
"Apa yang lo lakukan" ucap Jihan hendak membebaskan diri namun dengan sigap Dwi menahan tengkuk Jihan lalu ******* bibir Jihan.
"Makasih" ujar Dwi saat melepas tautannya.
"Gila lo" ucap Jihan merapikan diri.
"Hehe maaf, terima kasih jadi makin semangat " ucap Dwi.
"gue gak ikhlas ya" ucap Jihan.
"Mau di kembalikan" tanya Dwi dengan senyuman licik.
"Gak mau, udah berangkat gih" ucap Jihan.
"Iya Honey, makasih vitaminnya ya manis" ucap Dwi.
Jihan tidak menjawab hanya menunduk dan menutup pintu mobil Dwi dengan cepat membuat Dwi tersenyum bangga. Setelah itu Dwi berangkat sedangkan Jihan masuk ke dalam rumah.
"Dia beneran sisain ini buat gue, tapi ini bukan sisa lebih tepatnya dia makan sedikit" ucap Jihan melihat piring Dwi yang hanya di makan sepertiga porsinya.
Jihan lalu menyambar piring yang tadi buat makan Dwi Jihn langsung mencoba makanannya kemudian Jihan tersenyum dan menghabiskan makanannya.
"Sepi, apa gue ke rumah sakit aja ya" ujar Angel saat sudah menyelesaikan acara makannya.
Angel lalu bersiap ke rumah sakit tidak lupa dia sudah memakai seragam sekolah dan memakai jaket untuk melindunginya dari dingin dan untuk menutupi seragamnya. Jihan berangkat setelah adzan subuh dengan memakai motor milik Dwi.
"Kaka belum bangun lagi" ujar Jihan saat sudah sampai di rumah sakit.
"Loh Ji kamu ngapain ke sini masih pagi buta gini" ucap Dani dengan nada serak khas bangun tidur.
"Hehe, ganggu ya Ka" ujar Jihan tersenyum.
"Gak si, cuman ngapain ke sini pagi pagi gini" tanya Dani lagi sembari duduk.
"Gak apa apa kak, cuma di rumah sepi jadi ke sini aja" ucap Jihan.
"Lo gak takut di marahi suami lo" ucap Dani.
"Gak lah, orang udah bilang" ucap Jihan.
"Tapi kan gak baik lo tinggalin suami sepagi ini, gak lagi marahan kan" tanya Dani was was.
"Gak lah Kak, orang dia berangkat ke luar kota tadi pagi" ucap Jihan.
"Jadi lo di rumah sendiri" tanya Dani tak percaya.
"Iya, makanya ke sini" ucap Jihan.
"Oh, udah makan " tanya Dani.
"Udah tadi sekalian bikinin sarapan buat suami sama pak Nano" ucap Jihan sengaja menekan kata suami.
"Biasa aja ngomong suami nya, awas jatuh cinta lo" ledek Dani.
"Diem ngapa kak, tidur lagi gih Jihan mau belajar buat ujian hari ini" ucap Jihan.
"Yayaya, istri Dwi Putra Suseno" ledek Dani.
Jihan menatap Dani tajam, sedangkan Dani masih cekikikan di balik selimutnya. Tak sengaja ada sebuah senyum mengembang di bibir ranum Jihan saat dia mengingat gelar istri.
Saat Jihan mulai membaca ada sebuah notifikasi dari ponselnya membuat Jihan mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya pagi pagi seperti ini.
"Abang, ada apa" ucap Jihan saat melihat nama Abangnya tertera di ponselnya.
"*Ji bisa anter kotak yang ada di meja belajar Abang gak, nanti sore setelah kamu sekolah juga gak apa apa tadinya Abang mau pulang ambil kotak itu tapi ada masalah di perusahaan jadi Abang harus bantu Dadi please anter ya kamu pakai motor kak Dani aja biar cepet
Terima kasih ,❤️❤️*"
"Giliran ada maunya ngomongnya alus bener" cibir Jihan.
Tak terasa sang surya sudah meninggi, membuat Jihan merapikan buku bukunya dan bersiap berangkat sekolah saat akan berangkat dokter datang ke ruang Dani mengatakan bahwa Dani sudah boleh pulang Jihan sangat senang lalu membayar administrasi rumah sakit dan berangkat sekolah sebelum Dani bangun.
"Loh kemana si Jihan, udah berangkat ya cepet banget" ujar Dani saat baru saja bangun.
"Surat" ujarnya saat melihat sebuah kertas kecil di atas nakas rumah sakit.
Buat Kaka
Nanti siang Kakak boleh pulang, tapi *tunggu Jihan datang ya untuk administrasi sudah Jihan selesaikan.
Salam manis
Yang tersayang
__ADS_1
Jihan*
petikan surat Jihan membuat Dani tersenyum. Dani lalu menyiapkan diri untuk pulang siang ini lalu memakan sarapan yang sudah tersedia di meja.
Di sisi lain Jihan sudah memasuki area sekolah, Jihan berjalan santai saat sudah memarkirkan motornya. Banyak mata yang menatap Jihan aneh pasalnya Jihan membawa motor milik Dwi.
"Eh Ji, tumben bawa motor sendiri" ujar Nisa yang baru saja datang menghampiri Jihan.
"Hm" ujar Jihan.
"Kemana suami lo" tanya Nisa.
"Kenapa" tanya Jihan santai.
"Gak cuma biasanya kan sama lo, tapi lo bawa motor sendiri lo jangan jangan lo begal suami lo sendiri ya" ledek Nisa.
"Ya kali gue begal, gak di begal juga itu udah buat gue" ucap Jihan.
"Wah, mulai ada rasa" ujar Nisa.
"Gak ada" ucap Jihan.
"Eh, ada Nyonya Dwi guys" ledek Hana yang baru sampai bersama Mona.
"Berisik lo" ujar Jihan kesal dan berlalu pergi membuat semua temannya terkikik.
"Udah udah tuh liat Jihan bete, kita siap siap ujian aja" ujar Mona.
"Tumben bener lo Mon" ledek Hana.
"Na lo kenapa si dari tadi gitu mulu, ya udah gue mau susulin si Jihan dulu" ucap Nisa berlari.
"Kenapa tuh bocah" tanya Mona.
"Entahlah mending kita ke kelas aja yuk udah mau mulai nih" ucap Hana.
"Bener lo na" ucap Mona.
Mona dan Hana pergi dengan arah bersebrangan dengan Jihan dan Nisa, saat Jihan melewati koridor ternyata Fero sedang menunggunya membuat Nisa buru buru mendekati Jihan.
"Hai Ay" sapa Fero.
"Hai" ucap Jihan tersenyum.
"Lo ngapa si sensi bener Nis, gue sapa Jihan lo yang marah" cibir Fero.
"Gila lo dia udah ada yang punya tau" ucap Nisa memajukan wajahnya
"Udah tau" ucap Fero.
"Ay semangat ujiannya ya, gue yakin lo bisa" ucap Fero lembut.
"Thanks ya, lo juga biar kita bisa keluar sama sama dari sini" ucap Jihan lembut.
"Oke gue bakal berusaha buat menyaingi lo" ucap Fero.
"Gue tunggu lo, tapi inget lo gak boleh lebih dari gue" ujar Jihan di akhiri gelak tawa.
"Yaya, gue samain aja deh" ucap Fero.
"Oke kalau gitu" ucap Jihan.
"Ya udah ya Ay gue duluan good luck" ucap Fero pergi.
Nisa yang masih bingung dengan omongan ke dua orang tersebut memilih diam, sedangkan Jihan melanjutkan jalannya namun seketika dia berhenti membuat Nisa menabraknya.
"Kenapa berhenti si Ji" ujar Nisa mengusap kepalanya yang mengenai Jihan namun Jihan hanya diam.
Jihan lalu kembali melanjutkan jalannya tanpa memikirkan Nisa yang masih saja menggerutu. Tak lama kemudian ada seorang guru yang datang bertanda mereka akan segera melakukan ujiannya.
Waktu berjalan cepat semua murid sudah berhamburan ke luar kelas karena ujian ke dua telah berakhir. Jihan berjalan menuju parkiran namun tiba tiba ponselnya berdering membuatnya menghentikan langkahnya di ikuti semua sahabatnya.
"Hallo" ujar Jihan saat mengangkat telfon di ponselnya.
"Hallo, gimana ujiannya lancar" tanya orang di sebrang.
"Lancar, ini siapa" tanya Jihan.
"Ini mas Ji, kamu bisa tolongin mas gak" tanya Dwi di sebrang.
"Tolong apa lagi" tanya Jihan.
"Mas salah bawa laptop, tolong kirim beberapa file yang ada setelah kamu sampai rumah ya" ucap Dwi.
__ADS_1
"Gue mau ke rumah sakit dulu, kak Dani di bolehin pulang soalnya" ucap Jihan.
"Syukurlah kalau begitu, oh ya mas udah taruh uang di meja rias kamu buat uang saku" ucap Dwi.
"Berapa" tanya Jihan.
"Lima juta" ucap Dwi.
"Gak terlalu sedikit tuh perginya kan cuma dua hari" tanya Jihan.
"Gak, udah dulu ya kalau gak mau negosiasi mas mau kerja lagi cari duit buat kamu" ucap Dwi.
"Gue mau nego" ucap Jihan cepet.
"Oke, tapi cepet ya mas gak bisa lama lama nih" ucap Dwi.
"Siapa suruh telfon, gue mau satu juta sehari" ucap Jihan.
"Sedikit bener" ujar Dwi.
"Ngehina lo, itu udah banyak gue bakal buat uang lo abis tau" ujar Jihan.
"Gak bakal habis Ji, kan gue masih kerja gue bakal buat lo bahagia dan gak kekurangan uang" ucap Dwi.
"Terserah, gimana permintaan gue setuju gak" ucap Jihan.
"Setuju, tapi itu cuma buat saku ya yang buat lain lain kamu minta lagi" ujar Dwi.
"Ya terserah tapi jangan di ambil sisanya, itupun kalau sisa gue bakal buat lo sengsara cari duit " ucap Jihan emosi.
"Ya permaisuri ku, terserah mau kamu mas setuju" ucap Dwi lembut.
"Oke satu juta per hari" ucap Jihan.
"Oke deal" ucap Dwi.
"Deal, udah sibuk gue" ucap Jihan.
"Gue yang kerja lo yang sibuk" ucap Dwi membuat sebuah lengkungan lebar di wajah Jihan.
Jihan mematikan telfonnya sepihak karena dia tidak ingin Dwi mendengan dia tersenyum, walaupun dia tau kalau senyum gak bisa di denger hanya bisa di lihat. Sedangkan semua sahabatnya menatap Jihan aneh.
"Kenapa kalian liatin gue kayak gitu" tanya Jihan menatap sahabatnya aneh.
"Lo kerja apa Ji satu juta per hari, lo gak" ujar Mona.
"Gila lo, gue masih waras kali gak bakal kerja macem macem gue" ucap Jihan.
"Terus" ujar Nisa.
"Terus apanya, yang tadi tuh pengeluaran harian" ucap Jihan.
"Dari suami lo" tanya Mona.
"Hm" ujar Jihan.
"Beruntung bener lo, satu juta perhari itu pengeluaran fantastis tau" ujar Hana.
"Gak biasa aja kali, di luar sana ada yang beli baju lima belas juta cuma sepotong" ujar Jihan.
"Emang ada baju harga segitu" ujar Mona.
"Ada, sepatu juga ada yang sampai dua puluh lima juta tau" ucap Jihan.
"Masa sih, sayang banget tuh uang cuma buat sepatu doang kena tanah tapi tampilannya kayak apa tuh sepatu dua puluh lima juta pakai mas kali ya" ujar Hana.
"Kalian mau lihat, nih gue yang lagi pake ini tuh murah tau cuma dua puluh lima juta gimana ekspresi kalian pas tau harga tas gue" ujar Jihan dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote like dan komennya ya...
__ADS_1
Alhamdulillah udah lulus kontrak nih guys, terima kasih kepada semua readers yang udah dukung Author...