
"Oke mas beliin ya" ucap Jihan menatap Dwi dan di angguki.
"Yang mana" tanya Dwi bangun dan mendekat.
"Yang paling murah" ucap Jihan.
"Beli aja lo ke swalayan" ujar Fero.
"Lo gak inget hadiah jam tangn lo aja cuma dua puluh ribu" ucap Jihan.
"Itu juga lo yang maksa buat beli" ujar Fero.
"Ini semua nomornya sama" tanya Dwi.
"Ya" ucap Jihan tersenyum.
"Mau saya yang pilihkan" ujar Dwi.
"Boleh pilih aja kalau muat dan jangan tiga itu" ucap Jihan.
"Siap" ucap Dwi.
Dwi langsung menunjuk sepatu dengan warna silver yang simple namun elegan. Dwi berjongkok di depan Jihan membuat Jihan bingung. Namun dengn cepat Dwi memasang sepatu pilihannya di kaki Jihan membuat Jihan tersenyum dan memotretnya.
"Gue kayak cinderella jatuh di ubin ya" ucap Jihan.
"Kamu suka" ucap Dwi.
"Bagus pas juga dan yang penting gratis, tapi gue gak mau" ujar Jihan ketus.
"Kenapa" tanya Dwi.
"Karena gue benci lo" ujar Jihan lirih.
Dwi menarik nafas panjang sedangkan Jihan berjalan memilih sepatunya sendiri. Namun Dwi hanya berganti ke kursi Jihan dan saat Jihan berjalan di depannya dengan memilih sepatu lain Dwi menariknya keras sampai Jihan jatuh di pangkuan Dwi.
"Sudah cukup kesabaran gue lo uji" ucap Dwi menarik tengkuk Jihan.
"Tapi gue belum puas" ujar Jihan tak kalah ketus.
"Oke sekarang rasakan akibatnya" ucap Dwi langsung menarik tengkuk Jihan dn mencium bibir Jihan di depan semua orang.
"Udah" ujar Jihan melepaskan diri.
"Saya ambil ini untuk uang minta Kevin" ucap Jihan berdiri dan merapikan penampilannya.
"Kok gue lagi" ujar Kevin.
"Lo cari Rey ambil uang yang banyak dari dia buat bayar semua yang udah di lakukan" ujar Jihan.
"Ambillah sebanyak yang kamu mau" ujar Dwi tersenyum sembari bangun dan berjalan pergi ke sofa.
"Maaf tuan bisa pergi dan temui asisten saya untuk pembicaraan lebih lanjut" ujar Jihan.
"Oke, gue Elang pertemuan selanjutnya saya bakal buat anda duduk di pangkuan saya" ujar nya.
Jihan tidak menjawab dia hanya menundukkan setengah badannya sampai Elang pergi.
"Ini orang kayak di kebun binatang ya Leon Elang sama sama buas" ujar Jihan frustasi.
"Bos, berapa uang yang harus saya tarik dari rekening tuan muda" ujar Rey datang.
"Sebanyak banyaknya habisin semuanya, kalian berdua bodoh apa emang gak pinter si gue bercanda dan gue gak perlu beli sepatu itu itu punya gue gue yang design gue yang buat" ujar Jihan.
"Nih beli makan sana songong lo berdua" ujar Jihan dengan kata kata kasarnya.
"Rey seratus ribu" ujar Kevin.
"Vin" ujar Jihan seperti anak kecil.
__ADS_1
"Hehe, Rey pergi yuk" ucap Kevin namun tak lama Ani datang dengan nasi goreng yang dia masak.
"Wah makanan gratis nih" ucap Rey.
"Bener bentar gue liat lo racunin bos apa gak" ucap Kevin langsung memakan bebrapa suap nasi goreng itu
"Iya kita liat dulu" sambung Rey melakukan hal yang sama dengan Kevin
"Woi makanan gue bilang aja kalian laper ya kali bos lo kasih sisa gue tonjok lo" ujar Jihan membuat Rey dan Kevin kabur dengan menyisakan separuh nasi goreng buatan Ani.
"Maaf bos mau saya buatkan lagi" ujar Ani..
"Gak perlu bawa sini" ujar Jihan langsung memakan nasi goreng itu sesuap.
"Jangn marah ya yang penting gue udah makan mood gue ancur" ucap Jihan
"Gak papa Bos, tapi maaf gak bisa mempertahnkan makanan Bos" ujar Ani sayu.
Jihan langsung kembaali menyambar nasi yang ada di tangan Ani dan menghabiskannya. Jihan tak tega dengan wajah Ani walaupun Ani tersenyum tapi ada rasa kecewa di sana.
"Nih" ucap Jihan memberikan sebuah Voucer makan di FeJi cafe.
"Makasih bos" ucap Ani bahagia.
"Sama sama oh ya an beliin kotak kaca yang muat buat sepatu itu stop jangan senyum cuma lo yang sadar sepatu gue copot" ucap Jihan membuat Ani menahan tawa.
"Sama satu lagi kosongin jadwal saya satu minggu ke depan gak ada comen oke" ucap Jihan.
"Tapi bos besok ada pertemuan penting" ujar Ani.
"Batalin semua bayar vinalty kalau perlu" ucap Jihan.
"Emang bos mau kemana" tany Ani.
"Mau ke mesin waktu buat liat masa depan" ujar Jihan.
"Gak kembali aja ke masa lalu lo" ujar Fero.
Jihan langsung pergi begitu saja dari ruangannya. Dia berjalan ke atap dan menghirup udara banyak banyak di sana.
"Tuhan jika memang ini jalan yang harus gue jalani mampukah gue menjalaninya, Tuhan bila jodohku memang masih panjang dengannya kuatkan hatiku tangguhkan ragaku untuk menerimanya lagi" ujar Jihan berjongkok dan mulai menangis.
Jihan menangis sesegukan di sana sembari terus merancau. Dia tau kalau percumah menangis tanpa tindakan itu sia sia. Fero datang karena tau kalau Jihan di sana dia ikut duduk di samping Jihan.
"Ngapain lo" tanya Jihan.
"Ngapain lagi hati gue juga lagi hancur" ucap Fero.
"Kenapa Putri selingkuh" tanya Jihan.
"Gak di setia, dan gue mulai bisa menerimanaya" ujar Fero.
"Baguslah lalu kenapa" ujar Jihan menghapus air matanya.
"Gue sedih liat hidup lo berantakan gini tapi gue gak bisa apa apa" ucap Fero.
"Udahlah emang ini jalan gue, pergilah Putri pasti nyariin" ucap Jihan di angguki Fero.
Sebenarnya Fero datang dengan Dwi di belakangnya. namun Fero meminta untuk mengetahui kondisi Jihan lebih dulu membuat Dwi menganggukinya.. Dwi juga mendengar semua keluh kesah Jihan sebelumnya membuat Dwi berfikir kalau dia sudah terlalu jahat dengan Jihan.
"Ji" ujar Dwi datang membuat Jihan menghindar.
Dwi menggenggam tangan Jihan agar Jihan tak pergi. Jihan menatap Dwi sembari bangun dari duduk nya namun Dwi menahannya.
"Sebentar aja Ji" ujar Dwi.
"dua menit" ucap Jihan.
Dwi langsung menatap Jihan dan mencium bibir Jihan dengan lembut membuat Jihan menatapnya. Jihan mendorong Dwi membuat Dwi menyudahinya.
__ADS_1
"Ji please " ujar Dwi memaksa Jihan untuk duduk.
"Sekarang ceritakan semua keluh kesah kamu saya akan mendengarkan semuanya dan tidak akan menyela kalaupun kamu menjelek jelekkan saya" ucap Dwi.
Jihan tersenyum mengerikan dan menatap lurus ke depan.
Jihan hanya menarik nafasnya panjang tanpa berbicara membiarkan angin menerpa dirinya. Dia bahkan tak.menghiraukan Dwi yang sedang frustasi di sampingnya.
Jihan berjalan menjauhi Dwi berharap Dwi pergi dan tidak lagi mengganggunya. Namun hal itu tifak terjadi Dwi justru memeluk Jihan dari belakang dan mengatakan semua keluh kesahnya membuat Jihan menahan air mata.
"Ji please bertahanlah di sisiku" ucap Dwi.
"Raga gue mau bertahan tapi hati gue gak" ujar Jihan berbalik badan.
"Bukankah kita semakin dekat sekarang" ujar Dwi.
"Ku rasa kita semakin jauh" ucap Jihan menunduk.
Dwi memegang dagu Jihan membuat Jihan panik ingat dengan apa yang Dwi lakukan kemarin. Dwi tenang dia melihat kepanikan Jihan membuatnya merasa semakin bersalah. Dwi melihat wajah Jihan yang kemarin dia rusak lalu menempelkan bibirnya dan mereka saling bertautan.
Jihan menutup matanya tidak memberontak dia juga menangis dalam ciumannya kali ini. Dwi menatap Jihan selama bibir mereka bertautan sehingga dia meihat setiap air mata yang menetes di pipi Jihan. Saat Dwi melepaskan tautannya dengan cepat Jihan menghapus air matanya berharap Dwi tidak menyadarinya.
"Sekarang lakukan apa yang ingin kamu lakukan" ujar Dwi.
"Pergilah" ujar Jihan di angguki Dwi.
Saat Dwi mulai melangkah menjauh Jihan duduk.sembari menangis tersedu sedu begitupun Dwi yang menangis di balik tembok. Jihan histeris apalagi saat mengingat semua kejadian kejadian yang terjadi kemarin.
Lama Jihan menangis membuat matanya sebam. Namun saat dia akan kembali ke ruangannya dia melihat Dwi di balik tembok.
"Ji" ujar Dwi menahan langkah Jihan.
"Mas please beri waktu Jihan untuk sendiri jangan ganggu Jihan beberapa hari" ujar Jihan
"Oke, mas akan beri kamu waktu tapi pikirkan dengan baik jika memang kamu tidak bisa memaafkanku itu hak kamu dan sekali lagi maafin gue yang kemarin sudah menjadi monster" ucap Dwi.
Jihan tersenyum lalu mendekati Dwi dan memeluk Dwi erat tanpa bicara. Dwi membalas pelukan Jihan tak lama mereka langsung melepaskan pelukannya satu sama lain.
"Jangan mengulanginya lagi" ucap Jihan lalu mencium bibir Dwi lembut dan bermain di sana.
Jihan menyudahinya namun Dwi menarik tengkuknya lagi dan bermain. Mereka saling bertautan dan menginginkan satu sama lain membuat permainan cukup lama.
"Jihan pamit" ucap Jihan pergi.
Jihan kembali ke ruangannya dan tidak ada seorangpun di sana hanya ada Kevin dengn beberapa berkas. Jihn mengambil tas jinjingnya dan pergi dengan mobil yang sudah menunggu di sana.
Jihan dan Kevin akan meninjau cabang luar kota. Jihan berjalan dengan cepat tanpa melihat ke belakang sedangkan Dwi masih tersenyum dengan apa yang terjadi barusan.
Mobil Jihan melaju dengan cepat sampai Dwi yang baru kembali ke ruangan Jihan bingung karena ruangan itu kosong. Dwi bertanya pada sang sekertaris namun sang sekertaris tidak bisa memberikan informasi.
"Apa artinya dia pamit tadi karena mau pergi" ujar Dwi.
Dwi berjalan dengan cepat ke lantai bawah dan melihat sekitar.
"Kenapa Wi" tanya Tuan Prasaja.
"Pah, apa Jihan pergi" tanya Dwi.
"Iya baru aja papa suruh buat tinjau cabang luar kota emangnya dia gak pamit" ucap tuan Prasaja.
"Dia cuka bilang pamit gak tau maksudnya" ujar Dwi lemas.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guys...