
"Apa si kak" tanya Jovan
"Nih" ucap Dani memberikan undangan tersebut.
"Fero nikah" ucap Jovan santai.
"Ji ini bukannya si putri adeknya Dwi ya" ujar Jovan.
"Sepertinya begitu" ucap Jihan santai
"Lo masih suka sama Fero" tanya Jovan.
"Hanya waktu yang bisa menjawab" ucap Jihan.
"Jadi nanti kamu berangkat sama Dwi dong biar Abang sama Kakak" ucap Jovan.
"Ya" ucap Jihan singkat.
Jihan mendekati Jovan lalu merebahkan dirinya di paha Jovan sembari bermain ponsel. Jihan berusaha menghibur diri karena apa yang telah terjadi.
"Ji bagaimana dengan perasaanmu sama Dwi apa ada perkembangan" tanya Jovan.
"Apa Abang masih ingin membuat Jihan mencintai dia setelah apa yang dia lakukan di depan gue kemarin " ujar Jihan dengan tatapan masih fokus pada ponselnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ji" tanya Dani.
"Kak tau gak dia tuh" ucap Jihan terputus karena kedatangan Dwi.
"Kenapa langsung diam" tanya Dwi dengan tatapan tajam.
"Gak, kenapa cepet" tanya Jihan.
"Iya lah cuma pengganti gue udah datang" ucap Dwi bangga.
"Ya udah langsung berangkat aja gimana" ucap Jihan.
"Kasih waktu Dwi buat istirahat Ji" ucap Jovan.
"Udahlah Bang sepertinya dia sudah siap mari berangkat" ucap Dwi lembut.
"Ji lo kenapa si galak banget sama suami" ucap Jovan kesal.
"Udahlah Bang biarin aja" ucap Dwi tersenyum lalu mengandeng tangan Jihan untuk berangkat.
"Bisa aja lo ya bikin gue yang salah" ujar Jihan dalam hati.
Saat akan masuk ke dalam mobil Jihan tanpa sengaja melihat Fero yang sedang menatapnya dari jauh. Jihan berhenti sejenak dari aktivitasnya kemudian tersenyum dan dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Dwi bingung dengan tingkah Jihan namun tidak menghiraukan Dwi lalu melajukan mobilnya menuju kota di ikuti mobil Dani dan Jovan. Dwi sangat semangat untuk pergi karena dia bisa menyiksa Jihan dengan sangat mudah di sana.
Dwi memutar lagu dalam mobil yang sangat menenangkan bagi Jihan tak terasa Jihan tidur sepanjang perjalanan. Walaupun Dwi ingin mengerjainya tapi dia tidak tega saat melihat Jihan tertidur pulas. Sampai berjam jam waktu tempuh akhirnya mereka sampai di mansion mewah milik keluarga Suseno.
"Woy bangun lo tidur mulu" ucap Dwi menepuk nepuk pipi Jihan.
"Udah sampai" tanya Jihan meregangkan otot ototnya.
"Enak ya tidur mulu" ucap Dwi sadis
"Siapa suruh lo yang nyetir ya mending gue tidur kalau gak tidur juga ngapain" ucap Jihan santai.
"Ajak ngobrol kek" ujar Dwi.
"Ngobrol sama lo ogah" ucap Jihan hendak turun.
"Eh ini dimana" tanya Jihan melihat sekitar rumah saat hendak turun namun dia urungkan.
"Kenapa gak jadi" tanya Dwi.
"Kita dimana" tanya Jihan serius.
"Rumah gue lah, oh ya selama kita tinggal di sini lo harus jadi istri yang baik di depan keluarga gue" ucap Dwi serius.
"Tergantung lo juga bisa gak jadi suami yang baik" ucap Jihan tak kalah Serius.
"Oke deal" ucap Dwi mengulurkan tangannya.
Dwi turun dari mobil terlebih dahulu, Jihan lalu menarik nafasnya panjang lalu mengikuti Dwi turun dari mobil dan menerima uluran tangan Dwi. Mereka berjalan bersama ke dalam rumah mewah tersebut.
"Kenapa si lo gak selembut ini kalau cuma kita berdua dasar tukang akting" cibir Jihan dalam hati.
"Hai kalian udah sampai" ujar Mama Sri (mama Dwi)
"Iya mah" ucap Jihan sopan.
"Ya udah Mah kita ke kamar dulu mau bersih bersih" ucap Dwi.
__ADS_1
"Oke sayang biarkan anak mama yang cantik ini istirahat" ucap Mama Sri mengusap pipi Jihan.
"Iya mah" ucap Dwi.
Dwi terus mengandeng tangan Jihan sampai ke kamarnya, Jihan tertegun dengan kamar Dwi yang sangat besar dengan fasilitas lengkap. Dwi menarik Jihan dengan kasar membuat Jihan meringis kesakitan apalagi saat Dwi mendorongnya kuat ke atas kasur.
"Kenapa gak komentar" ujar Dwi dengan tatapan membunuh.
"Harus banget ya gue komentar" ujar Jihan tak kalah.
"Lo mulai berani ya mau tau akibatnya ngebantah" ucap Dwi memegang dagu Jihan erat.
Jihan memejamkan matanya menahan sakit yang Dwi buat, Dwi terus mendekatkan wajahnya namun saat jarak mereka hanya tinggal beberapa centi Jihan membuka matanya membuat pandangan mereka bertemu mereka saling menatap begitu dalam beberapa menit sampai cengkraman Dwi terlepas.
Saat sadar mereka berdua lalu mengalihkan pandangannya satu sama lain dan Dwi memilih untuk pergi dari kamar.
"Kenapa si tatapannya buat gue gak bisa nyakitin dia" gerutu Dwi.
Jihan termenung di dalam kamarnya ingin dia mengakhiri pernikahan ini tapi di lain sisi Jihan tidak ingin menyakiti hati orang tuanya saat pernikahan dia harus kandas.
"Wi mana Jihan sayang" tanya Mama.
"Lagi istirahat di kamar mah" ucap Dwi.
"Kamu mau kemana" tanya Mama.
"Mau pergi sebentar mah" ucap Dwi.
"Kemana, jangan macam macam kamu inget udah nikah" ujar Mama.
"Iya mah" ujar Dwi.
"Awas kamu" ujar Mama.
"Iya mah Dwi berangkat dulu ya" ucap Dwi.
"Iya hati hati" ucap Mama.
Dwi pamit lalu pergi setelah mencium tangan Mamanya. Sedangkan di kamar Jihan merebahkan diri sembari bermain ponsel.
tok.... tok.... tok....
(pintu kamar Dwi di ketuk)
"Hai kak" ucap Seorang gadis menyapa.
"Hai" ucap Jihan.
"Boleh masuk" tanya Putri adik Dwi.
"Boleh silahkan" ucap Jihan mempersilahkan.
"Terima kasih" ucap Putri melenggang masuk.
"Mau apa lo kesini" ucap Jihan duduk di sofa kamar.
"Santai dong tenang aja gak mau ajak berantem kok, mau kasih nih" ucap Putri memberikan banyak paper bag.
"Terima kasih, taruh aja di situ" ucap Jihan menunjuk kasur.
"Jangan terima kasih ke gue ke Abang noh gue si ogah kalau gak di suruh sama Abang buat beliin lo baju" ucap Putri dingin.
"Yayaya udah silahkan pergi" ucap Jihan.
"Masih dendam lo sama gue" ucap Putri.
"Siapa juga yang dendam gue mau istirahat" ucap Jihan.
"Yaya serah lo bye" ujar Putri pergi.
"Huh, capek" ujar Jihan lalu merebahkan dirinya bersama beberapa paper bag yang Putri kasih.
Jihan tertidur sampai waktu menjelang sore. Dwi pulang lalu menuju kamarnya tanpa menyapa mamah dan adiknya yang ada di halaman depan. Saat Dwi masuk ke dalam kamar Jihan belum juga bangun membuat Dwi menghela nafas panjang.
"Enak banget tidur ya" gumam Dwi.
Dwi menyingkirkan beberapa paper bag yang ada di atas ranjang lalu melompat dengan keras membuat Jihan terperanjat dan duduk.
"Bangun lo" ujar Dwi.
"Bisa ga si banguninnya lembut dikit kalau jantung gue copot gimana" ujar Jihan dengan nada ngantuk lalu kembali merebahkan diri.
"Bodo amat eh lo enak banget tidur gue kerja" ucap Dwi.
"Ya iya lah suami emang harus gitu kerja" ucap Jihan menutup matanya.
__ADS_1
" Iya tapi seenggaknya lo sambut gue kek" ucap Dwi.
"Siapa suruh pergi gak bilang" ujar Jihan lalu memunggungi Dwi.
"Gue lagi ngomong sama lo" ucap Dwi membalikkan badan Jihan.
"Gue ngantuk" ucap Jihan.
"Iya tapi gue mau ngomong" ucap Dwi.
"Gue gak mau" ucap Jihan menutup seluruh badannya dengan selimut.
"Dasar tukang tidur" ucap Dwi lalu merebahkan tubuhnya di samping Jihan.
"Ji kita di suruh ke butik nih buat cari baju buat seragam keluarga" ucap Dwi.
"Kenapa harus gue" ucap Jihan.
"Di suruh mamah" ucap Dwi.
"Kenapa harus sama lo gak sama mamah aja males gue pergi sama lo" ucap Jihan membuka selimutnya.
"Kenapa si lo susah banget di taklukin" ujar Dwi menarik semua selimut Jihan.
"Lagian lo tunjukin jati diri cepat banget" ucap Jihan sinis.
Dwi yang sudah geram dengan Jihan yang sedari tadi terus saja menjawabnya kehilangan kesabaran lalu mencengkram ke dua tangan Jihan dan menguncinya di bawah badan Dwi.
"Mau apa lo" ujar Jihan meronta.
"Mau ambil apa yang menjadi hak gue" ucap Dwi tersenyum jahat.
"Gila lo gue gak mau" ucap Jihan.
"Itu hak gue lagi" ucap Dwi.
"Hak lo kalau lo udah gak ada wanita lain di luar sana" ucap Jihan dengan tegas.
"Jadi setelah gue tinggalin dia gue bisa nikmatin lo gitu gimana kalau lo udah gak segel gue gak mau terima barang bekas" ucap Dwi tersenyum.
"Jahat lo ya, bilang gue barang bekas yang ada lo barang bekas gila sinting edan" ucap Jihan marah marah kepada Dwi.
"Lo ngatain gue apa" ucap Dwi mencengkram tangan Jihan semakin kuat.
"Sakit" rintih Jihan.
"Ini balasan lo ngata ngatain gue" ucap Dwi sembari meninggalkan beberapa bekas merah di leher Jihan membuat Jihan menangis.
Setelah puas bermain di leher Jihan Dwi berpindah ke bibir Jihan dan melu**t nya dengan rakus Jihan yang tidak bisa membalas lalu menggigit Dwi membuat Dwi menghentikan aktifitasnya.
"Lo gigit gue" ucap Dwi duduk.
Saat Dwi duduk di sampingnya Jihan langsung ikut duduk mengantisipasi kalau Dwi akan melakukan hal yang sama.
"Au sakit" ujar Dwi.
"Maaf" ucap Jihan lirih dengan menunduk
"Kamu bilang apa maaf ha" ujar Dwi.
"Bisa gak si jangan bentak gue takut gue gak pernah di bentak sebelumnya semarah apapun orang sama gue gak ada yang pernah ngebentak" ucap Jihan dengan derai air mata.
"Serius" ucap Dwi lirih sembari menatap Jihan.
"Iya kenapa mau bentak lagi" ujar Jihan.
"Gak maaf, gue kebawa emosi kalau sama lo gue pengin baik baik sama lo tapi lo nyolot terus" ucap Dwi lembut.
Jihan menatap Dwi mencari kebohongan namun tidak ada kebohongan di sana. Saat Jihan menatapnya Dwi langsung memeluk hangat Jihan membuat Jihan terpaku beberapa saat lalu membalas pelukan Dwi.
"Apa kamu ada cara untuk melepaskan Clarissa dari hidup gue" ucap Dwi membuat Jihan bingung.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya like vote dan komennya... Terima kasih...
__ADS_1