Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 99


__ADS_3

Beda dengan Fero dan Putri yang sedari tadi saling diam, bahkan mereka pergi dengan dua mobil Saat sampai di tempat Jeni Jihan langsung ke tempat bertender.


"Hai mana Jeni" tanya Jihan.


"Ngapain lo cari gue" ucap Jeni dari belakang Jihan.


"Kenapa gak boleh" ucap Jihan.


"Bawa pasukan dari mana lo" tanya Jeni.


Jihan menarik Jeni ke tempat teman temannya dan memperkenalkan temannya satu persatu.


"Katanya temen dari kampung lo kesini yang mana" tanya Jeni.


"Ada di apartemen gue gak mau mereka ikut" ucap Jihan.


"Itu alasan lo suruh Kevin pergi" tanya Jovan.


"Iya Bang, makanya gue kasih bonus" ucap Jihan tersengir.


"Kevin kenapa gak ikut" tanya Jeni.


"Gak, biar dia istirahat" ucap Jihan.


"Terus siapa yang bakal tolong lo di sini" tanya Jeni.


"Tuan muda dong" ucap Jihan.


"Dia, lo beneran dapetin tuan muda Ji" ucap Jeni.


"Ya dong," ucap Jihan.


"Maksudnya apa nih" tanya Dwi.


"Lo tuh tuan muda yang Jihan lirik sejak awal makanya dia latian DJ biar bisa liat lo dengan jelas pas lo kesini" ucap Jeni membuat Dwi tersenyum


"Beneran tapi gue gak pernah liat dia nge DJ" ucap Dwi.


"Kurang panjang lo tambah ceritanya jadi GR tuh" ucap Jihan.


"2J main dong" ucap Gabby.


"Oke, mau Ji" ucap Jeni.


Jihan mengangguk lalu mengikuti Jeni ke tempat DJ. Jihan mulai memainkan lagu dengan sangat baik dan terdengar sangat bagus membuat Jovan Dani Randi Raka dan Dwi melongo.


"Van adek lo" ucap Randy.


"Gue juga baru tau lagi" ucap Jovan.


Jihan terus bermain di temani sebotol minuman wine mahal yang biasa dia minum di tempat Jeni. Wine dengan kadar alkohol tinggi namun tidak berbau menyengat.


Jihan menyelesaikan beberapa lagu, dia kembali bergabung dengan kawananya dengan sebotol minumn ada di tangannya. Jihan duduk di samping Dwi lalu bersandar kepada Dwi dan mulai kehilangan kesadaran namun Dwi menjaganya dengan baik.


"Mulai duluan" ucap Gabby.


"Eh itu bukannya Brama" ucap Sonia membuat Jihan menatap orang yang sedang menegak minuman.


Lama Jihan menatap namun Dwi langsung mengalihkan pandangan Jihan, sedangkan sahabat sahabat Jihan sudah ikut mabuk dan mulai berjoget tanpa arah. bahkan mereka bercumbu di depan Jovan dkk membuat Jovan dkk menggelengkan kepalanya.


"Ji lo kalau mabuk gitu juga" tanya Jovan.


"Kenapa" ujar Jihan.


"Oh itu gak lah Bang, gak berani gue makanya kalau mabuk gue minta tempat biar gak ada yang ganggu" ucap Jihan sembari memegang kepalanya.


"Yakin dia jujur" ucap Dani.


"Bukannya orang mabuk orang paling jujur ya" ucap Randy.


"Jeni" panggil Jovan.


"Kenapa" tanya Jeni mendekat.


"Jihan kalau mabuk gini doang apa kayak mereka" tanya Jovan.


"Jihan satu satunya orang yang mabuk tapi gak mau di sentuh laki laki kecuali sekarang" ucap Jeni.


"Kamu yakin" tanya Jovan.


"Ya, dia sering minta tempat VVIP biar gak ada yang ganggu gak jelas karena kalau mabuk dia sering pulang pagi jadi ruangan dia kunci dari dalam" ucap Jeni.


"Apa aja yang dia lakuin kalau di sini" tanya Jovan.

__ADS_1


"Gak ada palingan kalau lagi banyak masalah dan gak bisa cerita sama yang lain, kalau kalian mau tau rahasia Jihan tanya saat dia mabuk semua akan terungkap" ucap Jeni.


"Dengan siapa dia ke sini" tanya Dani.


"Sering sendiri cuma beberapa kali dia bawa asistennya namanya Kevin ya kalau gak salah" ucap Jeni.


"Apa mereka ke kamar VVIP" tanya Dwi.


"Kamu pikir gue cewek apaan, bukannya lo sendiri yang rasain kalau gue masih perawan kalau Kevin ikut tuh kalau dia merasa gak tega sama gue takut kalau gue mabuk gue di ganggu orang" ucap Jihan memeluk Dwi.


"Udah jelas kan" ucap Jeni.


"Ya udah thanks" ucap Jovan.


"Wi yang buat dia nangis" ucap Jovan.


"Iya Bang, gue bingung harus apa tadi seluruh tubuhnya dingin banget" ucap Dwi.


"Oh pantesan Jihan kayak kucing sama lo manja bener" ucap Randy.


"Apa hubungannya" tanya Dwi.


"Gak ada si, tapi lo pikir deh Wi emang Jihan pernah manja sama lo" ucap Randy.


"Gak si" ucap Dwi.


"Ji kenapa lo manja sama Dwi" tanya Raka.


"Terus mau manja sama siapa sama lo, lagian gue gini biar Ata gak mikirin gue lagi biar dia benci sama gue lagian dia udah ambil mahkota gue gue gak bakal biarin dia pergi dari gue ternyata nyaman juga sama dia" ucap Jihan membuat semua orang tertawa.


"Eh ngomong ngomong Fero mana dia sama putri" ucap Dwi.


"Sini kenapa" tanya Putri.


"Gak mabuk lo" tanya Jovan.


"Kalau gue mabuk gak bakal ada yang peduliin gue" ucap Putri.


"Put minta jus lemon dong biar dia gak mabuk banget" ucap Dwi.


"Nih Ji" ucap Putri memberikan jus lemon kepada Jihan.


"Makasih" ucap Dwi lalu membantu Jihan meminum jus tersebut.


"Kenapa Ji" tanya Dwi.


"Panas" ucap Jihan.


"Put apa yang lo kasih di minuman Jihan" tanya Dwi dengan mata membulat sempurna.


"Gue kasih obat, lupa kalau lo yang jagain dia" ucap Putri.


Jihan hendak melepaskan bajunya namun dengan cepat Dwi menghentikannya. Jovan meminta Dwi untuk membawa Jihan membuat Dwu dengan cepat menggendong Jihan dan membawa nya pulang ke apartemen.


Saat di jalan Jihan membuka kancing bajunya membuat Dwi menelan salivanya bahkan Jihan mencumbu Dwi padahal Dwi sedang mengemudi. Karena apartemen yang Dwi punya cukup jauh jadi Dwi membawa Jihan ke hotel terdekat. Sampai di kamar hotel Jihan langsung mencumbu Dwi.


Jihan bahkan melepaskan semua kain yang menempel di tubuh Dwi dengan sangat cepat. Dwi menikmati semua perlakuan Jihan walaupun dia merasa itu salah karena itu di luar kendali Jihan.


Dwi membalas cumbuan Jihan sampai lengkuhan lengkuhan kecil terdengar membuat Dwi semngat. Saat Jihan mencapai puncaknya Dwi langsung melakukannya dengan cepat.


"Ganas juga kamu Ji" ucap Dwi.


Bukannya menjawab Jihan justru kembali mencumbu Dwi membuat Dwi kembali bergejolak kali ini Dwi bermain terus sampai Jihan beberapa kali mencapai puncaknya. Setelah bermain tiga ronda Jihan tertidur begitupun Dwi yang ikut Jihan ke alam mimpi.


Dwi bahkan hanya menutupi tubuh mereka dengan selimut, Dwi tidak memikirkan apa yang akan Jihan ucapkan besok. Dwi memeluk Jihan dalam tidurnya sesekali menggesek gesekkan wajahnya di gunung kembar jihan.


Di lain tempat Fero sedang marah marah kepada Putri bahkan membuat sahabat sahabatnya menahannya agar tidak melakukan hal gila terhadap wanita.


"Kenapa lo masih suka sama dia" ucap Putri nyolot.


"Kenapa kalau iya, lo gak berhak buat gila sama Jihan atau lo terima akibatnya paham lo" ucap Fero pergi.


Sedangkan Putri menangis sesegukan di antara sahabat sahabat Dwi.


Pagi menjelang Jihan mengeliat karena merasa sesuatu ada di atas perutnya. Jihan menatap ke samping menatap Dwi saat dia akan menyingkirkan tangan Dwi dia terkejut dengan keadaan tubuhnya.


"Kenapa" tanya Dwi membuka matanya perlahan.


"Apa yang sudah kita lakukan semalam" ucap Jihan duduk sembari memegang kepalanya yang sangat berat.


"Kamu lupa" tanya Dwi membuat Jihan berfikir jeras untuk mengingatnya.


Jihan membulatkan matanya lalu menutup wajahnya dengan tangannya membuat Dwi tersenyum.

__ADS_1


"Udah ingat" ucap Dwi tersengir.


"Hm, apa gue gila" ucap Jihan.


"Kenapa kecewa lakuin itu sama mas" tanya Dwi.


"Gak gitu, kenapa gue se liar itu" ucap Jihan.


"Karena pengaruh obat, maaf bukan mas cari kesempatan tapi kamu yang gak biarin mas untuk melakukan sesuatu selain itu permainanmu luar biasa" ucap Dwi berbisik.


"Apaan si, kenapa kaki gue lemes ya" ucap Jihan.


"Terlalu semangat tadi malam, mau mas obatin" tanya Dwi.


"Hm gimana" tanya Jihan


"Kita lakuin lagi sekali pasti kamu bisa jalan lagi" ucap Dwi.


"Serius" ucap Jihan.


"Hm kamu mau melakukannya lagi, gak sakit kok" ucap Dwi.


"Gak mau yang ada makin gak bisa berdiri gue" ucap Jihan


"Hehe, ya udah mandi yuk" ucap Dwi.


"Mandi, bareng ogah" ucap Jihan.


"Gak, kamu duluan tapi kalau kamu mau bareng juga gak apa apa" ucap Dwi.


"Dasar" ucap Jihan berlari ke kamar mandi.


Jihan mandi cukup lama membuat Dwi menunggu. Sembari menunggu Dwi memeriksa pekerjaannya dalam i pad yang selalu dia bawa.


"Masih aja kerja" ujar Jihan saat keluar dri kamar mandi mendekati Dwi.


"Udah" tanya Dwi.


"Seperti yang kamu lihat" ucap Jihan.


Dwi tersenyum mendapat jawaban dingin Jihan Dwi langsung menaruh i pad yang dia pegang lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan badannya namun sebelum dia masuk dia mencium kening Jihan.


"Maaf" ucap Dwi lalu pergi membersihkan diri.


"Apaan sih, sepertinya gue harus membiasakan diri dengan adegan adegan ini" ucap Jihan mengeringkan rambutnya yang basah lalu mengikatnya tinggi menampakkan leher jenjangnya.


"Seperti serius" ujar Jihan mengambil i Pad yang tadi di pegang Dwi dan memeriksanya.


Saat sedang asik pintu kamar di ketuk membuat Jihan membuka pintu dan ternyata ada seorang kariawan hotel yang membawakan sarapan untuknya.


"Sarapan" ucap Jihan sembari melihat jam dinding yang ternyata menunjuk pukul sebelas siang.


Jihan menatap luar hotel yang memperlihatkan pemandangan kota yang indah. Tiba tiba Dwi datang dan memeluknya dari belakang dengan erat membuat Jihan tak berkutik.


"Udah sarapan" tanya Dwi di samping wajah Jihan.


"Belum tuh masih utuh" ucap Jihan tanpa menengok.


"Yuk makan kamu pasti laper" ucap Dwi.


"Hm"


Dwi melepaskan pelukannya namun beralih menggandeng tangan Jihan dan mempersilahkan Jihan untuk duduk.


"Silahkan makan tuan putri" ucap Dwi.


"Terima kasih" ucap Jihan menatap makanan yang ada di atas meja.


"Kenapa gak suka" tanya Dwi.


.


.


.


.


Jangan lupa dukung Authir terus ya readers....


Maafin Author yang lama upnya sampai berbulan bulan lagi sibuk urusin dunia nyata kalau ada kata atau ceritanya aneh komentar aja oke... tapi dengan bahasa santun jangan menjatuhkan....


Salam manis Author....

__ADS_1


__ADS_2