Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Sebentar


__ADS_3

"Huh... belum selesai males banget" ujar Jihan lirih.


"Udah pulang" ujar Dwi saat Jihan masuk namun masih fokus dengan laptopnya.


"Belum" ucap Angel santai.


"Oh Ji, bisa duduk sebentar ada yang ingin mas bicarakan" ucap Dwi menutup laptopnya.


"Ya ngomong aja" ucap Angel duduk di sofa depan Dwi.


"Gini besok mas harus pergi ke kota ada pekerjaan di sana, tadinya mau ajak kamu tapi kamu masih ujian jadi gimana mas boleh pergi" ujar Dwi lembut.


"Pergilah" ucap Jihan.


"Kamu yakin" tanya Dwi.


"Ya" ucap Jihan yakin.


"Kamu tidak takut sendiri" tanya Dwi.


"Gak udah biasa" ucap Jihan


"Oke, mau oleh oleh apa" tanya Dwi.


"Gak" ucap Jihan cuek sembari membaringkan badannya di sofa panjang dekat Dwi sembari menonton.


"Oke, kamu mau bantu Mas" tanya Dwi mulai membuka kembali laptopnya.


"Gak lagi males" ucap Jihan santai.


"Oh oke, tapi apa kamu bisa buatkan mas kopi" ujar Dwi.


Jihan tidak merespon lagi apa yang Dwi katakan, saat Dwi melihat ke arah Jihan ternyata Jihan sudah tertidur dengan pulas sedangkan televisinya lah yang menontonnya membuat Dwi tersenyum.


"Tidur ternyata, cepet banget" ujar Dwi.


Dwi kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat teliti. Dwi bahkan harus menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga karena ada masalah di perusahaannya jadi dia harus pergi besok walaupun hatinya sangat ingin selalu menemani Jihan.


"Hoam.... belum selesai udah jam berapa" ujar Jihan bangun dari tidurnya.


"Belum sayang, udah sore sana mandi" ucap Dwi lembut.


"Hm" ujar Jihan pergi membuat Dwi menggelengkan kepalanya.


Setelah kepergian Jihan Dwi akhirnya mengikuti Jihan ke kamarnya saat sampai di kamar Dwi membulatkan matanya dan tersenyum.


"Woi kebo, bukannya mandi malah tidur lagi" ujar Dwi membangunkan Jihan.


"Yaya lima menit lagi" ujar Jihan lemas.


"Gimana kalau dua menit" ujar Dwi.


"Gak ada tawar menawar bukan lagi dagang" ucap Jihan.


"Ya udah, mas dulu yang mandi ya pulas pulas tidur" ucap Dwi mencium pipi Jihan dan berlari.


Sedangkan Jihan terperanjak dengan kelakuan Dwi membuatnya membuka matanya lebar, walaupun bukan lagi hal baru saat Dwi menciumnya namun tetap saja masih aneh bagi Jihan. Dan untungnya Dwi sudah masuk ke dalam kamar mandi dan tidak melihat tingkah konyol Jihan.


"Udah bangun" ujar Dwi setelah beberapa menit di kamar mandi.


"hm, kok cepet gak mandi ya" ledek Jihan.


"Kata siapa nih masih basah, gak percaya" ucap Dwi mendekat.


"Rambut doang yang mandi, masa cepet banget" ucap Jihan.


"Karena mas mandinya beda sama kamu, kalau kamu dua jam baru selesai" ucap Dwi menyengir kuda.


"Udah rontok dong gue" ucap Jihan berlalu.


Dwi tersenyum kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya sampai Jihan keluar mandi Dwi masih dalam posisinya membuat Jihan malas. Jihan langsung mengeringkan rambutnya dan duduk di samping Dwi dengan keras membuat Dwi bingung.


"Kenapa" tanya Dwi bingung.


"Kerja mulu, kasian tuh laptopnya" ucap Jihan.


"Kasihan laptopnya apa kasihan akunya" ledek Dwi mengedip ngedipkan matanya.


"Ih geli liatnya, tuh mata kalau cacingan kasih obat dong" ucap Jihan berlalu namun dengan cepat Dwi menariknya membuat Jihan jatuh di pangkuannya.


Jihan hendak memarahinya namun saat matanya bertemu dengan manik sang suami Jihan terdiam. Tatapan Dwi begitu dalam kepada Jihan membuat Jihan merasa sangat hangat saat dengan suami. Dwi tersenyum karena bukannya pergi Jihan malah membalas tatapannya membuat Dwi melingkarkan tangannya di pinggang Jihan.


"Eh" ujar Jihan saat Dwi mengeratkan pelukannya.


"Kenapa" tanya Dwi tersenyum tanpa dosa.


"Gak, lepasin ngapa sesak tau" ujar Jihan menunduk.

__ADS_1


"Masa si, kenapa gak nikmati aja udah halal kok tenang aja" ledek Dwi membuat pipi Jihan merona.


"Lepasin, Jihan mau keluar" ucap Jihan berusaha melepas tangan Dwi.


"Mau cari oksigen banyak banyak ya" ucap Dwi membuat Jihan bingung


"Kenapa" tanya Jihan polos.


"Karena kamu susah nafas di sini, jantung kamu bekerja lebih keras saat ini" ucap Dwi lirih.


"Emang kedengeran apa" ujar Jihan lirih namun masih bisa di dengar Dwi.


"Tetap seperti ini sebentar saja, kalau gak kamu bisa ikut mas besok kamu ikut ujiannya yang ulang aja gimana" ucap Dwi.


"Gak mau, Jihan udah berjuang selama ini hanya untuk ujian ini" ucap Jihan.


"Huh, padahal mas lagi butuh kamu di sana nanti takut mas khilaf sama kariawan kariawan gak bejus itu" ucap Dwi serius.


Jihan menatap Dwi, yang terus saja nyerocos tentang kerja kariawannya yang tidak benar sampai semua masalah yang harus dia selesaikan. Jihan melihatnya ikut sedih karena Jihan juga tau masalah perusahaan.


"Perusahaan kamu lagi goyah" pertanyaan itu lolos dari mulutnya.


"Hm, makanya mas butuh kamu" ucap Dwi mengeratkan pelukannya dan menunduk.


"Kamu pasti bisa melewati dan memperbaiki ini semua tanpa Jihan, kamu bukan orang baru di dunia bisnis" ucap Jihan seolah dunia Dwi kembali dengan semangatnya.


"Kamu yakin" tanya Dwi.


"Ya" ucap Jihan yakin.


"Baiklah kalau kamu yakin dengan hal itu, mas akan berusaha yang terbaik tapi boleh minta sesuatu gak" tanya Dwi mengedipkan matanya.


"Apa" tanya Jihan.


"Sesuatu yang bisa membuat Mas semangat" ucap Dwi tersenyum.


"Kenapa perasaan gue gak enak ya" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Tenang gak sakit kok" ucap Dwi.


"Apaaan si" ujar Jihan.


Dwi tidak menjawab hanya memajukan wajahnya dan wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centi saja membuat Jihan memundurkan kepalanya mamun dengan cepat Dwi menarik tengkuk Jihan. Dwi mulai menc**m bibir Jihan dan perlahan ********** membuat Jihan membulatkan matanya namun tidak melepaskannya.


Dwi tersenyum karena Jihan tidak lagi menolaknya walaupun belum membalasnya, Dwi menyelesaikannya saat Jihan sudah kehabisan nafas. Dwi tertawa membuat Jihan memajukan bibirnya.


"Yaya, maaf lagian kenapa kamu gak nafas si" tanya Dwi.


"Tau ah" ucap Jihan beranjak namun Dwi masih mempertahankan posisinya.


"Minggir, udah sore laper nih" ucap Jihan berbohong.


"Masa si" ucap Dwi.


"Iya" ucap Jihan.


Dwi menge**p bibir Jihan sekilas lalu mengusapnya dengan jempolnya sembari tersenyum.


"Manis" ucap Dwi.


"Udah minggir minggir" ucap Jihan dengan wajah memerah.


Dwi melepaskan tangannya setelah menyelesaikan aksinya, dengan cepat Jihan berdiri dan pergi dari kamar dengan nafas tersengal sengal. Mama Anggun yang baru saja pulang melihat anaknya di depan pintun kamar dengan tatapan aneh.


"Kamu kenapa Ji" tanya Mama.


"Gak apa apa" ucap Jihan mengekus dadanya.


"Yakin kok kayak tersengal gitu, lagi wajah kamu merah banget kamu sakit" tanya Mama.


"Gak apa apa kok mah, Jihan baik" ucap Jihan.


Saat Mama ingin kembali bertanya Dwi keluar dari kamar membuat Mamanya tersenyum pasalnya di bibir Dwi ada lipstik yang tertinggal. Jihan yang melihat itu menepuk jidatnya.


"Peped terus Wi jangan sampai kendor" goda Mama pergi.


Dwi tersenyum tapi masih sangat terlihat bingungnya, membuat Jihan mendekat.


"Udah senyumnya, balik lo ke kamar dan bercerminlah" ucap Jihan berlalu.


Dwi bingung dengan ucapan Jihan namun menurutinya. Dwi terbelalak saat melihat wajahnya di cermin seketika pipinya memerah karena sangat malu dengan ibu mertuanya tersebut.


"Udah Ji" tanya Mama saat Jihan ke ruang keluarga.


"Apanya Mi" tanya Jihan.


"Apa Mi" tanya papa yang bingung.

__ADS_1


"Tau gak pah, kalau si Jihan udah dewasa" ucap Mama.


"Ya emang, makanya dia nikah" ucap Papa.


"Gak gitu pah tadi mami liat kalau Jihan" goda mama.


"Apaan sih mah" ujar Jihan yang tau maksud mamanya.


"Hahaha malu malu, mama juga pernah muda kali Ji tapi sebaknya kalau mau keluar liat dulu takutnya masih ada lipsik yang tertinggal" ujar Mama.


"Oh itu, hahaha" ujar Papa.


"Udah udah pah kasian tuh, oh ya Ji besok mama sama papa ada kerja di kota perusahaan goyah" ucap Mama.


"Ya pergilah" ucap Jihan santai.


"Kamu yakin" tanya Mama.


"Iya Mah, lagian masih ada kak Dani di sini" ucap Jihan.


"Iya tapi kan kaka masih di rumah sakit" ucap Mama.


"Gak apa apa, Jihan bisa tidur di sana lagian ada sofa panjang juga" ucap Jihan.


"Oke kalau gitu, kita berangkat dari rumah sakit sekalian ya" ucap Mama.


"Iya mah" ucap Jihan.


"Mamah percaya sama kamu" ucap Mama.


Saat mereka asik berbincang Dwi datang dan langsung duduk di samping Jihan membuat ke dua orang tua Jihan tersenyum.


"Wi kata Jihan kamu dari pulang asik sama laptop ya" tanya Papa membuat Jihan mendapat tatapan dari Dwi.


"Iya pah, banyak kerjaan" ucap Dwi.


"Oh, Ji lain kali bantu suami kamu biar cepet selesai kerjanya" ucap Papa.


"Jihan" tanya Jihan menunjuj dirinya sendiri.


"Iya lah, kamu kan bisa Ji" ucap Papa.


"Males pusing" ucap Jihan.


"Udahlah pah jangan paksa Jihan dia kan emang paling males kalau suruh kerja di perusahaan" ucap Mama.


"Asal kalian tau aja selama ini yang selesaikan masalah perusahaan gue bukan Abang " ujar Jihan tersenyum.


"Ya udah ya Ji, mama sama Papa siap siap dulu kamu baik baik di rumah" ucap Mama.


"Iya mah" ucap Jihan lesu.


"Kemana" tanya Dwi.


"Siapa" tanya Jihan.


"Mama papa" ucap Dwi.


"Ke R.S" ucap Jihan.


Dwi ber oh ria sedangkan Jihan mulai memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk mencari tau masalah dan cara mengatasi masalah di perusahaan orang tua dan juga suaminya.


"Eh katanya kamu ada masalah kan di perusahaan mungkin ada orang di balik itu semua" ucap Jihan tiba tiba.


"Mungkin, karena nilai saham turun dua hari ini" ucap Dwi.


"Kenapa gak kuta permainkan saham" ucap Jihan.


"Maksudnya" tanya Dwi bingung.


.


.


.


.


.


.


Penasaran penasaran.... yayayya....


Ikuti Author terus ya....


Sampai jumpa di episode selanjutnya...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya...


__ADS_2