tau jadi percumah, kalau kalian ke jenjang yang lebih tinggi baru boleh" ujar Jihan.


"Siap mom" ucap Jenifer.


Jihan tersenyum lalu pergi ke dapur untuk mengecek dan mencatat belanjaannya dengan rambut masih di lilit handuk. Hari mulai menjunjukkan siang anak anak Jihan bersiap untuk berangkat menggunakan bis sekolah.


"Kaamu gak anter mereka Wi" tanya Jovan.


"Mereka gak mau, suruh gue anterin Mommynya buat belanja" ucap Dwi.


"Mereka memang dewasa sebelum waktunya" ujar Jovan.


Ting.... Tong.....


"Biar gue aja yang buka" ujar Dwi.


"Siapa ya" ujar Dwi.


"Saya Reymond apa Jihan ada di dalam" ujar Reymond.


"Ada perlu apa" tanya Dwi dingin.


"Mengantar vitamin permintaan Jihan" ujar Reymond membuat Dwi mengizinkannya masuk.


"Siapa Wi" tanya Jovan.


"Tuh" ujar Dwi menunjuk Reymond.


"Duduk Dok" ujar Jovan.


"Terima kasih" ucap Reymond.


"Ji" panggil Jovan.


"Ya Bang" ucap Jihan langsung ke ruang tamu namun seketika wajahnya panik karena celana yng dia pakai terlalu pendek dia langsung menarik handuk yang melilit rambutnya dan mengikatnya ke pinggang membuat Dwi tersenyum.


"Hai Rey" ujar Jihan.


"Nih" ucap Reymond memberikan paper bag.


"Makasih ya, mau minum apa" ujar Jihan.


"Gak perlu duduklah" ujar Reymond namun Jihan tetap berdiri.


"Duduklah" ujar Dwi bangun dan mencoba mendudukkan Jihan namun Jihan menolak.


"Kalau gue duduk gak yakin handuk gue masih bisa nolong" ucap Jihan lirih membuat Dwi berfikir.


"Boleh" ujar Jihan berjalan duduk.


"Jangan pergilah" ujar Dwi membuat Jihn tertawa dan pergi ke dapur lagi untuk beberes.


"Apa yang dia bilang" tanya Jovan.


"Tau ah" ujar Dwi merengut.


Mereka bertiga hanya duduk diam tanpa ada yang memulai pembicaraan sedangkan Jihan masih terus beberes sampai ruang tamu pun dia bereskan namun dengan handuk yang masih melilit pingangnya.


"Kamu mau belanja Ji" tanya Jovan.


"Mau saya temenin" tanya Reymond.


"Tidak perlu gue bisa sendiri" ujar Jihan tegas.


"Saya temani" ujar Dwi lebih tegas.


"Nadanya ngajak ribut" ucap Jihan lalu memukul Dwi dengan kemoceng.


"Di kira gue debu" ucap Dwi melawan.


"Bukan tapi virus" ucap Jihan.


"Ya Virus cintamu" ledek Dwi mencolek dagu Jihan membuat Jihan mengejarnya.


"Mulai deh" ujar Jovan sedangkan Reymond menatap tanpa berkedip ke akraban Jihan dan Dwi.


"Udah" ujar Dwi menyerah sembari mengangkat tangannya.


"Gue juga capek" ucap Jihan berbalik namun Dwi justru memeluknya dari belakang.


"Lepasin" ujar Jihan memberontak.


"Gak mau" ucap Dwi.


"Kamu dari datang belum mandi kan, bau tau" ujar Jihan berusaha menghindar.


"Biarin, lagian saya gak bawa baju" ujar Dwi.


"Terus tas itu isinya apa bom atau amunisi lain" tanya Jihan yang sudah nyaman dalam pelukan Dwi dia tidak lagi memberontak.


"Coba liat aja" ujar Dwi.

__ADS_1


"Lepasin gue liat dulu, siapa tau uang bisa buat gue belanja" ujar Jihan.


"Liat aja tpi gak mau lepas" ujar Dwi.


Jihan berjalan dengan Dwi memeluknya dari belakang. Jihan membuka tas dan membulatkan matanya karena benar yang dia bawa dalam tasnya adalah uang dan hanya beberapa baju.


"Ambil aja" ujar Dwi.


"Nantilah mandi sana katanya mau nemenin belanja" ujar Jihan.


"Boleh" tanya Dwi.


"Ya" ujar Jihan membuat Dwi bahagia dia langsung mencium Jihan namun Jihan tidak marah Dwi langsung pergi ke kamar Jihan.


"Bawa tasnya ke kamar" ujar Dwi.


"Beneran mau bawa dia gak beres belanja lo" ujar Jovan.


"Biqr jadi kuli angkut" ucap Jihan tertawa dan pergi ke kamarnya dengan tas Dwi.


"Oh ya Rey berapa harga vitamin itu" ujar Jihan yang kembali keluar dari kamarnya.


"Gak perlu bayar udah pakai aja" ucap Reymond..


"Gak bisa gitu lah lo udah banyak bantu gue" ucap Jihan.


"Pergilah makan malam denganku" ujar Reymond.


"Maaf gue gak bisa " ucap Jihan menatap Jovan.


"Em maaf Dok, bukan gimana gimana ya dia selalu menolakmu tapi Dokter tau kan kalau dia masih seorang istri" ujar Jovan.


Jihan pergi ke dapur untuk membuat minum dan cemilan lalu dia bawakan ke ruang tamu.


"Oke, saya paham tapi bukankah sudah sangat lama dia tidak bertemu suaminya" tanya Reymond yang tau semuanya karena dia adalah dokter psikologis Jihan.


"Hm tapi saya masih ingin sendiri" ujar Jihan.


"Baiklah tidak masalah" ujar Reymond tersenyum.


"Lo mau belanja kok belum siap" ujar Jovan.


"Eh iya lupa" ucap Jihan langsung pergi ke kamarnya membuat Reymond menatapnya pasalnya ada laki laki di kamar itu.


Setelah sampai di kamarnya dia langsung membuka lilitan handuk di pinggangnya. Dia duduk di meja riasnya dan menata rambutnya, dia mengikat rambutnya tinggi membuat dia tampil rapi.


"Kamu mau pergi ke luar dengan pakaian itu" ujar Dwi.


"Iz, kapan selesai ngagetin aja" ujar Jihan berdiri menatp Dwi.


"Dari tadi" ujar Dwi dengan lilitan handuk di pinggang dan rambut basah membuat Jihan menelan salivanya sulit.


"Kenapa mau pegang" ujar Dwi mendekati Jihan membuat Jihan salah tingkah.


"Apaan si" ujar Jihan berbalik namun kalah cepat dengan Dwi yang sudah menarik pinggangnya.


"Lepasin" ujar Jihan.


"Siapa laki laki itu sepertinya sering kemari" tanya Dwi.


"Dia Dokter Rey yang nolomgin gue sejak gue menginjakkan kaki di sini" ucap Jihan.


"Kamu menyukainya" tanya Dwi.


"Ya dia baik kenapa harus membencinya" ujar Jihan.


"Kamu tau maksudku" ujar Dwi mengangkat tubuh Jihan dan duduk di meja riasnya.


"Kalau aja perasaan gue gak gue kasih sama lo kebanyakan mungkin gue udah nikah sama dia tapi perasaan gue udah abis sama lo sisanya gue kasih sama anak anak" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Jadi kamu menjaganya untukku" ucap Dwi berbinar.


"Hai sudahlah, keburu siang nih" ujar Jihan.


"Jawab dulu" ucap Dwi.


"Gak penting sekarang" ujar Jihan.


"Masih penting untukku" ucap Dwi.


"Buat lo buat gue gak" ujar Jihan turun lalu berjalan ke arah lemarinya dan mencari pakaian.


Dwi tersenyum lalu memakai pakaiannya tepat di belakang Jihan tanpa ragu. Jihan hanya diam dan tetao menatap lemarinya.


"Ji" ujar Dwi menarik Jihan keras membuat Jihan tidak seimbang dan jatuh di ranjang.


"Bisa gak si pelan pelan" ujar Jihan.


"Sakit" tanya Dwi khawatir.


"Gak juga si, untung di kasur" ucap Jihan.


Bukannya menolong Jihan Dwi ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur membuat Jihan ingin menangis karena teringat di masa lalu.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya guys.....


__ADS_2