Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Eps 132


__ADS_3

"Semua terserah kamu kapanpun kamu ingin bercerita ceritalah, kalau kamu belum bisa menjadikan saya suami setidaknya jadikan saya saudara yang bisa kamu percaya dalam bercerita jangan cerita dengan laki laki lain saya takut kamu terlalu nyaman dengannya" ujar Dwi mengelus elus pipi Jihan.


"Suatu saat nanti" ujar Jihan.


"Hm kamu mau memulai semuanya lagi" tanya Dwi penuh harap.


"Akan saya coba" ujar Jihan membut Dwi tersenyum.


"Bolehkah saya memelukmu" tanya Dwi.


"Baru juga lampu kuning belum hijau" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Kalau lampu kuning siap siap dong siapa tau langsung ganti hijau" ujar Dwi.


"Mana ada proses, yang belum tentu terjadi" ujar Jihan.


"Terserah deh, love you" ujar Dwi mencium pipi Jihan namun hanya tatapan hangat yang membalasnya.


"Katanya mau anter makanan" ujar Jihan mengalihkan pandangan.


"Kamu gak mau ini semua " tanya Dwi.


"Gak, lagian mau makan malam di rumah mama sayang makanannya" ujar Jihan.


"Gak sayang yang belinya" ujar Dwi dengan nada meledek.


"Gak" ujar Jihan enteng.


"Sakit hati gue" ujar Dwi.


"Gak peduli" ujar Jihan.


"sungguh jahat, tapi boleh gak kalau kamu panggil saya dengan sebutan Mas lagi maksudnya walau gak ada mama" ujar Dwi penuh harap.


"Oke mas Dwi" ujar Jihan penuh penekanan melenggang pergi.


"Oke nyonya Putra" ujar Dwi membuat Jihan berhenti.


"Siapa nyonya Putra, maaf saya gak suka nama itu lebih baik saya menjadi Nyonya Dwi entah apa alasannya tapi saya tidak suka nama Putra itu" ujar Jihan jujur membuat Dwi tersenyum walaupun Jihan tidak sadar mengatakannya.


"Ponsel mana" ujar Jihan.


"Di kamar" ujar Dwi menunjuk kamarnya.


"Oh" ujar Jihan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel di ikuti Dwi walu tak selemas tadi tapi Dwi tau Jihan menahan rasa sakitnya.


Saat sampai di tepi tempat tidur Dwi menarik Jihan keras membuat Jihan kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas kasur. Dwi tersenyum lalu menjatuhkan diri tepat di atas tubuh Jihan dengan senyuman mengembang Dwi mendekatkan wajahnya berbeda dengan Jihan yang sangat jelas terlihat gugup.


"Kenapa gugup Gitu saya tidak akan melakukannya sekarang" ujar Dwi tersenyum.


"Lalu" tanya Jihan terbata.


"Mau gini aja sebentar aja" ujar Dwi.


"Tapi " ujar Jihan terhenti saat Dwi menjatuhkan wajahnya tepat di tengah tengah gunung kembar Jihan.


"Saya tidak akan melakukannya lebih jadi berhentilah bergerak atau junior saya bangun" ujar Dwi menggesek gesekkan hidungnya di sana.


Jihan menahan geli yang Dwi timbulkan. Melihat Jihan tersiksa di bawahnya dia mengganti posisi Jihan menjadi di atas tubuhnya namun Dwi menarik pinggang Jihan erat.


"Jihan berat" ujar Jihan.


"Gak papa, mau protes" ujar Dwi.


"Iya posisinya gak nyaman, dada saya sesak" ujar Jihan


"Benarkah, mau saya periksa" ujar Dwi dengan senyuman penuh tanda tanya.


"No no, gak jadi" ujar Jihan.


"Please terima saya dalam hidupmu saya tau saya sumber masalah di hidupmu tapi saya akan memperbaikinya" ujar Dwi.


"Oke oke udah lepasin" ujar Jihan.


"Gak mau kiss dulu" ujar Dwi menunjuk pipinya membuat pipi Jihan memerah.


"Kalau gak mau gak bakal saya lepasin" ujar Dwi tersenyum.


"Yaya halal juga kan" ujar Jihan memajukan wajahnya walau dengan ragu dia mendekatkan bibirmya ke pipi Dwi namun dengan cepat Dwi mengganti posisinya membuat daging kenyal itu tepat berada di bi**r Dwi.


Jihan membulatkan matanya sedangkan Dwi tersenyum penuh kemenangan. Saat Jihan akan menjauhkan kepalanya Dwi malah menahan tengkuknya membuat Jihan pasrah. Dwi bermain dengan sangat lembut kali ini namun bisa membuat suhu tubuhnya naik.

__ADS_1


Jihan menepuk dada Dwi karena kehabisan oksigen. Dwi tersenyum dan mengecup sekali lagi dan melepaskan Jihan


"Mati gue" ujar Jihan bangun dengan nafas tersengal sengal.


"Gak lah justru transferan vitamin" ujar Dwi memeluk Jihan dari belakang.


"Lepasin mau cari ponsel" ujar Jihan menghindar.


"nih, tapi tetap kek gini" ujar Jihan memberikan ponsel Jihan namun tanpa melepaskan pelukannya.


"Serah deh, hallo Na udah pulang" tanya Jihan.


"Udah Ji, kenapa" tanya Hana di sebrang telfon.


"Kamu bisa ke apartemen mas Dwi gak" tanya Jihan.


"Mana gue tau" ujar Hana.


"Ye ada di lantai atas apartemen kalian cuma punya mas Dwi doang di lantai atas" ujar Jihan.


"Oh oke oke" ujar Hana mematikan telfonnya.


"Gimana jalannya ini" ujar Jihan protes.


"Yaya" ujar Dwi melepaskan pelukannya beralih menggenggam tangan Jihan


"Gak bisa lepasin bentar aja" ujar Jihan.


"Gak soalnya saya akan buat kamu baper" ujar Dwi.


"Dasar" ujar Jihan pasrah.


Jihan menunggu kedatangan Hana dengan duduk di depan televisi tidak lupa juga Dwi yang tiduran di pangkuan Jihan dan sesekali menggoda Jihan.


Ting ... Tong....


"Tuh pasti Hana" ujar Jihan membuat Dwi bangun.


"Biar mas aja " ujar Dwi.


"Oke" ujar Jihan.


ternyata benar di sana ada Hana namun tak hanya Hana ada Mona dan Nisa juga. Dwi mempersilahkan mereka semua masuk di sambut dengan senyuman hangat Jihan.


"Hai guys duduk deh" ujar Jihan.


"Kamu kenapa undang kita ke sini" tanya Hana.


"Nih mas Dwi beli makanan banyak banget kan sayang kalian mau belum di sentuh juga kok, soalnya nanti malam dapat undangan dari mertua" ujar Jihan.


"Tapi ini makanan mahal semua Ji gak sayang kamu" tanya Hana.


"Gak lah sayang kalau di buang" ujar Jihan dengan ceria.


"Ya udah kayaknya kita ganggu deh kita langsung pulang aja ya" ujar Mona yang melihat Dwi berdiri di ambang pintu masuk.


"Gak papa lagi, dia emang gitu biarin " ujar Jihan.


"Eh Ji kamu pucet ya" ujar Mona.


"Masa sih, gak pake lipstik soalnya" ujar Jihan.


"Apa iya, biasa liat dia make up sama gak ya" ujar Mona.


"Gak Mon dia emang kayak sakit gitu" ujar Hana.


"Gak gue baik kok" ujar Jihan pasti.


"Yakin lo gak papa, ke rumah sakit yuk" ujar Nisa dengan penuh perhatian.


"Ternyata lo hidup dalam lingkungan orang baik Ji, mereka peduli sama lo" ujar Dwi dalam hati.


"Gak perlu, gue baik oke emang gak make up sama sekali" ujar Jihan.


"Oke anggap aja kita percaya, tapi kalau ada apa apa bileng ke kita ya" ujar Hana.


"Oke, em kalian bisa design baju gak kalau bisa kalian buat design aja pas waktu luang nanti tunjukin sama gue siapa tau design lo bisa di pasarin bisa nambah uang jajan juga." ujar Jihan.


"Real, Jihan tuh bagaikan malaikat ya dia selalu ngebantu kita padahal saat dia butuh kita gak pernah bisa bantu" ujar Nisa.


"Bener bener, em kita maksih sama lo Ji lo udah bantu kita banyak banget dan sekarang kita bakal berusaha dengan sejuat tenaga biar lo bangga udah kuliahin kita" ujar Hana.

__ADS_1


"Oke oke apa bidang yang lo ambil" tanya Jihan.


"Kita bertiga putusin buat masuk managemen bisnis, ikutin langkah lo dan semoga bisa jadi kayak lo bisa bantu orang lain" ujar Hana.


"Bagus deh, mau kasih tantangan gak" tanya Jihan.


"Apa" tanya Hana Mona Nisa bersama.


"Ambil beberapa bidang dan harus lulus dalam.satu waktu" ujar Jihan.


"Maaf Ji otak gue gak mampu" ujar Nisa.


"Kita juga" ujar Hana dan Mona.


"Emang kamu ambil bidang apa aja" tanya Mona.


"Gue ada lah beberapa, tapi ya bisnis yang paling berguna saat ini" ujar Jihan.


"Sayang" ujar Dwi.


"Kenapa, duduk sini ngapain jadi satpam di sana" ujar Jihan membuat sahabatnya duduk menjauh.


Dwi berjalan layaknya seorang anak kecil yang ngambek. Jihan tersenyum senyuman tulus yang terukir.


"Gue masih gak percaya Jihan udah nikah tau" ujar Nisa.


"Gue juga" ujar Hana.


"Ya udah say kita pulang dulu ya makasih makanannya" ujar Mona.


"Oke" ujar Jihan


Ketiga sahabatnya itu pergi membuat Dwi langsung merebahkan kepalanya kembali di pangkuan Jihan.


"Kenapa malah tidur siap siap ke rumah mama" ujar Jihan.


"Nanti ah, biarin mama urus semuanya kita tinggal datang dan makan" ujar Dwi.


"Dasar, kerjanya gak mau makannya cepet" ujar Jihan.


"Biarin kita jadi tamu aja" ujar Dwi.


"Terserah deh" ujar Jihan menyenderkan tubuhnya di kursi sedangkan Dwi masih rebahan di pangkuan Jihan


Jihan menonton siaran kartun kesukaannya sesekali dia tertawa membuat Dwi ikut tersenyum. Dan dia juga mencuri foto Jihan ya walau Jihan tau tapi Jihan membiarkannya.


"Ji boleh minta foto kamu" ujar Dwi.


"Buat apa terus dari tadi tuh fotonya mau buat apa" tanya Jihan.


"Hehe kamu tau ya" ujar Dwi.


"Tau lah" ujar Jihan.


"Tapi hasilnya gak ada yang bagus" ujar Dwi.


"Lagi gak mood foto" ujar Jihan kembali menonton kartun kesukaannya.


Dwi hanya tersenyum karena terlalu nyaman di pangkuan Jihan dia tertidur dengan mengarahkan wajahnya ke perut Jihan dan memeluknya.


Jihan membiarkan itu sebenarnya dia juga merasa nyaman tapi diam diam Jihan mengambil ponsel Dwi danx melihatnya. Yang pertama dia lihat adalah siapa yang suaminya itu sering hubungi baik telfon ataupun pesan singkat.


"Dia masih belum bisa buang nama Klara" ujar Jihan dalam hati setelah melihat pesan yang ada.


Jihan berganti melihat galeri foto dia terkejut karena terlalu banyak foto dirinya di sana bahkan foto Dwi sendiri hanya beberapa saja.


"Ini kameranya yang bagus apa gue emang cantik" ujwr Jihan dalam hati melihat hasil jepretan Dwi.


Jihan membuka kamera dan membuat beberapa pose dengan senyum senyum membuat Dwi terbangun dengan cepat Jihan meletakkan ponsel Dwi di tempat semula.


.


.


..


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya guys....


__ADS_2