Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Teruslah Tersenyum


__ADS_3

"Ini minumannya taruh mana Ji" tanya hanya membawa segelas minuman.


"Taruh situ aja" ucap Jihan


Saat Hana sedang menaruh minuman di meja yang tepat berada di depan Dani yang kebetulan sedang menundukkan kepalanya, seketika Jihan .e.punyai ide licik sembari tersenyum.


"Kenapa senyum ada yang lucu" tanya Dwi.


"Ada" ucap Jihan.


"Apa" tanya Dwi.


"Liat aja" ucap Jihan tersenyum sinis.


"Kak Dani" panggil Jihan.


Dani mendongakkan kepalanya yang kebetulan kepala Hana masih di posisi menaruh minuman seketika Hana juga mendongakkan kepalanya dan terlihat mereka seperti hendak berciuman dengan cepat Jihan mengambil foto mereka.


"Udah dong pandang pandangannya" ledek Jihan sembari tersenyum.


"Awas lo Ji" teriak Hana.


"Hahaha sorry Na sengaja" ucap Jihan berlari.


"Sini lo" ucap Hana mengejar Jihan.


Jihan dan Hana saling kejar membuat mereka menjadi pusat perhatian. Jihan berlari ke arah Dani karena Hana tidak akan berani mengejarnya. Namun di luar dugaan Hana terus mengejarnya walaupun Jihan berlindung pada Dani.


"Udah na udah capek gue" ucap Jihan saat tertangkap.


"Siapa suruh" ujar Hana.


"Hehe lagian lo emang kangen sama kak Dani kan" bisik Jihan.


"Kata siapa" ucap Hana merona.


"Bilang gak tapi pipi merah tuh" ucap Jihan.


"Udah mainnya, lupain terus gue" ucap Mona.


"Hehe maaf Mon, lagian kemana aja lo eh btw deket ya sama kak Randi" tanya Jihan.


"Gak ada deket, ngomong ngomong lo gimana tuh kaki" tanya Mona.


"Udah enakan, walaupun tadi pas obatinnya gak pake perasaan" ucap Jihan menatap Randi sinis.


"Hehe maaf Ji, lagian gue mau pelan lo nya gak mau" ucap Randi yang ikut bergabung duduk di samping Mona.


"Iya tapi gak sekejam itu juga kali" ucap Jihan.


"Seharusnya lo tuh berterima kasih ke gue, karna gue lo bisa kejar tuh Dwi, kalau gak gimana coba" ucap Randi.


"Jadi maksud lo, sembuhin kaki Jihan biar bisa kejar gue gitu" ucap Dwi yang baru saja bergabung.


"Iya lah mau apa lagi coba, gue gak sejahat itu kali tikung punya temen" ucap Randi.


"Jadi emang niat lo sembuhin Jihan biar bisa bales gue gitu" ucap Dwi serius.


"Emang kenapa gak terima" ucap Jihan sinis.


"Eh, bukan gitu" ucap Dwi takut.


"Kenapa tegang gitu mukanya biasa aja kali" ucap Jihan.


"Kak Randi makasih udah sembuhin Jihan" lanjut Jihan.


"Iya, Honey" ucap Randi mendapat tatapan tajam dari Mona dan Dwi.


Jihan berdiri dan meninggalkan semuanya yang sedang asik mengobrol, Jihan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan karena hari mulai gelap dan keadaan semakin ramai dengan beberapa teman Jovan yang datang karena undangan dari Jovan.


"Hai Ji" sapa seseorang saat Jihan keluar dengan membawa berbagai jenis makanan layaknya seorang kariawan restoran.


"Siapa ya" tanya Jihan mengingat ingat.


"Sombong lo" cibirnya.


"Hahaha, yayayaya sorry sorry masuk lo" ucap Jihan.


"Oke" ucap Fero masuk dengan canggung.


Fero teman dekat Jihan, Fero juga yang bisa membuat Jihan merasa nyaman. Fero juga cukup dekat dengan Jovan sehingga dia tidak sungkan saat duduk di samping Jovan dan teman teman Jovan.


"Tumben kesini ada apa" tanya Jihan.

__ADS_1


"Ada yang mau gue kasih ke lo" ucap Fero.


"Apa hadiah ya" ucap Jihan semangat.


"Giliran hadiah aja lo langsung inget gue semangat lagi" ucapnya.


"Siapa suruh buat gue hampir gila" ucap Jihan.


"Lo yang bikin gue gila" ucapnya.


"Gue juga gak maksud kali, lo duluan yang buat gue gila" ucap Jihan.


"Ya sorry nih" ucapnya memberikan sebuah kotak kecil kepada Jihan.


"Ya thanks, gue buka ya" ucap Jihan.


"Serah lo" ucapnya tersenyum.


"Serius buat gue" tanya Jihan.


Pasalnya Jihan mendapat hadiah jam tangan yang sempat dia inginkan saat berjalan jalan dengan Fero. Walaupun jam tangan tersebut cukup mahal tapi Fero tetap membelikannya pasalnya Fero menaruh hati pada Jihan.


"Iya lah ya kali buat Abang lo" ucapnya.


"Makasih ya" ucap Jihan mengangkat sebuah jam tangan.


"Iya, ya udah gue langsung pulang aja ya" ucapnya.


"Terserah, gak makan atau minum dulu" tanya Jihan.


"Gak, ada sedikit masalah kayaknya nasib gue sama kaya lo" ucapnya.


"Yes, gue punya temen semoga lo bahagia" ucap Jihan.


"Iya gue harap juga gitu, padahal gue udah tolak mentah mentah gak bisa juga mungkin ini pertemuan kita yang terahir semoga lo selalu bahagia Ji" ucapnya memeluk Jihan.


"Iya iya, gue juga tau rasanya di posisi lo, lo juga semoga bahagia" ucap Jihan membalas pelukan sembari mengusap punggunggnya.


"Ya udah Ji gue pulang" ucapnya.


"Ya hati hati, maafin gue gak bisa kasih apa apa sama lo" ucap Jihan meneteskan air matanya.


"Udah Ji, jangan nangis gue jadi gak bisa pergi kalau gini lo udah kadih warna di dalam hidup gue jadi jangan nangis di depan gue jangan buat hujan setelah pelangi" ucapnya mengusap air mata Jihan di depan Dwi.


Fero hanya tersenyum mendengar itu walaupun hatinya sakit saat mengingat saat Jihan mengatakan bahwa dirinya sudah menikah. Fero langsung mengalihkan pamdangannya kepada Jovan karena dirinya tidak ingin meneteskan air matanya di depan Jihan.


"Ya udah, Bang gue pulang dulu" ucapnya berpamitan dengan Jovan.


"Ya, hati hati lo inget jangan buat keputusan yang bisa buat lo menyesal seumur hidup lo" ucap Jovan memeluknya karena Jovan juga tau kalau Fero menyukai Jihan begitupun sebaliknya.


"Bye Ji bye Bang, saya permisi semua" ucapnya membungkukkan badannya.


"Eh Fero kenapa buru buru" tanya Papa Jihan yang baru saja bergabung.


"Iya om ada urusan" ucap Fero tersenyum.


"Makan dulu lah, ini hari bahagia buat Jihan" ucap Papa Jihan.


"Gak om, semoga bukan cuma hari ini Jihan bahagia semoga hari hari selanjutnya akan selalu bahagia tanpa sebuah kesedihan sedikit pun" ucap Fero tersenyum menatap Jihan dalam.


"Iya semoga aja" ucap Papa Jihan.


"Kalau gitu Fero pamit om tante semoga kalian selalu bahagia dan maafin semua kesalahan Fero" ucap Fero pergi.


"Kenapa itu Ji, kok gak biasany dia bicara kaya gitu si" ucap Mama Jihan.


"Iya mah, ada masalah yang bisa buat semua orang berbeda" ucap Jihan santai sembari pergi ke teras.


"Kenapa Bang" tanya Mama Jihan.


Jovan hanya mengangkat ke dua bahunya acuh sedangkan Mona dan Hana menyusul Jihan ke teras setelah menyelesaikan pekerjaan menata semua makanan di meja.


"Kenapa si Ji" tanya Hana.


"Gak apa apa Na" ucapnya dengan pandangan lurus ke depan.


"Gak apa kenapa tadi pas Fero peluk lo lo nangis apa yang dia bilang ke elo" tanya Hana.


"Dia gak bilang apa apa dia cuma bilang teruslah tersenyum Ji gitu doang" ucap Jihan.


"Yakin cuma itu kenapa lo nagis" tanya Mona.


"Yang buat gue nangis bukan itu" ucap Jihan.

__ADS_1


"Lalu" tanya Hana penasaran.


"Dia bakal pergi dari sini, hadiah tadi bisa di bilang hadiah terakhir dari dia gue merasa bersalah dengan masalah ini gue bahkan gak bisa buat apa apa saat dia di salahin kaya gitu" ucap Jihan.


"Itu bukan salah lo Ji" ucap Mona.


"Bukan salah gue lalu salah siapa salah keluarga dia, mereka melakukan itu biar Fero gak sakit terlalu dalam dengan itu walaupun alasan mereka begitu menyakitkan" ucap Jihan kbali meneteskan air matanya.


"Udah Ji jangan nangis" ucap Hana.


Seketika Jihan menghentikan tangisannya namun dengan pandangn yang lurus dan tanpa berkedip membuat Hana dan mona ikut melihat ke arah yang Jihan lihat. Mereka melihat Fero memasuki mobil sembari tersenyum ke arah Jihan dengan beberapa orang yang juga masuk ke dalam mobil. Jihan membalas senyuman Fero tapi senyuman itu perlahan menghilang dengan hilangnya mobil yang Fero naiki.


"Semoga keputusan lo itu yang terbaik dan semoga lo selalu bahagia karena di sini gue bakal lakuakan apa yang lo minta" ucap Jihan sembari tersenyum walau air matanya menetes.


"Gitu dong Ji senyum, ya udah yuk masuk takut mereka semua curiga" ucap Hana.


"Hm oke" ucap Jihan berjalan lebih dulu ke dalam rumah.


"Dari mana lo Ji " tanya Raka.


"Dari depan" ucap Jihan.


"Ji lo tau gak kalau Fero pindah" ucap Raka.


"Hm gue baru tau" ucap Jihan santai duduk di samping mamahnya.


"Beneran Ji kok tadi Fero gak bilang si" tanya Mama Jihan.


"Gak tau, eh bukannya tadi udah pamin mama gak perhatiin si" ucap Jihan.


"Masa si, tadi kan cuma bilang saya pamit gitu doang gak bilang mu pindah kalau bilang kan bisa mama buatin makanan ya udah deh besok aja" ucap Mama Anggun.


"Telah Mah, baru aja Fero pergi sama keluarganya" ucap Jihan.


"Serius kamu kenapa gak bilang si " tanya Mama Anggun.


"Emang Jihan tau, lagian yang pindah cuma Fero kalau orang tuanya kayaknya lusa pulang deh" ucap Jihan.


"Kok yakin" tanya Putri.


"Yakin lah orang yang berkepentingan cuma Fero doang" ucap Jihan santai.


"Tapi ngomong ngomong kaka yang tadi ganteng juga" ucap Putri.


"Udah gede ternyata kamu put udah tau yang ganteng" ledek Mama Sri.


"Kenapa suka" tanya Jihan membuat Mona Hana Jovan menatap Jihan aneh.


"Suka lah orang dia ganteng, dan masih muda lagi" ucap Putri tersenyum.


"Tapi sayangnya kalah cepet lo, besok dia jadi suami orang" ucap Jihan sedih.


"Yah, gagal lagi deh" ucap Putri.


"Lagian kenapa jauh jauh ke Fero tub temen Abang lo juga ganteng ganteng pilih aja" ucap Jihan membuat Hana dan Mona tersenyum.


"Gak ada yang nyangkut di hati, tapi kalau boleh tanya menurut kaka yang paling ganteng di antara mereka siapa selain kak Dwi loh ya karena dia udah di atas rata rata" tanya Putri.


"Pilih aja sendiri selera kita berbeda" ucap Jihan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa vote dan komennya ya.... Like juga gratis....


Happy reader.

__ADS_1


__ADS_2