
Setelah Dwi bisa berdiri walaupun dengan bantuan Jovan. Dwi masuk ke dapam apartemen Jihan yang sudah ada banyak orang di sana juga ada Ridwan yang sedang memeriksa Jihan.
"Gimana dia Bang" tanya Dwi.
"Baik kok, gue kan udah pernah bilang jangan pernah buat dia stres apalagi kecapean terutama capek hatinya" ucap Ridwan.
"Iya tau, kalau udah tolong kasih gue obat dong Bang" ujar Dwi.
"Kenapa lo" tanya Ridwan.
"Gue ke tiban Jihan " ucap Dwi.
"Gimana rasanya sakit atau dag dig dug" tanya Ridwan.
"Dag dig dug Bang" ucap Dwi lirih.
"Hahahaha Jujur banget lo Wi" ledek Jovan.
"Diem lo, pergi sana ganggu dia istirahat" ujar Dwi mengusir Jovan pergi dari kamar di ikuti mama yang juga ikut ke luar.
Di luar kamar sudah ada banyak orang yang menunggu penjelasan Ridwan tentang kondisi Jihan.
"Wi makasih ya udah jaga Jihan" ucap Dani.
"Iya kak" ucap Dwi.
"Nak Dwi tetaplah di samping Jihan apapun yang terjadi gantikan papa untuk menjaganya" ucap papa Jihan.
"Iya pah, Dwi akan melakukan yeng terbaik untuk Jihan" ucap Dwi.
"Maaf tante saya pulang dulu" ucap Fero yang sedari tadi diam.
"Oke, hati hati" ucap Mama Jihan.
"Iya tante ketemu lagi di pesta pernikahan Fero nanti" ucap Fero sembari menangis.
"Maafin gue Fer gak bisa bantu lo" ucap Dani menepuk punggung Fero.
"Gak apa apa kak udah takdir gue permisi Kak" ucap Fero cepat pergi.
Dani menatap kepergian Fero, sebelum pergi Fero melihat keadaan Jihan walau hanya dari balik pintu tanpa mau mendekat. Fero takut saat dia mendekat dia tidak akan bisa mengontrol dirinya.
Tak lama kemudian Jihan bangun dan berjalan ke luar kamar dengan jalan berpegangan ke dingding.
"Bang Ridwan Jihan mau bicara" ucap Jihan.
"Oke bicara aja" ucap Ridwan.
"Berdua, bisa kita ke sana" ucap Jihan menunjuk sebuah balkon di samping tempat semua orang berkumpul.
"Oh oke" ucap Ridwan berjalan mengikuti Jihan dan sesekai menggenggam tangan Jihan saat Jihan akan terjatuh.
"Lo kenapa bawa gue ke sini suami lo bisa marah nanti" ucap Ridwan.
"Gak peduli gue Bang, gue cuma mau tanya sebenarnya apa yang terjadi tadi sama gue Bang" tanya Jihan.
"Lo pingsan, udah gue bilang lo jangan stres" ucap Ridwan.
"Abang tau kan kelemhan gue adalah Abang sama Mama" ucap Jihan.
"Ya terus kenapa lo sampai gini" tanya Ridwan.
"Lo tau Bang, gue belum makan dari pagi mungkin itu yang buat gue pingsan" ucap Jihan.
"Gak mungkin, pasti ada masalah lain" ucap Ridwan.
"Ya Bang, di saat Jihan butuh mama dan di saat Jihan akan kasih mama sebuah undangan ke wisuda Jihan mama pergi dan Dokter tau kalau Mama mau pergi di saat Jihan ingin menangis sekeras kerasnya di pangkuan beliau gue juga rindu belaian mama" ucap jihan.
"Bukannya masalah lo udah selesai Ji" tanya Ridwan.
"Belum Dokter, hati gue masih aja ragu dengan semua ini" ucap Jihan.
"Keraguan mu akan segera terjawab" ucap Ridwan.
"Dokter tau tadi ada seseorang yang memanggil Jihan mama tapi saat Jihan mau ikut dia pergi dan bilang jangan ikut mah apa mama gak mau lihat aku di dunia nanti" ucap Jihan sembari tersenyum.
"Kapan itu apa saat kamu pingsan" tanya Ridwan.
"Bukan Dok, tapi saat Jihan lagi nangis makanya Jihan mulai naik ke pagar tadi krena Jihan penasaran dengan anak itu" ucap Jihan.
__ADS_1
"Apa mungkin dia akan datang di dunia ini" tanya Jihan lagi.
"Sepertinya iya, pertahankan apa yang sudah kamu miliki belun tentu sesuatu yang kamu kejar adalah yang terbaik" ucap Ridwan.
"Gue harap gitu Dok, terima kasih ya udah mau denger" ucap Jihan.
"Iya, oh ya kamu masih mengonsumsi obat itu" tanya Ridwan.
"Gak gak tau kemana tuh obat pergi" ucap Jihan.
"Kamu bisa tidur" tanya Ridwan.
"Bisa tapi kalau Dwi ada di samping gue, kalau dia gak ada bisa sampai pagi gue buka mata" ucap Jihan.
"Wah kamu punya obat baru ternyata" ledek Ridwan.
"Bukan itu Dok, tapi seperti biasa gue kan takut sendiri mungkin bisa nyaman tidur karena tau kalau ada yang temenin" ucap Jihan.
"Masa si, eh ngomong ngomong masalah kamu sama mama kamu udah selesai" tanya Ridwan.
"Belum Dok, gue belum minta maaf sama mama Dokter tau mama Abang adalah orang yang sangat Jihan perjuangkan tapi mereka Juga yang huat Jihan tertahan" ucap Jihan.
"Berusahalah untuk menerima semuanya" ucap Ridwan.
"Makasih Dok udah mau denger tapi jangan lagi lagi sadap pembicaraan orang dok" ucap Jihan tersenyum membuat Ridwan membulatkan matanya.
"Maksud kamu" tanya Ridwan gugup.
"Ini" ucap Jihan mengambil ponsel di saku jas dokter Ridwan.
"Sejak kapan lo tau" tanya Ridwan.
"Lo pikir gue bodoh apa gue juga sadap komunikasi lo" ucap Jihan memamerkan ponselnya kepada Ridwan.
"Susah ya sama ahli teknologi" ucap Ridwan mematikan alat sadapnya.
"Bang lo mau gak datang ke acara wisuda gue gue gak yakin orang tua gue datang paling juga Bang Jovan" ucap Jihan.
"Boleh kapan" tanya Ridwan.
"Sehari setelah pernikhan Fero" ucap Jihan.
"Sebagian bener sebagian bohong" ucap Jihan.
"Gak bisa di percaya lo" ucap Ridwan.
"Hehe sorry sorry" ucap Jihan tertawa me.buat Dwi merasa panas hati kemudian me dekati Jihan.
"Apa yang buat lo se senang itu" tanya Dwi.
"Kepo banget si lo, bukannya denger semua pembicaraan tadi" ucap Jihan.
"Mas boleh minta waktunya gak" ucap Jihan.
"Boleh kenapa" tanya Dwi.
"Tolong datang di acara wisuda Jihan tepat satu hari setelah pernikahan Putri, gue mohon" ucap Jihan menyatukan ke dua tangannya.
"Mas usahain" ucap Dwi.
"Gak boleh usaha doang harus dong please gak ada yang peduli sama Jihan selama ini" ucap Jihan.
"Udah lah Ji jangan nangis gue duluan ya" ucap Ridwan.
"Hm makasih Bang udah dengerin cerita Jihan" ucap Jihan.
"Yaya walaupun cerita lo bohong kan itu kan" ucap Ridwan.
Jihan hanya menyengir kuda seakan tidak bersalah memebuat Ridwan menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Jihan dan Dwi hanya berdua.
"Lo deket banget sama Bang Ridwan" tanya Dwi.
"Deket doang, dia tuh psikolog gue" ucap Jihan.
"Jadi dia tau dong semua tentang lo" ucap Dwi.
"Ya, dan dia juga yang udah bawa Jihan keluar dari keterpurukan" ucap Jihan.
"Yakin hanya antara seorang pasien dan psikolog nya" ucap Dwi.
__ADS_1
"Kenapa tanya gitu si lo gak percaya banget, gue sama dia gak ada hubungan spesial" ucap Jihan.
"Gue gak bilang lo punya hubungan spesial tapi cara lo panggil dia tadi kayak gak canggung" ucap Dwi.
"Saat lo kenalin dia sebagai Abang lo gue seneng banget ternyata gue punya banyak Abang yang perhatian dan baik sama gue ikatan itu buat gue makin nyaman" ucap Jihan.
"Nyamam" ucap Dwi membulatkan matanya.
"Iya tapi lebih nyaman sama kamu" ucap Jihan memeluk Dwi membuat Dwi membulatkan matanya.
"Ehem ehem" ujar Dwi mencairkan suasana.
"Mas masakin dong laper nih" ucap Jihan.
"Mau makan apa" tanya Dwi.
"Apa aja lah yang penting enak" ucap Jihan.
"Ya udah lepasin gue" ujar Dwi.
"Yayaya" ucap Jihan melepaskan pelukannya dan berjalan meninggalkan Dwi.
Jihan berjalan ke dapur sedangkan Dwi mengikutinya dari belakang Dwi bingung dengan keadaan dapur pasalnya dia tidak pernah memasak. Lain dengan Jihan yanh asik main ponsel.
"Kok bengong kenapa Wi" ujar mama.
"Gak bisa masak mah" ucap Dwi
"Ya udah kamu duduk aja biar mama yang masak" ucap Mama.
"No mama gak boleh masak" ucap Jihan.
"Kamu gak kangen masakan mama" ucap Mama.
"Gak tuh" ucap Jihan langsung berdiri dan mulai memasak.
"Biar mama bantu Ji" ucap Mama.
"Gak mah, bisa gak si jangan paksaain kehendak mama sama Jihan capek mah Jihan capek" ucap Jihan membuat mama bersedih namun Jihan tak menghiraukannya.
"Maafin Jihan mah, tapi Jihan belum bisa menerima semua keadaan ini Jihn harap mama bisa mengerti Jihan. Jihan juga gak mau buat mama sulit untuk pergi karena Jihan" ujar Jihan
Jihan membalikkan badannya untuk memasak. Sebenarnya Jihan juga sedang menahan air matanya agar tidak jatuh. Jihan langsung saja mengalihkan perhatiannya dengan mengambil beberapa bahan makanan.
"Lo nangis Ji" ucap Dwi mendekati Jihan sembari memberikan tisu.
"Gak cuma perih iris bawang" ucap Jihan.
"Kok gue gak percaya ya" ujar Dwi.
"Serah lo, buat pelukan tadi gak usah GR lo sampai gak bisa nafas gue bercanda kali emang lo doang yang bisa bercandain hati gue" ucap Jihan.
"Ya gue tau, bercanda tapi betah banget" cibir Dwi.
"Kenapa gue sakit saat Jihan bilang itu bercanda" ujar Dwi dalam hati.
Dwi lalu meninggalkan Jihan di dapur sendiri dan bergabung dengan anggota keluarga yang lain. Tak lama keluarga Suseno datang membuat Jihan menarik nafasnya panjang. Karena dia belum sepenuhnya melepaskan Fero dari hatinya.
Jihan tertunduk di meja dapur membuat Dwi sesekali meliriknya namun enggan untuk mendekatinya. Jihan menyelesaikan masakannya dengan cepat lalu menyiapkannya di piring saji dan memakannya.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like vote dan komennya ya....
Author juga mau bilang maaf kalau ceritanya bosenin tapi ini kemampuan Author dan hasil imajinasi Author sendiri tanpa bantuan siapapun...
Terima kasih yang terus dukung Author***...
__ADS_1