
"Mba jangan masuk" ucap sekertaris Dwi.
"Gak papa" ucap Jihan santai.
"Tapi mba, saya gak yakin anda selamat" ucap Sekertaris Dwi khawatir.
Jihan hanya tersenyum lalu membuka pintu perlahan dan kembali menutupnya. Jihan terbelalak karena baru beberapa menit ruangan itu hancur. Dwi masih belum sadar Jihan di sana dia melempar semua barang yang ada di depannya sampai vas kecil yang dia lempar mengenai kepala Jihan.
Jihan mengambil vas itu yang ternyata kepalanya berdarah namun dia tahan. Jihan melempar kembali vas yang ada di meja dekat dia berdiri dan melemparnya tepat dia samping Dwi berdiri.
"Ji Jihan" ujar Dwi saat sadar Jihan ada di ruangan itu.
Jihan langsung membalikkan badannya membuka pintu ruangan Dwi.
"Berhenti di tempat lo atau gue lempar ini tepat di otak lo" ujar Jihan.
"Mba bisa ambilkan P3K" ujar Jihan kepada sekertaris Dwi.
"Oke mba ini, apa mba gak papa" tanya Sekertaris Dwi karena melihat dqrah mengalir dari kepala Jihan
"Gak ini cuma sedikit, kamu jangan masuk dulu" ucap Jihan di angguki sekertaris Dwi.
Jihan kembali ke ruangan Dwi, melihat Dwi masih ada di tempatnya tadi. Jihan berjalan ke arah Dwi tanpa takut dengan barang yang berserakan di lantai akan mencelakainya.
"Kenapa gak bakar sekalian nih kantor" ucap Jihan.
"Ji" ujar Dwi namun Jihan langsung menyuruhnya diam Jihan membersihkan luka di bibir Dwi.
"Duduk dong, tinggi banget" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Senyum lagi" ujar Jihan mengambil obat namun Dwi justru mencium pipinya.
"Ji kepala kamu" ujar Dwi yang baru melihat darah mengalir di kepala Jihan
"Kamu yang lempar vas bunga tadi kenapa gak sekalian lo lempar AC ke kepala gue" ujar Jihan kesal.
Dwi langsung merebut kotak obat yang ada di tangan Jihan dan membalikkan posisi Dwi mendudukkan Jihaan di tempat dia duduk tadi sedangkan dia berdiri dan mulai mengobati luka Jihan.
"Maaf ya sayang" ucap Dwi.
"Berhenti panggil Jihan sayang" ujqr Jihan.
"Oke oke maaf, gak sakit santai banget" ucap Dwi
"Sakitan pas kamu di peluk tadi" ucap Jihan.
"Cemburu asik" ujar Dwi.
"Honey, bukan maksud juga buat kamu sakit tadi tapi semua berjalan gitu aja maaf udah bentak" ucap Dwi.
Jihan hanya diam sedangkan Dwi terus meminta maaf sembari mengobati lukanya. Tak di sangka pelukan hangat Jihan berikan walau tanpa sepatah katapun.
Dwi membalas pelukan hangat Jihan mereka berdua larut dalam kesalahan masing masing tanpa memikirkan sekertaris Dwi yang sedang menontonnya.
"Liat apa" tanya Rey asisten Dwi.
"Eh tuan tidak, saya hanya takut nona muda yang di sana kenapa napa soalnya tadi dia keluar dengan kepala berdarah" ujar nya.
"Oh, dia istri tuan muda sedangkan yang biasa ke sini orang yang tergila gila dengan tuan muda " ujar Rey.
"Syukurlah" ucap Sekertaris Dwi.
"Kenapa " tanya Rey.
"Saya kurang suka denganya, dia selalu membedakan derajat sedangkan istri tuan itu tidak" ucap Sekertaris Dwi.
"Baiklah kembali bekerja, atau kamu akan terus melihat adegan romantis itu" ujar Rey membuat sekertaris Dwi langsung ke posisinya.
Rey pergi ke ruangannya sedangkan di dalam ruangan Dwi terasa sangat canggung.
"Udah Ji" ucap Dwi.
"Makasih" ucap Jihan.
Dwi ikut duduk di samping Jihan dia menggenggam tangan Jihan. Bqhkan Jihwn lupa akan mengobati Dwi saat melihat tangan Dwi ternyata banyak luka Jihan membulatkan matanya.
"Kenapa gak selakian nih tangan kamu tusuk tusukin sama kaca" ucap Jihan kesal.
"Boleh" ujar Dwi tersenyum.
"Boleh, tapi sekalian aja taruh bom di badan biar meledak sekalian" ujar Jihan makin kesal.
"Yaya Honey maaf" ujar Dwi mencubit pipi Jihan gemas.
Jihan dengan telaten mengobati semua luka yang ada di tangan Dwi sampau dia kembali mengoleskan obat di bibur Dwi.
__ADS_1
"Bukan gitu cara obatinnya" ucap Dwi
"Kenapa salah" tanya Jihan bingung.
"Gini" ujar Dwi langsung menyatukan bibir mereka.
Jihan membulatkan matanya, tapi dia merasa kehangatan di sana Dwi mulai bermain dengan perlahan sampai dia tidak bisa menahan sesuatu yang mengeras.
"Honey mulai sekarang mas janji gak akan ada lagi oramg ke tiga di antara kita kecuali satu" ujar Dwi membuat Jihan menatapnya penuh telisik.
"Siapa" tanya Jihan.
"Anak anak kita nanti" ujar Dwi tersenyum sukses membuat Jihan mencubitnya.
"Rey ke ruangan saya sekarang" ujar Dwi
"Ya bos" ujar Rey.
"Liat kan ruangan saya bersihkan ini saya pulang cepat hari ini" ujar Dwi.
"Stop, Asisten Rey jangan mau siapa suruh di berantakin" ujar Jihan.
"Tidak apa nona saya bisa melakukannya" ujar Rey.
"Iya lagian tangan mas kan sakit" ucap Dwi.
"Beresin atau gak pergi sama sekali, kak Rey silahkan keluar" ucap Jihan.
"Tapi nona" ujar Rey.
"Keluar sekarang selesaikan pekerjaanmu" ucap Jihan membukakan pintu.
Rey mengangguk lalu mebatap Dwi, Dwi seolah memohon kepada Rey namun Jihan menatapnya tajam membuat Rey langsung pergi.
"Honey kok jahat si" ujar Dwi.
"Salah sendiri, siapa suruh acak acak nih ruangan gak mikir kalau belanja buat ruangan ini gue harus pergi ke jerman bolak balik satu minggu" ujar Jihan.
"Kamu yang pilih interiornya" tanya Dwi sembri mendekati Jihan yang sedang membereskan vas yang dia lempar tadi.
"Iya lah siapa lagi, dari design ruangan yang ada di lantai ini" ujar Jihan.
"Totalitas banget" ujar Dwi ikut membereskan ruangannya namun tidak mau jauh dari Jihan.
"Mau gimana lagi orang papa yang suruh katanya terserah Jihan, dengan senang hati dong bisa meng expresikan keinginan ada" ucap Jihan.
"Maksudnya selera Jihan jelek gitu" ucap Jihan
"Ya gak, maksudnya kenapa gak feminim gitu" tanya Dwi.
"Gak suka warna warna gitu, lagian kalau gak banyak komentar dari papa gak kayak gini mungkin lebih simple tapi nyaman" ujar Jihan.
"Punya Jihan udah selesai" ujar Jihan menunjuk vas yang dia lempar sudah bersih.
"Terus ini gimana " ujar Dwi.
"Selesaikan lah" ujar Jihan.
"Tapi banyak" ucap Dwi.
"Makanya kalau marah jangan acak acak kalau perlu bakar sekalian biar gak perlu beresin" ucap Jihan.
"Yaya maaf, kasih vitamin dong Honey" ucap Dwi.
"Gak bawa obat" ucap Jihan.
"Bukan obat yang beli di apotik, tapi ini" ujar Dwi menunjuk payudara Jihan.
"Gak gak" ucap Jihan menutup dadanya dengan ke dua tangan.
"Sebentar aja dong Honey" ujar Dwi.
"Gak mau oke sekarang selesaikan" ucap Jihan.
Dwi hanya manyun mendengar jawaban Jihan, Jihan tersenyum puas lalu mengambil plastik sampah di meja sekertaris Dwi untuk mengumpulkan puing puing kaca dan keramik.
"Semangat dong beb" ucap Jihan tersenyum.
"Ya Honey, love you" ujar Dwi mencium pipi Jihan.
Jihan hanya menahan senyumnya, sedangkan Dwi mencuri pandang Jihan sembari membereskan lantai. Jihan memungut beberapa kertas yang berhamburan di lantai lalu menatanya sesuai urutan.
"Bos" ujar Rey kembali masuk ke dalam ruangan Dwi.
"Kenapa Rey ada masalah" tanya Dwi.
__ADS_1
"Gak bos, cuma masalahnya saya gak enak lihat bos beresin ini sendiri" ujar Rey.
"Ya udah Asisten Rey boleh bantu tapi ingat males malesan aja bantunya biar mas Dwi cape" ucap Jihan.
"Jahat banget" ucap Dwi membuat Jihan tertawa.
Rey membantu Dwi membereskan lantai Jihan menata semua yang ada di meja Dwi. Jihan menata berkas dengan rapi lalu berjalan ke atas lemari kecil di dekat tembok lalu membereskannya.
"Ada apa ini" tanya Papa Seno yang datang berkunjung.
"Papa" ujar Jihan lalu berlari memeluknya hangat.
"Kenapa sayang" tanya papa.
"Nih mas Dwi baru di tinggal beberapa menit udah hancur aja" ujar Jihan.
"Kenapa Wi" tanya Papa.
"Cemburu pah, Jihan jalan berdua sama Randy" ucap Dwi.
"Jihan" ujar Papa.
"La dia bawa Klara ke ruangan ini udah gitu si Klara peluk cium menja dia diem aja, terus kalau Jihan duduk bareng pegangan tangan sama Kak Randy salah" ujar Jihan.
"Dasar kalaian berdua gak ada yang bener" ucap Papa.
"Ji ini" ujar Papa menunjuk vas bunga yang Jihan lempar ke tembok.
"Iya pah, lagian emosi kepala Jihan di lempar sama ini tuh ada darahnya" ujar Jihan.
"Kamu gak sayang apa demi brang ini kamu relq antri dari pagi sampai sore" ucap Papa.
"Mau gimana lagi emosi" ucap Jihan.
"Ya udah nanti papa kasih satu yang di ruangan papa" ucap Papa.
"Makasih pah, tapi nanti Jihan bawa ke apartemen aja deh pah" ujar Jihan.
"Terserah kamu aja" ujar Papa.
"Rey panggil bantuan biar cepet beres papa gak mau menantu papa luka lagi" ucap Papa di angguki Rey.
Rey lalu keluar untuk memanggil beberapa bantuan untuk membreskan ruangan Dwi. Tak perlu waktu lama ruangan sudah kembali bersih. Jihan dan Dwi duduk di sofa yang berhadapan dengan papa sedangkan para asisten ada di ruangan lain.
"Ji, kamu mau ke rumah sakit" tanya Papa.
"Buat apa" tanya Dwi.
"Kamu udah lempar vas ke dia, gak mau tanggung jawab" ucap Papa.
"Udah gak papa kok pah, untung cuma vas kalau AC coba" ucap Jihan.
"Ya tapi papa khawatir" ucap Papa.
"Maaf Honey" ujar Dwi.
"Kamu kok memar Wi" tanya Papa.
"Di pukul pah sama Bang Jovan sama kak Dani tapi Jihn biarin" ujar Jihan
"Hahaha untuk masih bener tuh muka" ledek Papa.
"Iya cuma dua pukulan pah" ucap Jihan.
"Ji sebenarnya papa ke sini mau tanya soal Klara" ujar Papa.
"Klara udah di urus Julio pah, gak tau di bawa kemana" ucap Jihan.
"Sama Julio Klara di nikahin sama pacarnya" ujar Papa.
"Bagus dong" ucap Jihan menatap Dwi yang bersikap biasa saja.
"Hm, sama satu lagi papa ke sini sebenarnya mau tau perkembangan perusahaan kan tadi papa gak berangkat meeting pemegang saham" ujar Papa.
Dwi menjelaskan dengan detile, sedangkan Jihan hanya diam. Papa manggut manggut lalu berpamitan akan pergi.
"Sama satu lagi, cepatlah buatin cucu buat papa" ucap Papa membuat pipi Jihan memerah.
.
.
.
Jangan lupa vote like dan komentarnya ya guys...
__ADS_1
Maaf kalau muter muter seperti biang lala selerti biasa otak dan tangan gak singkron....