Pernikahan Tak Diharapkan

Pernikahan Tak Diharapkan
Tidak Ada Rahasia


__ADS_3

Dwi terus menggenggam tangan Jihan yang bercucuran keringat dingin. Dwi sangat takut dengan ke adaan Jihan namun dia bersikap normal pasalnya sebelum pergi tadi Ridwan mengatakan untuk selalu menemaninya dan jangan mengutarakan banyak pertanyaan dan saat Jihan terlalu dingin buat dia tetap hangat.


"Sayang udah sampai" ujar Dwi mengelus wajah Jihan.


"Oke" ucap Jihan lemas.


"Biar mas gendong aja" ujar Dwi di angguki Jihan karena benar dia sangat lemas kali ini.


Saat sampai di depan apartemen Jihan membuka sandi pintu apartemennya masih dalam gendongan Dwi. Dwi membawa Jihan ke kamarnya dan menurunkannya pelan di sana namun suhu badan Jihan semakin turun. Dwi memberikan selimut pada Jihan cukup tebal.


"Sayang are you oke" tanya Dwi.


"Dingin" satu kata yang Jihan ucapkan dengan lemas.


Tak ingin mengambil resiko terlalu banyak. Dwi mendekatkan wajahnya ke wajah Jihan dan menempelkan bibirnya di sana. Dia tau dia kejam tapi tidak ada pilihan lain. Dwi bermain di bibir Jihan dengan pelan tapi penuh hasrat dia juga bermain di gunung kembar Jihan membuat Jihan mengeliat dan suhu tubuhnya mulai naik.


Lama Dwi bermain sampai suhu tubuh Jihan benar benar kembali setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang tertahan. Setelah selesai dia kembali ke kamar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya.


"Mas makasih" ujar Jihan yang sudah duduk di sandaran tempat tidur dan sudah berganti pakaian.


"Buat apa" tanya Dwi mendekat.


"Buat semua untuk hari ini" ujar Jihan.


"Hm, sekarang istirahatlah kamu mau makan sesuatu biar saya pesankan" tanya Dwi.


"Boleh apapun yang berkuah" ujar Jihan di angguki Dwi.


Dwi mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan berkuah lalu mengganti pakaiannya. Saat selesai dia melihat Jihan sudah kembali tidur dengan manisnya Dwi menyingkirkan anak rambut di wajah Jihan.


Dwi menatap Jihan dalam diaerasa sangat egois sekarang karena Dia Jihan mendapat lebih banyak masalah dan lebih tertekan dia juga sudah memupuskan banyak cita cita Jihan dan masa remaja Jihan yang seharusnya masa bahagia sesaat Dwi merasa sangat bersalah namun semua sudah terlanjur maka dia bertekad akan membahagiakannya.


Ting... tong....


Bell apartemen berbunyi bertanda ada orang menunggu di luar. Dwi berjalan ke arah pintu dengan membawa beberapa.uang ternyata benar makanan yang dia pesan datang.


Setelah menerima makanan itu Dwi langsung menatanya di meja dan memanggil Jihan.


"Sayang bangun makan dulu" ujar Dwi lembut berbisik di telinga Jihan membuat Jihan mengeliat.


"Mas Dwi ngapain" tanya Jihan bingung karena wajah Dwi sangat dekat dengannya.


"Gak ngapa ngapain kamu aja yang bangunnya kecepetan saya mau ambil ini" ujar Dwi sembarang mengambil bantal yang ada di dekat kepala Jihan.


"Ya udah awas" ujar Jihan mendorong tubuh Dwi menjauh.


Dwi gugup kemudian perlahan menjauh dari tubuh Jihan sedangkan Jihan terlihat sangat lemas membuat Dwi prihatin. Dwi hanya membantu Jihan duduk kemudian tidak membiarkan Jihan bangun dan pergi dari kamar.


"Biarkan saya yang bawa makanannya ke sini kamu tunggulah" ujar Dwi merapikan rambut Jihan.


Jihan sabar menunggu sembari memijat pelipisnya. Tak lama Dwi datang dengan berbagai jenis makanan membuat Jihan membulatkan matanya. Dwi bahkan membawanya dengan meja yang bisa berpindah tempat.


"Kenapa ada yang kurang" tanya Dwi duduk di tepi kasur di depan Jihan.


"Bukan apa gak kebanyakan" tanya Jihan.


"Tadinya mau tanya mau makan apa eh kamunya udah tidur" ujar Dwi.


"Terus ini kalau gak abis mau di apain" tanya Jihan.


"Kita kasih aja sama temen temen kamu di sebrang" ujar Dwi karena mereka memang pulang ke aparteman Dwi yang bersebrangan dengan apartemen Jihan.


"Terserah deh" ujar Jihan.


"Mau makan yang mana" tanya Dwi.

__ADS_1


"Terserah kamu mau kasih yang mana" ujar Jihan.


Dwi hanya mengangguk kemudian mengambil soto daging dengan lontong. Dwi memaksa menyuapi Jihan walaupun Jihan tidak ingin tapi karena dia merasa bersalah pada Dwi Jihan hanya menerima suapan dari Dwi.


"Kamu gak makan" tanya Jihan.


"Ini mau makan" ujar Dwi memakan sepiring yang sama dengan Jihan.


"Sendok gue" ujar Jihan.


"Kenapa, kita aja udah berbagi selimut kenapa sendok gak " ujar Dwi


"Hehe terserah kamu" ujar Jihan membuat Dwi tersenyum.


"Udah" ujar Jihan setelah lima suap masuk ke mulutnya.


"Tapi belum habis sayang" ujar Dwi lembut.


"Udah kenyang" ujar Jihan.


"Dikit lagi" ujar Dwi.


"Gak mau kamu yang habisin" ucap Jihan.


"Yang" ujar Dwi merengek bukannya mau makan lagi Jihan malah mengambil sendok yang ada di tangan Dwi dan menyuapi Dwi.


"Makan aja" ujar Jihan yang rau Dwi akan protes.


Dwi hanya mengangguk sampai makanan habis. Jihan tersenyum lalu memberikan air untuk Dwi setelah selesai begitupun Dwi memberikan air untuk Jihan mereka bertukar perhatian walau tanpa sadar.


"Hallo mah" ujar Dwi saat ponselnya berdering.


"Hallo sayang, kamu dimana kok gak ada di kantor" tanya Mama Sri.


"Di apartemen kenapa Jihan juga di sana" ujar Mama.


"Iya mah ini abis makan" ujar Dwi


"Sambungin Vidio call perasaan mama gak enak" ujar Mama.


Sambungan berganti Vidio Call membuat Jihan bisa mendengar semua yang Dwi dan mamanya bicarakan.


"Mantu kesayangan mama kenapa Wi" tanya Mama.


"Gak kok mah Jihan gak papa" ujar Jihan berganti duduk di samping Dwi.


Dwi menatap Jihan hanya di angguki Jihan.


"Oh kamu lagi ngapain katanya tadi pagi mau kerja" tanya Mama.


"Iya Jihan baru pulang kok mah, tadi kata mas Dwi gak boleh kerja khusus hari ini iya kan mas" ujar Jihan.


"Iya mah kan hari ini biar si Fero selesaikan kerjanya" ujar Dwi.


"Oh gitu sukur deh kalau gak apa apa, nanti malam ke rumah ya soalnya mama buat acara makan besar sama keluarga Prasaja juga Bramasta" ujar Mama.


"Oke mah tapi kayaknya gak bisa datang cepet deh" ujar Dwi.


"Kenapa biasanya Jihan seneng bantu mama masak" ujar Mama.


"Iya biasanya tapi buat kali ini Dwi mau habisin waktu sama Jihan sebelum dia sibuk" ujar Dwi malu malu.


"Oh oke deh, jangan gelud mulu bye sayang nya mama" ujar Mama mematikan ponselnya.


Jihan langsung duduk menjauhi Dwi. Dwi menatap Jihan membuat Jihan salah tingkah.

__ADS_1


"Kamu kenapa bohong kalau kamu baik baik aja" tanya Dwi.


"Seseorang bilang untuk menjaga senyumannya" ujar Jihan membuat Dwi terdiam.


Jihan berjalan menjauhi ranjang sembari membersihkan bekas makanannya. Dengan sangat perlahan Jihan pergi untuk mencuci piring sedangkan Dwi hanya menatapnya.


"Biar mas saja Ji" ujar Dwi.


"Udah biarin Jihan aja udah mau selesai kok, em mau antar Jihan ke tempat temen temen gak kayaknya mereka udah pulang deh udah sore sayang makanannya" ujar Jihan.


"Oke" ujar Dwi.


"Mas apa kita akan menginap di rumah mama" tanya Jihan.


"Iya boleh aja kenapa gak mau" tanya Dwi.


"Em apa Jihan bisa menghadapi mama dengan senyuman" ujar Jihan.


"Berusahalah, dan ingat mas akan selalu ada di dekatmu sekarang kamu gak sendirian jadi jangan takut" ujr Dwi dia tau maksud Jihan tau siapa yang Jihan maksud.


Jihan hanya menarik nafasnya panjang sembari menyelesaikan pekerjaannya. Dwi menggenggam tangan Jihan dan menatapnya dalam saat Jihan berbalik dan wajahnya tepat di depannya.


"Mau bicara sama Mas sekarang" tanya Dwi.


"Hm boleh tapi duduk Jihan pusing" ujar Jihan.


"Oke di sana" ujar Dwi menunjuk sofa yang ada di depan pintu.


"Siap mendengarkan" tanya Dwi.


"Hm" ujar Jihan.


"Pertama maafin saya, saya tau karena ego saya kamu kehilangan masa remaja kamu dan karena saya juga semua harapan kamu tertunda tapi ketahuilah saya gak ingin semua itu terjadi dan asal kamu tau saya percaya dengan semua yang kamu bicarakan tadi siang saya tau sebenarnya maaf karena sebenarnya saya mengirim mata mata dan orang yang menjadi temanmu DJ yang ada di tempat biasa kamu manggung itu juga orang saya" ujar Dwi dengan menggenggam tangan Jihan erat


"Sejak kapan kamu melakukannya" tanya Jihan


"Sejak papa mengatakan kalau kamu yang akan menjadi jodohku, sejak itu dan saat itu juga saya mencari tau siapa kamu sebenarnya saya sangat senang ternyata kamu orang yang saya cari selama ini mungkin yang kamu lihat saya sangat jahat dan dingin sama kamu saat kamu menjadi diri orang lain itu saya lakukan karena saya ingin menjaga hati saya hanya untukmu" ujar Dwi.


"Lalu bagaimana dengan Klara" tanya Jihan dengan tatapan tajam.


"Klara saya tidak pernah memiliki perasaan sama dia, ya saya akui walau kami tidak terikat hubungan apapun kecuali uang hubungan kami cukup dekat bahkan kami tidak senggan untuk saling mencium walau hanya sekedar di bibir saya akui saya salah tapi hanya itu yang bisa saya lakukan untuk perusahaan saya" ujar Dwi membuat Jihan merubah raut wajahnya.


"Kamu marah kamu berhak untuk itu" ujar Dwi.


"Marah apa yang membuat saya marah, ego kamu atau hubungan terlarang kamu atau saat ini atau saat kamu memata matai saya semua tidak bisa membuat saya marah tapi hati saya sakit mendengar semua ini haruskah kamu menceritakannya" ujar Jihan.


"Harus apapun itu saya harus menceritakannya karena tidak akan ada lagi rahasia yang saya tutupi dan untuk Klara kamu berhak melakukan apapun karena dia sudah menghancurkan usaha saya jauh sebelum saya memutuskan menikahimu tapi saya tidak tau cara menghilangkannya dari hidup saya" ujar Dwi.


"Hm semua jelas sekarang tapi saya tidak bisa mengatakan apapun tentang hidup saya" ujar Jihan.


"Saya tau semuanya, tapi saya ingin kamu mengatakannya" ujar Dwi.


"Oke sebenarnya saya tidak seutuhnya waras saya gila sempat gila karena urusan keluarga mungkin anda sudah tau masalahnya walau hanya sedikit tapi saya tidak bisa menceritakannya dengan siapapun maaf" ujar Jihan membalas tatapan Dwi.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya guys...


Sudah mulai nih... kasih saran juga boleh guys kalau mau komentar jangan yang aneh aneh ya soalnya Author baru bangkit karena mulut netizen....

__ADS_1


__ADS_2