
Dwi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping Jihan.
Jihan mengeliat dan mulai membuka matanya. Dia melihat ke samping ada Dwi yang sedang menatapnya.
"Gak jadi pergi" tanya Dwi.
"Gak besok aja" ujar Jihan bangun dan hendak pergi.
"Tidakkah sebaiknya kita berbicara" ucap Dwi.
"Tentang apa" tanya Jihan pura pura bodoh.
"Tentang hubungan kita" ucap Dwi.
"Bagaimana" tanya Jihan.
"Dalam sadar saya mencintaimu lebih besar dari cintaku yang dulu" ucap Dwi membuat Jihan menatapnya.
"lalu" tanya Jihan.
"Apa kamu tidak ada niat untuk membalasnya, setidaknya berikan kesempatan untuk bisa memiliki hatimu" ucap Dwi menggenggam tangan Jihan.
"Selama perjanjian kita belum selesai selama itu kesempatan yang kamu miliki" ucap Jihan.
"Apa kamu benar benar ingin berpisah, tidak adakah keinginan kamu untuk mempertahankan pernikahan ini demi senyum orang tua kita" ucap Dwi.
"Saya tidak peduli dengan senyuman mereka, sudah lama saya melupakan senyuman itu tapi ada seseorang yang harus saya jaga hatinya" ucap Jihan.
"Siapa" tanya Dwi.
"Siapapun itu dia yang ingin saya bahagiakan" ycap Jihan.
"Julio" tanya Dwi.
"Kenapa Julio, dia gak lebih dari seorang kakak" ucap Jihan.
"Boleh saya tanya" tanya Dwi.
"Silahkan semua pertanyaan yang ingin kamu tanyakan karena saya tidak ingin ada pertanyaan lagi di lain hari" ucap Jihan.
"Bagaimana perasaan kamu terhadap, Julio, Rey, dan Kevin saya tau mereka hanya rekan kerja tapi saya juga tau mereka juga mencintaimu"Ucap Dwi membuat Jihan menatapnya dengan senyuman.
"Saya tau salah satu di antara mereka juga pernah meminta saya jadi kekasihnya, perasaan saya terhadap Julio saya tidak ingin kehilangan dia saya juga membuat dia menjadi Abang yang saya miliki setelah Bang Jovan pergi, Rey dan Kevin mereka sama seperti yang saya rasakan terhadap Julio tapi meteka lebih spesial saya adalah wanita paling buruk karena menyukai banyak pemuda" ucap Jihan dengan tetesan air mata yang mengalir.
"Apa rasa itu sama dengan perasaan mu dengan Fero" tanya Dwi
"Harusnya begitu tapi Ata dia lebih dari itu, saya tau saya jahat karena mengatakan ini di depanmu tapi saya rasa kamu perlu tau sejak pernikahannya dan pernikahan kita terjadi saat itu juga perasaan saya tekan untuk berubah" uxap Jihan.
"Bagaimana apa kamu bisa menekannya sekarang" tanya Dwi.
"Tidak perasaan itu hilang saat melihat ibu tersenyum bahagia dengan Putri di saat itu ku ikhlaskan perasaanku dan ku mencoba menerima takdir " ucap Jihan.
"Kamu berhasil" tanya Dwi dengan hati bergemuruh mendengar kejujuran Jihan.
"Sepertinya begitu saat melihatnya tersenyum dengan Putri hanya ada rasa bahagia bukan cemburu walau saya tau dia masih sulit menerima Putri" ucap Jihan.
"Bagaimana dengan Randy" tanya Dwi karena tidka tahan Jihan mengatakan nama Fero dengan senyuman.
"Kak Randy, gak ada perasaan spesial apapun dia juga pernah melamarku tapi saya tau dia hanya bermain main tapi anehnya saya tidak marah atau apapun tapi saya justru bahagia mendengar semua candaannya" ucap Jihan.
"Bagaimana dengan teman Abangmu yang lain" tanya Dwi.
"Siapa Kak Raka sama kamu" ucap Jihan di angguki Dwi.
"Kalau kak Raka, jujur gue suka sama dia sopan ganteng pinter tapi gak lebih dari seorang penggemar kalau kamu sebelum tau kamu anak pak Seno suka juga pinter ganteng walaupun dinginnya minta ampun" ucap Jihan.
"Lalu bagaimana saat kamu tau saya anak dari keluarga Suseno" tanya Dwi.
"Hm, terkejut tapi lebih terkejut ternyata kamu tuh gak sedingin itu dan gue justru membencimu karena kamu melihat fisik dan tahta" ujar Jihan.
"Mau tau alasan saya tidak menyukai sekertaris papa yang pakai kacamata itu" tanya Dwi.
"Gak, udah jelas dia cupu jelek kudet acak acakan semrawut" ucap Jihan.
"Bukan" ucap Dwi.
"Lalu" tanya Jihan serius
"Saya hanya ingin membuat wanita di sekeliling saya membenci saya karena hati saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu" ucap Dwi.
"Sejak kapan" tanya Jihan.
"Sejak saya mengantar Putri masuk sekolah saya melihat kamu bejalan di depan mobil saya saat kamu masuk SMA dengan pakaian SMP lalu saya melihatmu lagi untuk ke dua kalinya saaylt saya mengunjungimu di desa dan saat itu saya baru tau kamu adik Jovan tau kalau kamu adik Jovan saya pepet" ucap Dwi.
__ADS_1
"Lama baget" ucap Jihan.
"Emang" ucap Dwi.
"Ada pertanyaan lagi" tanya Jihan.
"Ada" ucap Dwi dengan senyuman.
"Perasaan gue gak enak" ucap Jihan.
"Bolehkah saya mencintaimu dalam artian sesuka saya menyentuhmu di depan umum" ucap Dwi.
"Kamu punya hak, tapi saya tidak bisa mengizinkan kamu untuk menyentuh saya di sembarang tempat hanya ada di depan orang tua kita dan orang tua Fero" ucap Jihan.
"Kenapa begitu" tanya Dwi.
"Karena sampai saat ini saya belum menerimamu sepenuhnya ke dua saya ingin melihat orang di sekelilingmu siapa yang tulus dan siapa yang fulus" ujar Jihan.
"Perhatiannya" ucap Dwi memeluk Jihan gemas.
"Yaya sekarang boleh saya tidur dengan nyenyak" ucap Jihan tanpa meronta.
"Tidur tidur aja" ucap Dwi mencium kening Jihan.
"Gimana bisa tidur engap gini" ucap Jihan.
"Engap atau jantungnya yang terlalu kencang berdetak di dekat saya" ujar Dwi menggoda.
"Tau ah" ujar Jihan bukannya meepaskan diri dia justru membenamkan wajahnya di dada bidang Dwi dan mulai terlelap.
"Bilang aja nyaman" ujar Dwi gemas.
"Mas ih diem deh capek nih besok harus pergi " ujar Jihan dengan mta terpejam.
"Katanya tidur, gak pemanasan dulu sayang" ujar Dwi.
"Ogah" ucap Jihan tau maksud Dwi.
"Udah sore tau masa iya mau tidur lagi main panas panas aja yuk" ucap Dwi.
"Gak mau" ucap Jihan.
"Gak boleh nolak dosa, kamu mau jadi istri durhaka" ucap Dwi yang sukses membuat Jihan memanyunkan bibirnya.
"Sayang biar nanti malem tidur nyenyak" ucap Dwi.
"Janji ya, nanti malem gak" ucap Jihan.
"Iya iya" ujar Dwi semangat mendapat lampu hijau dari Jihan.
Tau lah ya apa yang terjadi selanjutnya. Author skip aja takut kalian berfantasi membacanya... hehe
Permainan lama mereka membuat Jihan lemas dan pergi untuk membersihkan diri dan berendam di bathtub. Sedangkan Dwi tidur dengan sangat pulas.
"Remuk badan gue" ujar Jihan berendam lama dalam bathtub.
Lama Jihan di sana, saat badannya sudah merasa lebih segar dia menyelesaikan ritual mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono saja.
"Udah bangun" tanya Jihan.
"Udah, walaupun sebentar tapi rasanya pulas banget" ujar Dwi menguap.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi aja, bangun nanti makan malam" ucap Jihan melaluinya pergi ke ruang ganti.
Dwi hanya tersenyum kemudian berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lain dengan Jihan Dwi mandi dengan cepat dia keluar hanya dengan handuk melilit pinggangnya.
"Eh" ujar Jihan saat Dwi memeluknya dari belakang membuat Jihan tersentak.
"Cepet banget gak mandi ya" tanya Jihan.
"Mandi dong udah wangi gini" ucap Dwi menelusupkan tangannya di gunung kembar Jihan yang belum sempat memakai baju hanya dalaman saja.
"Yaya ya udah awas" ujar Jihan.
"Nanti dong, kita halal tau lihat deh" ujar Dwi menunjuk cermin besar yang ada di depan mereka.
"Gak malu tuh" ujar Jihan.
"Gak, liat ini" ujar Dwi menyesap leher Jihan membuat Jihan menutup matanya.
"Kenapa tutup mata" tanya Dwi
"Geli" ujar Jihan.
__ADS_1
"Udah dong dingin tau" ucap Jihan membebaskan diri namun bukannya terbebas dia hanya berpindah posisi Dwi memeluknya dari depan sekarang.
"Bikin panas aja" ucap Dwi.
"Gak capek apa" ucap Jihan.
"Karena kamu canduku, bertahun tahun saya menahan tidak menyentuhmu walau se cuil kenapa sekarang saya harus menahannya" ucap Dwi.
Jihan hanya menatap mata Dwi mencari kebohongan atau semacamnya namun nihil dia hanya menemukan kejujuran hati Dwi padanya. Dwi membalas tatapan mata Jihan dengan tatapan sangat hangat dan Jihan merasa sangat nyaman berada di dekatnya.
Jihan mendekatkan wajahnya dan
cup.....
Kecupan singkat Jihan di bibir Dwi membuat Dqi langsung melepaskan tangannya dari badan Jihan karena terkejut.
"Jika kamu bisa membuat saya menangis karenamu akan saya kasih lebih" ujar Jihan berbisikembuyarkan keterkejutan Dwi dia lalu memakai bajunya cepat.
"Kenapa gue malah cium dia si" ujar Jihan sembari keluar dari ruang ganti dan merapikan rambutnya yang sudah di keringkan sebelumnya menggunakan hairdryer.
"Kenapa gak ikhlas" ujar Dwi di belakang Jihan dengan merapikan pakaiannya.
"Apa arti dari ciuman mu tadi" tanya Dwi mencium pipi Jihan.
"Entahlah, gak ada niat reflex" ucap Jihan.
"Oh, mau saya rapikan rambutmu" tanya Dwi merebut sisir di tangan Jihan.
"Bisakah saya menolaknya" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
Jihan memakai riasannya dengan cekatan. walaupun tanpa riasan itu Jihan sudah cantik tapi dia sengaja menutup wajah aslinya dengan riasan yang membuatnya lebih kuat dari wajah aslinya.
"Sayang kamu kenapa selalu pakai make up tuh berbanding terbalik dengan wajah aslimu" tanya Dwi.
"Saya tidak ingin mereka melibat saya lemah" ujar Jihan membuat Dwi manggut manggut.
"Apa aku orang pertama yang melihat wajah aslimu" tanya Dwi.
"Bukan, pertama Papa terus Abang baru kamu" ucap Jihan tertawa.
"Ye sama aja, aku pertama setelah ke dua pria yang menjadi cinta pertamamu" ucap Dwi.
"Bukannya itu sama aja kamu pake topeng, kamu gak pernah berfikur kalau suatu saat pasti kamu lupa memakainya" ujar Dwi duduk di meja rias Jihan.
"Saya sudah memikirkannya, saya akan memperlihatkan wajah asli saya saat saya selesai dengan niatan saya" ujar Jihan.
"Kamu ada masalah bicaralah denganku aku suamimu juga bisa menjadi sahabat dan temanmu" ujar Dwi menatap Jihan lekat.
"Oke" ujar Jihan langsung mengambil kembali make up yang akan dia pakai.
"Boleh saya pilihkan lipstikmu" tanya Dwi.
"Emang bisa" tanya Jihan.
"Emang kamu dong yang pake lipstik" ucap Dwo bangga.
"Kamu pake" tanya Jihan.
"Bukannya kamu tau saya memilikinya" tanya Dwi.
"Gak beneran baru tau" ucap Jihan.
"Tau gini gak bilang" ucap Dwi.
"Sini" ujar Dwi mengambilkan lipstik di meja rias Jihan.
Deg....
Jihan mencondongkan wajahnya ke depan, karena baju yang Jihan pakai cukup longgar membuat gunungnya terlihat apalagi dengan posisi Dwi lebih tinggi seperti itu membuat Dwi menelan salivanya susah. Dwi mulai memoles bibir Jihan dengan sangat rapi dan tersenyum.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys.......
***Yang udah setia menunggu terima kasih.. yang baru gabung jangan bosen bosen ya kalau pusing wajah soalnya ceritanya muter nuter ya... hehe
Salam manis Author***....
__ADS_1