
"Yang sebenarnya dia siapa si" tanya Clarissa.
"Gak penting" ucap Dwi.
"Kak Kevin kamu tau gak si rasanya pas lihat orang yang akan di perjuangkan dan di pertahankan malah berbuat di luar dugaan" ucap Jihan mencoba berdiri walau sulit.
"Gue tau rasa itu gue pernah ada di posisi lo dan melakukan hal yang sama kayak lo tapi lo tau semua ini malah buat gue makin gila sadar lo" ucap Kevin.
"Nano nano itu perasaan yang menggambarkan hati gue, di lain sisi gue seneng akhirnya ada alasan untuk meninggalkan tapi di lain sisi gue sedih se nggak berartinya gue di matanya dan tega teganya dia melakukan itu di depan mata gue tanpa merasa bersalah sama gue" ucap Jihan mendekati Dwi dengan jalan sempoyongan.
"Udahlah Ji biarkan dia kamu bisa melakukan lebih darinya, sekarang kita pulang" ucap Kevin.
"Kak Kevin tau kenapa Jihan lebih suka berdua sama kakak di banding dia, Kakak tuh beda kakak bisa menghargai dan lebih asik saat di ajak bicara kamu tuh lebih natural gak kayak dia sok baik padahal kamu kan tau kak kalau gue udah mengenal dia lebih lama dibanding dia mengenal gue" ucap Jihan memeluk Kevin.
"Putra lo kalah sama Kevin hahaha" ledek salah temannya membuat Dwi melayangkan tinjunya kepada Kevin.
"Hei lo apa apaan lo main pukul aja, seharusnya lo tuh mikir setelah kejadian ini apa yang akan terjadi selanjutnya dan kalau sampai lo berani pukul dia sekali lagi tanggung akibatnya" ucap Jihan keras.
"Vin yuk pulang" ucap Jihan mengambil tas yang berisi barang barangnya kemudian berjalan dengan menahan rasa berat di kepalanya sesekali hendak terjatuh sampai Kevin menggandeng tangannya.
"Ya udah gue antar" ucap Kevin lembut sembari menggandeng tangan Jihan menahannya agar Jihan tidak terjatuh.
"Selangkah lagi kamu keluar dari apartemen ini semua akan berakhir" ucap Dwi.
"Gue malah bersyukur kalau itu sampai terjadi gue gak perlu lagi susah payah menerima perlakuan lo yang mengoyak hati" ucap Jihan tersenyum.
"Wah lagi mabuk aja senyumnya manis banget" ujar teman Dwi.
"Iya bener lo, Wi setelah ini gimana boleh gak buat kita" ujar temen temen Dwi.
"Kalau kalian bisa mengambilnya dari Kevin" ucap Dwi tegas.
Jihan menangis mendengar ucapan Dwi yang dengan gampangnya memberikannya kepada teman temannya. Kevin yang melihat itu lalu menggendong Jihan keluar dari apartemen Dwi dengan cepat dan mengantarnya ke apartemen Jihan.
Jihan menangis sejadi jadinya di dalam apartemennya Kevin yang melihat itu hanya bisa memandangnya dari jauh karena Jihan menolak Kevin untuk menyentuhnya.
"Udahlah Ji jangan tangisi dia" ucap Kevin.
"Gue gak nangis karena harus pisah dari dia tapi kenapa dia begitu santainya main di depan gue, dia menodai mata gue hua..." ucap Jihan sembari menangis.
"Cewek aneh biasanya nangis mau pisah malah nangis soal gak jelas" Cibir Kevin.
"Vin gue masih sadar dan gue inget omongan lo ngata ngatain gue" ucap Jihan.
"Ye lagi nangis aja sadar lo" ucap Kevin.
"Gue gak berniat gila karena dia, gue cuma mau tegar ngadepin dia tadi" ucap Jihan.
"Bukannya dengan lo minum banyak malah lo bisa gak terkontrol" ucap Kevin.
"Gue cuma minum tiga gelas kali, tapi tau gak pas dia lempar gelas yang gue pagang si Clarissa sampai melotot hahaha" ucap Jihan tertawa.
"Lo nangis lo ketawa gak jelas tau, karena itu pertama kalinya Dwi melarang seseorang untuk minum biasanya dia yang akan menuangkan minuman untuk para gadis yang dia mau, lo bilang tiga gelas habisnya satu botol" ucap Kevin.
__ADS_1
"Vin apa seburuk itukah gue sampai dia dengan mudahnya mengizinkan teman temannya minta gue darinya" ujar Jihan meneteskan air matanya.
"Sesakit itukah hati lo Ji" tanya Kevin.
"Ya gue sakit, selama ini gak ada yang pernah berbuat se kejam itu ke gue hue.... Abang lo jahat pilih dia bang hue..." ujar Jihan.
"Udah jangan pikirin dia, kayak gak kenal dia aja" ucap Kevin.
"Serius, tapi kenapa gue malah gelinya inget wajahnya yang menahan marah gue sebenarnya tadi mau ketawa tau" ucap Jihan.
"Jadi lo manfaatin gue" ucap Kevin.
"Sedikit doang, tapi emang gue gak bakal bisa pulang sendiri pusing gue walaupun masih sadar" ucap Jihan.
"Bilang sadar tapi ngomong ngawur" cibir Kevin.
"Lo dari tadi ngatain gue mulu, lo tau gak Vin gue merasa wanita paling gak beruntung di dunia ini apa semua yang terjadi sebelum ini bukan apa apa dan lo tau Vin ada sesuatu yang mengganjal tentang pernikahan gue sendiri" ucap Jihan.
"Maksudnya Ji" tanya Kevin.
"Gue gak tau gue udah nikah beneran pa belum sama si laki laki gila itu, soalnya gue cuma tau tanda tangan surat gak jelas dan di saat itu juga Dwi tersenyum padahal dia tidak menyetujui pernikahan ini dan lagi dia gak pernah kasih gue lihat surat nikahnya kan aneh lo mau bantu gak Vin gue takut sesuatu terjadi" ujar Jihan.
"Maksud lo, lo suruh gue buat selidiki terkait pernikahan lo" ucap Kevin.
"Ya, gue bakal bayar berapa pun permintaan lo asal lo bisa selesaikan itu dengan waktu cepat" ucap Jihan.
"Tenang aja soal uang bisa atur saat selesai nanti, gue cuma mau bantu lo buat selidiki ini semua apa lo bisa kasih petunjuk yang jelas" tanya Kevin.
"Ji kamu sadar gak si sama yang lo katakan" ucap Kevin yang melihat Jihan sebentar tersenyum dan sebentar menangis.
"Gue sadar Vin, cuma kepala gue sakit" ucap Jihan.
"Ya udah gue pulang dulu lo baik baik di sini" ucap Kevin.
"Biasanya gue yang usir orang malah lo yang minta pulang" cibir Jihan.
"Hehe gak enak soalnya udah malem berduaan apalagi lo kan masih istri orang, gue duluan ya cepet sembuh" ucap Kevin.
"Makasih, oh ya besok pagi gue pagi gue pulang jangan kesini" ucap Jihan.
"Oke hati hati, lo pakai mobil yang di pakai gue aja besok kebetulan gue mau ambil mobil lo yang di apartemen Putra" ucap Kevin.
"Oh oke, nih kunci mobilnya" ucap Jihan memberikan kunci mobil kepada Kevin.
"Oke gue duluan inget jangan bertindak di luar kendali atau lo yang nyesel nanti" ucap Kevin sebelum menutup pintu.
"Ya ya bawel pergi lo" ujar Jihan mendorong pintu dengan susah payah karena pengaruh minuman.
"Tuhan kenapa kau permainkan takdir dengan begitu rumit, sebenarnya apa yang udah gue lakukan di masa dulu sampai kau mengujiku dengan begitu berat hue" gumam Jihan sembari menangis sejadi jadinya setelah kepergian Kevin.
Jihan terus menangis sampai dia tertidur dengan posisi duduk di dekat jendela. Sampai sang surya mulai meninggi menyinari Jihan membuat Jihan terpaksa membuka matanya.
"Huam... udah pagi ternyata" ujar Jihan.
__ADS_1
"Aduh lupa gue harus pulang ada ujian hari ini" ucap Jihan.
Jihan lalu berlari ke kamar untuk mandi dan bersiap untuk pulang. Saat Jihan selesai dan berjalan ke dapur Jihan melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk di meja makan.
"Kapan lo kesini" tanya Jihan.
"Tadi nih gue bawa sarapan gue baru inget lo harus pulang hari ini gue takut lo gak sempet sarapan gue beliin deh" ujar Kevin.
"Oh makasih, tapi gue buru buru nih" ucap Jihan.
"Makan dulu, lagian emang lo udah sehat beneran " tanya Kevin.
"Udah kok tenang aja, ini gue makan sambil jalan ya pas banget kamu kasih sandwich jadi gampang makannya" ujar Jihan.
"Iya, tapi gak seenak buatan lo" ucap Kevin.
"Gak apa apa, oh ya ini minuman kamu ya gue minum ya" ujar Jihan tersenyum.
"Kopi gue" ujar Kevin.
"Hehe, sorry soalnya kalau abis minum minuman se**n itu kalau minum teh manis suka sakit perutnya" ujar Jihan.
"Ya deh serah lo, sekarang udah jam enam nih yakin mau pulang" tanya Kevin.
"Ya lah, gue harus selesaikan sekolah yang udah gue mulai" ujar Jihn.
"Ya udah deh iya, cepetan ke sini lagi pusing gue kalau gak ada lo atau Fero" ucap Kevin.
"Iya, ya udah gue pergi bye" ucap Jihan sembari membawa sandwich yang Kevin buat.
Kevin menggeleng melihat tingkah Jihan, Kevin melihat kepergian Jihan dari jendela besar apartemen Jihan. Jihan melajukan mobil dengan cepat apalagi dengan dukungan mobil sport miliknya yang tadi malam Kevin bawa.
Jihan memakan sarapannya sembari mengendarai mobilnya saat di jalan yang lumayan sepi. Jihan jalan dengan kecepatan tinggi jadi dia sampai di desa setelah satu jam padahal dengan kecepatan biasa mencapai tiga jam. Jihan memperlambat mobilnya saat masuk desa karena memang banyak orang yang berjalan kaki dan sempitnya jalan.
"Sampai juga akhirnya" ujar Jihan.
Jihan memarkirkan mobilnya di depan rumah Fero yang lumayan besar. Fero keluar saat mendengar deru mobil yang tidak asing baginya. Fero tersenyum saat melihat siapa yang datang.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like Vote dan dukungannya ya...
Ada petunjuk jawaban kan di episode ini makanya nantikan terus.
__ADS_1