
Setelah itu Jihan pergi ke FeJi cafe dia memilih itu sebagai tempat terakhirnya karena di sana dia bisa menjadi manusia biasa.
"Hai Ji" sapa Hana.
"Hai na" ujar Jihan langsung pergi ke ruangan Riko.
"Rik nih udah di sana semua sama yang magang juga" ucap Jihan.
"Oh oke" ujar Riko.
"Masalah bos" ujar Riko.
"Ya" ucap Jihan sembari duduk di sova ruang kerja Riko.
"Kenapa bos" tanya Riko duduk bersebrangan dengan Jihan.
"Masalahnya gue gak bisa tidur" ujar Jihan masih menutup matanya.
"Tidur lah, saya keluar biar kamu nyaman" ucap Riko.
"Gak perlu" ucap Jihan.
"Gue mau nyanyi aja" ujar Jihan berdiri.
"Wah asik" ujar Riko.
Jihan mengambil microfon lalu duduk di tempatnya. Dia tidak sadar kalau Dwi ada di sana padahal keadaan cukup sepi hanya beberapa orang yang yang makan di sana. Namun karena Dwi berada di sebuah ruangan membuat Jihan tidak bisa melihatnya namun Dwi bisa melihatnya dengan jelas.
Andai aku bisa memutar waktu
Aku tak ingin mengenalmu
Mengapa ada pertemuan itu
Yang membuat aku mencintaimu
Bagaimana kalau aku tidak baik baik saja
Terus mengingatmu memikirkanmu
Semua tentang dirimu
Bagaimana kalau aku tak baik baik saja
Tak seperti kamu yang mampu tanpa ku
Bagaimana
Mungkin kini kau bersama yang lain
walau hatimu untukku
Adakah kesempatan untuk cintaku
Bahagia walau kita berbeda
Suara Jihan membuat banyak kariawannya terbuai dalam lagu dan meneteskan air matanya. Sampai ada seseorang yang datang dengan teriak dan mencium dan memeluknya erat membuat Jihan tidak bisa menyelesaikan lagunya.
"Jihan i love you" ujarnya.
"Love you too, udah engap nih" ucap Jihan.
"Hehe iya, tadi kamu nyanyi buat siapa" tanya Nya.
"Yang harus jadi pertanyaan tuh kapan kamu pulang" tanya Jihan.
"Baru dan pas gue lewat kayak denger suara lo pas gue liat ternyata beneran lo" ujar Anjani.
Anjani teman masa kecil Jihan sampai mereka terpisahkan saat keluarga Anjani pergi ke luar negeri. Jihan sempat hilang kontak dengannya membuat dia tidak menyangka orang yang di depannya benar benar Anjani.
"Lo gak berubah ya" ujar Anjani.
"Ya tetep burik kan" ucap Jihan.
"Lo tuh ya dari dulu gak berubah selalu merendah padahal tuh lo di atas segalanya" ujar Anjani.
"Yaya serah lo, duduk gih btw lo kerja apa sekarang baju lo kurang bahan banget" ucap Jihan duduk tak tau tepat di sampingnya adalah Dwi yang hanya terpisah pagar pembatas Dwi sedang bersama koleganya.
"Gue, jadi model dong impian gue tercapai, eh lo kerja di sini berapa gaji nya" tanya Anjani
"Gak seberapa cuma lumayan lah bisa buat beli lipstik" ucap Jihan.
"Gila lo, eh kenapa lo gak ikut gue aja jadi model gue yakin lo bisa dan pasti di terima" ucap Anjani.
"Gue gak ada niatan ke situ deh, gue mending design baju buat modelnya kalau pake sendiri agak gimana" ujar Jihan.
"Kurang apa coba Ji, gaji besar badan lo bagus cantik gue yakin lo cepet keliling dunia" ujar Anjani.
"Gak bisa gue, mending kerja paruh waktu ada waktu main ada waktu sendiri dan ada waktu kerja" ucap Jihan.
"Paruh waktu maksudnya" tanya Anjani.
__ADS_1
"Ya gue kerja paruh waktu ini siang juga harus ke Ayasta Group" ucap Jihan.
"Ayasta kayak pernah denger gue" ucap Anjani.
"Masa berarti terkenal dong" ujar Jihan.
"Iya kali, em btw gimana kabar Fero" tanya Anjani.
"Baik kenapa mau ketemu" tanya Jihan.
"Hm tapi gak sekarang, apa dia jomblo" tanya Anjani.
"Gak dia udah ada pasangan kenapa lo masih gak bisa move on" tanya Jihan.
"Ya elah siapa yang bisa lupain cinta pertama, atau jangan jangan lo beneran jadian sama dia pas gue pergi dan lo gak ngabarin gue" ujar Anjani membuat Jihan tersenyum.
"Yang pergi siapa yang hilang kontak siapa yang tiba tiba muncul gini siapa si" ucap Jihan
"Iya iya sayang, sorry em kalau bukan lo yang jadi pasangannya jangan bilang lo masih jomblo juga" ujar Anjani.
"Di kira gue gak laku, udah ada yang claim sejak lulus SMA" ucap Jihan.
"Emang siapa yang jadi pacar lo" tanya Anjani.
"Siapapun itu yang jelas dia cowok ganteng gak cantik" ucap Jihan membuat Dwi tersenyum.
"Iyalah kalau cowok beneran ya ganteng yang cantik gue, em kenalin dong" ujar Anjani.
"Ogah, nanti lo tikung lagi" ujar Jihan.
"Emang seganteng apa suami lo" tanya Anjani.
"yang jelas dia nunggu gue lebih dari lima belas tahun dan dia masih sama" ujar Jihan.
"Lima belas tahun apa dia Ji" tanya Anjani.
"Iya" ujar Jihan sembari memesan makanan
"Wah wah ganteng gak ganteng gak" tanya Anjani.
"Penasaran gue" ujarnya lagi.
"Udahlah kapan kapan lo bisa ketemu" ucap Jihan.
"Em oke, btw tadi lo bilang di claim pas lulus SMA bukannya tahun ini lo baru lulus" ujar Anjani.
"Emang lo, tahun ini gue baru selesai wisuda tau" ujar Jihan .
"Serius, makamya gue lagi serius cari uang" ucap Jihan.
"Lo seriusan, jadi lo tepatin janji lo buat wisuda bareng Abang lo tapi lo wisuda berapa" tanya Anjani.
"S2 gue" ucap Jihan enteng
"What serius lo" ujar Anjani kaget.
"Hm gue lulus SMA cuma satu tahun, terus s1 satu tahun s2 satu tahun" ucap Jihan.
Anjani hanya melongo membuat Jihan tertawa. Sedangkan kariawannya membawakan makanannya membuat Jihan tersenyum.
"Lo lulus SMA langsung nikah gitu" tanya Anjani.
"Gak lulus gue cari kerja eh ternyata tempat gue kerja tuh orang tuanya si doi, ya karena dia notabenenya nyebelin gue gak suka mungkin itu juga alasan gue saat ini " ujar Jihan.
"Eh lo gak mikir ya masa depan kita baru di mulai tuh lulus SMA" ujar Anjani.
"Kenapa, jati diri gue udah gue temuin waktu SMP terus mau cari apa lagi" ujar Jihan.
"Kamu dewasa sebelum waktunya" ujar Anjani.
"Hm, tapi gak ada hari yang gue sesali semua menjadi memory yang bisa gue ceritakan sama anak gue nanti gue gak pernah menatap masa depan tapi selalu berusaha sebaik mungkin untuk masa kini agar masa lalu tak mengecewakan" ujar Jihan.
Anjani hanya manggut manggut memdengarkan ucapan Jihan. Sedangkan Jihan asik makan bahkan dia tidak sadar kalau air matanya perlahan mengalir.
"Lo nangis Ji" tanya Anjani membuat Dwi menatapnya.
"Gak, gue cuma seneng aja lo akhirnya pulang" ujar Jihan.
"Ya elah, em btw kita jalan yuk kita reoni" ujar Anjani.
"Kayaknya bakal banyak kerjaan deh si Ata balik ke tempat bokapnya" ujar Jihan.
"Ya udahlah kapan kapan aja kalau lo ada waktu" ucap Anjani.
"Hm sorry ya, makan dulu gih laper gue" ujar Jihan.
"Oke" ucap Anjani makan dengan lahap.
Saat Jihan asik makan dengan bercanda tawa tiba tiba ponselnya berbunyi ada sebuah notifikasi.
"Jangan nangis lagi tersenyumlah" ujar Dwi dalam pesan singkat
__ADS_1
"Maksudnya" tanya Jihan membalas pesan Dwi.
"*Udah makan dulu sambung nanti" ujar Dwi membuat Jihan mencari cari keberadaannya.
"Jangan nengok nengok makan aja yang lahap" ujar Dwi lagi dalam pesannya membuat Jihan sampai berdiri mencari keberadaan Dwi namun dia lupa kalau ada ruangan di sebelahknya.
"Udah duduk dan makanlah, sampai ketemu nanti love you Honey " ujar Dwi membuat Jihan tanpa sadar tersenyum*.
"Ji lo senyum" ujar Anjani.
"Gue senyum masa si" ucap Jihan.
"Hm tadi lo senyum manis banget" ujar Anjani.
"Ada ada aja lo, makan aja" ujar Jihan makan dengan asik.
Jihan makan dengan lahap sembari mendengarkan Anjani yang terus bercerita, Sesekali Jihan menatap sahabt lamanya itu karena terus berceloteh tanpa diam.
"Jihan" panggil seseorang sat Jihan asik menikmati minumannya.
"Papa" ujar Jihan.
Jihan langsung berdiri dan menatap papa Seno lalu menatap orang yang ada di belakang papa Seno yang sedang menatapnya lekat.
Jihan memgulurkan tangannya dan memcium tangan papa Seno bergantian dengan mencium tangan Dwi.
"Papa udah lama di sini" tanya Jihan sembari mengelap bibirnya.
"Sejak seseorang menyanyikan lagu dengan menutup mata" ujar Papa.
"Lama dong" ujar Jihan.
"Lumayan" ujar Papa tersenyum.
"Ji ini papa lo lo yakin" ujar Anjani.
"Kenapa" tanya Jihan.
"Papa lo ganti ya" ucap Anjani.
"Ganti, gak tambah iya" ujar Jihan.
"What" ujar Anjani dengan nada tinggi.
"Biasa aja lo, kenapa gak coba kenalan" ujar Jihan.
"Eh iya hai om" ujar Anjani menyalami papa berganti dengan Dwi namun Dwi hanya mengangguk tanpa membalas uluran tangan Anjani membuat Jihan tersenyum.
"Ji Abang lo juga ganti ya" ujar Anjani.
"Gak, Anjani maaf ya gue harus kerja sorry" ujar Jihan karena malas Anjani bertanya banyak hal.
"Oke gue juga mau balik em biar gue aja yang bayar makananya uang lo di tabung aja" ujar Anjani.
"Oke, kasir di sana" ucap Jihan menunjuk kasir.
"Oke see you beby" ucap Anjani genit.
"Oke, bye" ujar Jihan
Saat Anjani pergi ke kasir Dwi menarik pinggang Jihan membuat Jihan berdiri tepat di sampingnya. Jihan hanya menatapnya sedangkan Dwi tersenyum sangat manis.
"M**anis, andai ini sebuah ketulusan mungkin gue udah melayang" ujar Jihan dalam hati.
"Kenapa liatnya gitu naksir ya" ujar Dwi membuat Jihan mengalihkan pandangannya.
"Eh kata siapa, pah Jihan duluan ya panas" ujar Jihan pergi sembari menepuk nepuk pipinya yang sudah memerah.
"Kenapa sama gue, biasa aja kali jantung kayak gak biasa aja dia nyentuh gue biasanya juga lebih dari ini" ujar Jihan sembari berjalan keluar kafe.
"Kamu bisa aja Wi" ujar Papa menggeleng sembari menyusul Jihan.
Dwi mengikuti Jihan dan papanya sedanglan Rey membayar semua tagihan makanan mereka. Dengan langkah panjang Dwi menghampiri Jihan yang sedang menatap lurus ke depan.
"Pah Dwi duluan ya" ujar Dwi langsung merangkul Jihan.
"Hm, tapi jangan telat" ucap Papa.
"Oke" ujar Dwi sembari menatap Jihan dan mengedipkan matanya.
"Kenapa tuh mata cacingan" ujar Jihan melepaskanbtangan Dwi yang berada di bahunya.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya ya guys....
__ADS_1