Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Racun


__ADS_3

"Ke pernikahan Fero ya kali pernikahan gue" ucap Jihan.


"Itu oke deh, gue kira ke pernikahan lo" ucap Cika.


"Nikah sekali aja jangan sering sering kasian pencetak bukunya" ucap Jihan.


"Lo gak kasian sama gue" ucap Cika.


"Kenapa" tanya Jihan.


"Kalo lo sering nikah banyak duit yang harus keluar dari kantong gue" ucap Cika.


"Kenapa gitu" tanya Jihan.


"Pertanyaan lo gak mutu kenapa kenapa mulu" ucap Jihan.


"Jahat lo ya" ucap Jihan membuat Cika langsung berlari.


Setelah kepergian Cika Jihan langsung pamit untuk membersihkan diri di ikuti Dwi yang mengekor di belakang Jihan.


"besan kenapa belum sampai ya" ujar Papa Dwi.


"Lagi menuju ke sini om, kena macet om tau lah jam segini belum keluar dari kota kan macet banget" ucap Jovan.


"Iya bener banget gak pakai helly kopter aja kayak Dwi kemarin" ucap papa Dwi.


"Emang Dwi ke sini pakai helly kopter om" tanya Dani.


"Iya gak bisa tahan rindunya ke Jihan seharusnya kan dia datang sekaramg" ucap Papa Dwi.


"Haha, lagian kalau mama papa pakai helly kopter turunnya suruh pakai tangga kayak tentara kali om kan lapangan udah ada pelaminannya" ucap Dani.


"Haha iya juga, papah tanya aneh aneh ya udah kalian istirahatlah nanti makan malam bersama" ucap Mama Sri.


"Kita permisi tante" ucap Jovan sembari memboyong temen temannya ke kamarnya.


Saat sampai di kamarnya semua sahabat Jovan langsung menghamburkan diri ke kasur Jovan ada juga yang lngsung bermain PS di kamar Jovan sedangkan Jovan langsung mandi.


Di lain ruangan Jihan sedang membaringkan badan setelah membersihkan diri. Namun saat matanya mulai terpejam seseorang mengetuk pintu kamarnya membuat Jihan kembali membuka matanya dan bangun dengan lesu.


"Udah biar mas aja" ucap Dwi jalan sembari mengelus pipi Jihan.


"Kenapa mah" tanya Dwi setelah membuka pintu ternyata mamanya yang mengetuk pintu.


"Mam mau kasih ini" ucap Mama Sri menenteng beberapa paperbag.


"Buat Jihan" tanya Dwi.


"Iya Jihannya mana" tanya Mama.


"Ada di dalam sini biar Dwi aja yang kasih mah" ucap Dwi.


"Gak mama mau kasih sendiri mau lihat pas apa gak" ucap Mam sri menerobos masuk.


"Mah" kejar Dwi.


"Kenapa si, Ji ini buat kamu di coba ya muat apa gak" ujar Mama Sri.


"Eh iya mah" ucap Jihan dingin karena memang dirinya butuh istirahat.


Walaupun dia tidak ingin tapi dia tetap mencoba sepatu yang mertuanya kasih tersebut. Jihan mencoba tersenyum walaupun terlihat jelas senyumnya terpaksa.


"Muat kok mah" ucap Jihan.


"Bangun dong sayang" ucap Mama Sri.


"Iya" ucap Jihan dengan cepat Dwi mengulurkan tangannya membantu Jihan.


"Pas sekarang kamu coba bajunya" ucap Mama membuat Jihan menarik nafas panjang.


Dwi yang menyadari bahwa Jihan sangat ingin istirahat kemudian menuntun mamahnya keluar kamar. Melihat Dwi sudah mengajak mertuanya pergi Jihan langsung kembali merebahkan diri lagi dan tak butuh waktu lama Jihan langsung terlelap.


"Kenapa si Wi" ucap Mama.

__ADS_1


"Mah besok aja biarin Jihan istirahat dari kemarin dia gak tidur mah banyak masalah yang menghadang mah" ucap Dwi.


"Cuma sebentar wi" ucap mama ngeyel.


"Mah please" ucap Dwi.


"Tapi mama penasaran Wi" ucap Mama.


"Tapi mah, besok adalah hari bersejarah di keluarga kita Jihan kelelahan mah urus semua sendiri Dwi gak mau di saat beaok Jihan malah jatuh karena kelelahan" membuat nama Sri ahirnya mundur dan menuruti ucapan sang anak.


Setelah bersusah payah membujuk mamanya untuk tidak mengganggu Jihan Dwi langsung masuk kamar tak lupa dia mengunci pintu karena dia tidak mau Jihan kembali terusik. Saat melihat Jihan Dwi tersenyum pasalnya Jihan sudah tertidur pulas dengan sepatu dari mamanya yang masih dia pakai.


"Udah tidur aja" ucap Dwi.


"Capek banget ya" ucap Dwi sembari melepas sepatu Jihan dan membenarkan posisi Jihan.


Saat Dwi membenarkan posisi Jihan tak di sangka kalau kancing baju yang Jihan pakai terlepas beberapa membuat sesuatu terlihat. Dwi menelan ludahnya susah namun dengan cepat dia menutup dada Jihan dengan selimut kemudian dia pergi untuk membersihkan diri.


"Bisa gila gue" ucap Dwi setelah selesai mandi.


Dwi langsung membereskan paperbag yang mamahnya bawa, ternyata salah satu di antara paper bag tersebut sebuah gaun yang sangat cantik membuat Dwi penasaran bagaimana saat Jihan memakainya.


Setelah itu Dwi pun ikut merebahkan diri di samping Jihan dengan menatap Jihan dan menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Jihan.


"Cantik, Ji gue gak akan biarin lo pergi lagi dari gue kalaupun gue harus menikahi lo besok" ucap Dwi menatap Jihan.


"Pernikahan yang ingin lo rasakan walaupun sederhana tapi penuh makna lo harus percaya sama gue Ji" ucap Dwi lagi kemudian menyusul Jihan ke alam mimpi.


Di lain tempat Fero sedang menunggu sahabat sahabatnya datang ke rumahnya. Saat yang di tunggu tiba Fero langsung memeluk semua sahabatnya yang lebih menyenangkan Fero mendapat hadiah sebuah mobil sport terbaru dari teman temannya maklum lah anak para sultan.


"Gila lo ya, gue kira lo bakal nikah sama Jihan gak taunya anak sultan yang lo nikahin" ucap Viki salah seorang teman Fero.


"Takdir berkata lain" jawab Fero.


"Eh lo bilang anak sultan, lo gak tau apa kalau ternyata Jihan juga sultan" ucap Beni teman yang lain.


"Masa si lo gak bohong kan" tanya Viki.


"Gak lah dia pemilik AYASTA GROUP" ucap Dika.


"Ya" ucap Fero.


"Lo kenapa lepasin dia Mbing, " ucap Viki.


"Gak jodoh" ucap Beni.


"Udah lanjut di rumah yuk masuk" ucap Fero.


Setelah semua kawannya masuk Fero memberikan waktu untuk teman temannya beristirahat sedangkan Fero sibuk dengan acara malam ini.


"Hei kalian semua gak ada yang bawa minuman kan" tanya Fero.


"Ya gak lah, kita juga gak mu malu maluin lo kali" ucap Beni.


"Maksudnya" tanya Fero.


"Maksudnya kita juga gak mau lo salah sebut pas ijab kabul kita paham kali kalau lo udah minum bisa gak bangun dua hari" ucap Viki.


"Tapi yang gue harapkan gue salah sebut guys" ucap Fero.


"Lo gak mikir perasaan Jihan apa kalau lo sampai salah sebut itu bakal lebih sakit dari pada di tinggal nikah mantan" ucap Dika.


"Iya bener tuh bukan sakitnya yang terasa tapi malunya itu di kira pelakor nanti gimana mau tanggung malu dia" ucap Beni.


"Iya iya" ucap Fero.


Fero langsung pergi ke kamar membuat semua teman temnnya juga ke kamar tamu untuk beristirahat karena mereka keelahan setelah menempuh waktu berjam jam di jalan tanpa mengganti pengemudinya mereka bahkan sering berhenti hanya untuk sekedar meregangkan ototnya.


Waktu yang di tunggu tiba malam hati datang Jihan terbangun saat membuka mata tepat di depannya terlihat jelas Dwi sedang tertidur dengan menatapnya. Namun tak lama setelah Jihan bangun Dwi ikut bangun dan duduk.


"Jam berapa" tanya Dwi.


"Udah jam tujuh lama juga gue tidur" ucap Jihan.

__ADS_1


"Iya udah cuci muka mama pasti udah ditunggu udah waktunya makan malam" ucap Dwi.


"Iya" ucap Jihan melenggang pergi ke kamar mandi.


Saat kembali setelah mencuci mukanya Jihan menatap Dwi aneh pasalnya sejak Jihan keluar dari kamar mansi Dwi terus menatapnya membuat Jihan salah tingkah.


"Kenapa si" tanya Jihan.


"Mending kamu gantu baju gih" ucap Dwi.


"Lah kenapa" tanya Jihan.


"Tuh" ucap Dwi menunjuk arah dada Jihan membuat Jihan ikut menatap arah yang di tunjuk Dwi.


Seketika Jihan langsung menyilangkan ke dua tangnnya di dadanya membuat Dwi tersenyum.


"Kenapa gak bilang si atau gak benerin kek" ucap Jihan.


"Kalu mas benerin itu, baju kamu bener otak gue gak bener" ucap Dwi


Jihan memanyunkan bibirnya dan hendak kembali ke kamar mandi namun di hentikan Dwi.


"Bentar mas yang mau ke kamar mandi kamu ganti di sini aja tenang aja mas gak akan ngintip" ucap Dwi datar kemudian pergi ke kamar mandi.


Setelah kepergian Dwi Jihn dengan cepat mengganti bajunya dan pergi dari kamar. Saat membuka pintu Jihan bingung karena tidak biasanya pintu kamarnya terkunci.


"Kenapa di kunci tumben" ucap Jihan sembari membuka pintu.


"Eh sudah bangun anak mama baru mau bangunin" ucap mama Anggun yang sudah berada di depan pintu kamar Jihan.


"Mama kapan sampai" tanya Jihan datar.


"jam enam tadi cari cari kamu katanya kamu lagi tidur ya udah tunggu kamu bangun aja" ucap Mama.


"Oh" ujar Jihan pergi.


"Oh cuma oh gitu" ucap mama Anggun menatap kepergian Jihan.


"Hai anak mamah udah bangun" ucap Mama Sri saat Jihan melewati ruang keluarga.


"Ya mah" ucap jihan berlalu.


"Kenap semua orang pertanyaannya sama si" gerutu Jihan sembari mengambil air minum.


"Ngomong sendiri lo gila ya" ucap Cika membuat Jihan menatapnya kosong.


"Eh lo ngapain di sini lagi katanya gak mau tinggal di sini bukannya lo udah pulang tadi" ucap Jihan.


"Gak kurang panjang tuh pertanyaan, gue di panggil Abang lo soalnya mama lo katanya pulang dia suruh mak gue kesini tapi kan mak gue gak bisa mau gak mau gue lagi yang datang ke sini" ucap Cika.


"Jawabn lo gak kurang panjang" ucap Jihan.


"Ngejiplak kata kata gue lo" ucap Cika.


"Bodo amat eh lo masak apa" tanya Jihan.


"Masak kesukaan lo tuh ayam kecap" ucap Cika.


"Gue gak yakin masakan lo enak" ucap Jihan.


"Sengaja gue masak gak enak mau racunin lo" ucap Cika.


"Ya ya kalau menjur aja tuh racun sama gue" ucap Jihan.


"Sombong" ucap Cika namun tak di hiraukan Jihan Jihan langsung mencicipi makanan yang Cika masak untuknya.


Jihan tersenyum pasalnya makanan Cika enak bahkan lebih enak dari masakan restoran. Namun karena Cika melihatnya sembari tersenyum Jihan kembali datar.


.......


......Jangan lupa dukungannya ya readers..........


......Salam manis dari Author.............

__ADS_1


...I love you Readers.......


__ADS_2